Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
12. Cerita Hantu Versi Hean.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hean masih nyaman dengan posisinya. tiduran di atas ranjang orang lain tanpa malu ataupun sungkan sedikitpun.


sedangkan si pemiliknya sibuk dengan tugasnya. fokusnya tertuju pada sebuah buku di atas meja belajar beberapa saat yang lalu.


"Heh..." panggil Hean. membuat Hema sesekali memutar kepalanya mengamati pria itu. apa yang akan pria itu lakukan lagi.


karena entah sudah ke berapa kalinya Hean


memanggilnya seperti itu, tapi tak ada yang terlalu penting juga. karena yang dilakukan Hean hanya memastikan kalau dirinya tak mau diabaikan.


"Hehe... gue hanya mau tanya, apa disini banyak nyamuk?".


benar kan? tidak ada hal penting yang mereka bahas. Hema juga heran sendiri entah kenapa mulut pria itu tidak capek sama sekali bicara tanpa henti.


"Tidak,".


Dan percakapan itu selesai. Hema kembali memfokuskan diri dengan bukunya, sedangkan Hean sibuk dengan ponselnya. bermain game, itulah dugaan Hema. karena tangan pria itu begitu lincah menekan-nekan touchscreen ponsel milik pria itu sendiri.


"Hema...".


Tidak bertahan lama, Hema kembali memejamkan mata ketika mulut Hean kembali bersuara.


"Apa lagi sih..." ucapnya dengan suara merendah menahan kemarahan.


"Tidak jadi," jawab Hean asal.


Mulut Hema komat-kamit seperti membacakan sebuah mantra. gadis itu mengumpat kesal karena merasa dipermainkan Hean.


"Lo sedang membaca mantra?" goda Hean lagi. sejak tadi ia mengamati kelakuan Hema bahkan ekspresi kesal gadis itu juga tertangkap jelas dari pandangannya.


"Ya, mantra pengusir setan!" jawab Hema sewot. dan tentu saja Hean tertawa dengan lelucon gadis itu.


Lo setannya... batin Hema.


Hema menghirup oksigen banyak-banyak dan menghembuskan nya perlahan. ya, itu sedikit bisa mengurangi emosinya yang entah sudah seberapa tinggi puncaknya.


mungkin bersama Hean untuk waktu yang lama benar-benar mampu membuat tekanan darah tinggi.


Sabar Hema... sabar...


Gadis itu mencoba untuk kembali fokus, membaca buku miliknya dan memahaminya.


tapi lagi dan lagi, pria di kamarnya itu kembali melontarkan pertanyaan entah apa lagi.


"Hema..." panggilnya masih dengan cara bicara yang menjengkelkan.


"Hem...". sedangkan Hema merespon tapi kepalanya sama sekali tak menengok ke arah Hean sedikitpun.


"Apa disini ada hantu?" tanya Hean. Ya... Hean memang se random itu. ada-ada saja yang pria itu bicarakan.


Hema hanya menggelengkan kepalanya. walaupun penghuni kost lain seringkali bercerita tentang hal-hal astral yang mereka alami, tapi Hema beruntung. gadis itu tak pernah sekalipun menjumpai yang namanya hantu. amit-amit lah, jangan sampai Hema melihatnya.


"Masa sih? padahal di lorong depan tadi terlihat gelap... gue saja sempat merinding..." ucap Hean.

__ADS_1


entah yang diucapkannya serius atau bercanda, tapi nyatanya mampu menyita perhatian Hema dari buku pelajarannya.


"Lorong mana?". Hema penasaran.


"Itu lorong yang persis di depan kamar lo...".


Deg, bukan hanya Hean saja yang berkata seperti itu. Hema juga sering mendengar kalau para penghuni kost juga kerap kali merinding ketika melewatinya.


"Aghh... lo jangan nakut-nakutin ya..." ucap Hema memperingati.


Hean menyadari kalau mimik wajah Hema berubah takut. semakin semangat bagi Hean untuk sedikit menakut-nakuti Hema.


"Katanya kalau kita merinding ketika melewati sebuah tempat, tandanya memang ada makhluk halus yang sedang memperhatikan kita...". Hean mencoba memprovokasi.


Hema semakin risau, terlihat sekali kalau gadis itu tak nyaman membahas hal-hal berbau hantu seperti itu. karena bagaimanapun ia tidur sendirian dan akan menakutkan jika mengalami gangguan ataupun melihat hantu.


"Lo tau Jio kan?". Hean kembali membuat-buat cerita yang mampu dipercayai Hema. apalagi tokohnya adalah sahabatnya sendiri.


Yang mana? begitu ekspresi yang Hema tunjukkan. karena Hema sama sekali tidak tau teman-teman Hean.


"Yang tadi pagi bertemu di kampus... yang menyapa lo...".


Yang mana? Hema masih tak tau. karena tadi pagi ia juga bertemu dengan banyak orang. Apa yang dua pria bersamanya itu?


"Yang memakai atasan biru..." jelas Hean.


Oh.. Hema menganggukkan kepalanya mulai ingat dengan orang yang Hean bicarakan.


"Ya... itu Jio, kalau satunya Dimas... mereka sahabat gue..." Hean memperkenalkan sahabatnya.


