Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
122. FINAL.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hema, dengan memakai dress casual. wanita itu tengah berdiri. menatap ke pusara di depan sana. wajahnya terlihat begitu sendu masih seperti terakhir kali ia datang ke tempat ini.


Satu tahun lamanya, waktu begitu cepat berlalu. tapi kenangan seseorang tak pernah hilang dari benaknya. ketika pertama kali Hema bertemu dengan sosok wanita yang anggun dan sopan ketika bertutur kata.


Wanita yang sangat ia iri dalam segala hal di masa lalu. tapi siapa sangka, wanita yang selalu membuatnya Hema ingin melampauinya itu justru pergi meninggalkan dunia ini dengan begitu cepat.


Satu tahun sudah. pusara ini terukir namanya. satu tahun sudah, wanita itu meninggalkan dunia. melepaskan segala impian yang bahkan tak pernah bisa di genggam sama sekali. satu tahun sudah, pada akhirnya wanita itu menyerah pada rasa sakitnya. mengikhlaskan semuanya dan pergi meninggalkan orang-orang tercinta.


Agnes Margaretha.


Begitu nama yang terukir dalam pusara miliknya. nama yang sangat indah dan menjadi bagian dari kenangan dari orang-orang yang mencintainya.


Dalam kesalahan, wanita itu pernah berjuang. melindungi putrinya bahkan sampai melahirkannya.


Ya... Ibu dari Bellavia Dirga, putri semata wayang Hean.


wanita tangguh yang tak pernah memiliki kesempatan untuk melihat putri yang ia lahirkan. bahkan sampai akhir hayatnya, Agnes tak pernah tau bagaimana paras putri cantik yang kini dalam asuhan sang Papa.


Setelah 1 tahun lamanya berjuang dengan alat-alat medis, wanita itu akhirnya menyerah meninggal tepat sehari setelah ulang tahun putrinya. seperti rela untuk pergi setelah merayakan ulang tahun pertama untuk Bella.


Bagaimana kabarmu Agnes? batin Hema.


bersamaan dengan itu, angin lembut berhembus menerpa wajahnya. seperti sebuah jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan kepada Agnes barusan.


Untuk kedua kalinya Hema mendatangi tempat ini. dulu, adalah seminggu setelah pemakaman Agnes. Hema datang terlambat karena sibuk dengan pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Kau tau Nes... Putri mu tumbuh dengan sangat baik... cantik sama seperti Lo... adu Hema lagi.


Ia menjadi salah satu orang yang bisa melihat perkembangan Bella. anak perempuan yang begitu cantik dan menggemaskan.


Tapi bukan itu yang membuatku datang menemuimu... ada hal lain yang ingin gue katakan... lanjut Hema.


"Gue akan menikahi Hean Nes..." ucap Hema. itulah satu-satunya alasan kenapa ia datang kesini. meminta restu kepada mantan istri Hean tersebut.


Pada akhirnya, Hema telah memutuskan. melabuhkan hatinya pada pria yang begitu ia cintai. Hean Dirga.


Setelah melalui banyak badai, pada akhirnya Hema mau berkomitmen pada Hean. berjanji untuk menjadi satu-satunya wanita yang akan menemani Hean nantinya. memberikan cintanya kepada Bella dan berjanji untuk menjadi Ibu sambung yang baik.


Gue tak tau... Apakah gue bisa atau tidak, keluh Hema. apakah ia bisa menjadi Ibu yang baik untuk Bella atau tidak nantinya. tapi Hema selalu belajar untuk melakukan hal itu.


"Maaf jika pada akhirnya gue tidak sesempurna lo Agnes... tapi gue berjanji akan menjaga Putri mu, menerimanya dan menganggap Bella sebagai putriku juga..." ucap Hema degan yakin.


di kedepannya ia akan terus belajar, dan memperbaiki diri untuk menjadi yang terbaik untuk Hean dan Bella.


Gue mohon restui Gue bersama Hean...


Karena langkah yang akan Hema lalui akan begitu ringan dan mudah jika tak ada lagi yang merasa tersakiti.


"Sudah?".


Suara Hean tiba-tiba mengejutkan Hema. tadi pria itu bilang hanya akan menemani Hema sampai di gerbang pemakaman ini. menunggu Hema dari Mobil. tapi siapa sangka, pria itu juga ikut datang dan berdiri di samping Hema seperti sekarang. mungkin karena jenuh dan Hema yang terlalu lama berdiri disini.


Sejenak Hean menatap pusara mantan istrinya. melihat tak ada perubahan dari terkahir kali ia datang bersama Bella dan orang tuanya.

__ADS_1


Gue datang Nes... ucap Hean dalam hati.


"Sudah..." jawab Hema. tak ingin membuat Hean menunggu lebih lama lagi.


Keduanya menatap kembali pusara Agnes. tenggelam dalam pikirannya masing-masing. hingga Hean memeluk pinggang Hema dan berjalan bersama meninggalkan tempat itu.


"Terlalu lama ya?" tanya Hema memastikan. langkah kakinya terlihat beraturan menuruni bukit itu.


sedangkan Hean, masih memeluk pinggang wanitanya semakin lama semakin erat saja.


"Hm... lama sekali..." kaluh Hean. tapi tak membuat Hema merasa bersalah untuk itu. wanita itu justru tersenyum mendengar keluhan Hean. "Memang apa saja yang lo katakan tadi?".


Hean hanya penasaran. apa yang Hema bicarakan di depan makam Agnes. bahkan sampai satu jam lamanya.


"Ada deh...". Hema bermain rahasia-rahasiaan sekarang.


