Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
106. Meminta Maaf.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"Bukankah anak perempuan Zain bernama Mika?". Hean membuka pembicaraan tentang pria lain yang baru-baru ini ia kenal.


pria yang cukup baik menurut Hean tapi juga memiliki masalah dalam hidupnya.


Hema membulatkan matanya terkejut. tak menyangka kalau Hean juga mengetahui nama anak dari Zain.


"Jangan terkejut seperti itu Ma...". Hean tersenyum melihat ekspresi Hema barusan. seperti tak menyangka kalau Hean juga mengenal Zain lebih dari itu. bahkan mengenal anak Zain juga.


"Gue bertemu dengannya di London waktu..." ucap Hean lagi.


London? kapan? Hema bertanya-tanya. karena seingatnya Zain membawa Mika untuk pertama kalinya beberapa bulan yang lalu. Hema pun ingat akan hal itu.


"Gue juga melihat lo waktu itu..." adu Hean lagi. dan kali ini Hema tak bisa mengatakan apapun. cukup terkejut karena Hean melihatnya juga di London. walaupun ia sendiri tak tau dimana Hean melihatnya saat itu.


Hema menatap ke arah Hean. mengamati wajah pria itu dan ingin mendengar penjelasan lebih lanjut tentang semuanya.


"Beberapa bulan yang lalu saat gue ada pekerjaan disana... gue pertama kali bertemu dengan Zain dan putrinya..." ucap Hean mengingat saat dimana ia bertemu dengan Zain.


pertemuan tidak sengaja yang ternyata ada hubungannya dengan Hema juga. karena Zain cukup dekat dengan Hema atau bisa di bilang akrab.


"Mika tersesat di hotel, menangis sendirian hingga gue membantunya...".


Hema menganggukkan kepala. Ya... ia ingat dengan ucapan Zain waktu itu. saat dimana Zain cerita kalau Mika tersesat di Hotel dan di tolong seseorang yang ternyata adalah Hean.


"Gue rasa Zain pria yang bijaksana dan dewasa... putrinya juga terlihat dekat dengan lo... kenapa lo tidak menikah dengannya?". pertanyaan yang bodoh justru terlontar dari mulut Hean. seperti menggoda Hema yang sampai sekarang masih melajang.


Tapi beda dengan tatapan Hema. ada rona kesedihan ketika Hean mengatakannya tadi. seperti tersirat sebuah luka yang sulit untuk di sembuhkan.


Kenapa dia? Hean kebingungan dengan raut wajahnya Hema.


"Menikah? ck... gue tidak punya impian seperti itu..." ucap Hema. tatapan matanya tertuju pada langit di atas sana. senja mulai tiba. mengambil alih cahaya matahari yang sejak pagi bersinar terang.


Deg... gantian Hean yang dikejutkan oleh ucapan Hema barusan.


kenapa? Penasaran kenapa Hema mengatakan hal itu.


"Ma..." panggil Hean meminta penjelasan.


"Hahaha... kenapa lo yang terkejut? apa ucapan gue salah?".


Hema tersenyum kaku. tapi walaupun begitu Hean tau ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan.

__ADS_1


"Gue suka hidup yang seperti ini... bebas, nyaman dan tidak mempersulit gue... karena memiliki orang yang spesial itu sangat merepotkan bukan? ck...".


Terlalu sering kecewa, menangis karena seseorang membuta Hema mati rasa. bahkan ia tak mempunyai keinginan untuk menjalin hubungan dengan seseorang.


karena pada akhirnya, Hema takut akan kecewa lagi.


"Hema..." panggil Hean lagi. walaupun masih bingung tapi Hean tau kalau keputusan Hema itu adalah salah dengan tak mau menjalin hubungan dengan seseorang.


"Hahaha... lo berpikiran buruk tentang gue? jangan salah paham Yan... walaupun gue tidak berkeinginan untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, bukan berarti gue tidak lagi menyukai kaum pria... gue masih normal..." jelas Hema. mungkin saja Hean salah paham dan berpikir Hema memiliki perilaku menyimpang.


"Bukan seperti itu," ralat Hean. sungguh ia tak memiliki pikiran bahwa Hema memiliki pikiran untuk menyukai sesama wanita.


"Hanya saja... maaf,".


Tiba-tiba terlontar sebuah permintaan maaf dari bibir Hean.


Walaupun Hema tak menjelaskan kenapa dirinya berubah seperti sekarang, tapi Hean cukup tau diri. bahwa dirinyalah salah satu alasan yang membuat wanita itu berubah.


"Maafin gue..." ulang Hean.


