
HAPPY READING...
***
Hema masih tak bergerak sama sekali. merelakan bahunya yang digunakan Hean untuk tidur beberapa saat. mungkin ada sekitar 15 menit Hema berada di posisi seperti itu, bahkan tangan satunya serasa mati rasa karena lelah.
Aduhh..
Hema sedikit menggerakkan tubuhnya yang tertanya membuat Hean mengerjab pelan.
"Lo terganggu ya?". sesal Hema. padahal ia tak terlalu bergerak kasar tadi, tapi tetap saja membuat Hean sampai terbangun.
Hean mengedipkan mata berulang kali. ia juga heran kenapa bisa sampai tertidur. apa senyaman itu bahu Hema baginya?
"Agghh..." merenggangkan otot dan kembali berulah menggoda Hema, "Bagaimana kalau lanjutkan bobok lagi? hehe...".
Ck... bisa-bisanya... Hema menggelengkan kepala.
"Mau kemana?" tanya Hean ketika sadra Hema telah bangkit dari sana.
"Pulang..." jawab gadis itu singkat. berjalan ke arah pintu dan membukanya tanpa meminta ijin pada Hean.
ketika keluar dari sana, Hema sejenak terkagum-kagum. ternyata ruangan tadi ada di dalam ruang kerja CEO. pantas saja Hema tak tau. karena yang ia kira pintu untuk masuk itu adalah pintu toilet biasa.
"Hei, tunggu...". Hean bergegas mengejar Hema.
"Gue antar pulang..." ucap Hean.
"Kenapa?". tentu saja Hema protes. ia bisa pulang sendiri tanpa bantuan pria itu.
"Karena kita kan tinggal bersebelahan..." jawab Hean.
Benar... Hema sempat lupa kalau pria itu telah kembali menempati Apartemen di sebelahnya yang sempat kosong beberapa tahun.
Tapi tapi... seharusnya gue masih berlagak cuek bukan?
Itulah rencananya.
"Tidak... gue pulang sendiri..." jawab Hema memungut tas yang tergeletak di lantai dan segera meninggalkan tempat itu.
"Hei!".
Tapi percuma, Hema telah masuk ke dalam Lift tanpa bisa Hean cegah.
Tak apa lah... setidaknya lebih baik dari sbeelum-sebelumnya...
walaupun tak bisa mengantarkan Hema pulang, Hean cukup lega karena ia merasa telah dimaafkan Hema.
jadi setelah ini, hubungan mereka akan kembali baik. itu yang Hean yakini.
***
Sepanjang perjalanan, Hema hanya terdiam. pikirannya kembali pada kejadian tadi.
Bagaimana ini?
Rencananya memang ia akan sedikit mengabaikan Hean. tapi di lain sisi entah kenapa Hema tak bisa melakukan itu.
berdekatan dengan pria itu mampu menciptakan sebuah sengatan aneh, jantungnya serasa berdetak tak karuan. perasaan yang nyaman tiba-tiba hadir kembali dan melupakan semua kelakuan buruk Hean padanya.
Tapi masalahnya pria itu seperti tidak pernah melakukan kesalahan padanya. seperti tidak sadar bahwa yang Hean lakukan membuta Hema hampir frustasi dibuatnya.
"Halo Sa...".
Lamunan Hema buyar ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya. yang ternytaa dari Sasa.
Hema tersenyum, "Sorry... ini gue sudah perjalanan pulang..." sesal Hema. tau bahwa betapa khawatirnya Sasa karena Hema belum juga pulang hingga menjelang malam.
"Hm... oke...".
Di lain tempat lain Sasa mondar-mandir di balkon. melohat ke jalanan di bawah sana mungkin saja Hema telah sampai.
Ibukota tengah di guyur hujan sejak beberapa jam yang lalu. membuatnya khawatir karena Hema tidak segera pulang ke Apartemen mereka.
__ADS_1
"Sayang..." panggil pria yang mengamati Sasa dari dalam sana. siapa lagi kalau bukan Jio. pria itu kehujanan di perjalanan di perjalanan pulang hingga mampir ke tempat tinggal kekasihnya sembari menunggu hujan reda.
"Kemarilah...".
Melihat Sasa yang mondar-mandir sungguh menggemaskan. Jio ingin sekali memeluk kekasihnya itu. apalagi cuaca cukup mendukung ditambah angin yang sedikit mampu membuat tubuhnya kedinginan.
"Hema kenapa belum pulang juga ya...". Sasa terus saja mengabaikan panggilan Jio, yang ada di kepalanya saat ini hanya Hema Hema dan Hema.
setidaknya melihat Hema telah sampai rumah sudah membuatnya tenang.
"Nanti juga pulang..." jawab Jio dengan entengnya. menurutnya Hema bukan lagi gadis kecil yang perlu dikhawatirkan. ia sudah dewasa dan tau untuk menjaga dirinya sendiri.
"Tapi Yo...,".
"Kemarilah..." pinta Jio. membuat Sasa menghentakkan kaki kesal walaupun mendekat juga ke arah Jio duduk.
mendaratkan tubuhnya di sofa samping Jio dan menunggu apa yang akan Jio katakan.
"Sa, gue tau lo memang peduli kepada Hema... tapi jangan terlalu peduli seperti itu...".
Maksudnya? bagitu sorot mata Sasa kepada Jio.
"Hema bukan anak kecil lagi... dia telah dewasa dan juga memiliki privasi yang tidak semuanya harus lo ketahui..." ucap Jio.
Peduli boleh apalagi Sasa dan Hema memang tinggal berdua sudah sejak lama, saat masih kuliah.
tapi bukan berarti Sasa harus selalu menanyakan keberadaan Hema bukan? Hema juga butuh waktu untuk dirinya sendiri.
