
HAPPY READING...
***
Gemericik air dalam kamar mandi menjadi aktifitas pertama pagi ini. di dalam sana, seorang pria tengah berdiri di bawah shower. menikmati setiap guyuran air dari atas yang membasahi setiap inci tubuhnya.
Ahh... air hangat benar-benar mampu membuat suasana menjadi sangat baik. menjernihkan kepala dan menghempaskan segala pemikiran buruk yang telah bersaranh sejak kemarin.
Ahh...
Hean merasakan setiap butir air yang tahun di tubuhnya. melewati pahatan-pahatan yang terukir indah di tubuh bagian depan. jakunnya naik turun seirama dengan tarikan nafas yang diambilnya.
Hingga pria itu beralih mengambil handuk di ujung saja. melingkarkannya pada rubuh bagian bawah serta tangan kirinya membawa handuk kecil yang digunakan untuk untuk mengeringkan sisa air yang masih menetes dari kepala.
berjalan keluar untuk mengganti pakaian.
mulut pria itu tak henti-hentinya bersenandung. mempertegas bahwa moodnya sedang baik.
Semuanya telah selesai. Hean berganti berdiri di depan cermin. mengamati wajahnya cukup lama. juga tangannya tak henti memperbaiki style rambut dimana beberapa ujung rambut setengahnya menutupi dahi.
rahang kokoh Hean jelas turunan dari sang Ayah. yang mampu membuat semua wanita menelan ludahnya terpukau dengan ketampanan pria itu. terakhir menyemprotkan parfum dan meraih kunci mobil dan meninggalkan Apartemen.
Sejenak Hean mengamati pintu Apartemen di sebelahnya. tak ada pergerakan sama sekali. hingga ia memutuskan untuk berjalan menuju basement sambil menelepon gadis penghuni Apartemen setelahnya yang tak lain adalah Hema.
"Halo... dimana?".
Sesuai dugaan Hean, Hema telah lebih dulu berangkat ke Kampus karena suatu hal.
"Gue sudah tiba di kampus... kenapa?".
jelas Hema lewat sambungan telepon.
"Oh begitu... baiklah, setelah selesai tunggu gue di kantin...".
"Kenapa?".
Selalu saja seperti itu. Hema tak pernah langsung mengiyakan perintah Hean. selalu mencari alasan kenapa ia harus melakukannya.
"Ada sesuatu yang ingin gue tunjukkan...". Mobil Hean perlahan meninggalkan Apartemen. beradu dengan kendaraan lain di jalanan Ibukota.
"Oke...". Pada akhirnya Hema menyetujui perintah Hean. membuat pria itu tersenyum dan matikan sambungan teleponnya lebih dulu. kini perhatiannya terfokus pada jalanan yang selalu sesak oleh kendaraan lain. walaupun sesekali mengumpat kesal karena kecerobohan pengendara roda dua yang seenaknya menyalip dari sisi kiri jalan. tak peduli bahwa kecerobohan itu justru membahayakan nyawanya sendiri.
Tak terasa mobil hitam milik Hean mulai terparkir bersama kendaraan lain di Universitas. baru saja berhenti, dua pria tamg tak asing lagi langsung menghampirinya. siapa lagi kalau bukan Jio dan Dimas. kedua pria itu memang tak mungkin bisa jauh-jauh dari Hean.
"Kirain lo tidak berangkat tadi..." celoteh Jio memulai percakapan.
"Kenapa?". Hean turun dan bersandar pada bodi mobil.
"Si monyet bilang kalau lo sedang dalam mood yang buruk kemarin..." cerca Jio dan sedikit menonyor Dimas yang sejak tadi berdiri di sebelahnya. karena itulah yang dikatakan Dimas tadi. Jio sampai mengira kalau Hean benar-benar tidak datang ke kampus.
"Tidak juga...". tatapan Hean kepada Dimas terlihat berbeda. ada sebuah ancaman yang ditujukan kepada Dimas. bahwa jangan terlalu ember dan membicarakan hal-hal tidak penting kepada Jio.
__ADS_1
Awas lo!
Tapi ekspresi Dimas justru aneh. pria itu tersenyum seolah bilang, Hehehe... sorry, udah terlanjur cerita...
membuat Hean kembali menghela nafasnya kasar. percuma saja, karena Dimas selalu saja seperti itu. tidak mampu menjaga rahasia.entah apa lagi yang telah pria itu bocorkan kepada Jio kali ini. yang jelas, Hean akan mendengar banyak ocehan dadi Jio nantinya.
Ketiga pria itu mulai berjalan menuju ke gedung fakultas. "Semuanya sudah beres?". pertanyaan Hean kali ini adalah tentang perkuliahan. bahkan didinya hampir gola dikejar waktu untuk wisuda.
"Sepertinya..." jawab Dimas dengan matang. karena diantara Jio dan Hean, hanya Dimas lah yang tidak terlalu memikirkan masalah percintaan. dimana Jio selalu menggunakan kharismanya, menggaet wanita-wanita yang ia temui ketika jomblo. Hean dengan pesonanya yang tidak terkalahkan. Agghh.. kedua pria itu selalu menjadi target. sedangkan Dimas, pria itu tak terlalu tertarik. dia sebagai pemangsa, bukan menjadi target buruan.
sekali melihat target, itulah yang Dimas inginkan. bahkan rela melakukan apapun, asal gadis pilihannya itu tidak mengalihkan pandangan darinya.
