Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
110. Mulut Ember Jio.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Jio mengendarai mobilnya dengan perasaan kacau. bukan karena memikirkan masalahnya tapi justru memikirkan masalah orang lain. sahabat lebih tepatnya.


Setelah pulang bekerja, Jio menerima telepon dari Dimas. hingga pada akhirnya mereka bertemu di tempat nongkrong untuk beberapa saat.


saat itu juga Jio mendapat kabar buruk dari Dimas kalau ada masalah yang menimpa Hean saat ini.


Dimas mengatakan semuanya. tentang Bella, putri Hean yang diminta paksa oleh orang tua Agnes.


Gue harus menemuinya besok... batin Jio bicara. karena untuk bertemu saat ini ia tak bisa karena sudah janji dengan Sasa. mereka akan kedatangan tamu spesial.


untuk itu, Jio bergegas pulang untuk melihat tamu spesialnya itu.


"Sayang...".


Teriak Jio seperti biasa. bahkan saat masih berada di Carport memarkirkan mobilnya. sedikit heran memang karena saat Jio tiba, ada mobil yang terparkir disana.


mobil yang cukup asing bagi Jio.


"Iya..." jawab Sasa dari dalam rumah.


hingga sepasang suami istri itupun bertemu di ambang pintu ruang tamu.


Senyum manis Sasa menyambut kedatangan Jio. menghapus lelah dan penat akibat seharian bekerja.


Tapi, tiba-tiba tatapan mata Jio teralihkan pada seseorang yang duduk santai di sofa ruang tamu itu.


"Hema?". terkejut bukan main dengan keberadaan wanita berambut pendek sahabat dari istrinya tersebut.


"Jadi lo tamu spesial yang Sasa katakan?".


Seharusnya Jio tidak mengatakan hal itu. karena Sasa lah yang menggunakan kosa kata tamu spesial ketika menelponnya tadi.


hingga yang dilakukan Sasa adalah mencubit perut suaminya tanpa ragu.


"Awww...". keluh Jio.


Sedangkan Hema hanya tersenyum melihat tingkah pasangan suami istri di depan sana. kelakuan mereka yang tak berubah sama sekali.


"Ayo duduk..." ajak Sasa. bergelayut manja di lengan Jio memintanya ikut duduk dan mengobrol asik seperti yang sudah-sudah.


"Kalian ngobrol dulu... gue mau mandi..." tolak Jio. tubuhnya benar-benar sudah gerah dan ingin segera mandi.


cupp... bahkan tanpa ragu Jio mengecup singkat pucuk kepala Sasa dan langsung berjalan meninggalkan kedua wanita itu.


"Hehehe...". Sasa menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. malu karena perlakuan manis Jio mampu dilihat sahabatnya juga.


walaupun sebenarnya Hema juga sering melihat pemandangan seperti tadi. sudah biasa.


"Bagaimana kalau kita makan bareng?". Sasa mengalihkan pembicaraan. ya.. setidaknya biar Hema lupa tentang pemandangan yang bikin iri tadi. yang mungkin saja telah mencemari otaknya. hahaha...


"Memang lo bisa masak?" sindir Hema. karena Sasa kerap kali mengeluh masakannya yang kadang terlalu asin kadang juga hanya hambar.


"Hahaha... setidaknya lo akan jadi korban kedua setelah Jio..." jawab Sasa dengan bangganya. bukannya malu, wanita itu malah senang dan memamerkan perannya sebagai seorang istri baru.

__ADS_1


"Ck...". Hema berdecak walaupun pada akhirnya bangkit dari tempat duduknya. mengikuti kemana langkah kaki Sasa membawa mereka.


Di dapur.


Tak banyak terlihat peralatan masak. karena hanya tinggal berdua saja, Sasa dan Joo kerap kali makan di luar. jadi dapur menjadi tempat terlangka yang mereka jamah.


mungkin hanya saat menyiapkan sarapan untuk Joo di pagi hari.


"Sini gue bantu...". Hema berinisiatif membantu Sasa. mengambil alih sayuran yang akan dipotong.


sedangkan Sasa mencairkan daging dari dalam lemari pendingin sebelum memasaknya.


"Lo kan kembali kapan?" tanya Sasa sambil berdiri memunggungi Hema.


"Besok...".


"Aghh.. gue tidak bisa menemani lo besok..." keluh Sasa. padahal mereka berencana untuk pergi shopping bersama ketika ada kesempatan untuk bertemu. tapi pekerjaan lagi banyak-banyaknya membuat Sasa tidak bisa cuti bekerja.


"Tak apa... lain kali saja kita belanja bersama..." hibur Hema. mungkin di lain waktu, Ia akan mendatangi Ibukota lagi untuk menemui Sasa. karena Ibukota tak lagi menjadi kota yang Hema hindari lagi.