"Tempat kostnya itu sangat seram... terkadang lampu di ujung tangga tiba-tiba mati sendiri. toilet darurat yang ada di setiap lantai juga kerap kali terdengar gemericik air seperti tengah digunakan... dan lebih parahnya,". Hean menjeda kalimatnya. juga dengan Hema yang saksama mendengarkan dan penasaran seperti apa lanjutan cerita Hean mulai membulatkan mata.


"Terus?".


Hahaha... cie mulai penasaran... batin Hean kegirangan.


"Lo tau cerita tentang keangkeran kamar kost yang paling ujung bukan?".


Hema mengangguk setuju. Dimana pun tempatnya, tempat paling ujung memang sedikit menyeramkan dari yang lain.


"Di kost Jio juga sama, kamar paling ujung itu memang kosong. tidak ada yang menempati... tapi ketika malam ketika semua penghuni kost telah bersiap tidur, dari kamar itu terlihat ada aktifitas... Jio yang saat itu baru saja pulang berjalan sendirian menuju ke kamarnya. dimana kamarnya ada di lantai dua dan otomatis harus melewati kamar kosong tersebut,".


Jantung Hema semakin berdetak kencang mendengar cerita Hean. semakin Hema takut tapi semakin penasaran pula apa yang terjadi pada Jio.


"Apa yang terjadi?". tanya Hema dengan polosnya.


"Jio berjalan perlahan sambil meyakinkan diri, semakin mendekat dan mendekat hingga memberanikan diri menaiki anak tangga selangkah demi selangkah... dan ia mulai menyadari, ada sesuatu yang mengikutinya...". Hean bercerita dengan ekspresi yang cukup bagus. sudah seperti seorang pendongeng saja.


"Tap Tap Tap... langkah kakinya benar-benar terdengar menggema di seluruh ruangan, hingga tiba-tiba...,".


Hema menarik nafasnya, bersiap mendengar kelanjutan kisah berbau mistis tersebut.


"Tiba-tiba Jio terdiam, tubuhnya lunglai melihat pemandangan di bawahnya...".


"Apa yang dia lihat?". tanya Hema penasaran.


"Dia melihat bayangan dirinya sendiri yang mengikutinya naik tangga...".

__ADS_1


Agghh... sial... umpat Hema dalam hati.


"Hahaha...". Hean tertawa sangat keras. puas karena telah mengerjai Hema. apalagi melihat wajah kecewa dari gadis itu, benar-benar mengasyikkan.


Dasar sialan! sedangkan Hema kembali mengumpat. tak menyangka kalau dirinya bakal dikerjai seperti itu. menyesal karena telah mendengarkan cerita Hean yang ternyata hanya gurauan saja.


Hingga tak terasa waktu berputar begitu cepat. Hean bangkit dan mengenakan jaketnya setelah mengamati jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Lo mau pulang?" tanya Hema.


Pertanyaan yang sangat lumrah, tapi bermakna lain bagi Hean.


"Apa lo ingin gue tidur disini?" godanya.


Hema gelagapan, karena bukan itu yang ia maksudkan tadi.


"Bu-kan i-tu mak-sud gu-e" jawabnya terbata-bata.


bingung karena pertanyaannya diartikan lain bagi Hean.


Hean mendekati Hema. berdiri tepat di depan gadis itu bahkan di jarak yang begitu dekat, "Lalu?".bahkan hembusan nafas Hean sampai menerpa wajahnya. semakin membuat Hema gugup dan salah tingkah.


"Lain kali kita bobok bareng, oke?". goda pria itu lagi bahkan spontan mencium kening Hema tanpa ragu sedikitpun.


Apa-apaan ini?


Hema membeku, perlakuan Hean yang tiba-tiba membuatnya tak mampu berpikir rasional. Apalagi semuanya berjalan begitu cepat hingga Hema tak bisa mengantisipasi.


"Gue pulang..." pamit Hean. tapi senyum pria itu jelas menandakan kalau Hean tengah bergembira.


Hema yang masih syok, hanya mengangguk singkat sebagai respon.


Nyatanya, pria itu tak segera pergi. masih terdiam di tempat sambil mengamati wajah Hema. cukup lama...


"Kenapa tak segera pergi?". tanya Hema sedikit salah tingkah bahkan tak berani menatap Hean lama-lama.


"Sepertinya lo tidak rela kalau gue pulang...". alasan tak masuk akal kembali terlontar.


Hema kembali melongo, heran dengan jalan pikiran Hean yang tidak bisa ditebak.


"Cepat sana pergi...". pada akhirnya Hema lah yang mendorong pria itu agar cepat pergi dari sana.


"Haha... baiklah baiklah... gue pulang...".


"Hem...".


Hema mengantar kepergian Hean dari tempat kostnya. hingga mobil itu perlahan menghilang di telan jalan, barulah Hema kembali masuk ke dalam. membanting tubuhnya di atas kasur yang sejak tadi digunakan Hean untuk rebahan.


bahkan aroma parfum milik pria itu masih tertinggal jelas disana. Menghirup aroma itu saja mampu membuat Hema tersenyum simpul dan terpejam pada akhirnya.


Malam pun telah merangkak naik ke peraduannya. tapi kisah Hema dan Hean masih terus berlanjut.


***


Hahaha... Kayaknya memang diriku gak pantas jadi penulis horor yak... bukannya menyeramkan malah lucu... hihihi...


Komen banyak-banyak dan jangan lupa kasih Rate Bintang 5 ya...

__ADS_1


__ADS_2