Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
19. Tetangga Tampan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sebentar lagi jam makan malam telah tiba.


untuk kesekian kalinya Hean mengunjungi Unit Apartemen dimana Hema tinggal. seperti kali ini, entah sudah keberapa kalinya pria itu mengganggu pemilik Apartemen di sebelahnya.


"Apa lagi sih Yan?". Sebuah ungkapan kesal terlontar dari mulut Hema setelah pintu terbuka. "Lo tidak memastikan apakah gue bisa membuka pintu atau tidak kan?".


Kesal sendiri Hema dengan tingkah pria itu.


Sejak sore ada-ada saja alasan Hean untuk datang kesini. dari yang memastikan apakah Hema bisa menghidupkan air untuk mandi atau tidak, memberitahu Hema bagaimana menghidupkan televisi, bagaimana cara memasak agar ruangan tidak berbau masakan, dan lain sebagainya.


dan sekarang pria itu datang lagi, entah dengan alasan apa lagi.


"Hehehe...". yang ditanya malah tertawa tanpa dosa membuat Hema ingin sekali menonjok wajah pria itu.


"Kalau tidak ada yang penting, kembalilah...".


"Eh tunggu..." tolak Hean ketika Hema hendak menutup kembali pintunya. untung saja Hean mampu mencegahnya.


"Kalian sudah makan malam?" pertanyaan yang normal ditanyakan di jam-jam saat ini.


"Belum..." jawab Hema jujur. ia belum memakan apapun malam ini. selain belum terbiasa dengan lingkungan sekitar, Hema juga tidak tau ada pedagang apa di bawah sana. yang mungkin bisa untuk makan malam.


untung saja Sasa mempunyai roti tawar jadi sore tadi mereka hanya makan roti untuk mengganjal perut.


"Ayo ke tempatku... gue sedang memasak tadi... kita makan bareng-bareng..." ajak Hean penuh semangat.


"Oke, meluncur..." ucap Sasa yang entah darimana datangnya tiba-tiba menyahut ajakan Hean. membuat Hema tak mampu menolaknya.


yang pada akhirnya ketiganya langsung menuju ke tempat Hean.


"Sedang memasak apaan? lo menyuruh dia untuk memasak..." gerutu Hema karena ucapan Hean tak sesuai dengan kenyataan. ada dua pria yang tengah memasak di dapur, sedangkan Hean hanya menjadi pesuruh tanpa berkontribusi sedikitpun pada masakan.


"Hehehe... mereka tidak mau dibantu..." jawab Hean tanpa beban. langsung duduk di kursi meja makan memperhatikan punggung dua sahabatnya yang tengah memasak.


"Ck...". Hema masih tak terima dengan ucapan Hean. sedangkan Sasa hanya diam, tidak punya tenaga karena terlalu lapar. apalagi ia harus menunggu lebih lama lagi tidak bisa langsung makan.


Hingga Jio dan Dimas yang bertugas sebagai koki telah selesai. membawa beberapa menu makanan dan menaruhnya di meja. Hean dengan sigap mengambilkan nasi untuk Hema, Sasa dan untuk dirinya sendiri.


diikuti Jio dan Dimas juga.


Semuanya telah bersiap untuk menikmati makan malam mereka. hingga Jio menjadi satu-satunya orang yang bersuara "Bagaimana? masakan gue enak kan?".


Jio yakin akan keahliannya dalam mengolah bahan masakan hingga menciptakan sebuah makanan yang enak dan berkelas.


bahkan bau masakannya saja mampu menggoda siapa saja yang menciumnya.

__ADS_1


"Asin,". Sepatah kata mampu membuat Jio kehilangan rasa percaya dirinya. memutar kepala demi melihat siapa yang berkomentar buruk tentang masakannya itu.


tatapan mata Jio tertuju pada gadis diseberang kursinya. matanya menyipit kesal karena masakannya dinilai asin.


Apa dia bilang? dasar! begitu sorot matanya bicara.


Hingga yang ditatap otomatis menaikkan pandangannya. untuk pertama kalinya Sasa melihat sosok pria di depannya itu.


"Beneran asin untuk gue...". Sasa tak mau disalahkan.


Lihatlah... lihatlah wajah nyolotnya itu... batin Jio. ucapan Sasa benar-benar menusuk sampai ke ulu hatinya, sakit!


"Hahaha... dia ingin segera nikah kali..." tambah Hean memperkeruh suasana.


walaupun menurutnya masakan Jio enak-enak saja, tapi sedikit menyalakan api sepertinya seru.


"Ngebet banget..." tambah Dimas. Hema pun ikut tersenyum dengan celoteh mereka. walaupun tidak terlalu akrab dengan sahabat Hean, tapi Hema cukup tau bagaimana ketika ketiga pria itu Tengah bersama. saling ejek hingga menciptakan suasana yang ramai.