"Janji? lo akan kesini lagi?". bahkan Sasa saking tak percayanya dengan ucapan Hema barusan.


karena ia kira, Hema tak akan lagi datang ke sini.


"Janji...".


"Apa karena Hean?" goda Sasa.


walaupun Sasa tak tau apakah Hema sempat bertemu pria itu atau tidak selama di Ibukota.


"Apaan sih... ya enggak lah..." tolak Hema.


"Kenapa lo pecinta duda sih... hahaha...".


Upss... Sasa menutup mulutnya. ia keceplosan.


"Ha? duda? siapa...?".


Hema bingung apa yang Sasa bicarakan barusan.


"Oh... itu Zain... dia kan duda...". ralat Sasa.


Sial! kenapa nih mulut tidak bisa diajak kompromi sih...


padahal bukan Zain yang Sasa maksud tadi. melainkan Hean


tapi Sasa masih menyembunyikan hal itu dari Hema. walaupun Hean cukup baik dan bertanggung jawab, tapi tetap saja. ada sisi kejahatan yang tidak Sasa terima jika takdir kembali menyatukan Hean dan Hema.


Sasa takut Hema akan kecewa lagi.


"Aneh... padahal tadi lo tidak membahas Zain tadi..." celetuk Hema. sedangkan Sasa hanya diam tak melanjutkan pembicaraan masalah duda.


Makanan telah siap, Jio telah bergabung di meja makan mengamati istrinya yang tengah menaruh nasi dan lauk ke piringnya.


"Kenapa tadi pulang terlambat?".


Walaupun Jio hanya telat tak lebih dari 1 jam, nyatanya Sasa melihat hal itu.

__ADS_1


"Oh, tadi bertemu dengan Dimas sebentar...".


Sedangkan Hema hanya sibuk makan tanpa memperhatikan pembicaraan pasangan tersebut.


"Ada sesuatu yang terjadi?". Tiba-tiba Sasa penasaran. walaupun Dimas memang sering berkumpul dengan Jio, tapi tak seperti ini. tiba-tiba ketemu setelah pulang bekerja.


lebih tepatnya dadakan seperti sekarang.


"Hm..." jawab Jio. mengunyah makanannya.


"Bella di minta paksa oleh orang tua Agnes..." lanjutnya menjelaskan.


"Ha?". Sasa terkejut. sedangkan Hema langsung mengangkat pandangannya ikut penasaran apa yang tengah terjadi saat ini.


Maksudnya Bella putrinya Hean? batinnya bertanya-tanya.


"Mereka datang dan mengambil Bella untuk tinggal bersama mereka..." jelas Jio.


"Tapi bukankah mereka yang tidak ingin membesarkan Bella dulu? hasil sidang juga telah diputuskan hak asuh Bella sepenuhnya jatuh ke tangan Hean..." protes Sasa. dulu Sasa juga sempat menemani Jio menghadiri sidang tersebut.


"Entahlah... mereka itu memang aneh..." ucap Jio.


"Sidang? apa pernikahan mereka tidak berjalan dengan baik?" timpal Hema begitu penasaran. apalagi ia tadi mendengar Sasa mengatakan tentang sidang dan hak asuh anak.


"Ya begitulah... Hean menceraikan Agnes setelah wanita itu melahirkan..." jawab Jio spontan.


Bercerai?


Glekk... Jio kelimpungan. ia panik dan menatap ke arah Hema mencari tau apa bagaimana reaksi wanita di seberang meja makan tersebut.


Sial... gue keceplosan! umpat Jio dalam hati.


sedangkan lebih dari itu, tatapan Sasa kepadanya begitu menakutkan. seperti seekor Singa yang hendak menerkam mangsanya.


Hehehe... Sorry sayang... gue kelepasan...


senyum Jio kepada Sasa terlihat aneh.


"Jadi mereka sudah bercerai lama?" ulang Hema. inilah pertama kalinya ia mendengar fakta dari pernikahan Hean dan Agnes.


"Iya..." jawab Jio. sudah kepalang tanggung, hingga yang ia lakukan hanyalah berkata jujur kepada Hema.


"Bukankah bagus jika Bella dibesarkan Ibunya... karena Agnes jelas tau dan mengerti lebih dari Hean..." bantah Hema.


"Mana bisa? Wanita itu membuka matanya saja tidak mampu..." jawab Jio lagi.


"Ha?".


Hema semakin terkejut dengan ucapan Jio barusan.


Tak bisa membuka mata? maksudnya gimana?


Buuggg... Sasa memukul bahu suaminya. kesal karena memiliki suami yang tidak bisa menjaga rahasia sama sekali. mulutnya ember dan tidak bisa dipercaya.


Dasar nih laki! umpat Sasa.


Hehehe... Maaf sayang, keceplosan lagi... raut wajah Jio masih sama seperti tadi. dengan senyum yang menampakkan giginya seperti orang bodoh.

__ADS_1


***


__ADS_2