Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
16. Menemani Hema.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Masih di dalam kamar kost Hema, Hean tak henti-hentinya menatap wajah gadis di depannya. entah kenapa ia begitu nyaman melihat Hema, apapun yang tengah gadis itu lakukan.


bahkan tanpa Hean ketahuilah, tatapannya itu justru semakin membuat Hema salah tingkah. tatapan begitu teduh itu justru seperti menggetarkan hati Hema. membuatnya semakin berharap kalau kedekatan ini akan berlangsung lama.


Ya... Hema mulai terbiasa dengan keberadaan Hean dalam hidupnya.


"Sini gue suapin...". Hean merampas paksa sendok di tangan Hema. mulai menggantikan pekerjaan yang Hema lakukan tadi.


"Buka mulutmu..." perintahnya.


Dengan telaten Hean menyuapi Hema. sesuap demi sesuap hingga sudah setengah bubur ayam itu mulai masuk ke dalam perut Hema.


"Cukup Yan," tolak Hema ketika Hean kembali lagi menyodorkan sendok tepat di depan mulutnya.


tapi Hema benar-benar merasa kenyang. toh tubuhnya sedang tidak sehat, jadi makan sedikitpun juga sudah cukup baginya.


"Ini masih banyak, ayo makan lagi...". Sendok yang tadinya di tolak Hema justru masuk ke dalam mulut pria itu sendiri. tanpa ragu sedikitpun hingga Hema yang menatapnya terheran-heran.


"Kenapa? ada yang salah?". Hean bingung dengan tatapan Hema barusan. mengamati apa yang ia lakukan hingga membuat Hema keheranan.


dan selanjutnya Hean sadar arah tatapan Hema tadi.


gara-gara ini? Hean menatap sendok yang baru saja ia gunakan untuk menyuapi bubur. bibirnya langsung mengutas sebuah senyum.


"Kenapa? bukankah kita pernah berciuman sebelumnya?".


Hean mengingatkan tentang kejadian malam itu. saat dimana mereka pernah melakukan ciuman untuk pertama kalinya tanpa sebuah ikatan. tapi Hean sedikit bersalah karena peristiwa itu tentu saja peristiwa paling tidak mengenakkan bagi Hema.


entah menikmatinya atau tidak, yang jelas malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah Hema lupakan sampai kapanpun.


"Sorry..." sesal Hean karena tak sengaja mengingatkan bagaimana awal keadaan ini.


Apalagi dengan tatapan aneh Hema yang entah memikirkan di bagian mana dari kejadian malam itu.


Gue tidak bisa menyalahkannya... batin Hema sedikit bersalah. karena kesalahan malam itu bukan hanya Hean saja, tapi karena kelakuan Rendy yang pengecut.


"Hean, gue tidak mau makan lagi...". Hema kembali mengalihkan perhatian pria di depannya. kembali membahas soal makanan di depannya daripada harus mengingat hal-hal buruk yang pernah ia alami.


"Lo beneran sudah kenyang?" tanya Hean memastikan.


dan pertanyaannya itu langsung mendapat anggukkan kepala dadi Hema.

__ADS_1


"Baiklah, gue habiskan ini dulu...". pria itu menghabiskan makanan Hema tadi tanpa ragu sedikitpun. "Sayang kan kalau dibuang...".


"Lo belum makan?" tanya Hema.


"Belum... gue tidak terbiasa sarapan pagi..." jawab Hean. apalagi ia tinggal sendirian, sangat tidak berselera hanya untuk mengunyah makanan.


"Sini gue suapin...". entah kenapa Hema mengatakan hal itu. tangannya langsung terulur untuk mengambil sendok dari tangan Hean. menyuapi Hean sama seperti yang pria itu lakukan tadi.


"Jangan menatapku seperti itu, bagaimana kalau gue baper?". goda Hean hingga kembali membuat Hema salah tingkah dan menundukkan pandangannya ke arah lain asal tidak menatap ke mata Hean.


ucapan Hean justru seperti menyindir dirinya bukan?


karena mungkin saja Hema yang baper duluan ketika kedua pasang mata itu saling menatap.


Dan pada akhirnya Hean benar-benar menghabiskan makanannya. Hean bertugas membersihkan sampah yang berserakan sedangkan Hema pamit untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi.


Sebenarnya bukan mandi sih, karena Hema merasa dingin ketika menyentuh air. jadi yang dilakukannya hanya membasuh muka dan menggosok giginya karena habis makan.


Setelah selesai dengan aktifitasnya, Hema keluar dari kamar mandi. hal yang kembali mengejutkannya adalah sosok Hean yang kembali berbaring di ranjangnya.


padahal Hema telah berniat untuk tiduran disana. tapi kalah start dari Hean. hingga yang dilakukannya hanya berdiri mematung melihat ranjangnya yang telah berpenghuni.


