
HAPPY READING...
***
Matahari pagi perlahan mengintip malu-malu dari ufuk timur. menyinari dedaunan yang basah karena hujan dini hari tadi.
masih di rumah keluarga, Ibu sibuk berkutat di dapur.
walaupun sudah ada asisten yang membantu, tapi urusan makanan masih menjadi tanggung jawab Ibu. karena anak dan suaminya lebih suka masakannya daripada asisten rumah tangga. itulah sebabnya itu bangun awal untuk memasak pagi ini. apalagi karena ada putranya yang menginap semalam.
"Biar saya yang memotong sayurnya..." kata Asisten perempuan itu. mengambil alih beberapa ikat sayur dan pisau dari tangan Ibu.
Sejenak Ibu hanya terdiam, melamun tentang masalah yang tiba-tiba datang menguji keluarganya. mata ibu menggenang bersamaan dengan ingatannya pada kejadian semalam.
Ibu, percayalah... bukan Hean yang melakukannya... percayalah Bu..
Hati siapa yang tega mendengar ucapan putra kesayangannya dengan penuh permohonan.
Sebenarnya Ibu percaya dengan ucapan Hean, hanya saja ia tak bisa melakukan apapun. karena faktanya Agnes benar-benar tengah mengandung.
Hingga Ibu tak bisa membela Hean, karena tak punya bukti.
Dari pertemuan kedua keluarga semalam yang terkesan tiba-tiba, semuanya telah memutuskan. Hean akan menikahi Agnes. tanggal telah disiapkan. Seminggu, adalah waktu mereka untuk menyiapkan segala sesuatu.
Terkesan mendadak bukan?
Ya... itulah keinginan dari Papa Agnes. Beliau tak mau kabar kehamilan putrinya terendus media. bagaimanapun citra keluarga harus menjadi prioritas utama.
Sebagai keluarga terpandang, Papa Agnes sudah mempersiapkan segalanya. termasuk pada pernikahan nantinya. segerakan sebelum perut putrinya membesar.
Mau tak mau, siap tak siap keluarga Hean harus mengikutinya. walaupun nanti pernikahan akan digelar secara privat, tapi tetap saja akan ada banyak wartawan dan pencari berita yang mengerumuni gedung dimana akan dilakukannya pemberkatan.
"Bu..." panggil Asisten rumah tangga itu. tapi tak ada sahutan dari Ibu. beliau masih berdiri dengan tatapan kosong.
"Bu... sudah selesai..." ulangnya lagi.
"Agh... iya..." pada akhirnya buyar sudah lamunan Ibu. gugup lalu mengambil sayur yang telah dipotong dan siap untuk dimasak.
Bersamaan dengan Ibu yang tengah sibuk di dapur, Intan menjadi orang pertama yang bangun. berjalan ke arah dapur menemui sang Ibu, sama seperti yang sering gadis itu lakukan di pagi hari.
"Ibu," panggil Intan ketika langkah kakinya telah sampai di dapur.
duduk di salah satu kursi makan mengamati punggung Ibu.
"Sudah bangun? sudah mandi?" tanya Ibu sambil terus memasak tanpa mengamati sosok anaknya.
"Jam berapa Ibu pulang?".
Intan tak tau orang tuanya pulang jam berapa. ia sudah ketiduran semalam, karena terlalu lama menunggu.
"Entah, Ibu tak ingat... tapi sudah sangat malam...".
Intan mengangguk. menerima segelas air putih dari asisten rumah tangga yang tengah membantu Ibu memasak.
"Makasih...".
"Ibu pergi kemana?".
Sampai detik ini Intan tak tau kemana orangtuanya pergi semalam. dan sekarang, ia butuh penjelasan bukan?
"Rumah Orang tua Agnes...".
"Ha?". Intan terkejut dengan ucapan Ibu.
"Ibu kesana? ngapain?".
__ADS_1
Karena tiba-tiba orangtuanya datang ke rumah Agnes tanpa persiapan apapun.
"Kakakmu akan menikah In...".
Intan kembali syok. menikah? kakak? dengan siapa?
Padahal kabar berakhirnya hubungan Hean dan Agnes baru saja Intan dengar beberapa waktu yang lalu.
Tapi tiba-tiba sekarang, ada kabar bahwa akan ada pernikahan.
"Ibu..." panggil Intan lagi.
"Selesaikan ini..." perintah Ibu pada asisten rumah tangga nya. dan setelah itu Ibu berjalan mendekati Intan. duduk disana berdua.
"Bantu untuk menyiapkan semuanya ya In... Hean akan menikah seminggu lagi...".
"Seminggu? kenapa Bu?". Intan kira pernikahan yang kakaknya akan lakukan sekitar 1-2 bulan kedepan. tapi siapa sangka kalau waktunya hanya seminggu saja. terkesan terlalu dekat bukan? bagaimana bisa mereka bisa menyiapkannya?
Apa kak Hean sendiri yang minta? Tidak... jelas tidak...
Intan bingung sendiri. karena yang ia tau, hubungan keduanya telah selesai. bahkan Dimas juga tau hal itu.
"Karena Agnes sudah mengandung anak kakakmu In...".
"Ha? mengandung? maksudnya Kak Agnes Hamil?".