Sebenarnya Hema ingin menangis mendengar permintaan maaf dari pria itu. hatinya bahkan sesak mendengarnya, tapi ia mencoba untuk terlihat kuat. tak mau sampai air matanya jatuh di depan Hean.


"Untuk?" tanya Hema.


memberi harapan lalu menghancurkannya begitu saja.


Hema tersenyum penuh ejek. meminta maaf, sebuah kata yang sulit untuk dilakukan seseorang walaupun terlihat mudah.


"Maaf untuk semuanya..." lanjut Hean.


"Ya gue terima permintaan maaf lo..." jawab Hema dengan mudahnya.


Tapi untuk melupakannya, gue rasa tidak mudah bagi gue...


Bukannya dendam, hanya saja Hema tak lagi ingin kembali kecewa. karena hatinya terlalu berharga untuk kembali disakiti berulang-ulang oleh pria yang sama.


"Baiklah..." Hema bangkit dari duduknya.


"Sudah hampir malam... dan tidak ada yang lagi yang bisa dibicarakan, jadi gue pamit dulu ...". Hema ingin mandi dan beristirahat karena besok ia harus meninggalkan kota ini dan kembali ke kota asalnya.


"Tunggu Ma..." cegah Hean. membuat langkah kaki Hema yang tadinya hampir melangkah pergi kembali terhenti. berdiri membelakangi Hean tanpa mengatakan apapun.


Sedangkan Hean juga bangkit. sambil menggendong Bella yang tengah tertidur, pria itu mendekati Hema.


"Soal yang dulu..." ucap Hean penuh hati-hati.

__ADS_1


Apa? batin Hema kebingungan.


"Gue tidak pernah membohongi lo..." lanjut Hean. berharap Hema tak lagi mengecap Hean sebagai seorang pembohong.


mungkin kembali mengambil kepercayaan seseorang memang sulit, tapi Hean tak mau di cap sebagai seorang pembohong seumur hidup.


karena pada kenyataannya, memang bukan dia yang menghamili Agnes.


"Terimakasih untuk itu..." jawab Hema singkat dan kembali melanjutkan langkah nya meninggalkan Hean.


Hema mempercepat langkah kakinya. menuju ke hotel tempatnya menginap dan masuk ke dalam kamar. tubuhnya runtuh tepat di balik pintu. terduduk di lantai sambil menyentuh dadanya. sakit... itulah yang Ha rasakan saat ini.


entah kenapa sosok Hean sangat mudah menghancurkan tembok yang Hema bangun di dalam hatinya. nyatanya pria itu mampu membuat lukanya kembali terasa bahkan setelah Hema mencoba untuk menyembuhkannya.


Waktu telah berlalu tapi sosok pria itu masih saja membayang-bayangi langkah Hema. seperti Hean memiliki tempat paling dalam di hati Hema.


Tuhan... kenapa harus gue?


Air Mata Hema menetes kian deras.


Sedangkan di kamar hotel lain. setelah Hean memindahkan Bella di ranjang agar tidur lebih nyenyak, Ibu pun menghampiri putranya itu.


"Siapa tadi?".


"Siapa bu?" tanya Hean kebingungan. menepuk-nepuk pelan paha Bella untuk membuat putrinya semakin terlelap.


"Tadi, wanita yang bersamamu..." ucap Ibu. tadi Ibu sempat melihat Hean berbicara dengan seseorang di depan Hotel. Tapi Ibu tak berani mendekat karena takut mengganggu.


"Oh... Teman lama..." jawab Hean singkat. Teman lama, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan hubungannya dengan Hema. karena sejak awal mereka hanya dekat tapi takdir yang pernah mengijinkan mereka untuk bersama.


"Sepertinya Ibu pernah melihatnya..." ucap Ibu ragu. dari kejauhan saja Ibu seperti tak asing dengan wajah wanita yang bersama putranya tadi.


"Hm, Ibu memang pernah melihatnya... Bahkan memasak mie panjang umur untuknya..." ucap Hean dengan senyum indah mengukir bibirnya.


Ya... Ibu memang pernah memasak Mie panjang umur untuk ulang tahun Hema waktu itu. saat mereka masih kuliah dulu.


"Benarkah?" Ibu pun terkejut sendiri. tak ingat kalau pernah memasak untuk seseorang yang bukan anggota keluarganya.


"Pacarmu?".


"Hahaha... tidak Bu..." tolak Hean.


"Sstt... pelankan suaramu, nanti Bella terbangun..." omel IbuIbu sambil menepuk bahu Hean memperingati.


***

__ADS_1


__ADS_2