
HAPPY READING...
***
Hean tengah berjalan meninggalkan ruang rapat dengan Asisten di belakangnya. berjalan sambil mengamati ponselnya dengan raut wajah penuh kebingungan. banyak sekali notifikasi yang masuk termasuk beberapa panggilan dari Ibu dan juga Intan.
Ada apa? batin Hean bertanya-tanya.
Tadi memang ada Intan di rumahnya. membantu Ibu mengurus Bella selagi Hean bekerja. setidaknya Hean akan merasa lebih nyaman jika ada Ibu dan Intan di rumah mereka.
Tapi tiba-tiba banyak sekali telepon yang masuk ketika Hean tengah rapat. hingga perasaan khawatir meratapi hati Hean. ada apa? apa yang tengah terjadi?
membuat pria itu takut dan hanya memikirkan keadaan di rumah.
"Taruh saja..." ucap Hean pada sang Asisten. sedangkan yang Hean lakukan adalah menelpon Intan lebih dulu untuk menanyakan ada situasi apa saat ini.
"Halo In...".
"Kakak...".
Terdengar suara Intan yang panik. membuat Hean yang tadinya duduk langsung bangkit dengan detak jantung yang berdebar. takut sesuatu yang buruk terjadi pada keluarganya.
"Ada apa? kenapa lo terdengar panik?".
"Cepat pulang Kak... Bella...".
Satu nama langsung membuat Hean cemas. apa yang terjadi pada anak perempuannya sekarang?
"Kenapa dengan Bella?". pertanyaan Hean juga mampu di dengar Asisten yang hendak keluar dari ruangan Hean. pria itu ikut terdiam dan menunggu apa yang terjadi saat ini.
"Orang tua Agnes datang dan meminta Bella...".
Bagai tersambar petir. Hean terkejut dengan ucapan Intan barusan.
Bagaimana bisa?
hanya itu yang Hean pikirkan saat ini.
"Pulang lah Kak...". pinta Intan penuh mohon. karena hanya Hean yang bisa menyelesaikan masalah yang sedang terjadi saat ini.
"Tunggu, gue pulang sekarang..." ucap Hean spontan. langsung menyambar jas yang tersampir di kursi dan berjalan cepat meninggalkan ruang kerjanya.
"Tolong selesaikan pekerjaanku hari ini... ada sesuatu yang terjadi di rumah..." pesan Hean pada Asisten yang setia bekerja untuk nya.
"Ada masalah apa Pak?".
setidaknya Asisten itu harus tau apa yang sedang terjadi pada Atasannya itu.
"Putriku sedang tidak baik-baik saja..." jawab Hean dan langsung meninggalkan ruang kerjanya untuk segera pulang.
__ADS_1
Mobil hitam yang dikendarai Hean melaju sangat kencang. membelah jalanan yang cukup ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.
Tak peduli keselamatannya yang penting Hean bisa cepat sampai di rumah dan bertemu dengan orang-orang.
Selama perjalanan, Hean hanya memikirkan satu hal saja. Bellavia. hanya putrinya itu yang membuat Hean risau. apalah ucapan Intan barusan yang mengatakan bahwa Orang Tua Agnes meminta Bella untuk tinggal bersama mereka.
sungguh Hean tidak akan mau menerima hal itu.
Betapa selama Bella bayi, hanya Hean dan keluarganya saja yang merawat penuh cinta dan kasih. sedangkan orang tua Agnes, tak pernah sekalipun datang untuk menemui Bella. tapi ketika Bella cukup besar tiba-tiba mereka datang dan mengambil Bella darinya.
braakkk...
pintu gerbang bersuara. Hean berlari menuju ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk.
"Dimana Bella?". ucapnya yang mampu mengejutkan semua orang disana.
Hean mengedarkan pandangannya. Ayah, Ibu, Intan dan juga Dimas ada di dalam sana. tapi lebih dari itu, Ibu terlihat menangis ditemani Intan.
"Sabar Yan," ucapan Ayah. berharap Hean sedikit lebih tenang dalam melihat keadaan yang terjadi saat ini.
"Katakan dimana Bella... dimana putriku?". Dari semua orang, Hean tak mampu melihat Bella sama sekali. biasanya putrinya itu akan nyaman berada dalam gendongan Ibu. sedangkan saat ini, Ibu menangis tak berdaya.
seperti sesuatu telah memisahkannya dengan cucu kesayangan keluarga itu.
"Orang tua Agnes membawa Bella secara paksa..." adu Ayah.
"APA?". Hean tak percaya. "Dan kalian tidak mencegahnya?".
"Kakak..." sela Intan. tak mau orang tuanya disalahkan atas kejadian beberapa menit yang lalu. karena baik Ayah maupun Ibu juga telah berupaya untuk mencegah orang tua Agnes membawa Bella pergi.
"Agghh...". Hean kesal. tak lagi bersuara dan langsung memutar tubuhnya hendak meninggalkan rumah.
"Gue ikut!". paksa Dimas. menahan Hean agar tidak pergi sendirian.
