Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
25. Sebatas Tempat Makan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Setelah satu gelas jus jambu milik Hema habis, keduanya mulai meninggalkan Kantin. dengan tangan Hean yang menggenggam erat jerami Hema, keduanya berjalan bersama. aneh memang, Hema bahkan sampai blingsatan karena malu melihat tatapan orang-orang kearahnya.


apalagi dengan segerombolan gadis yang berdiri di depan sana.


Agghh...


Batinnya menjerit. Hema tau kalau gerombolan gadis itu adalah pemuja Hean. lihatlah bagaimana cara mereka memandang Hema, seperti tengah mengibarkan bendera perang.


hidupnya tidak akan tenang setelah ini. mungkin Hema akan menjadi mangsa mereka karena telah berani berjalan bersama dmegan pria pujaannya.


Hema berusaha untuk melepas genggaman tangan Hean, tapi semakin berusaha justru pria itu kian erat melakukannya. hingga Hema sempat mengaduh, sedangkan Hean hanya menatap sekilas tanpa melepaskannya.


Agghh... gue takut...


"Diam atau gue cium lo disini...".


Sebuah ancaman mampu membuat Hema tak lagi bertingkah. gadis itu pada akhirnya diam dan berjalan mengikuti langkah kaki Hean.


baru di lepas ketika mereka telah tiba di depan mobil Hean.


"Jadi kita mau kemana?". pertanyaan yang masih belum mendapatkan jawaban. padahal sejak tadi hanya itu yang Hema tanyakan.


bahkan sampai masuk dan duduk di dalam mobil tak mampu membuat Hean bersuara.


"Heann..." panggil Hema lagi. kali ini dengan sedikit memperpanjang nada bicaranya.


"Iya sayanggg..." jawab Hean sama gemasnya.


Ck... lucu sekali...


gemas dengan cara Hema memanggilnya.


Bisa tidak sih serius sedikit?


Hema salah tingkah dengan tatapan Hean yang entahlah. pokoknya aneh.


hingga Hema tak lagi memusingkan diri ingin tau kemana mereka akan pergi.


Hema tak peduli Hean mau membawanya ke mana. membuang pandangannya ke arah jendela melihat halaman Universitas yang mulai ia tinggalkan.


Tak terasa Hean dan Hema cukup lama berada di kantin tadi. pria itu melihat jam di mobilnya yang telah menunjukkan ke angka 4 sore.


"Mau makan dulu?". sebenarnya belum tiba waktu makan malam, tapi Hean cukup tau diri untuk membawa anak orang dan memberinya makan.


apalagi mereka akan lama nanti. sedikit mengisi perut adalah hal yang lumrah.


Kali ini Hean akan mewujudkan salah satu keinginan Hema. Nonton film di bioskop. entah film apa yang mereka tonton nanti, tak mengurangi niat Hean untuk melakukannya.


"Memang kita mau kemana sih pakai makan di jam segini...?". tanya Hema masih dengan pertanyaan yang sama.

__ADS_1


Siapa yang tidak bosan ditanya seperti itu? Hean pun demikian. menghela nafasnya kasar dan menjawab pertanyaan Hema agar gadis itu tak lagi penasaran.


"Mewujudkan impian lo!".


Benarkah? begitu sorot mata Hema bicara. dengan manik mata berwarna cokelat yang membulat sempurna.


terkejut memang karena Hema tak memyangka kalau Hean ingat dengan ucapannya kemarin lusa. Ya... ada beberapa hal yang memang ingin Hem lakukan. Dan Hean jelas mendengar hal itu bahkan sampai berjanji akan mengabulkannya. tapi, terlihat mengejutkan bukan jika melakukannya sekarang?


"Lo pengen nonton bukan? jadi ayo kita ke Mall..." ajak Hean tanpa menatap Hema karena jalanan di depannya sangat macet.


Hema benar-benar senang.


"Tapi sebelum itu kita pergi makan dulu, gue lapar..." keluh Hean. Ia memang belum sempat sarapan pagi tadi. hanya makan snack kecil itupun milik Dimas. dan sekarang, cacing di perutnya seperti tengah menari-nari dan meminta makan.


"Baiklah... ayo,".


"Dimana?" tanya Hean.


"Terserah,".


Duarr... seperti inilah ketika mengajak makan seorang wanita. jawaban penuh jebakan yang sangat membingungkan bagi kaum pria.


"Dimana?".


"Ya terserah lo... mau makan dimana,".


Agghh...


Hean angkat tangan. mencari jalan keluar dalam permasalahan tempat makan dengan seorang wanita jelas hal yang salah.


Hean sebagai seorang pria mana bisa menebak isi hati kalian?


Semakin membuat Hean kesal adalah wajah Hema yang merasa tak berdosa sama sekali. padahal gadis itu telah membuat Hean kebingungan dan memutar otaknya berulang kali mencari tempat makan yang cocok untuk makan sore ini.