"Lidah lo bermasalah," cerca Jio. pria itu kembali menatap Hema yang duduk bersebelahan dengan Hean. "Tidak asin kan Ma?".


Setidaknya hanya Hema yang waras disini. tidak akan berbohong tentang rasa masakannya.


"Eh, em..." Hema gugup. sebenarnya ia tak mau ikut campur tentang makanan buatan Jio. karena selagi enak dan lidahnya mampu menerima, Hema oke-oke saja.


"Menurut gue pas kok...".


Hema bersikap netral.


Makan malam usai, Hema dan Sasa bergegas kembali ke kamarnya. lebih jelasnya Sasa menghindar dari pria bernama Jio yang seperti mengibarkan bendera perang sejak tadi. padahal Sasa berani hanya untuk berhadapan dengan pria itu,


tapi sebagai seorang wanita ia harus sedikit jaim bukan?


jangan memperlihatkan sifat aslinya yang bobrok. karena dari buku yang Sasa baca, sebagian besar pria akan suka dengan wanita yang tenang bukan pecicilan seperti nya.


Tapi jangan salah paham, Sasa tidak berniat untuk mencari perhatian Jio ataupun Dimas. Sasa bahkan tak suka dengan merek hanya dengan satu kali bertemu.


Hema masuk ke dalam kamarnya. gosok gigi dan membersihkan wajah sebelum tidur.


tadinya Hema ingin segera tidur tapi rencananya gagal ketika Sasa menemuinya.


"Hema ayo ke balkon...". ajak gadis itu penuh semangat. tidak seperti Hema tak acuh, Sasa terlihat antusias dengan ucapan Hean tadi siang.


Sasa sangat penasaran dengan tetangga mereka yang katanya tampan dan kaya.


Sasa ingin cari perhatian siapa tau pria itu tertarik kepadanya. toh sudah lama Sasa menjadi jomblo. menjalin hubungan lagi tak masalah bukan?


ia cukup cantik untuk membuat seorang pria tertarik padanya.


"Tidak ah Lo saja..." tolak Hema.

__ADS_1


Hema tau kalau Sasa hanya dikerjai Hean. tapi percuma saja kalau Hema menjelaskan, Sasa tak akan percaya sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri. untuk itulah Hema hanya diam.


"Ayolah Ma... lo tidak penasaran dengan tetangga kita?". Sasa masih merengek seperti anak kecil yang meminta lolipop pada ibunya.


bedanya Sasa merengek untuk melihat tetangga tampannya.


bergelayut manja di lengan Hema agar sahabatnya itu mau menemaninya ke balkon.


"Kenapa lo penasaran sekali sih..." keluh Hema.


"Lo tidak penasaran karena sudah punya Hean, sedangkan gue? gue jomblo Ma... mungkin saja tetangga kita tertarik pada gue... mencoba tidak ada salahnya bukan?".


Agghh...


Pada akhirnya Hema benar-benar bangkit, menemani Sasa menuju ke balkon Apartemennya.


Jantung Sasa serasa berdetak kencang tak sabar melihat setampan apa tetangganya itu.


Sasa berdiri di balkon sambil menengok ke balkon samping. senyum gadis itu terukir sempurna ketika melihat bayang-bayang seseorang dari sana.


"Dia datang ... dia datang..." Sasa memukul-mukul bahu Hema penuh semangat.


Hingga dugaannya benar, ada seseorang keluar dari balkon samping.


mata Sasa membulat tak melewatkan sedikitpun sosok pria itu.


tapi di detik selanjutnya matanya seperti syok, Sasa mengucek matanya mungkin saja ia salah lihat.


Tapi semuanya memang benar,


"Halo tetangga..." sapa pria dari balkon sebelah.


"Agghh... sial!" umpat Sasa kesal.


tidak sesuai ekspektasinya sejak tadi siang. ternyata tetangga tampan yang Hean katakan tadi adalah dirinya sendiri. membuat Sasa kesal karena telah dikerjain.


"Hahaha..." bukan hanya Hean saja, bahkan kedua pria di balkon Hean juga ikut menertawai kelakuan Sasa.


Aaaa... gue malu...


Hema juga ikut tersenyum walaupun tak diperlihatkan pada Sasa. bagaimanapun Sasa adalah orang yang ia sayangi. mana mungkin Hema senang dengan penderitaan sahabatnya itu.


"Keterlaluan..." ucap Hema.


Sasa menutup wajahnya dan langsung berlari masuk ke dalam. malu


Sejenak Hema tersenyum sambil menatap ke arah balkon sebelahnya. hingga tatapannya dengan Hean bertemu di satu garis lurus.


***

__ADS_1


Hahaha... pokoknya tertawa dulu


__ADS_2