
HAPPY READING...
***
Malam semakin larut. Intan dan Dimas masih duduk di kursi yang ada di teras rumah.
keduanya seperti tengah menanti kepulangan seseorang.
"Apa mereka tidak bilang mau pergi kemana?".
Dinas bersuara. entah sudah berapa jam ia duduk disini, tapi yang ingin ditemui malam ini tak kunjung pulang.
"Tidak tau..." jawab Intan lemah. ia tak tau kemana Ayah dan Ibu pergi malam ini. tak ada pesan bahkan satpam di depan sana juga tidak mengetahuinya.
Tadi Intan sedang pergi, tapi tiba-tiba ketika pulang tak ada siapapun.
"Maaf ya Kak, kita bicara di luar saja..." sesal Intan.
Sesuai rencana Dimas akan menemui orang tua Intan. memperkenalkan diri dan meminta ijin untuk dekat dengan putri mereka. tapi siapa sangka kalau ternyata orang tua Intan tidak ada di rumah malam ini. hingga pada akhirnya Dimas memilih menunggu di depan rumah saja.
"Tidak apa-apa... lebih sejuk disini kok..." jawab Dimas. toh ia akan lebih sungkan jika di persilahkan masuk ke dalam rumah. Akan jadi perbincangan orang-orang nanti karena hanya ada Indan dan Dimas saja. walaupun mereka tak melakukan apapun.
Dan Seperti inilah Dimas dan Intan. duduk di teras rumah sambil berbincang-bincang.
"Apa mungkin mereka menemui Kak Hean?". Intan berspekulasi. kemarin Intan sempat mendengar Ayah dan Ibunya membicarakan kakaknya. tapi Intan tak mendengar secara detail.
"Kenapa? Hean sakit?". Dimas juga bingung. ia tak bertemu dengan Hean sejak malam itu. saat mereka tak sengaja bertemu di Restoran Ramen. setelah itu, Dimas tak sempat menghubungi sahabatnya itu.
"Tidak... Kakak baik-baik saja..." tolak Intan. Bahkan tadi sore ia sempat membalas chat dari Hean.
"Gue hanya sedikit mendengar pembicaraan Ibu yang membahas masalah kakak bersama Ayah... tapi tak tau apa yang mereka bahas...".
"Oh...". Dimas hanya menganggukkan kepalanya.
"Kak..." panggil Intan lagi.
"Ya, kenapa?".
"Apa kak Hean memang pacaran dengan Mbak Hema?". Intan hanya penasaran. karena saat ia mengolok-olok kakaknya itu, Hean pernah bilang kalau dirinya sudah putus dengan Agnes. apakah itu benar? sedangkan Intan tak berani bertanya langsung pada Agnes.
takut kalau dirinya di anggap terlalu ikut campur urusan orang lain.
"Entah," jawab Dimas ragu. Hean tak pernah bilang kalau dia resmi pacaran dengan Hema. "Tapi dengan Agnes benar-benar putus kan?".
Dimas ingat waktu Hean mabuk malam itu. sahabatnya itu bercerita tentang perselingkuhan yang Agnes lakukan di belakang Hean.
"Kak Hean sih bilangnya gitu..." Intan membenarkan.
karena ia juga sempat melihat story galau Agnes di sosial media. yang mana Intan menduga bahwa saat itu mereka telah resmi putus.
__ADS_1
"Sebenarnya gue mendukung keputusan Hean untuk putus dengan Agnes...".
"Kenapa?". Intan penasaran. padahal Intan adalah pendukung garda depan dengan hubungan kakaknya dan Agnes.
"Entahlah... gue tidak terlalu suka..." lanjut Dimas. apa yang tidak ia sukai tidak butuh alasan bukan?
Toh, Agnes terlihat begitu ambisius. apalagi tentang Hean.
"Kalau mbak Hema?". Maksud Intan adalah tentang hubungan Hean dan gadis bernama Hema itu. Intan tak begitu akrab jadi tidak tau bagaimana sifat gadis bernama Hema itu.
Dulu memang Hean pernah membawa Hema datang ke rumah mereka. tapi sudah sangat lama, saat mereka masih kuliah.
dan setelah itu, Intan tak tau lagi kabarnya.
mungkin kemarin adalah pertama kalinya Intan bertemu lagi dengan Hema, di restoran Ramen.
"Menurutmu?". Bukannya menjawab, Dimas justru penasaran bagaimana tanggapan Intan terhadap Hema.
"Dia sepertinya baik...". hanya itu jawaban Intan mendeskripsikan bagaimana sosok Hema.
"Hanya itu?". Dimas kira Intan akan mendeskripsikan lebih banyak lagi.
"Haha... gue tidak terlalu kenal...".
