Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
35. Agnes.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Perjalanan yang begitu melelahkan. menguras tenaga bahkan membutuhkan waktu yang sangat lama telah berlalu. Setelah menahan rindu, menahan diri, pada akhirnya Agnes tiba juga di tanah kelahirannya.


rasa lega langsung menyeruak di dada, bahkan Agnes ingin menangis saat menyusuri Bandara mencari keberadaan anggota keluarganya.


Berpelukan hingga tangis penuh haru itu runtuh juga. beberapa saat hanya isak tangis yang terdengar, juga dengan belaian dan kecupan Ibu lah yang mampu membuat Agnes betapa ia sangat beruntung bisa berkumpul lagi bersama setelah 4 tahun lamanya.


"Bagaimana keadaanmu Nes?". belaian dari Ibu tak henti-henti. lembut masih sama seperti yang Agnes rasakan terakhir kali.


"Baik Bu... sangat baik... bahkan sekarang jauh lebih baik lagi, Agnes rindu Ibu...".


Hati Ibu mana yang tak sedih mendengar hal itu. sebagai anak perempuan serta anak terakhir dalam keluarga, Agnes adalah segalanya dalam keluarganya. kesayangan semua orang bahkan untuk kakak-kakaknya.


Sebagai anak kesayangan, kepergian Agnes di Amerika benar-benar membuat keluarga sedih. mereka memaksakan diri untuk menahan rindu demi bertemu dengan gadis itu.


Agnes yang selalu bergantung pada kakak, Ibu dan juga Ayah. sedangkan di Amerika, gadis itu harus bisa mandiri. mengurus dirinya sendiri bahkan untuk waktu yang lama.


Dan sekarang, gadis itu telah kembali. keluarga mereka akhirnya utuh kembali.


***


Pagi hari yang cerah, setelah semalaman tidur dan istirahat pada akhirnya Agnes bangun di pagi yang berbeda dadi biasa yang ia rasakan.


pertama kalinya setelah begitu lama gadis itu bangun di negara asalnya.


"Ahhh...".


Udara yang begitu Agnes rindukan. bangkit dari ranjang dan berdiri di balkon, seketika angin pagi menerpa wajah. gadis itu memejamkan mata merasakan angin yang sedikit menggoyangkan rambut panjangnya.


Banyak rencana yang ingin ia lakukan pagi ini. anggap saja nostalgia dengan kenangan masa lalunya. mengunjungi tempat-tempat yang dulu bahkan amat membosankan baginya.


Dan disini lah Agnes berada.


berjalan ringan sambil menatap tatanan jalanan yang sedikit berbeda dari terakhir kali ia datangi.


masih terlalu pagi jadi tidak banyak kendaraan yang lewat.


Agnes memutuskan untuk duduk di trotoar jalan, mengamati taman kecil yang sering ia gunakan untuk duduk dan menikmati es krim ketika pulang sekolah.


Setelah memohon kepada Intan, akhirnya Agnes mendapatkan sesuai dengan keinginannya. nomor dari pria yang begitu ia rindukan, Hean.


Sungguh Agnes ingin bertemu dengan pria itu, tapi tak tau dimana tempat tinggalnya ataupun nomor ponselnya. hingga yang dilakukan Agnes adalah meminta dari Intan. karena hanya gadis itulah yang Agnes kenal.


Sebenarnya Agnes juga mengenal orang terdekat Hean, Dimas adalah salah satunya. hanya saja Agnes tak begitu berani menghubungi pria itu. apalagi Dimas adalah saksi tentang keretakan hubungan Agnes dan Hean beberapa tahun silam.

__ADS_1


Dengan penuh senyum, Agnes mengambil potret tangannya dengan latar tempat itu. tanpa basa-basi mengirimkannya kepada Hean.


Agnes : [Ingat tempat ini? tempat yang bisa gue kunjungi setiap hari... Agnes]


Tak butuh balasan, karena mengirim pesan itu saja sudah cukup baginya.


Agnes pun tak berlama-lama disana. gadis itu kembali menyusuri jalanan dan melihat-lihat keadaan sekitar. banyak bangunan serta ruko yang berdiri. dulu memang ada, tapi sekarang jauh lebih memukau baginya.


Nama-nama toko baru membuat Agnes ingin mengunjungi satu persatu melihat apa yang dijual di dalam sana.


Hingga tepat di depan sebuah sekolah, Agnes terdiam. sekolah yang masih sama dengan dulu. bangunan dengan cat biru yang mendominasi.


terharu karena Agnes pernah belajar disana selama 3 tahun lamanya.


menimba ilmu pada sekolah menengah atas bersama dengan Hean juga.


Sekolah ku dulu... batinnya bicara.


