Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
37. Bertemu.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hean membuka lemari pendingin. tapi setelah nya keluar umpatan dari mulutnya. kesal karena tidak ada apapun disana. niatnya Hean ingin membuat makan malam, tapi ternyata ia lupa mengisi bahan masakan beberapa hari terakhir.


Agghh... benar-benar bodoh...


Entah paa yang dipikirkan pria sampai-sampai lupa kalau lemari pendingin di Apartemennya kosong. bahkan telur ataupun mie instan saja tak ada satupun. padahal Hean begitu lelah dan lapar.


Hingga yang dilakukannya adalah meraih jaket, dompet dan keluar dari sarangnya.


kali ini Hean tidak pergi terlalu jauh. berjalan kaki menuju ke salah satu toko di samping Apartemen.


Udara malam sedikit lebih dingin dari biasanya. musim hujan telah tiba dan tentu saja langit seakan-akan selalu terlihat gelap tak hanya siang, ataupun malam hari.


bahkan kali ini tetesan air mulai jatuh. Hean mempercepat langkahnya menuju ke toko samping Apartemen yang memang selalu bukan dan menolong siapapun data kehabisan sesuatu.


Malam ini, Hean tak banyak berbelanja. hanya membeli roti, susu, mie instan dan beberapa biji telur. toh ini hanya untuk menyelamatkan perutnya malam ini saja. besok Hean akan menyempatkan diri untuk ke Supermarket membeli beberapa bahan dapur.


Setalah membayarnya, pria itu segera menutupi kepala dengan tudung jaket lalu berjalan keluar. bersamaan dengan itu, Hean tak sengaja menyenggol seseorang.


"Maaf," sesalnya tanpa melihat siapa yang baru saja ia tabrak.


Hean terus melanjutkan langkahnya, tapi seseorang yang ia tabrak justru bersuara, "Tunggu...". membuat langkah kaki Hema terhenti.


"He-an?".


Terkejut? tentu saja. bahkan Hean segera memutar tubuhnya demi melihat siapa orang itu yang bahkan memanggil namanya.


"Hean kan?".


Sedangkan Hean seketika membulatkan matanya. terkejut bukan main dengan sosok di depannya. untung saja ia memakai masker, jadi tak ada yang menyadari bahwa mulutnya juga melongo saking kagetnya.


Agnes...


Hean sudah mencoba bersembunyi dari gadis itu untuk beberapa hari terakhir. tak membalas pesannya dan mencoba mengabaikannya. tapi nyatanya, takdir mempertemukan mereka disini.


"Lo tinggal disana?". Agnes penasaran karena melihat Hean yang berjalan kaki dengan santainya. padahal hujan akan turun sebentar lagi. Agnes yakin kalau Hean tinggal tidak jauh dari toko ini bukan?


Apalagi di depan sana berdiri dengan kokoh sebuah gedung Apartemen yang cukup mewah.


hanya orang-orang berpenghasilan besar dan orang kaya yang mampu menyewa atau membeli unit disana. dan keluarga Hean mampu untuk itu.


"Tak menyangka kita bisa bertemu disini..." ucap Agnes dengan bangganya.


Tadinya gadis itu berhenti di toko hanya untuk membeli sesuatu sebelum pulang. tapi nyatanya Agnes lebih beruntung dari yang ia kira. dapat bertemu dengan Hean tanpa susah payah. padahal hanya untuk mencari tempat tinggal Hean beberapa terakhir, ia sangat berusaha keras. mencari tahu dari orang-orang terdekat Hean. tapi nyatanya tak ada satupun yang mau memberitahunya.

__ADS_1


Sedangkan Hean, hanya menatap gadis itu dengan tatapan aneh. jengah dan seperti tak peduli sama sekali.


"Yan, Gue-,".


Agnes sesaat mendekati Hean, tapi pria itu reflek mundur beberapa langkah. membuat jarak diantara mereka tetap tercipta.


"Sudah kan? gue pergi!" pamitnya.


Hean kembali berjalan menuju ke gedung dimana ia tinggal. tanpa memperdulikan Agnes yang berusaha mengejarnya.


karena sepatu heels yang cukup tinggi, Agnes kesulitan untuk berlari.


"Hean tunggu..." teriaknya. tapi yang di panggil masih saja tidak berpengaruh sedikitpun. tetap berjalan pergi dan berusaha mengabaikan Agnes.


Melihat Agnes lagi, luka yang Hean rasakan kembali terasa. sakit... bahkan jauh lebih sakit daripada saat pertama kali gadis itu meninggalkannya.


Agnes terus mengejar, hingga yang dilakukan benar-benar menarik heels yang dikenakan dan meninggalkannya begitu saja di jalanan. Agnes berlari lebih kencang dan,


Bukkk...


Memeluk tubuh Hean dari belakang. membuat yang tadinya berjalan langsung terdiam membatu.


merasakan sebuah pelukan yang begitu aneh baginya.


tubuh Hean menegang di ikuti oleh perasaan yang begitu menyiksa.


"Gue sangat-sangat merindukan lo Yan.. sangat...".


