Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
103. Rendy Lagi.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hema keluar dari hotel tempatnya menginap. berlari sekuat tenaga menuju ke cafe yang ada di seberang hotel. disanalah Hema akan bertemu dengan rekan kerja yang lainnya. menunggu jam makan siang sekaligus membahas pekerjaan di kota ini.


"Ahh... ahh... maaf terlambat..." sesal Hema. meminta maaf dan duduk sambil mengatur nafasnya yang berantakan.


Hema tau kalau ia akan terlambat. karena sejak di dalam kamarnya, Hema kesulitan mencari berkas yang sudah ia siapkan untuk pekerjaan siang ini.


"Tidak apa Hema... silahkan mau pesan apa...". Rekan kerja Hema memaklumi keterlambatan itu. suatu hal lumrah di negeri ini.


Setalah memesan minuman, Hema dan lainnya pun tenggelam dalam pekerjaan mereka. terlihat serius hingga tak sadar bahwa sudah 2 jam mereka di duduk dan bekerja. mereka semua mulai sadar saat pelayan cafe mulai menyiapkan makan siang mereka.


Perusahaan dimana Hema bekerja memang terbilang kreatif. bekerja tidak selalu melulu dengan duduk di ruangan bersekat dan menatap komputer lama-lama. bekerja seperti sekarang jauh membuat nyaman. Hingga ide dan kreatifitas mampu mereka dapatkan yang akan memajukan Perusahaan.


"Selamat makan...".


Semua orang tersenyum. bersemangat mengangkat sendok dan menikmati makanan siang ini.


Di Hotel.


"Bagaimana Yan?". Ibu tengah mengemasi pakaian dan memasukkannya ke dalam koper. Setelah siap, mereka akan kembali ke Ibukota karena pekerjaan juga telah selesai dan berjalan lancar.


"Agghh...". Hean tak menjawab. pria itu justru merebahkan diri sambil memeluk putri kecilnya yang masih tertidur lelap. mengamati bibir mungil Bella yang terlihat mengecap seperti tengah meminum susu dari dot. lucu sekali..


"Yan?".


Ibu kembali bersuara. memastikan apakah putranya mendengar apa yang beliau katakan atau tidak barusan.


"Bagaimana kalau satu hari lagi Bu?" tanya Hean sedikit bergurau. tapi jelas terlihat kalau pria itu seperti enggan untuk bergegas meninggalkan kota ini dan kembali ke Ibukota. "Hean masih lelah..." keluhnya.


Apalagi mencium bau bedak bayi yang menempel pada tubuh putrinya, entah kenapa justru membuat Hean sedikit terbuai dan ingin ikut tidur seperti Bella. nyaman sekali bukan? apalagi sejak di kota ini, Bella memang kerap tidur bersama Ibu.


"Baiklah... kalian tidur saja lagi..." ucap Ibu pasrah. toh Ibu juga tidak memiliki kesibukan apapun selain mengurus Bella, cucunya.


Tak terdengar jawaban dari Hean. membuat Ibu sejenak menatap putranya itu. suara nafas teratur Hean membuat Ibu tersenyum dan menggelengkan kepalanya keheranan.


Cepat sekali dia tidur... batin Ibu.


 


Kembali lagi dengan Hema.


Langit sore hari telah menampakkan cahaya senjanya ketika Hema keluar dari Cafe bersama dengan rekan-rekan kerjanya.


"Kalian duluan saja... aku ingin ke minimarket membeli sesuatu..." ucap Hema pamit kepada lainnya.


"Oh begitu ya...".

__ADS_1


"Kita duluan ya Ma...".


Hema pun berjalan ke arah lain. menuju ke minimarket sebelum kembali ke hotel.


menyusuri setiap rak untuk melihat produk-produk yang ingin ia beli.


Gue ingin mie instan...batin Hema ketika melihat cup mie merk Korea yang sedang booming saat ini. Hema penasaran bagaimana rasa mie instan yang katanya cukup pedas itu. hingga tangannya teraih mengambil satu cup mie dan memasukkannya pada keranjang belanjaan.


Hema tidak berhenti sampai disitu saja. langkahnya semakin membawanya ke rak lain. lebih tepatnya ke rak dimana banyak makanan kecil dengan micin yang berlebihan itu. siapa sih yang tidak suka snack dengan bumbu micin?


Mengambil ini dan itu, sana dan sini, pokoknya sampai keranjang itu sudah terisi setengahnya.


Dan pada akhirnya, Hema teringat dengan tujuannya datang kesini.


Agghh.. gue sampai melupakannya...


Hema hampir kelupaan tentang tujuan awalnya datang ke minimarket hanya karena melihat snack yang menggoda.


Berjalan ke arah kasir dan membayar seluruh belanjaannya kali ini.


senyum itu langsung sumringah hanya karena menatap banyak makanan ringan yang ia beli.