Banyak sekali siswa yang lalu lalang. bergerombol masuk dan tertawa. pakaian masih biru abu-abu yang juga pernah Agnes pakai dulu. masa sekolah yang selalu menjadi kenangan paling menyenangkan bagi siapa saja.


di masa itu, Agnes pertama kali mengenal cinta. pertama kali jatuh cinta pada teman sekolahnya.


dan sampai sekarang, rasa itu masih ada walaupun Agnes sadar hubungan mereka tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


Matanya memanas mengingat semua kenangan masa lalunya itu. saat Agnes ingin menyeka matanya, seseorang berlari kearahnya.


teriak seseorang yang mampu Agnes dengar. dan spontan memutar tubuhnya mencari sumber suara. seorang gadis berseragam abu-abu berlari ke arah Agnes.


dari senyumnya jelas kalau gadis muda itu mengenalinya. tapi siapa?


Agnes seperti tak mengenali gadis itu, tapi wajahnya terlihat tidak asing.


"Kak Agnes kan?". tanyanya lagi membuat Agnes otomatis mengangguk walaupun masih mencoba mengingat-ingat.


Siapa?


"Intan kak..." gadis muda itu memperkenalkan diri.


"Ahh... Intan...". Agnes paham siapa Intan itu. siapa lagi kalau bukan adiknya Hean. mereka pernah sangat dekat waktu itu. hingga Agnes pergi ke Amerika untuk kuliah dan baru pulang saat ini.


dan yang membuatnya kagum adalah Intan tumbuh menjadi gadis remaja yang begitu cantik.


"Intan sangat kaget tadi... tak percaya kalau Kakak disini...". Intan sangat antusias. ketika mobil yang mengantarkannya berhenti dan Intan turun, tatapannya justru ke arah Agnes.


untung saja Intan memiliki ingatan yang cukup baik. hanya melihat dari foto saja, ia bisa mengenali Agnes.


"Kenapa kak Agnes disini?". pertanyaan yang lumrah ditanyakan. apa ada keperluan penting yang membuat Agnes berada di sekolahnya?

__ADS_1


"Ini juga Sekolahan ku..." jawab Agnes.


Intan menepuk jidatnya. lupa kalau Agnes juga sekolah di tempat yang sama seperti kakaknya dulu.


"Ah, iya... Intan lupa...".


Keduanya tersenyum. "Jadi Kak Agnes mau kemana lagi setelah ini?".


"Em... belum tau, mungkin berkeliling saja..." jawab Agnes ragu.


"Banyak yang berubah dari kota ini... bahkan semoga membuatku lupa jalan..." guraunya.


"Kabari Intan kalau kak Agnes mau jalan-jalan... Intan siap menjadi tour guide untuk kakak...".


"Hahaha... bisa saja...". bersamaan dengan itu Bell sekolah pun berbunyi membuat Intan pamit masuk ke sekolah dan meninggalkan Agnes. melambaikan tangan sebelum Intan benar-benar menghilang dari gerbang sekolah.


Tiba-tiba ponsel Agnes berbunyi. perhatiannya teralihkan dan mengecek siapa yang mengiriminya pesan singkat.


yang ternyata adalah Intan.


Intan : [Kak, Intan mohon jangan beritahu Kak Hean kalau kakak dapat nomornya dariku... pleasee...]


Bahkan diakhir pesannya ditambah dengan stiker bola mata berkaca-kaca.


Lucu sekali... batin Agnes. sebegitu takutnya kepada sang kakak membuat Intan sampai memohon agar namanya tidak disebut.


Agnes pikir, mungkin saja Hean telah mengancam adiknya untuk tidak menyebarkan nomornya lagi apalagi kepada Agnes. karena selama 4 tahun, Agnes selalu kehilangan komunikasi dengan Hean. pria itu sengaja mengganti nomornya beberapa kali agar Agnes tak bisa menghubunginya.


Tapi sekarang, Agnes tau kalau takdirnya bersama Hean masih berlanjut. buktinya, gadis itu kembali mendapatkan nomor Hean dan bisa menghubunginya lagi.


Agghh... Gue benar-benar merindukannya...


Sedangkan di tempat lain, Hean beberapa kali menenggak minuman keras. botol yang tadinya masih penuh seketika habis dan beralih ke dalam perutnya.


kepala pria itu terasa amat berat. Hean sempat syok mendapat pesan dari nomor yang tidak ia kenal yang ternyata adalah Agnes.


Gadis itu telah kembali... Agnes telah kembali...


gumamnya dengan suara parau. tapi bukannya senang dengan kepulangan Agnes, Hean justru menahan tangis. sedih dan bingung harus melakukan apa.


"Gue benci lo Agnes!" teriaknya dan membanting botol minuman keras hingga membentur tembok dan pecah berkeping-keping.


***


Jadi jadi, yang bingung kenapa Hean tiba-tiba mendatangi Hema sambil marah, ya... karena ini... karena pesan Agnes yang memberitahukan bahwa Agnes sudah pulang...


semoga syuka...

__ADS_1


__ADS_2