Hean tak bisa berkata-kata. inilah yang ia takutkan saat gadis itu kembali. Hean tak bisa untuk terlihat mengabaikan Agnes. tubuhnya ingin melakukan itu, tapi hatinya jelas menolak. Hean seharusnya bisa melepaskan pelukan dari Agnes. meninggalkan gadis itu disini, tapi hatinya menolak untuk melakukannya. hingga yang Hean lakukan hanya diam. tak tau harus berbuat apa ketika pelukan erat itu melilit pinggang.


"Gue kangen...".


Entah berapa banyak kata yang Agnes ucapkan barusan. Hean tak menghitungnya tapi jelas ingat kalau bukan hanya sekali dua kali saja Agnes mengatakan rindu kepadanya.


"Hean,".


"Lepas Nes..." pinta Hean. seharusnya ia bisa berkata dengan nada lebih keras lagi, tapi nyatanya yang keluar tidak seperti harapannya. Hean masih berbicara dengan nada lembut kepada Agnes.


Perlahan pelukan tangan Agnes mengendor, Hean bisa menghela nafasnya sedikit lebih leluasa daripada tadi. memutar tubuhnya demi melihat Agnes yang tengah menundukkan pandangannya. gadis itu masih terlihat terisak bahkan beberapa kali menyeka matanya.


"Lo menghindari gue kan? kenapa?". terlontar sebuah pertanyaan dari mulut Agnes.


itulah yang Agnes rasakan pertama kali bertemu dengan Hean. pria itu seperti menghindarinya. tak ingin bertemu ataupun sekedar menyapa Agnes.


"Pulanglah.. ini sudah malam..." usir Hean.


apalagi langit benar-benar akan turun hujan sebentar lagi. selain itu Hean juga lelah ditambah lapar juga.

__ADS_1


"Lo mengusirku?". Agnes tak percaya begitu teganya Hean mengusir dirinya.


padahal mereka baru saja bertemu setelah sekian lama. setidaknya biarkan Agnes berbincang lebih lama lagi. menghapus rasa rindu yang begitu banyak.


"Ini sudah malam Nes... orang tua lo akan khawatir nanti... dan gue juga lelah..." jawab Hean jujur.


bertemu dengan Agnes adalah diluar dugaannya. apalagi Hean juga belum siap untuk bertemu, betapa ia menghindar selama ini. karena hatinya belum siap.


"Lo bawa mobil kan?". Hean mengamati sekitar. terlihat ada sebuah mobil di parkiran toko yang Hean yakini kalau mobil itu adalah milik Agnes.


"Hm,".


"Pulang lah... gue akan hubungi lo nanti..." ucap Hean.


mendengar hal itu, Agnes seperti berbunga-bunga. harapannya seperti ada di depan mata. itulah yang Agnes inginkan. Hean kembali menghubunginya.


"Serius?" tanyanya dengan bola mata penuh binar.


dulu mata itu yang sangat Hean suka. bola mata cukup besar dan berwarna hitam ketika menatap seseorang. Hean menyukainya. apalagi senyum indah yang selalu Agnes tunjukkan kepadanya.


lebih tepatnya Hean menyukai semua hal dadi Agnes saat itu.


"Hm, pulanglah..." jawab Hean. dan pada akhirnya berjalan kembali meninggalkan Agnes. hingga terdengar deru mobil yang Hean yakini kalau Agnes telah pergi dari sana.


Masuk ke dalam Apartemen, Hean menaruh bahan belanjaannya di dapur. tanpa merapikan nya ke dalam lemari pendingin, pria itu segera menuju ke ranjang. membanting tubuhnya dan memejamkan mata.


rasa lapar benar-benar hilang begitu saja. Hean sudah kehilangan selera makannya.


Tanpa terduga, mata yang sengaja ia pejamkan benar-benar terpejam dengan sendirinya. Hean tertidur di keheningan malam ditambah dengan rintik hujan yang mulai terdengar membasahi bumi.


***


Di lain tempat, Agnes baru saja tiba. langkah kakinya mampu menciptakan suara ramai menggema memenuhi seluruh sudut ruangan yang ada di rumahnya. apalagi ketika menaiki anak tangga. untung saja para penghuni rumah sebagian besar sudah tertidur. jadi tidak ada yang terganggu apalagi sampai terbangun.


Agnes langsung menuju ke kamarnya. merebahkan tubuhnya sambil mengamati ponselnya.


harapan Agnes begitu besar, menunggu Hean menghubunginya. tak apa walaupun sekedar chat berisi ucapan selamat malam saja.


Tapi nyatanya harapan Agnes sia-sia saja. hampir 1 jam lamanya gadis itu termenung menunggu kabar dari Hean. tapi pria itu tidak benar-benar mampu menepati janjinya.


Senyum Agnes yang tadinya indah mengukir wajahnya tiba-tiba sirna. menyisakan sebuah kesedihan dalam hati.


Apa dia membohongi ku?


Agnes sudah mencoba untuk menelepon Hean lebih dulu, tapi tak ada jawaban dari seberang sana.


kecewa, itulah yang Agnes rasakan.

__ADS_1


***


__ADS_2