Seperti sekarang, hanya ada satu gadis yang mengalihkan dunianya. tapi masih terlalu dini untuk menyatakan cinta.
"Gue akan pulang minggu depan..." adu Jio. Ia juga anak perantauan. Ibukota bukan kota asalnya. di sini, Jio sendirian beda dengan Hean dan Dimas yang memang orangtuanya tinggal di Ibukota.
Hari wisuda sebentar lagi, Jio juga akan mengabari orangtuanya. setidaknya menghadiri acara yang Jio tunggu-tunggu selama 4 tahun belakangan.
tak sabar bagaimana hari itu tiba.
"Berapa lama?" Hean bersuara. ia juga memiliki rencana seperti itu. tapi bukan untuk dirinya. melainkan Hema. betapa gadis itu sangat merindukan neneknya di desa. Hean ingin sekali mewujudkan keinginan gadis itu.
Setidaknya hanya itu yang bisa gue lakukan...
"Tidak lama, 3 harian... kalian mau ikut?". Jio terlihat antusias. karena pergi dan membawa sahabatnya bukanlah pertama kalinya bagi Jio.
Hean dan Dimas sudah benerapa kali pergi ke kota dimana Jio berasal saat libur semester.
Jio tak akan merasa sendirian di perjalanan nanti jika Hean dan Dimas juga ikut.
"Tidak," tolak Hean tanpa basa-basi.
Kenapa?
begitu sorot mata Dimas dan Jio. bingung karena Hean tidak seantusias dulu.
"Gue ada agenda yang cukup penting," jelas Hean.
"Mempersiapkan kedatangannya?". goda Jio tanpa bisa dicegah. membuat Dimas meringis tak percaya dengan celoteh Jio yang seolah seperti bom yang tiba-tiba di ledakkan di dekat mereka.
Sial! si anak monyet benar-benar... umpat Dimas kepada Jio. sedangkan Jio yang tau tentang kesalahannya hanya bisa menyengir tanpa dosa. menyesal karena mulutnya tidak bisa di ajak kompromi.
Wajah Hean pias.
Lo sih... Dimas menyenggol bahu Jio. menyalahkan pria itu.
Mana gue tau...
"Oh iya Yan, kemarin Hema bertanya ke gue...". Jio mencoba untuk mengalihkan topik. setidaknya biar tidak membicarakan masalah Agnes lagi.
"Tentang?".
__ADS_1
"Hema mencari lo kemarin... kalian bertengkar?". selidik Jio. ia juga bingung ditanyai keberadaan Hean kemarin. karena Jio bahkan tak bertemu dmegan sahabatnya itu.
"Tidak... gue memang kemarin sibuk..." jelas Hean. bahkan seharian Hean benar-benar tak sempat untuk menelpon Hema sama sekali.
Hingga siang hari pun berlalu.
Hema menjadi orang pertama yang selesai dan menuju ke Kantin. mengedarkan pandangannya mencari Hean yang ternyata belum datang.
sambil menunggu pria itu, Hema menikmati segelas jus jambu dengan bongkahan es yang besar dan menyegarkan.
Ahh...
Jus jambu mampu melegakan tenggorokannya. apalagi cuaca memang tengah terik walaupun sudah jam 3 sore.
Hingga tak butuh waktu lama, seorang pria berlari ke arah Hema sambil meneriakkan nama gadis itu.
Hema melambaikan tangan menyambut kedatangan Hean hingga duduk di sampingnya.
"Agghh... panasnya..." keluh Hean dengan nafas yang masih berkejaran.
"Mau minum?" tawar Hema.
ia sangat tau apa yang dirasakan Hean di cuaca panas seperti ini.
"Ini saja...". tanpa terduga Hean justru mengulum sedotan di minuman Hema tanpa ragu sedikitpin. bahkan sampai si pemiliknya melongo tak percaya.
Itu kan punyaku...
Hean benar-benar meminum jus jambu milik Hema lewat sedotan yang tadi bekas bibir Hema.
kenapa? gue bahkan pernah mencium bibirnya langsung... ucap Hean bangga. apalagi pria itu tersenyum sangat manis mampu mengalahkan rasa dadi jus jambu di atas meja.
"Jadi, mau bicara apa?". Hema langsung bertanya tentang alasan Hean mengajaknya bertemu di kanton.
"Kemarin Lo menanyakan gue lewat Jio, kenapa? kangen ya?". goda Hean.
Untung saja Jio mengatakannya tadi. jadi ada bahan untuk Hean menggoda gadisnya.
Sungguh pertanyaan Hean mampu membuat Hema malu dan salah tingkah. wajah gadis itu memerah tanpa bisa dicegah. dan tentu saja Hean mampu melihat ssua itu terlihat dari senyum jenaka yang semakin mengembang memenuhi bibirnya.
"Ti-dak..." jawab Hema terbata-bata.
Malu bukan kalau ia bilang Iya?
walaupun sebenarnya bukan rindu, Hema hanya penasaran karena seharian tak bertemu dengan pria itu.
"Kangen juga gakpapa kok... gue juga kangen".
Ehh...
Hema merasa aneh. seperti ada sebuah kupu-kupu yang menggelirik di dalam perutnya.
__ADS_1
***