"Lo disini saja..." cegha Hean. kali ini urusannya dia dan keluarga Agnes. Hean tak mau melibatkan Dimas dalam hal ini.
"Gue tidak bisa membiarkan lo pergi sendiri!" bantah Dimas. "Gue yang akan menyetir...".
Dimas sudah memutuskan akan mengantarkan Hean ke rumah keluarga Agnes dan menemani sahabatnya itu.
Hean menghela nafas. menyerah. karena Dimas akan tetap bersikukuh walaupun Hean menolaknya.
hingga pada akhirnya, kedua pria itu pergi. meninggalkan Intan, Ayah dan Ibu di rumah.
Matahari yang kian terik, tak menyurutkan keinginan Hean untuk bertemu putrinya. membawa pulang Bella kembali ke rumahnya secara paksa. karena Hean tak mau Bella diasuh oleh orang tua Agnes.
apalagi hasil persidangan dulu jelas mengatakan bahwa hal asuh Bella jatuh pada Hean.
"Cepetan nyet!" umpat Hean melihat cara Dimas mengemudi mobil terlalu lambat baginya. mungkin jika Hean yang berada di kursi kemudian, kendaraan itu bisa melaju hampir dua kali lipat dari kecepatan saat ini.
__ADS_1
Hean hanya khawatir bagaimana keadaan putrinya. pasti Bella akan menangis berada dalam lingkungan baru dan asing baginya.
"Ini sudah kencang nyet... lo mau kita mati?" jawab Dimas sewot.
jalanan cukup ramai oleh kendaraan. ia bisa saja lebih mempercepat laju kendaraannya, tapi apakah ada jaminan mereka akan baik-baik saja? keselamatan mereka juga hal penting untuk saat ini.
"Gue hanya khawatir dengan Bella..." jawab Hean lemas.
"Bukan hanya lo yang khawatir, Tante Om dan Intan juga mengkhawatirkan Bella... apalagi Tante sempat bercekcok dengan Namanya Agnes tadi..." ucap Dimas memberitahu Hean.
Tadi, Dimas ditelepon Intan. diminta untuk datang ke rumah Hean karena keadaan darurat. sejenak Dimas tak menyangka kalau masalah yang terjadi adalah mengangkut Bella. bahkan dibawanya Bella oleh orang tua Agnes tak pernah Dimas bayangkan.
Hingga tak terasa, mobil hitam milik Hean segera masuk ke dalam halaman rumah orang tua Agnes. keduanya bergegas turun dan berlari menuju ke rumah itu.
"Tuan...".
"Minggir,". Hean menyentak kasar penjaga pintu di depan yang ingin menghalangi dirinya.
hingga Hean benar-benar masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
"Bella..." panggil Hean sambil mengedarkan pandangannya. mencari sosok putrinya di dalam rumah mewah tersebut.
Derap langkah kaki seseorang menggema memenuhi sudut ruangan. Hean mendongakkan pandangannya, mengamati seseorang yang terlihat menuruni anak tangga mendekati Hean.
"Hean, Saya tak menyangka kalau kau akan cepat sampai di sini..." ucap Papanya Agnes.
"Jangan basa-basi Om... dimana putriku?" tantang Hean. karena ia datang kesini hanya untuk membawa Bella kembali ke rumahnya.
"Putrimu? dia juga bagian dari keluarga ini... apa kau lupa Yan?".
Papa tersenyum penuh ejek. seperti apa yang Hean katakan barusan seperti sebuah lelucon baginya.
"Tapi anda sendiri yang bilang tidak akan menerima Bella karena asal usulnya yang tidak jelas..." sela Hean.
itulah yang Papanya Agnes katakan dulu. ketika tau bahwa Agnes hamil dengan pria tidak jelas. entah Papa sadar atau tidak tentang ucapannya itu, tapi Hean masih ingat jelas.
"Kenapa anda berubah pikiran?" tanya Hean. apa yang membuat pria tua itu tiba-tiba menginginkan Bella berada di keluarganya. padahal dulu jelas menolaknya.
"Bagaimanapun Bella adalah cucuku... anak dari Agnes... dan dia juga bagian dari keluarga ini,..." jawab Papa masih dengan ekspresi tak bersalah sama sekali.
"Sedangkan dirimu... Bella bukan darah daging mu Yan... ingat hal itu,".
Sejenak Hena pias mendengar semuanya. benar, dia memang bukan ayah kandung Bella. tapi selama ini, selama Bella kecil hanya Hean yang berbesar hati untuk merawatnya seperti anak kandungnya sendiri. terjaga sepanjang malam ketika putrinya sedang demam. apa itu kurang?
"Bella tetap putriku... Negara ini juga mengakui hal itu..." ucap Hean masih dengan pemikirannya.
"Tapi kami lebih berhak membesarkannya...".
"APA ANDA LUPA HASIL KEPUTUSAN PENGADILAN?". teriak Hean murka.
__ADS_1
wajahnya merah padam dengan mata yang membulat penuh dengan guratan kemarahan.
***