"Gue tak tau apa yang kakak lo mau..." ucap Dimas.
"Maksudnya?". Intan bingung dengan ucapan Dimas.
"Dulu saat masih kuliah, mereka sangat dekat melebihi pacaran... bagaimana Hean memperlakukan Hema begitu istimewa... tapi-,".
Tapi apa?
"Saat Agnes kembali, kakak lo justru berubah... mengacuhkan Hema demi berbaikan dengan Agnes...".
Ya... Gue pernah mendengar hal itu... batin Intan membenarkan.
"4 tahun di London Agnes dan Hean terlihat bahagia... tapi saat kembali lagi, Hean seperti kembali memberi harapan pada Hema..." lanjut Dimas.
"Iya... gue juga bingung..." tambah Intan.
"Tapi Tan," ucap Dimas. membuat Intan mengalihkan perhatiannya dan menatap pria itu dengan lekat. menunggu apa yang akan Dimas katakan saat ini.
"Gue tidak akan bertindak seperti Hean... gue tidak akan memberikan harapan pada gadis selain lo Tan..." ucap Dimas terdengar meyakinkan.
Tanpa bicara seperti itupun seharusnya dunia tau. bagaimana Dimas menghabiskan waktu selama ini hanya untuk menunggu Intan tumbuh lebih dewasa.
Bagaimana Dimas benar-benar menjaga Intan seperti adiknya sendiri. tapi semakin hari, perasaanya mengambil alih semuanya. Dimas pada akhirnya tak kuat menahan untuk mengatakan bahwa ia begitu mencintai Intan, adik sahabatnya.
Intan sudah seperti magnet baginya. membuat Dimas hanya mampu menatapnya seorang.
__ADS_1
"Kak...".
"Gue benar-benar suka sama Lo..." lanjut Dimas.
Kakak... gue jadi terharu... batin Intan. bahkan matanya saja sudah menggenang menahan haru.
"Tunggu Intan sedikit lebih dewasa kak..." ucap gadis itu. setidaknya tunggu sampai ia lulus kuliah dan bekerja. hingga saat itu tiba, rak akan ada yang bisa melarang hubungan mereka.
"Hm, gue akan tunggu saat itu..." jawab Dimas.
baginya Intan adalah segalanya. selama menunggu hari itu tiba, Dimas akan bekerja keras. ia tak mau membuat wanitanya ikut bersusah payah di kemudian hari.
Intan adalah kesayangan keluarga, putri yang begitu dilindungi orang tua dan kakak laki-lakinya. jadi, Dimas tak mau gadis itu ikut susah karenanya. Dimas akan bekerja keras agar kelak saat sudah waktunya bersama Intan, mereka tak akan hidup susah.
Gue ingin mencium lo Intan...
Siapa yang bisa menahan. lihatlah bagaimana tatapan teduh gadis itu, Dimas ingin sekali mencium kekasihnya. tapi ia tak bisa, karena jika Dimas memeluk Intan mungkin pria itu akan kehilangan kendali. bukan hanya mencium nya saja, Dimas akan menuntut hal lebih.
"Kenapa Kak?".
"Tidak..." elak Dimas sambil membuang muka dan mengusir jauh-jauh pikiran liarnya. .
Malam semakin larut. Dimas melihat ke arah pergelangan tangannya. mengamati jarum jam disana.
"Sudah sangat malam...".
Jam sudah menunjuk ke angka 11 malam, tapi yang di tunggu tak kunjung pulang juga.
"Gue pulang saja ya Tan...".
"Tapi kak?".
Sejenak Intan menolak, karena meminta ijin sudah ada di depan mata. setelah ini mungkin ia tak akan sembunyi-sembunyi lagi jika harus keluar dengan Dimas.
"Orang tua lo belum juga pulang sampai jam segini... masih ada besok kan? gue akan datang lagi besok..." ucap Dimas meyakinkan.
toh kenapa juga ia harus membohongi Intan tentang restu yang akan ia minta dari orang tua gadis itu.
Masih ada hari esok untuk Dimas kembali datang ke rumah ini.
"Gue pulang ya... sudah sangat malam... lo juga harus tidur..." ucap Dimas. mengacak rambut Intan dengan gemasnya.
"Baiklah..." jawab Intan pasrah. mau bagaimana lagi, jam juga telah menunjukkan ke angka 11 malam. sudah sangat malam bagi seseorang untuk bertamu.
"Hati-hati Kak...".
Dengan motor Sport merahnya, Dimas mulai bersiap meninggalkan kediaman Intan. membelah jalanan yang mulai lenggang oleh kendaraan dan kembali ke rumahnya.
sedangkan Intan, melambaikan tangan hingga motor Dimas mulai hilang dari pandangannya.
__ADS_1
***