"Seperti sekarang, dia belum pulang memang karena ada suatu hal yang harus ia selesaikan... toh apa kalian akan hidup berdua terus seperti ini?" selidik Jio.
Ya aneh juga. baik Sasa maupun Hema pasti akan berkeluarga nantinya. mereka tidak bisa terus tinggal berdua seperti sekarang.
"Hahaha... bagaimana kalau seperti itu?".
Bagaimana kalau Hema dan Sasa akan terus tinggal berdua? bahkan setelah mereka menikah.
"Ck... jangan aneh-aneh..." celoteh Jio tak suka. mana ada mereka hidup rame-rame seperti itu.
"Bagaimana denganku nanti?".
"Kalau gue ingin, apa harus menyuruh Hema pergi dulu...?". tanya Jio sambil mengusel-usel hidungnya di pipi Sasa. bertingkah seperti anak kecil saja.
"Lepas Yo..." protes Sasa. mencoba untuk menyingkirkan wajah dan tangan nakal Jio dari tubuhnya.
"Dingin,". Manja sekali pria itu. apalagi susana mendukung karena hanya ada mereka berdua saja. jadi tidak ada yang mengganggu mereka.
"Apaan sih... gue geli...". Sasa kesal di usel-usel seperti ini. rasanya benar-benar tidak nyaman.
"Memang gue ulat bulu..." jawab Jio. mana ada geli, padahal yang ia lakukan hanya memeluk Sasa saja.
"Hahaha...". Sedangkan gadis di sebelahnya itu tertawa lepas. merasa lucu mendengar ocehan pacarnya.
"Sayang...".
"Hm,".
"Ayo menikah..." ajak Jio.
Bukan terdengar serius, pria itu mengatakannya seperti tengah bercanda saja.
"Kalau masih nunda-nunda, mungkin gue akan segera mati... Agghh...". rengeknya.
Apaan sih...
"Hahaha... lo akan terus hidup menemani gue Jio... sampai tua nanti..." hibur Sasa.
Masih terlalu muda bagi mereka untuk memantapkan hati ke jenjang pernikahan. setidaknya tunggu satu tahun lagi, karena Sasa masih ingin tetap bekerja.
"Kenapa sih harus menunggu lagi," rengek Jio.
"Gue masih mau bekerja Jio...". itulan alasan Sasa menunda menikah. ingin bekerja dulu.
"Aggh... gue bener-bener gemes..." ucap Jio dan langsung memeluk Sasa membuta gadis itu semakin berontak.
__ADS_1
"Jio lepas...".
Di Halaman Apartemen, Hema baru saja turun dari Taxi. bersamaan dengan itu juga sebuah mobil menuju basement gedung tinggi tersebut.
Hema tak menyadari kalau yang barusan lewat adalah mobil milik Hean. hingga keduanya kembali bertemu di Lift ynaga kan membawa mereka ke Unit masing-masing.
"Aghh.. mengagetkan saja...". Hema sampai menyentuh dadanya saking terkejutnya.
"Kaget ya? sini gue peluk...".
mode menyebalkan pria itu kembali muncul.
waktu memang berubah, tapi tidak akan bisa mengubah sifat seseorang. seperti Hean saat ini. masih sama seperti dulu. isengnya tidak pernah hilang dan mampu membuat siapa saja baper akan perhatiannya.
"Ck...".
Di dalam Lift, hanya ada mereka berdua. sebenarnya Hean sedikit gugup berdua saja seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. bisa melelahkan jika menggunakan tangga darurat menuju ke Unitnya.
"Kenapa?".
"Aghh... tidak...". menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hean kembali menyentuh ujung rambut Hema, "Ck..." dan berdecak kesal melihat rambut Hema yang sekarang.
Pendek.
Jelas tidak ia sukai, tapi entah kenapa rambut pendek justru membuta wajah Hema berbeda.
"Kenapa?" tanya Hema dengan tampang sewot.
"Kalau tidak suka jangan dilihat!". menyibak kan rambutnya kesal.
"Hahaha... galak bener...".
Ck...
Lift berdenting.
Hema keluar dari Lift lebih dulu dan Hean mengikutinya dari belakang.
"Lo tidak kedinginan?".
Random sekali pertanyaan pria itu. pokoknya ada-ada saja yang ia tanyakan sejak tadi.
"Tidak..." jawab Hema.
walaupun sebenarnya memang dingin karena habis hujan.
"Padahal mau gue ajak bobok bareng...heheh...".
Hema kesal. ucapan Hean termasuk pelecehan bukan?
Bahkan lebih dari itu, Hean bahkan mempercepat langkahnya hanya untuk merangkul pinggang gadis itu,
"HEAN!".
"Ya sayang...". senyum pria itu benar-benar memabukkan bagi siapa saja yang melihat. Membuat Hema memutar bola matanya jengah.
"Apa gue benar-benar tidak berarti lagi bagi lo Ma?" tanya Hean. Hema yang sekarang terlihat lebih cuek dari yang dulu.
"Tidak...".
"Serius?".
"Hm,".
"Bagaimana kalau gue usaha lagi?" tanya Hean. apa masih sama kalau ia mencoba untuk meluluhkan hati Hema lagi.
"Silahkan saja, KALAU BISA!".
Dan Hema langsung berhenti di Unitnya. menekan beberapa dihitung nomor untuk membuka pintu itu. setelahnya Hean benar-benar sendiri menatap kepergian Hema dengan senyum kecil mengukir bibir.
***
__ADS_1
Nah Nah Nah... mode jailnya keluar juga kan...
Semoga Syuka dengan Part kali ini...