"Kemarilah..." pinta Hean. tapi Hema masih tak bergerak. ia tak bisa langsung menuruti keinginan pria itu. karena, Ya... karena hubungan mereka tak seperti yang dibayangkan.


"Baiklah baiklah... silahkan gunakan kasur lo...". Hean bangkit dari sana, mempersilakan si pemilik ranjang untuk menggunakannya.


***


Sore hari.


"Pulanglah Hean... ini sudah sore..." usir Hema. pria itu sejak pagi memang menemani Hema tak beranjak pergi sedikitpun.


"Aagghh... kenapa?". Hean merenggangkan ototnya. lelah karena seharian yang ia lakukan hanyalah tiduran, memainkan ponsel dan sesekali berbicara dengan Hema.


"Kenapa? Ya karena sudah saatnya lo pulang... apa lo akan disini sampai besok?" cerca Hema. gadis itu sudah cukup sehat tidak seperti pagi tadi.


"Kalau boleh, gue mau satu kamar dengan lo..." goda Hean. entah kenapa mulut pri aitu begitu mudah untuk membuat seseorang merasa salah tingkah. atau mungkin memang Hean adalah tipe-tipe pria bermulut manis yang selalu seperti itu, bukan hanya kepada Hema saja tapi kepada semua wanita.


"Ck, mulai lagi...".


"Eh, ngapain lo?" protes Hema ketika tiba-tiba Hean bangkit dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang. mendesak tubuhnya berhimpitan dengan Hema tanpa ragu sedikitpun.


Hema memejamkan mata bersamaan dengan tangan pria itu yang terangkat mendekati wajahnya. seperti takut Hean kaan menyakiti dirinya. padahal yang dilakukan pria itu hanyalah ingin mengecek apakah suhu badan Hema masih demam atau tidak.


"Kenapa? lo takut dengan gue?" tanya Hean penasaran. karena seringkali Hema seperti itu ketika ia dekati.

__ADS_1


"Ti-dak..." jawab Hema sedikit gugup.


Jawaban dari Hema tak membuat Hean merasa puas. justru ia semakin dipenuhi dengan banyak pertanyaan. bagaimana kehidupan Hema? apakah dia memiliki keluarga dan seperti apa mereka?


Hean begitu penasaran. toh ia tak begitu mengenal sosok Hema selama ini. yang ia tau, Hema adalah salah satu mahasiswa di Universitas yang sama dengannya dan anak perantauan. itu saja...


Tapi Hean tak bisa langsung menanyakan privasi gadis itu. Hema akan tersinggung nantinya. jadi yang Hean lakukan hanyalah bersikap abai.


"Gue males pulang...". Hean merebahkan tubuhnya. membuat ranjang itu sesak dan Hema beranjak pergi api segera dicegah hingga keduanya benar-benar rebahan di ranjang itu.


"Jangan bergerak..." pinta Hean.


Apaan sih...


"Ma,".


"Hm...".


"Gue boleh bertanya sesuatu?" tanya Hean penuh hati-hati.


"Apa?".


"Apa Rendy orang pertama dalam hidup lo?".


Sebuah pertanyaan yang mampu membuat Hema terkejut. entah kenapa Hean mempertanyakan hal itu yang mana bukan urusan baginya bukan?


tapi karena tak ada salahnya menjawab, Hema pun menjawabnya.


"Ya... dia pacar pertama gue..." jawab gadis itu. sambil menatap langit-langit kamar, entah kenapa Hema kembali mengingat awal pertemuannya dengan Rendy.


"Sejak?".


"3 tahun lalu, lebih tepatnya awal gue masuk dalam Universitas ini...".


3 tahun lebih sudah Hema habiskan bersama Rendy, pria yang pada akhirnya menggoreskan luka dalam hatinya.


"Cukup lama juga ya...". Hean semakin sadar, waktu tidak akan bisa menjadi patokan untuk sebuah hubungan. yang lama sekalipun tak bisa menjadi jaminan sebuah hubungan bertahan.


bahkan Hean pernah merasakan hal itu di masa lalu, bahkan sakitnya hingga sampai saat ini belum juga hilang.


"Apa dia pernah memukul lo?".


Sebuah pertanyaan mampu membuat Hema tak bisa berkata-kata. bingung harus menjawab apa kalaupun menjawab apa gunanya bagi dirinya?


masa lalu tetaplah masa lalu, Hema tak mau terus terpaku pada kenyataan yang seharusnya ia lupakan, bukan ia kenang.

__ADS_1


***


__ADS_2