
HAPPY READING...
***
Setiap orang pasti pernah mengalami patah hati yang akan mengubah sudut pandangnya tentang cinta seumur hidupnya.. entah itu mati rasa atau sulit percaya...
malam itu juga, di saat sebagian orang memilih akhir pekan untuk beristirahat, bercengkrama dengan anggota keluarganya dan muda-mudi bertemu kekasihnya untuk sekedar makan dan jalan-jalan. beda lagi dengan pria yang satu ini.
Hanya dengan koper kecil, Hean duduk di bangku pesawat yang tengah bersiap mengudara meninggalkan Ibukota.
pria itu terlihat tak lelah sama sekali. bahkan sesekali nampak senyum kecil menghiasi sudut bibirnya. berharap kedatangannya akan menjadi sebuah kejutan untuk sang kekasih yang berada di belahan dunia yang berbeda.
Malam ini, Hean akan menempuh perjalanan cukup lama hanya untuk bertemu sang kekasih.
Agghh... Betapa Hean merindukan kekasihnya. ingin memeluk tubuh gadis yang sudah menjadi bagian dari jiwanya dan menikmati hari-hari penuh bunga.
Begitu besar rada cintanya terhadap Agnes. bahkan rela pergi dan menemui gadis itu dimana harus mengeluarkan uang yang cukup besar untuk perjalat pulang pergi.
tapi tak berpengaruh bagi Hean, yang penting ia bisa bertemu dengan Agnes dan melepas rindu.
4 tahun belakangan, Hean dan Agnes benar-benar hidup bersama layaknya pasangan suami istri.
cinta pertama dan berharap akan jadi labuhan hati terakhirnya.
17 jam yang harus Hean nikmati di dalam pesawat hingga langit sore hari menyapa kedatangan Hean. di sebuah negara yang pernah ia tinggali 4 tahun belakangan. inilah pertama kalinya Hema menginjakkan kakinya lagi di London sejak dirinya bekerja sebagai CEO sebuah perusahaan.
Rasa lelah, ngantuk hilang sepenuhnya ketika Taxi yang Hean tumpangi mulai membelah jalanan menuju ke sebuah Apartemen tempat tinggal kekasihnya.
Tak sabar rasanya ingin memeluk gadis itu dan melihat bagaimana reaksinya ketika Hean datang tanpa mengabari Agnes lebih dulu.
"Thank you...".
Hean turun setelah membayar mobil itu. langkahnya penuh semangat sambil menyeret sebuah koper kecil menuju ke Apartemen dan masuk ke dalam sana.
Jantung Hean semakin bergemuruh ketika Lift membawanya menuju ke unit dimana Agnes tinggal. hingga sebuah pintu ada di depan matanya. Hean semakin bahagia dan menuju ke sana.
Tapi saat hendak menelan beberapa digit angka di pintu itu, suara tawa seorang ahdis mengalihkan perhatiannya.
Hean langsung sembunyi karena jelas mengenal suara siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Agnes. gadis yang ingin ia kejutkan.
Hean sembunyi di sudut, takut kedatangannya akan ketahuan. tapi saat ia kembali mengintip, nyatanya keadaan membuatnya kecewa.
Pemandangan yang tak ingin Hean lihat justru terpampang nyata di depannya.
hatinya hancur, melihat kejadian menjijikkan di depan sana. bagaimana Agnes dengan mudahnya telah mengecewakan dirinya.
__ADS_1
Jadi seperti ini kelakuan lo Agnes...
Hean kecewa. kekasihnya berciuman dengan pria lain di depan mata dan kepalanya sendiri.
Tak mengira, gadis yang begitu Hean cintai dan percayai selama ini justru menabur begitu banyak luka di hatinya.
"Ck..". Hean tersenyum getir. menertawakan kebodohannya dan nasibnya yang jelas buruk sekali.
Hean mengepal tangannya erat. ingin sekali memukul wajah pria di depan sana. tapi percuma saja bukan? ia tidak bodoh yang mudah percaya. jelas sekali Agnes melakukannya atas dasar suka sama suka.
jadi untuk apa menghajar pria itu kalau gadisnya saja menginginkannya?
Hean tertunsuk lemah seingin dengan suara pintu yang kembali tertutup. ia tau kalau Agnes membawa pria itu masuk ke dalam Apartemen. apakah Hean penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan setelah ini?
Ck... tentu saja tidak. ia paham kejadian apa yang akan terjadi setelah ini.
dan jika ia memaksa masuk ke dalam sana, Hean hanya akan lebih kecewa melihat kelakuan menjijikkan dari Agnes dan pria itu.