"Restoran Korea?". Hean asal menebak. karena banyak dari kaum wanita suka dengan hal-hal berbau Korea. entah itu artis, Idol, ataupun makanannya juga.


jangan tanya kenapa! karena jika wanitamu juga pecinta film dari negeri gingseng, tamatlah riwayatmu.


pria di negeri kita hanya akan dipandang sebagai remahan biskuit saja.


"Tidak mau,".


Hean menghela nafasnya kasar. benar kan? memberi saran tempat makan adalah hal yang tidak berguna. karena para wanita tidak akan mengapresiasi tindakan kita. padahal kita teah mati-matian mencari tempat ternyaman bagi mereka.


"Lalu?". sekarang Hean menyerah. ia menyerahkan keputusan secara penuh ke tangan Hema.


"Ya terserah...".


Bunuh saja gue!


Hean frustasi mendengar jawaban Hema.


Tuhan, tolong hapuskan kata terserah dari mulut para wanita...

__ADS_1


"Jadi kita makan dimana?". Sedikit ngegas karena kesal dengan jawaban Hema yang selalu mengatakan terserah.


"Kenapa lo ngegas?".


Sabar Hean.. sabar...


"Lo yang lapar kan, jadi terserah lo mau makan dimana..." tbah Hema dengan suasana hati yang bertambah buruk. apalagi sempat mendengar penuturan Hean dengan nada sedikit tinggi tadi.


"Baiklah baiklah... bagaimana kalau makan ayam saja,". Hean mengalah. karena ia sadar tidak akan bisa menang melawan makhluk istimewa ciptakan Tuhan, Perempuan!. mohon digaris bawahi.


"Hm,". jawab Hema singkat. masih ada api kemarahan dalam hati gadis itu.


Tiba di salah satu restoran yang menyediakan ayam tepung sebagai menu utamanya, Hema duduk sedangkan Hean mengantri makanan cukup jauh dari sana.


sesekali mereka terlihat saling pandang, hingga membuat Hema salah tingkah sendiri. bagaimana tidak? Hean menatapnya dan tersenyum ketika Hema membalas tatapannya. lucu memang,


Hingga tak butuh waktu lama, Hean membawa makanan untuk mereka berdua. Hema terlihat antusias, perut yang tadinya tidak lapar berubah keroncongan melihat ayam yang bahkan masih mengepul di depannya.


Gadis itu beberapa kali menelan salivanya, tak tahan ingin segera menikmati makan sore mereka.


Beda dengan Hema yang langsung meraih ayam dan sebungkus nasi, Hean meminum gelas berisi soda lebih dulu. membasahi tenggorokannya sebelum makan.


Hema yang tidak sabaran terkejut ketika menyentuh potongan ayam yang nyatanya masih terlalu panas.


Aww... gadis itu mengaduh.


"Hati-hati dong...". tanpa terduga Hean meraih tangan Hema yang kepanasan. pria itu terlihat khawatir sambil meniup jemari tangan Hema berharap tidak melepuh nantinya.


Sial! jariku yang di tiup kenapa hatiku yang bergetar...


gadis itu semakin blingsatan dan beberapa kali merubah posisi duduknya agar tidak terlihat gugup.


"Nanti juga sembuh...". bahkan perlakukan Hean tidak berhenti begitu saja. pria itu mencium jemari Hema seperti yang sering dilakukan orang tua ketika putri mereka terluka.


Hei hati! jangan sampai lo mengkhianati gue... batin Hema.


Setelahnya Hema dan Hean mulai menikmati makan sore mereka. mengisi perut sebelum menonton film nanti.


bahkan perlakuan halus Hean tidak berhenti karena makanan yang masih panas tadi. pria itu dengan telaten menyuapi kentang goreng untuk Hema.


"Gue bisa sendiri Yan..." protes Hema. memalukan jika dilihat pengunjung yang lain. di tempat umum seperti ini mereka malah terlihat suap-suapan.


"Lo akan belepotan nanti,".


"Ck... mana ada?". Hema tak terima dengan ucapan Hean barusan. padahal memang tidak sepenuhnya salah. saus cabe itu seringkali mengenai sudut bibirnya.


"Lo persis Intan..." tak sengaja Hean menyamakan tindakan Hema dengan adik perempuannya.


"Intan? siapa dia?". Hema penasaran karena untuk pertama kalinya Hean menyebut nama seorang wanita di depannya. "Kekasih lo?". Kekasih, entah kenapa mengatakan kata kelaish saja, hati Hema bergetar. ada sebuah rasa penasaran dalam dirinya.


"Intan, dia adik perempuan gue..." jawab Hean dengan senyum indahnya.


Oh adiknya...

__ADS_1


Juga sebuah rasa kelegaan dalam diri Hema ketika nama gadis yang diucapkan Hean bukan seperti yang ada di dalam pikirannya.


***


__ADS_2