
HAPPY READING...
***
Hean baru bangun saat sore hari. segera bangkit dan melirik jam di pergelangan tangannya.
4sore? tak menyangka tidur yang ia kira sesaat ternyata berlalu sangat lama.
Mungkin karena terlalu lelah yang membuat Hean tidur sampai lama sekali. apalagi ada putrinya yang menemani hingga anak dan ayah itu tidur bersamaan.
"Akhirnya kalian bangun juga..." keluh Ibu. serasa menyiapkan segala sesuatu untuk cucunya dari dalam koper yang seharusnya sudah tertata rapi karena rencananya pulang hari ini.
tapi semuanya berantakan saat Hean memutuskan untuk menunda kepulangan mereka esok hari.
"Ohh cucu Oma...". Ibu mendekati Bella. mengusel-usel pipi cucunya itu sebelum akhirnya menggendong turun dari ranjang.
"Yuk mandi yuk...". bujuk ibu seperti pada anak kecil pada umumnya.
walaupun tanpa dibujuk sekalipun, bella tak akan bisa berontak karena masih terlalu kecil.
Beda lagi dengan Hean. pria itu masih rebahan di ranjang sambil sesekali memejamkan matanya karena masih mengantuk.
menunggu Ibu yang tengah memandikan Bella di kamar mandi.
Aroma sabun mandi khas bayi langsung menguar ke udara ketika Ibu membawa Bella keluar dari kamar mandi. membalutnya dengan handuk hingga yang kelihatan dari bayi berumur 8 bulan itu hanyalah kaki dan tangan yang bergerak kegirangan.
"Ayo ganti baju dulu... jangan seperti Papamu yang sangat malas mandi..." sindir Ibu pada putranya yang masih nyaman di ranjang. bahkan tak berkeinginan untuk bergerak sama sekali. seperti ranjang adalah tempat ternyaman baginya.
"Tanpa mandi pun tidak mengurangi ketampanan Hean kan bu..." celetuk Hean menimpali ucapan Ibunya barusan.
"Jorok sekali Papamu itu ya Bel..." ucap Ibu di depan Bella. membuat cucunya tersenyum seperti paham apa yang Ibu katakan.
Hingga beberapa saat kemudian, Ibu terlihat puas melihat penampilan cucunya. wangi dan cantik karena bandana merah muda di atas kepalanya.
rambut Bella yang tumbuh cukup lebat, membuat bandana itu berfungsi dengan baik.
bukan hanya itu, Ibu juga memoles wajah Bella dengan bedak bayi. tau kan seperti apa orang tua ketika menata bayi?
"Cantik sekali cucu Oma... sayang sayang...".
Hean mengajak Bella keluar dari hotel. melangkah santai menikmati suasana sore hari yang sedikit mendung.
"Kita jalan-jalan ke depan ya sayang..." ucap Hean pada putrinya.
Tadinya Hean hanya berencana duduk di depan Lobby hotel menikmati suasana. tapi ia teringat sesuatu.
Ahh.. rokok gue habis...
Hean ingat kalau ada minimarket yang tidak jauh dari kawasan hotel tempatnya menginap.
"Yuk kita jalan..." ajak Hean dan bangkit dari duduknya. berjalan semakin jauh dari lobby hotel untuk membeli rokok di Minimarket.
Tapi baru melangkah, Hean dikejutkan oleh pemandangan di depan sana.
Hema kan? menajamkan mata melihat sosok wanita yang tengah berbicara dengan seorang pria di depan sana.
__ADS_1
"Benar, Hema... kenapa dia disini?" gumam Hean pelan.
bingung kenapa ada Hema di kota ini. karena yang Hean tau dari Jio, Hema tinggal sangat jauh dari Ibukota.
Hean tak bergerak. menjaga jarak cukup aman dan mengamati semua yang terjadi.
apalagi ia sangat penasaran dengan siapa Hema bicara saat ini.
Sepertinya gue pernah melihatnya... dimana ya?
Wajah pria yang tengah berbicara dengan Hema itu tidaklah asing. Hean seperti pernah bertemu dengan pria itu. tapi dimana?
Mencoba mengingat-ingat tapi masih tak menemukan hasil.
"Mau lo apa sih Rendy!" bentak Hema pada pria di depannya.
Hean yang berada tak jauh dari mereka pun mampu mendengar jelas ucapan Hema barusan.
Rendy? oh... namanya Rendy... Hean manggut-manggut.
tiba-tiba matanya membulat sempurna.
"Apa? Rendy?".
Sebuah nama seperti mengingatkannya akan seseorang.
Apa mungkin Rendy si br*ngsek itu?
Hean kembali mengamati pria di depan Hema. mengingat-ingat nama dan wajahnya apakah sama dengan dugaannya atau tidak.
Hean tau ada sedikit percekcokan diantara Hema dan pria bernama Rendy itu.
Hean memicingkan mata melihat adegan demi adegan yang Rendy lakukan. seperti mendesak Hema untuk mengatakan kebenaran entah apa.