"Ck...". membuat pria itu berdecak.


"Apa lo merencanakan sesuatu?" selidik Hean. apakah Hema merencakan sesuatu di hari pernikahan mereka nanti? membuat Hean terus waspada.


"Memang mau merencanakan apa?". Hema bingung dengan jalan pikiran Hean itu.


padahal ia hanya mengadu tentang segala hal di depan makam Agnes tadi.


"Ya... mungkin saja kabur di hari pernikahan kita nanti..." adu Hean tentang kegundahan hatinya.


"Hahaha... gila! gue tidak pernah berpikir sampai segitu..." ucap Hema sewot.


kabur, ck... ia tak percaya kalau Hean sampai berpikiran konyol seperti itu.


padahal mereka sama-sama mau dan sepakat untuk menikah. hujan karena paksaan dari pihak manapun.


"Lalu apa yang lo katakan disana begitu lama?". Hean masih penasaran apa yang Hema lakukan tadi.


"Hanya sedikit khawatir saja... apakah gue bisa menjadi Ibu yang baik bagi Bella...".


Hema tau bagaimana sifat yang melekat pada Ibu sambung. kejam, menakutkan, sadis, itulah yang selalu menyatu dalam peran seorang Ibu sambung.


Hema hanya tak mau seperti itu. ia ingin menjadi seorang Ibu sambung bagi Bella yang bersifat baik dan penyayang.


Tapi apa ia bisa?


Hema tak punya pengalaman sama sekali. bahkan Hema tak pernah dekat dengan seorang anak kecil. Ya... walaupun pernah dekat dengan Mika, putri Zain.


hanya saja Mika dan Bella berbeda. Bella terlihat lebih ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja. membuat Hema yang memiliki sifat tertutup sedikit kesulitan ketika harus disatukan dengan Bella. sifat merek sangat bertolak belakang.


"Jangan khawatir... ayo sama-sama belajar..." ucap Hean dengan yakin.


memang tak ada yang sempurna di dunia ini. semuanya perlu belajar. seperti halnya Hema yang belajar menerima perannya setelah menyandang gelar istri dari Hean Dirga itu.


"Gue akan membantu lo..." ucap Hean sambil menarik pipi Hema saking gemasnya.


"Aww...".membuat wanita itu merengek manja. dan memukul bahu Hean tanpa ragu sedikit pun. "Sakit Yan...".


"Setelah ini mau makan dulu atau langsung pulang?" tanya Hean. melingkarkan seatbelt di tubuhnya dan mengamati Hema yang juga melakukan hal yang sama sebelum mobil itu melaju meninggalkan pemakaman.


"Gue belum lapar..." tolak Hema. perutnya masih terasa kenyang karena tak banyak yang Hema lakukan sejak selesai sarapan pagi tadi.

__ADS_1


"Tapi gue lapar..." rengek Hean.


"Ya udah, ayo gue temenin makan..." jawab Hema bijak. ia bahkan rela menemani Hean makan siang jika perlu.


"Tapi bukan itu yang gue mau...".


"Lalu?". tanya Hema dengan menaikkan satu alisnya bingung. ucapan Hean terdeni membingungkan baginya.


"Memakan lo!".


Aggghh... rasanya di goda seperti itu membuat bulu kuduk Hema langsung meremang. walaupun ia tau Hean hanya menggodanya saja, tapi tetap saja mampu membuatnya malu.


"Hotel atau Rumah... Bella sedang pergi dengan Ibu saat ini..." ucap Hean.


"Hean! jangan aneh-aneh..." omel Hema. bahkan saat ini wajahnya mungkin saja telah memerah seperti sebuah tomat matang.


"Hahaha...".


Tawa Hean memecah suasana.


mobil hitam itu bergerak meninggalkan Pemakaman dan melaju di jalanan Ibu kota.


Pernikahan yang Hean dan Hema impikan sudah ada di depan mata.


tinggal menghitung hari keduanya akan bersatu dalam sebuah hubungan yang diimpikan semua pasangan. pernikahan.


Sedasyatnya badai yang menerpa membuat Hema dan Hean semakin dewasa dan mpu melaluinya hingga di puncak ini.


Air mata yang pernah mereka keluarkan diganti dengan banyak sekali kebahagiaan yang datang untuk mereka.


Hean, menjadi satu-satunya pria yang mampu memenangkan hati Hema. menjadi satu-satunya pria yang bertanggung jawab atas kebahagiaannya.


Takdir akan membawa mereka selalu bersama. Hingga pada akhirnya hanyalah Hean yang ditakdirkan untuk hidup Hema. hanya Hean yang tertulis dalam kisah hidup Hema.


hingga kisah mereka selesai, hanya akan tertulis Hean untuk Hema.


TAMAT.


***


Halo semuanya...


salam manis darikuh.. Pe_na.


Terimakasih untuk seluruh pembaca yang setia menemani ku menulis dan menyelesaikan cerita ini sama-sama.


mohon maaf karena banyak sekali kekurangan di cerita ini.


dan makasih yang telah mendukung cerita ini sampai akhir.


dukungan dan komentar kalian yang membangun sangat berarti untuk diriku. love you Gaisss....


Sampai ketemu di lain waktu. sampai ketemu di dunia Noveltoon bukan sebagai Author dan Reader, tapi sebagai teman dan saudara.


Sampai jumpa semuanya...


Semoga bisa kembali memberikan cerita yang lebih baik, lebih menarik dan disukai kalian semua...

__ADS_1


Love You dan bye-bye...


__ADS_2