Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
91. Zain dan Hean.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Pagi hari.


Hean tengah menikmati sarapan paginya. duduk sendiri di salah satu kursi yang di sediakan. tak banyak yang datang, atau mungkin karena Hean terlalu terlambat daripada yang lain.


Sambil terus mengunyah potongan roti di piringnya, Hean terus saja berpikir bagaimana caranya untuk menemukan Mark selain Club malam.


Tak banyak waktu yang Hean bisa lakukan di sini. kalau hanya di Clum malam, berarti hanya ada 3-4 kesempatan saja dan sudah berkurang satu malam kemarin. karena Mark tidak ada disana.


Hean tak mau menyia-nyiakan waktu yang ia miliki. Ia harus mencari cara agar bisa bertemu pria itu secepatnya, walaupun tidak di Club malam saja.


Ck... sial! seharusnya gue mengajak seseorang... batinnya bicara.


Jio misalnya, sahabatnya itu sangat bisa diandalkan dalam mencari informasi.


Sifat ceria Jio yang mudah berbaur dengan siapa saja, bahkan dalam situasi apapun sangat menguntungkan. tapi nyatanya, Hean menolak tawaran pria itu yang ingin datang membantunya. sekarang, Hean menyesali hal itu.


Kalau Club malam itu sering ia datangi, tentu saja tempat tinggalnya cukup dekat bukan?


tidak mungkin Mark jauh-jauh datang hanya untuk bersenang-senang di sana... batin Hean lagi.


Jarak, adalah salah satu faktor yang amat penting.


"Masa tidak ada yang mengenalnya di sekitar sini?" gumam Hean pelan masih dengan sesekali mengunyah sarapannya.


"Apa gue perlu berjalan-jalan di sekitar sini?".


Tiba-tiba ada ide yang terlintas di kepalanya. kalau ada kesempatan, kenapa juga Hean harus menunggu di satu tempat saja.


"Benar, gue akan mencari informasi di sekitar sini..." ucap Hean kembali optimis. mempercepat sarapannya dan bergegas bangkit meninggalkan restoran itu.


Tiba di lantai kamar tempat Hean menginap, pria itu hendak kembali ke kamar mengambil dompet dan sesuatu yang ia perlukan.


tapi langkah kakinya terhenti ketika tak sengaja melihat gadis kecil menangis di sudut tempat itu. duduk sambil memeluk kedua lututnya ketakutan.


Eh, siapa dia? batin Hean bertanya-tanya. pria itu celingukan, mengamati suasana sekitar mungkin saja ada orang tua dari gadis kecil yang mungkin berusia 2 tahunan itu. tapi tak ada siapapun.


Hingga yang dilakukan Hean adalah berjalan mendekati anak kecil dengan bandana merah di kepalanya.


"Jangan takut..." ucapnya penuh hati-hati karena semakin mendekat, anak perempuan itu semakin menangis. terlihat sekali kalau ada ketakutan dari cara ia memandang ke Hean.


"Om tidak jahat kok..." ucap Hean lagi.


Sedikit heran karena anak itu seperti paham apa yang Hean katakan. padahal saat ini Hean mengatakannya dalam bahasa indonesia.


Apa dia juga dari Indonesia? batin Hean.


"Dimana orang tuamu? kenapa kamu sendirian disini? ha?" tanya Hean.


pertama kalinya dalam hidupnya, Hean bertemu dengan anak kecil dan berinteraksi seperti sekarang.


karena Hean tak pernah melakukan hal itu sebelumnya.

__ADS_1


"Papa..." isak tangis anak itupun kembali terdengar. seperti anak kecil yang benar-benar tersesat dan lepas dari pengawasan orang tuanya.


"Papa? dimana orangtua mu?". Hean pun ikut bingung. ia tak tau anak siapa itu, dan dengan siapa anak itu pergi kesini. sekarang, justru menangis di hadapannya.


"Papa...".


"Kemarilah..." pinta Hean membuat anak kecil itu mendekat. mengangkat tangan minta Hean menggendongnya.


Sebuah perasaan aneh tiba-tiba merayapi hati Hean. Apa seperti ini rasanya memiliki anak?


Karena anak kecil dalam gendongannya sama seperti anak Agnes suatu hari nanti.


Sama-sama perempuan dan tentu saja menggemaskan.


"Kamu tersesat? baiklah... kita cari Papa mu dulu..." ajak Hean. mulai melangkah tak jadi kembali ke kamarnya.


Karena yang harus Hean lakukan saat ini adalah membantu anak itu agar bisa bertemu dengan Papanya.


Hean sambil menggendong anak itu menekan tombol Lift. tapi seseorang seperti memanggilnya, membuat Hean mebgurungkan diri yang akan menekan tombol Lift.


