
HAPPY READING...
***
Pemberkatan telah usai. acara sakral tersebut benar-benar tidak tersentuh media sama sekali karena campur tangan Papanya Agnes. pemberkatan itu hanya di hadiri kerabat terdekat kedua mempelai dan sahabat mereka. Dimas dan Jio adalah salah satunya yang menjadi saksi pernikahan Hean dan Agnes.
Masih banyak yang memberikan ucapan selamat pada pengantin baru itu, Hean justru memilih untuk menghindar. duduk di bangku taman sambil menikmati sebatang rokok yang terselip di jarinya.
Kepalanya benar-benar terasa berat karena semalam Hean tak tidur sama sekali. bagaimana ia bisa tidur nyenyak, mimpi semalam itu benar-benar membuatnya takut dan cemas. mimpi yang terlihat begitu nyata dan menyeramkan.
"Ngapain lo?". Tiba-tiba Jio dan Dimas datang. menghampirinya dan duduk di sana bertiga.
"Lo tidak lihat kalau gue sedang merokok?" cerca Hean. seharusnya tanpa bertanya pun, Jio dan Dimas mampu melihat apa yang tengah dia lakukan.
"Ck...".
Jio menggantung tangannya di hadapan Hean. seperti tengah meminta sesuatu,
Apa? begitu sorot mata Hean bicara.
"Rokok..." ucap Jio. ia juga akan merokok menemani Hean.
"Bukannya lo tidak lagi merokok?" selidik Hean. itulah yang Jio katakan beberapa waktu yang lalu. pria itu mencoba untuk berhenti merokok karena seseorang.
"Mumpung tidak ada Sasa..." jawab Jio yakin. karena tidak ada Sasa, jadi tak apa lah kembali menikmati sebatang rokok. toh, akan lebih mengasyikkan jika mengobrol sambil menikmati benda bernikotin tersebut.
Walaupun sedikit ragu, pada akhirnya Hean merogoh saku jasnya dan mengeluarkan bungkus rokoknya.
asap langsung menguar ke udara bersamaan dengan tarikan nafas Jio.
"Apa gue perlu mengucapkan selamat seperti yang lain lakukan kepada lo?".
Bingung, karena Jio tau Hean tak menikmati pernikahannya ini.
"Tidak perlu... doakan saja agar pernikahan si*lan ini berakhir cepat..." umpat Hean pada nasib buruknya.
"Ck...". Dimas berdecak geli.
Tak menyangka ada orang yang mengutuk pernikahannya sendiri bukannya berharap yang baik-baik.
"Kadang gue heran dengan lo Yan... kenapa bodoh sekali..." umpat Dimas.
Hean adalah pria yang paling bisa diandalkan ketika yang lain sedang dalam masalah, pemecah jalan keluar bagi Jio dan Dimas. tapi ketika ditimpa masalah, pria itu tak bisa menyelesaikannya sendiri. membingungkan bukan?
Apa?
"Maksud lo apa sih nyet?" timpal Jio. sekarang bukan saatnya membuat teka-teki yang membingungkan. to the point saja apa yang akan Dimas katakan.
"Teknologi sudah canggih kenapa lo tidak coba tes DNA, bukankah itu salah satu jalan keluarnya?" bisik Dimas pelan agar perkataannya tidak sampai didengar yang lain selain mereka bertiga.
"Yahh... ide bagus itu..." ucap Jio penuh semangat. Ters DNA adalah jalan keluar paling efektif yang bisa menyelesaikan masalah Hean. setidaknya mereka akan tau siapa ayah dari anak yang Agnes kandung saat ini.
Apakah benar Hean atau pria lain seperti yang Hean katakan dulu.
"Iya nyet... tes DNA saja..." ucap Jio.
__ADS_1
Beda dengan kedua sahabatnya yang begitu semangat, Hean terlihat lemas. seperti saran dari Dimas bukanlah lah yang tepat untuk nya saat ini.
"Lebih cepat akan lebih baik bukan?".
"Gue sudah memikirkan hal itu semalam..." adu Hean.
"Lalu?".
"Tes DNA saat kehamilan masih sangat muda itu beresiko tinggi..." jawab Hean.
"Bisa memicu keguguran...".
"Terus kenapa? kalau lo yakin Agnes bukan hamil anak lo, kenapa peduli?" tanya Jio.
keguguran atau tidak tak akan jadi masalah bagi Hean bukan?
"Gue tidak bisa Yo..." ucap Hean terdengar yakin.
"Gue tidak mau ambil resiko terlalu besar... bagaimanapun janin itu tidak bersalah sama sekali... dia tak bisa meminta untuk tumbuh di rahim ibu yang seperti apa. Gue tidak bisa melakukannya... se br*ngseknya gue, gue tidak mau melakukan hal itu...".
Telak, itulah keputusan Hean. Mungkin ia bisa mendesak Agnes untuk melakukan tes DNA untuk waktu dekat, tapi Hean tak mau mengambil resiko atas janin yang sedang di kandung Agnes.
"Jadi?".