Dengan langkah teratur, Hema kembali berjalan pulang menuju ke hotel. tapi hampir sampai di dekat hotel, Tiba-tiba Hema melihat seseorang.


Sial! dia lagi...


"Tunggu Ma..." cegah pria itu tiba-tiba. menyentuh pergelangan tangan Hema berniat agar Hema berhenti.


"Apaan sih...". Otomatis yang Hema lakukan adalah menyentak kasar tangannya. tak sudi pria di depannya itu memegang tangannya.


Keduanya terdiam cukup lama. Hema yang membuang muka tak sudi menatap Rendy, sedangkan Rendy tak lepas mengamati mantan kekasihnya itu. sudah lama Rendy tidak pernah melihat Hema. mungkin sejak kejadian itu, saat mereka masih kuliah.


Dan sekarang, Hema menjelma menjadi wanita yang bertambah cantik dan dewasa. tak ada rona lembut dan manja dari binar mata Hema ketika Rendy menatapnya. entah apa yang membuat wanita itu terlihat berbeda.


Tapi walaupun begitu, Rendy tetap suka. betapa ia sangat merindukan Hema seperti dulu ketika mereka masih menjalin hubungan.


hanya karena kebodohan Rendy, Hema benar-benar lepas dalam genggamannya.


"Bagaimana kabarmu Ma?". Rendy ingin tau bagaimana Hema menjalani hidup setelah lulus kuliah. tapi tentu saja Rendy mampu melihat bahwa keadaan Hema baik-baik saja. bahkan wanita itu memiliki karir yang bagus.


Tidak seperti Rendy yang begitu berantakan.


"Baik, sangat baik malahan..." ucap Hema dengan senyum yang tersungging di bibir manisnya.


memang apa andilnya ada dan tidaknya Rendy dalam hidup Hema? pria itu tidak berpengaruh sama sekali.


bahkan bisa dibilang, Hema begitu membenci pria itu hingga nafas terakhir nya.


"Syukurlah..." jawab Rendy terdengar lirih.

__ADS_1


Maunya apa sih? Hema terus mengamati penampilan Rendy. dari ujung rambut sampai ujung kaki dan kembali ke awal. terus menerus hingga ketika tanpa sengaja Rendy menatap matanya, Hema memalingkan wajah.


"Lo sudah menikah Ma?". Rendy kembali bersuara. mengamati penampilan Hema bahkan jemari tangan wanita itu juga tak lepas dari pengamatannya.


tak ada cincin yang tersemat disana. meyakinkan Rendy kalau Hema masih melajang.


"Kenapa?". pertanyaan justru terlontar dari mulut Hema. menanyakan alasan kenapa Rendy bertanya sedalam itu. sambil menyembunyikan jari tangannya di belakang tubuh agar Rendy tak bisa melihatnya.


"Ya... bukan apa-apa... gue hanya ingin tau saja..." jawab Rendy.


Hanya saja apa gue punya kesempatan untuk kembali dekat denganmu...


"Sebenarnya bukan urusan lo, gue sudah menikah apa belum... karena itu bagian dari privasi gue..." ucap Hema terdengar ketus.


"Gue masih mencintai lo Hema...".


Biasanya seorang wanita akan senang mendengar hal itu, tapi beda dengan Hema. wanita itu justru merasa lucu dengan ucapan Rendy barusan.


"Akk... apa gue tidak salah dengar?" tanya Hema dengan ekspresi penuh ejek. hanya orang gila yang mengatakan hal seperti itu. setelah apa yang Rendy lakukan padanya, kenapa pria itu bisa mengatakan kalau masih ada perasaan pada Hema.


seharusnya Rendy cukup tau diri dan malu untuk sekedar menampakkan wajahnya dihadapan Hema seperti sekarang.


"Tidak Hema... gue memang masih mencintai lo..." ulang Rendy.


Gila!


"Tidak bisa, gue sudah menikah... dan lebih dari itu, gue sudah tidak ada rasa lagi kepada lo!". ucap Hema tegas.


Tapi hal tak terduga terjadi. Rendy menggenggam tangan Hema spontan. membuat Hema tidak bisa menghindar.


"Bohong! lo bohong Ma... lo belum menikah... tidak ada cincin di jarimu sama sekali..." tegas Rendy tak bisa di bohongi.


Sial! Hema panik.


"Lo belum menikah kan?" ulang Rendy lagi.


Hingga sebuah suara mengagetkan mereka berdua.


"Sayang..." teriak seseorang mendekati Hema.


"Ayo kita temui Mama..." ucapnya pada anak kecil di gendongannya.


Mata Hema membulat juga dengan Rendy. tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. bahkan tanpa sadar genggaman tangannya ke pergelangan tangan Hema kian memudar dan menjadi kesempatan bagi Hema untuk melepaskan diri. menjaga jarak dari Rendy seperti semula.


"Sayang... ngapain disini?".


***


Jeng jeng jeng...

__ADS_1


__ADS_2