Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
55. Kencan Yang Dipaksakan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sesuai dengan janji Hema waktu itu. setelah bekerja ia akan pergi bersama Sandy. menonton film di bioskop juga makan malam bersama. anggap saja seperti sebuha kencan yang dilakukan pasangan muda mudi lain. tapi bedanya mereka bukanlah pasangan. Hema hanya tidak mau mengecewakan Sandy, pria yang begitu baik padanya.


anggap saja sebagai bayaran untuk semua perlakuan pria itu terhadap nya.


Kompromi, Ya... seperti itulah yang terlihat.


"Sudah?". Sandy menjadi pertama yang datang menemui Hema penuh semangat. terlibat sekali dari cara pria itu tersenyum kepadanya. harapan yang begitu besar dalam benaknya. berharap ini adalah awal hubungan yang lebih baik lagi.


"Tunggu sebentar..." jawab Hema. masih ada sedikit pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum pulang.


"Tunggu saja di lobby...".


Karena tak enak dipandang jika Sandy menunggunya disini. apalagi masih ada beberapa rekan kerja disana. mengamati Hema dan Sandy seperti tengah mengejek.


Agghh...


Bukan hanya Sasa saja yang terlihat semangat menjodoh-jodohkan Hema dengan Sandy. juga dengan rekan-rekan kerjanya juga. berharap Hema benar-benar jadian dan menjalin hubungan dengan pria itu.


"Baiklah... gue tunggu di bawah..." ucap Sandy.


Setelah sepeninggal pria itu, Hema benar-benar diberondong banyak pertanyaan dari rekan kerjanya.


"Cie...".


Apaa sih...


"Jangan lupa berdandan yang cantik Ma... hehe...".


"Oh iya Ma, ini gue ada lipstik warnanya cantik...". lainnya juga bersemangat.


"Apa sih mbak... gue hanya pergi nonton bukan menikah..." jawab Hema. kenapa juga harus berdandan berlebihan seperti ekspektasi mereka.


"Hehehe... semangat Hema...".


Hema terlihat acuh kembali, hingga suara riuh itu pun berakhir.


Akhirnya...


Hema merenggangkan kedua tangannya. pekerjaan akhirnya selesai. membersihkan meja dan menata sisa tumpukan berkas agar terlihat rapi.


Sambil menenteng tas, Hema berjalan meninggalkan ruang kerjanya. dia menjadi terakhir yang pulang dibandingkna staf Sekertaris yang lain.


Berdandan yang cantik Ma...


Entah kenapa kata itu terngiang di kepala Hema. membuat langkah kaki yang tadinya ingin segera turun beralih menuju ke toilet.


Hema berdiri di depan kaca toilet. mencuci wajahnya dan mengeringkannya dengan tissu. Tanpa berpikir panjang, Hema sedikit memberikan polesan di wajah. tipis agar tak terlihat berlebihan. juga memberi pewarna bibir agar tidak terlihat pucat.


"Mau kemana lo!".


Sebuah pertanyaan terlontar membuat Hema terkejut sampai terjingkat dan menatap ke sumber suara.


"Aisss... mengagetkan saja..." umpat Hema.

__ADS_1


Tanpa terduga langkah kaki pria itu semakin mendekat. membuat Hema panik "Ngapain lo kesini?" tanyanya. karena ini adalah toilet wanita. dan tidak seharusnya Hean masuk ke dalam sana.


"Kenapa? terserah gue...". Hean semakin mendekati Hema. berdiri di dekatnya dan mengamati wajah Hema cukup lama.


Keduanya terdiam dengan pemikiran yang tidak bisa di tebak.


hingga tanpa sadar, tangan Hean terulur untuk menyentuh wajah Hema.


Plakk...


"Apaan sih Lo!". menyentak kasar tangan Hean bahkan sebelum menyentuh pipinya sama sekali. inilah bukti penolakan yang dilayangkan Hema untuk Hean. karena pria itu tak berhak atas dirinya. sama sekali tak berhak sedikitpun.


gue benar-benar bisa gila kalua berada di sini lebih lama... Batin Hema. membereskan alat-alat make up dan segera melangkah pergi.


"Minggir...". mendorong sedikit tubuh Hean yang menghalangi jalannya. langkah kakinya benar-benar membawa Hema selankah pergi. tapi seketika terdiam kembali saat sebuah nama terlontar dari mulut Atasannya.


"Namanya Sandy bukan?".


Sebenarnya tak mengejutkan jika Hean tau nama-nama karyawannya. tapi ketika pria itu mengucapkan nama Sandy, seperti terdengar aneh di telinga Hema. Seperti akan ada sebuah petaka menyelimuti hatinya.


"Dia pacar lo?". Pertanyaan lebih dalam lagi. otomatis membuat Hema sedikit berpikir konsekuensi apa yang akan ia terima ketika menjawab pertanyaan itu nanti.


"Bukan,". karena memang itukah yang terjadi. Hema dan Sandy memang tidak menjalin sebuah hubungan. lebih baik jujur dari awal daripada harus bersandiwara dan akan menyulitkannya nanti.


"Kenapa? apa lo takut Hema?". Hean berjalan mendekati Hema. mengamati tubuh Hema dari belakang.