"Mika...".


Hean memutar tubuhnya. mencari sumber suara tersebut.


"Papa...". anak kecil di gendongan Hean seketika kembali memanggil papanya. lebih tepatnya memanggilnya pria di depan sana dengan sebutan Papa.


Bukankah dia yang semalam? Hean ingtmat. masih sama dengan pria yang tak sengaja menabrak lengannya tadi malam.


tapi Hean jelas tidak melihat anak kecil yang tertidur tadi malam yang ternyata juga anak yang saat ini berada dalam gendongannya.


Hean mengira kalau pria di depannya mungkin lebih tua darinya. apalagi wajahnya yang terlihat dewasa dan pembawaannya yang begitu tenang.


"Ternyata kamu disini...".


"Iya... aku tak sengaja menemukannya menangis di pojok sana..." ucap Hean menjelaskan awal pertemuannya dengan anak kecil bernama Mika itu.


Menyerahkan kepada ayah dari anak itu dengan perasaan lega.


Syukurlah...


"Terimakasih... kalau bukan karena Anda, mungkin saya tidak akan bisa menemukan putri kecilku..." ucap Papa dari Mika sangat berterimakasih.


"Jangan berlebihan seperti itu, Saya tidak melakukan apapun... lagian Mika juga anak yang baik..." puji Hean sambil menatap Mika yang terlihat nyaman dalma gendongan Papanya.


"Oh iya, saya Zain..." ucap pria itu memperkenalkan diri di depan Hean.


"Senang bertemu dengan Anda... Hean, nama saya Hean..." balas Hean sambil menerima jabat tangan dari pria bernama Zain itu.


Perkenalan yang sangat tak terduga.


"Apakah anda dalam perjalanan bisnis di sini?". Zain mulai membuka percakapan lebih. ingin tau apa yang membuat pria itu sampai di London dan bahkan menginap di hotel yang sama dengan Zain.


"Iya, Anda?".


Zain tersenyum. karena tujuannya datang kesini adalah membawa Mika melihat bagaimana kota London. dan lebih dari itu,

__ADS_1


"Tidak... hanya menemui teman yang sedang bekerja disini..." jawab Zain.


Selain mengajak Mika putri kesayangannya jalan-jalan di London, Zain memang sengaja datang karena ingin menemui seseorang. Ya... seseorang sedang berada di London untuk bekerja.


"Papa..." rengek Mika.


anak kecil itu seperti mengantuk dan lelah karena sudah lama menangis. mungkin saja ingin minum susu dan beristirahat.


"Sepertinya putriku mengantuk..." keluh Zain melihat situasi.


"Semoga bisa bertemu lagi di lain kesempatan..." ucap Hean.


"Iya... sukses dengan urusan Anda... saya permisi...".


Hean mengangguk melepas keeprgian pria bernama Zain itu. dan setelah Zain hilang dari pandangannya, Hean kembali berjalan menuju ke kamarnya berada.


 


Di tempat lain, Zain baru saja masuk ke dalam kamar. membuatkan Mika susu dan menidurkan putrinya itu. hingga beberapa saat kemudian, seorang gadis berambut pendek mengetuk kamar hotel Zain.


"Dia tidur?".


"Iya... kelelahan karena menangis..." adu Zain.


"Kenapa?".


"Dia sempat tersesat di hotel ini...".


Gadis yang berdiri di sana menutup mulutnya karena terkejut. tak menyangka ada kejadian seperti itu yang ia lewatkan.


"Untung saja ada seseorang yang baik dan menolong Mika..." lanjut Zain mengenang pertemuannya dengan pria bernama Hean beberapa saat yang lalu.


"Syukurlah...".


"Ada sesuatu yang penting?". Zain bertanya, mungkin saja ada sesuatu yang penting hingga membuat gadis itu mendatanginya.


"Tidak... karena Mika sedang tidur, aku akan kembali lagi nanti...".


gadis itu memutuskan untuk pergi sejenak karena Mika tidur.


dan akan kembali lagi nanti setelah ada waktu senggang.


"Bye...". pamitnya dan keluar dari kamar dimana Zain menginap.


Siang hari.


Hean benar-benar berjalan menyusuri jalanan di sekitar Hotel tempatnya menginap. tujuannya kali ini adalah daerah sekitar Club malam yang sempat ia datangi tadi malam.


Sesekali Hean menunjukkan foto yang ia miliki kepada orang-orang sekitar. mencari tau apakah mereka kenal dengan pria yang ia cari.


tapi semua orang menggelengkan kepala, tak mengenali pria yang ada di foto milik Hean.


Aghh.... Sepertinya bukan ide yang cocok... keluh Hean.


***

__ADS_1


__ADS_2