Sungguh Intan benar-benar syok mendengar semua nya.
tapi walaupun begitu ia paham, kenapa pernikahan akan di langsungkan mendadak.
Ibu menganggukkan kepalanya. membenarkan pertanyaan putrinya itu.
"Sstt... jangan bilang siapapun In..." cegah Ibu sambil menatap ke arah anak tangga. berharap tak ada siapa pun yang mendengar pembicaraan mereka. hal itu semakin membuat Intan penasaran.
"Kakak ikut pulang?" selidiknya.
"Baiklah.. Intan akan menemui kakak dulu...".
"Intan..." cegah Ibu.
Kenapa?
"Jangan ganggu kakakmu dulu..." cegah Ibu. ia tau putranya pasti butuh waktu untuk sendiri tanpa diganggu siapapun, termasuk Intan.
"Intan hanya ingin menemuinya..." paksa gadis itu. membuat Ibu tak bisa mencegah nya sama sekali.
Dan dengan langkah tergesa-gesa, Intan berlari menuju ke kamar sang kaka yang ada di lantai 2 rumah itu.
menyentuh gagang pintu dan sedikit terkejut karena tak di kunci sama sekali.
"Kakak..." panggil Intan dengan suara halus penuh kewaspadaan.
Terlihat jelas kamar itu sudah terang karena tirai sudah tersibak. atau mungkin memang sejak semalam Hean tak menutup tirai sebelum tidur.
ranjang terlihat kosong dan tak ada bekas telah digunakan untuk tidur sama sekali. membuat Intan yang heran semakin masuk ke dalam mencari keberadaan Hean.
"Kakak...".
Hingga saat langkah kaki Intan semakin masuk ke dalam, gadis itu menemukan sosok yang dicari tengah duduk di bangku kayu yang ada di balkon kamar itu. menatap jauh ke depan sana seperti memandang sesuatu.
"Kak..." ucap Intan perlahan. berdiri di ambang pintu pembatas antara balkon dan kamar, menunggu di persilahkan mendekati Hean.
"Hm,".
Tak ada jawaban lagi selain kata itu. membuat Intan memberanikan diri untuk mendekati kakaknya.
__ADS_1
"Kakak menginap tadi malam?". walaupun Intan sudah tau dari Ibu, tapi tetap ia tanyakan sekedar berbasa-basi.
"Hm,".
Masih sama seperti tadi. Hean seperti tak berniat untuk meladeni ucapan adiknya.
Hingga Intan tak sengaja mengamati wajah Hean. ada luka yang mengering di pelipis pria itu hingga membuat Intan otomatis kembali bertanya.
"Kakak... ini kenapa?". diamatinya luka itu lebih dekat hingga bekas memar di wajah sang kakak terlihat begitu nyata.
Kakak berkelahi? dengan siapa? batin Intan bertanya-tanya.
"Biar Intan obati..." ucap Gadis itu perhatian.
"Tidak udah..." jawab Hean, tapi percuma karena adiknya telah pergi entah kemana. mungkin mengambil kotak obat untuk mengobati lukanya.
benar saja, tak butuh waktu lama Intan sudah kembali. dengan membawa kotak obat gadis itu duduk mendekati Hean.
pertama yang Intan lakukan adalah mengoleskan antiseptik di sekitar luka sang kakak.
"Kakak berkelahi?" tanya Intan sambil sibuk dengan kegiatannya.
"Tidak... Aw...sakit Tan," protes Hean karena adiknya melakukannya dengan kasar.
"Oh maaf..." sesalnya. "Lalu, kenapa kakak bonyok seperti ini?".
Semakin penasaran kenapa wajah Hean bisa babak belur seperti sekarang.
"Di pukuli Bima...".
Ha? Bima? siapa Bima? oh...
"Kakaknya Kak Agnes?". Intan hampir lupa siapa Bima yang Hean maksud tadi.
"Hm,".
Intan terdiam tak lagi bertanya kenapa. ia cukup tau siapa yang melakukan itu tanpa bertanya alasannya.
Setelah itu, Intan mengoleskan salep di luka Hean. dari pelipis dan juga sudut bibir pria itu.
"Lo tidak kuliah?".
"Eh, iya... ini mau mandi..." ucap Intan.
Tau maksud ucapan sang kakak. bahwa kehadirannya sedikit mengganggu waktu Hean.
Intan bangkit dari duduknya, hendak keluar kamar sambil membawa kotak obat yang ia bawa sejak tadi.
Tapi, tiba-tiba Hean kembali memanggilnya "Tan,".
"Ya?".
otomatis membuat Intan kembali terdiam menunggu apa yang akan kakaknya katakan.
"Tan...".
Sejenak Hean berpikir, apakah sepatutnya ia bicara pada Intan tentang masalahnya? karena Intan masih terlalu muda untuk memahami masalah orang dewasa.
"Katakan kak, mungkin Intan bisa bantu..." ucap gadis itu meyakinkan.
"Em.. kalau gue bilang bukan gue yang menghamili Agnes, apa lo akan percaya?".
Degg...
Intan seperti bingung mendengar pertanyaan Hean. bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
Maksudnya Agnes bukan hamil anak kakak?
"Agghh... lupakan... sana pergi!". usir Hean pada akhirnya.