"Mau apa dia?" Gumam Hean lagi. tapi tetap mengawasi pergerakan dari Rendy. karena yang Hean ingat dulu, Rendy memang seperti itu. padahal pria itu juga yang telah menjebak Hema hingga bisa dimiliki Hean dalam satu malam.
Agghh... Mengingatnya saja sudah membuat Hean merasa aneh. bersalah lebih tepatnya.
karena malam itu, Hean mampu mengenal sosok Hema. bahkan menaruh hati pada wanita berambut pendek di depan sana.
Melihat Rendy yang semakin kurang ajar, entah kenapa membuat Hean tergerak untuk melindungi Hema. padahal tidak diminta sama sekali.
kakinya seperti melangkah tanpa komando ke arah Hema.
"Sayang..." ucap Hean spontan.
Pria itu tidak sadar bahwa ucapannya barusan bagai bom yang meledak tiba-tiba. bagaimana tidak?
satu kata yang keluar dari mulut Hean mampu membuat Rendy dan Hema yang tengah bercekcok tiba-tiba terdiam.
"Sayang, yuk kita temui Mama..." ucap Hean pada Bella dan terus berjalan ke arah Hema berdiri.
Tatapan mata Hean tidak tertuju pada wajah Hema yang terlihat syok dan bingung adalah menatap tangan Rendy yang dengan erat menggenggam pergelangan tangan Hema. seperti menyakitinya tanpa sadar.
"Apa yang lo lakuin disini? lihatlah putri kita menangis mencarimu..." ucap Hean lagi.
entah akting apa yang tengah pria itu jalankan saat ini.
__ADS_1
bermain peran sebagai orang tua? Hean jadi Papa dan Hema jadi Mama begitu?
Putri? batin Hema belum paham.
Tapi entah maksud apa yang tersirat, ucapan Hema mampu membuat Rendy terkejut. genggaman tangannya di pergelangan tangan Hema juga semakin mengendor.hingga menjadi kesempatan bagi Hema untuk menjauh dari Rendy.
"Dan siapa dia?". Hean masih melontarkan banyak pertanyaan.
Hema masih tak bergerak ataupun berbicara sesuatu. sedangkan Rendy, tatapan matanya teralihkan kepada Hean dan putri kecil di gendongannya.
Bukankah dia Hean? apa Hema benar-benar sudah menikah? apa itu putri mereka? batin Rendy penuh kebingungan.
melihat fakta yang ada, Rendy sangat sedih. ia kira ia akan punya kesempatan untuk kembali bersama Hema seperti dulu kala. tapi melihat semuanya, sepertinya sudah terlambat.
Rendy kecewa melihat kenyataan bahwa Hema sudah menikah dan memiliki anak.
"Bukankah lo Rendy?". pertanyaan Hean mampu membiarkan lamunan Rendy tentang Hema dan hubungan wanita itu.
"Apa yang lo lakuin pada istriku?".
Istri?
Hema hampir tersedak mendengar ucapan Hean yang ngawur. istri? sejak kapan ia jadi istrinya Hean?
mau berontak pun tak bisa. apalagi ucapan Hean mampu membuat Rendy terlihat aneh.
tidak seperti tadi waktu tak ada Hean disana.
"Sayang, gendong putri kita dulu... gue ada sedikit urusan dengannya..." ucap Hean tiba-tiba sambil menyerahkan Bella pada Hema.
Hema yang terkejut, tapi tetap menerima bayi kecil berumur 8 bulan itu dan menggendongnya penuh hati-hati.
sedangkan Hean, pria itu maju ke depan beberapa langkah. mendekati Rendy dan berdiri tepat di depan pria itu seperti menantang dan tak takut sedikitpun.
"Jadi bisa jelaskan apa tujuan lo menemui istriku?" tantang Hean.
Rendy tak berkata-kata. Bingung sekaligus tak menyangka kalau Hema sudah berumahtangga dengan Hean dan memiliki putri cantik.
sedangkan Rendy? hidupnya berantakan. tak memiliki tujuan dan masa depan sama sekali.
"Apa lo mau menggoda istriku? membujuknya untuk kembali menjalin hubungan dengan pria baj*ng*n seperti lo?" tuduh Hean.
bahkan wajahnya terlihat seperti tidak sedang bercanda.
"Bukan... bukan seperti itu?" jawab Rendy. sungguh ia tak tau kalau Hema sudah berumahtangga. ia kira Hema masih lajang dan untuk itu Rendy berani mendekatinya lagi.
"Lalu?".
Hean menatap lekat pria di depannya. sebenarnya ia ingin melayangkan pukulannya terhadap Rendy, tapi mencoba ditahannya.
tak ada gunanya Hean menggunakan kekuatan hanya untuk pria seperti Rendy itu.
"Berhenti untuk mengganggu milikku..." ucap Hean terdengar meyakinkan.
"Menghindar lah... Kalau sampai gue tau lo bicara dengan Hema, atau lo tak sengaja bertemu dan melihatnya... gue tidak akan segan-segan untuk menghajarmu!". mungkin hanya ancaman inilah yang bisa Hean lakukan.
"Sorry..." jawab Rendy lemah.
__ADS_1
***