"Takut jika gue bermain-main dengan pekerjaannya..." bisiknya tepat di telinga Hema.


Nah benar kan? Hema tau kemana arah pembicaraan itu. andai ia berbohong menjadi kekasih Sandy, apa yang akan terjadi setelah itu?


"Jangan ganggu dia Yan!".


karena Sandy tidak salah dan tidak tau apa-apa.


setidaknya jangan melibatkan pekerjaan dalam masalah ini. Hema tak tega jika Sandy harus keluar dari perusahaan karena dirinya.


"Sudah pernah baca aturan perusahaan?". Hean hanya mengingatkan saja.


seharusnya Hema telah membaca tata tertib perusahaan sebelum menandatangani kontrak kerja.


"Disana jelas tertulis tidak boleh ada hubungan spesial antar karyawan bukan?".


Jelas Hema ingat tentang itu. tapi ia dan Sandy benar-benar tidak menjalin hubungan. semua orang tau akan hal itu.


"Resign atau dikeluarkan!".


Hema membulatkan mata. wajahnya pias mendengar ucapan Hean. Kenapa?


"Tapi, gue tidak berpacaran dengannya..." jelas Hema.


"Benarkah? atau sengaja bohong agar tidak diketahui semua karyawan?". Hean tersenyum di sudut bibirnya. ngeri...


"Sungguh Hean... gue tidak berpacaran dengan Sandy... tolong jangan ganggu dia..." mohon Hema. ia tak mau Sandy dalam masalah yang bahkan bukan kesalahannya sendiri. Hema hanya kasihan.


"Apa? kapan gue mengganggunya?".


"Jangan pecat dia...".

__ADS_1


Cukup lama Hema terdiam, tapi tak mendengar Hean berkata sekalipun.


Apa dia marah?


"Pergilah...".


Pada akhirnya Hean bersuara.


Ha?


Terkejut bukan? karena tiba-tiba pria itu menyuruh Hema untuk pergi.


"Sana pergi..." usir Hean lagi. kali ini Hema benar-benar mendengar ucapan yang memintanya untuk pergi.


"Serius ya... gue pergi...jangan pecat dia!" ancam Hema meyakinkan kalau Sandy akan tetap aman di posisinya yang sekarang.


Ck...


Hean berdecak walaupun menganggukkan kepapanya mengiyakan ucapan Hema barusan.


"Oke, makasih..." ucap Gadis itu dan segera berlari meninggalkan Hean.


Di toilet tinggal Hean sendirian. berjalan perlahan keluar sambil mengamati punggung gadis yang meninggalkannya itu tengah berlari semakin jauh.


Sedikit aneh memang... gue cemburu tapi tak bisa mencegahmu... berbahagialah Hema... batinnya melepas kepergian Hema.


Di Mall.


Hema duduk di bangku bioskop bersebelahan dengan Sandy. keduanya bersiap menonton film yang baru saja berputar.


sesekali Hema menyomot popcorn dsari pangkuan nya dengan tatapan tertuju hanya ke arah layar besar di depan sana.


Hingga cukup lama, film yang tengah berputar itu tka sesuai dmegan ekspektasinya. Hema merasa jenuh dengan jalan cerita yang sedikit membingungkan baginya.


Agghhh... menghela nafasnya jengah.


Apalagi pemandangan di sampingnya menambah ke moodnya berantakan. pria yang mengajak dirinya nonton justru terlelap begitu damai. Ya... Sandy tertidur di dalam sana. wajahnya yang teduh membuat Hema semakin kesepian karena tak tega membangunkannya.


Ck...


Inilah definisi kencan yang dipaksakan. Hema benar-benar tidak menikmatinya. sejenak berpikir, pada akhirnya Hema bangkit dari duduknya. ia telah memutuskan untuk keluar dari sana saat film masih berlangsung.


Maaf Sandy..


Hema berjalan sendirian. menyusuri trotoar menuju ke Apartemen dimana ia tinggal.


nyatanya kembali membuka hati untuk orang lain bukanlah hal mudah baginya. Entah sudah berapa banyak ia mencobanya, tapi tak juga membuat hati Hema seperti dulu saat-saat ia mengenal seseorang di hidupnya.


sekarang, perasaan itu tak lagi ada. Hem atak berniat untuk jatuh cinta lagi.


Sepanjang perjalanan Hema memikirkan bagaimana hidupnya setelah ini. bagaimana ia menjelaskan kepada Sandy agar pria itu tidak lagi berharap padanya. bagaimana Hema harus bersikap tegas demi masa depannya.


Hingga tak terasa, pnagkah laki Hema benar-benar membawanya sampai di halaman Apartemen. tak terasa sudah 30 menit gadis itu berjalan sendirian. mungkin karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang mengganggu hidup, ia tak menyadari telah sampai di tempat tujuannya.


Bersamaan dengan itu, sebuah panggilan telepon masuk dalam ponsel nya. sejenak Hema hanya melihat siapa yang menelponnya, tanpa berniat untuk menjawab gadis itu langsung mengantongi kembali ponsel tersebut.


Hema tak ingin mendengar penjelasan dari Sandy.

__ADS_1


***


__ADS_2