Setidaknya gue cukup tau... batin Hean. dengan perasaan kecewa, sedih dan marah pria itu berjalan gontai meninggalkan Apartemen.
membawa segala rasa kecewa nya kembali pulang.
Ini kedua kalinya... batin Hean.
Kedua kalinya ia merasa kecewa karena Agnes. kedua kalinya gadis itu menabur luka untuk Hean. kedua kalinya Hean merasa mudah di bodohi.
Hean tak mau lagi. ia tak mau lagi menjadi bodoh untuk gadis yang sangat buruk baginya. gadis yang selalu membuatnya kecewa. sudah cukup.
Tapi Hean tak ingin kejadian dulu terulang kembali. masalah ini akan ia selesaikan saat ini juga. tak ingin terus menunda-nunda dan pada akhirnya hanya dia yang menderita.
"Dimana?". Tanya Hean bertanya keberadaan Agnes.
"Oh... ini... em... gue baru pulang Yan...". jelas terdengar gugup dari cara Agnes menjawab pertanyaannya.
bayangan Hean hanya menerka pada satu adegan yang tengah Agnes lakukan saat ini.
"Kenapa terdengar gugup?". masih berpura-pura tidak tau apa yang tengah terjadi.
"Be-benarkah? ahh... gue sempat berlari tadi...".
Hean tersneyun getir. betapa ia sangat bodoh jika mempercayai ucapan Agnes itu. gadis yang ia anggap polos dan baik. ternyata gadis itu juga yang selalu mengecewakan Hean terus menerus.
"Gue kira tengah olahraga seperti yang kita lakukan dulu..." sindir Hean.
Lo benar-benar br*ngsek Agnes! umpat Hean dalam hati.
__ADS_1
"Ha?".
Hean tau kalau Agnes bertambah gugup saat ini. terdengar sekali ada suara berisik di sana.
bahkan membuahkan Hean jengah dan sedikit menjauhkan ponsel dadi telinganya. jijik mendengar suara-suara berisik itu.
"Jangan menghubungi ku lagi Nes!" ucap Hean terdengar seperti sebuah bumerang bagi Agnes.
"Jangan pernah berani mengganggu ku lagi...".
Gue bahkan tidak sudi melihat mu lagi...
"Yan, apa maksud lo?Yan...". siapa yang tidak panik mendengar Hean tiba-tiba berkata seperti itu. itulah yang Agnes rasakan saat ini. bingung sekaligus takut kalau Hean tidak sedang bercanda saat ini.
"Yan... jawab gue... Hean...".
Hean masih mendengar Agnes berteriak-teriak dalam ponsel. tapi dengan santainya pria itu langsung mematikan panggilan teleponnya. juga dengan mematikan ponsel dan langsung berjalan pergi.
Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia. hari yang seharusnya menjadi hari untuk mengikis rindu di antara Hean dan Agnes berubah menjadi hari paling menyedihkan.
Membawa rasa kecewanya, Hean kembali ke bandara. mengambil tiket penerbangan tercepat agar bisa segera meninggalkan negara ini.
Mungkin di masa depan, Hean tak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di London. negara yang dulu pernah menjadi impiannya akan menjadi negara yang ia benci seumur hidup.
Hean tak akan pernah mau lagi mengingat negara ini dan segala kenangannya.
Malam itu, Hean benar-benar kembali ke negara asalnya. tak menghiraukan rasa lelah yang tertutup oleh besarnya rasa kecewa yang ia bawa.
Agnes, gadis yang selalu menjadi penyebab kekecewaan Hean.
dan bodohnya Hean jatuh ke dua kalinya pada lubang yang sama.
karena ia baru sadar bahwa cinta itu buta, tak tau mana bercanda dan mana berpura-pura.
Di tempat lain,
Agnes merasa kebingungan. beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi Hean, tapi nomor pria itu tidak aktif.
"Hean... kenapa mematikan ponsel lo..." gumamnya sendiri.
Mondar-mandir berharap nomor pria itu bisa ia hubungi dan Agnes akan menanyakan apa maksud Hean melarangnya untuk menggangu hidupnya.
"Hean... dimana lo...".
Sampai tengah malam, Agnes masih merasa khawatir. i ajuga bingung kenapa Hean seperti tau apa yang ia lkajkna di sini.
__ADS_1
Hean seperti tau kalau dirinya berselingkuh di belakangnya.
***