Dimas bingung, apa yang akan Hean lakukan setelah ini.
"Apalagi, selain menunggu..." jawab Hean.
Keputusannya sudah tepat. ia akan menunggu sampai Agnes melahirkan bayinya. dan setelah itu Hean akan untuk melakukan tes DNA.
Satu tahun adalah waktu untuk Hean menunggu. untuk membuktikan bahwa dirinya tidaklah ayah dari anak yang dikandung Agnes.
"Hm, gue akan menunggu sampai satu tahun lamanya...".
Jio masih duduk di samping Dimas hingga sebuah panggilan telepon masuk ke dalam ponsel nya. membuat pria itu bangkit dan mengecek siapa yang menghubunginya saat ini.
Sasa? ada apa?
Sejenak Jio bingung apa alasan kekasihnya itu menelponnya saat ini. karena sejak kemarin, Jio sudah meminta ijin untuk menghadiri acara pemberkatan Hean dan Agnes.
"Kenapa tidak lo angkat?". Hean bersuara.
"Em, Iya..." jawab Jio sedikit gugup dan segera menempelkan benda pipih berwarna putih itu di telinganya.
"Ya sayang...".
Terdengar Sasa menjelaskan alasan yang membuatnya menelepon Jio saat ini. membuat Jio otomatis menatap ke arah Hean memastikan kalau pria itu tak mendengar pembicaraannya.
"Dimana?".
Jio mulai paham apa yang terjadi pada kekasihnya. "Bisa tunggu sebentar?". Jio melihat ke arah pergelangan tangannya. memastikan jam berapa saat ini dan memperkirakan waktu apakah sempat atau tidak kalau Jio pergi menemui Sasa.
"Baiklah... gue pergi sekarang, tunggu gue..." ucap Jio meyakinkan.
dan setelah itu panggilan telepon pun terputus.
__ADS_1
Jio menghela nafas dan berkata, "Gue cabut dulu ya... Sasa butuh bantuan gue..." pamit pria itu. tak memberitahu Dimas maupun Hean apa yang tengah terjadi.
"Sekarang?". Dimas sedikit protes.
"Hm, Sasa butuh gue sekarang..." jawab Jio.
"Pergilah..." ucap Hean. karena ia tau bagaimana memprioritaskan seorang gadis dalam hidupnya.
"Oke, gue cabut dulu...". Jio segera berlari meninggalkan taman serta gedung untuk acara pemberkatan beberapa saat yang lalu.
Dengan mengendarai mobil, Jio pergi menuju ke tempat yang Sasa maksudkan tadi.
Sebuah halte yang tak terlalu jauh dari tempat Jio tadi.
Hampir 15 menit, akhirnya Jio tiba. menepikan mobilnya sambil terus mengamati dua gadis yang duduk di halte bus.
"Lama ya?". tanya Jio penuh sesal.
"Aghh... untung saja lo cepat datang Yo..." ucap Sasa.
"Taxi yang kita naiki tiba-tiba mogok..." adu Sasa.
"Baiklah, ayo kita antar Hema ke stasiun kereta..." ucap Jio. mengambil alih koper milik Hema dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Tadinya hanya Sasa yang akan mengantarkan kepergian Hema hari ini. tapi siapa sangka kalau Taxi yang mereka tumpangi mogok di tengah jalan hingga Sasa memutuskan untuk menelepon kekasihnya.
"Terimakasih Yo... maaf selalu merepotkan..." sesal Hema. entah sudah berapa kali gadis itu selalu melibatkan Jio dalam berbagai masalah. rasanya berterimakasih saja tidak lah cukup.
"Jangan khawatir Hem..." jawab Jio dan langsung meminta Hema dan Sasa segera masuk ke dalam mobil.
"Masih sempat kan?" tanya Jio kembali meyakinkan. apakah Hema tidak ketinggalan kereta saat ini.
"Cukup kok...".
Mobil berwarna putih itupun kembali melaju. beradu dengan kendaraan lain menuju stasiun kereta.
Hari ini, Hema benar-benar akan meninggalkan Ibukota. meninggalkan tempat, kenangan dan para sahabatnya.
"Kabari gue kalau sudah sampai Ma..." ucap Sasa dengan mata yang menggenang menahan tangis. di sebelahnya Jio terlihat beberapa kali menepuk pundak kekasihnya. ia tau bagaimana rasanya sebuah perpisahan.
sedih... hanya itu yang bisa terasa.
"Hm, gue pergi ya..." pamit Hema. menatap Sasa dan Jio bergantian sebelum ia benar-benar tidak bisa melihat keduanya seperti ini.
"Hati-hati..." tambah Jio.
Hema telah bersiap menyeret kopernya. membelakangi keduanya hingga kembali terdiam.
Tanpa diduga, Hema kembali melangkah ke arah Sasa. menghambur memeluk gadis itu dengan erat dan menumpahkan kesedihannya.
Baik Sasa maupun Hema benar-benar menangis melepas kepergian orang paling mereka sayangi.
"Hiks...".
***
__ADS_1