
HAPPY READING...
***
Lingkungan baru, suasana baru, juga dengan kebiasaan baru yang membuat Hean sedikit canggung.
Setelah tiba di rumah Nenek kemarin sore, Hean pergi dengan salah satu saudara Hema untuk menemui Ketua RT disana. melapor bahwa dia akan menginap di desa untuk beberapa hari.
Hal itu wajib dilakukan apalagi Hean adalah orang asing bagi mereka.
bagaimana kalua dikira penyusup atau penculik anak-anak? apalagi banyak sekali anak-anak di tempat itu.
Benar apa yang dikatakan Hema waktu itu. suara jangkrik di malam hari sudah hal yang biasa. dan semalam Hean menikmatinya. tidur diiringi dengan suara binatang malam. dan satu hal lagi, nyamuk. entah kenapa banyak sekali nyamuk disini.
membuat tubuhnya terasa gatal sepanjang malam.
"Aduh...". Hean duduk di kursi depan rumah. mengaduh sambil sesekali mengamati tubuhnya yang merah-merah bekas gigitan nyamuk.
padahal hanya semalam, tapi hewan kecil itu mampu meninggalkan banyak bekas memerah.
"Sudah gue bilang bukan? pakai lotion anti nyamuk dan selimut...". Hema yang baru saja tiba langsung ikut duduk di samping Hean. prihatin juga melihat kondisi pria itu.
Gue rasa nyamuk disini lebih galak daripada kota...
Bagaimana tidak? Hean telah mengoleskan lotion anti nyamuk di sekujur tubuhnya, tapi tetap saja nyamuk-nyamuk nakal masih bisa menggigit.
Melupakan masalah nyamuk, Hean cukup senang berada di lingkungan baru seperti sekarang. udara yang begitu jauh berbeda dari perkotaan. juga orang yang selalu menyapa ramah padahal Hean tidak mengenal siapapun.
Setelah adegan-adegan sedih kemarin. dimana Hema bertemu nenek setelah sekian lama, sepanjang malam juga banyak yang datang. terutama tetangga sekitar yang penasaran dengan kepulangan cucu dari Nenek.
suasana hari membaur menjadi satu. Hean memaklumi hal itu. karena suasana seperti itu memang lumrah terjadi. saya Hean dan keluarga pulang ke rumah snag nenek, juga seperti ini. di iringi tangis penuh kebahagiaan.
"Lo butuh sesuatu?". tanya Hema. selagi Hean disini, pria itu pantas untuk mendapatkan kenyamanan bukan? dia adalah tamu.
"Gue hanya ingin kopi...". setidaknya secangkir kopi panas mampu membuat pikiran Hean tenang. menyegarkan tubuh dan membuat matanya terbuka sepenuhnya.
"Baiklah gue buatin...". Hema langsung bangkit dari duduknya. masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minuman kesukaan Hean.
Tak butuh waktu lama, gadis itu telah datang membawa nampan berisi dua cangkir yang mana masih terlihat mengepul karena panas.
"Minumlah...". disodorkannya secangkir kopi hitam ke arah Hean. bau dari minuman itu benar-benar sangat manis dan wangi. sedangkan Hema, yang tidak terlalu suka dengan kopi memilih teh untuk membuat hangat tubuhnya.
Pagi itu keduanya tengah asik berbincang di depan rumah Nenek. menikmati suasana pagi yang berbeda dengan Ibukota.
***
Langit mulai menampakan senjanya. bersamaan dengan itu, Hean dan juga Hema berjalan santai. mereka akan kembali pulang setelah berjalan-jalan menikmati suasana desa yang begitu aman. tidak berisik oleh kendaraan lalu lalang seperti Ibukota.
"Dulu gue sering bermain disana..." tunjuk Hema pada sebuah halaman rumah yang cukup luas. "Dulu disana adalah lahan kosong kayak lapangan...". ingatnya.
tapi semuanya terasa berubah. tanah lapang itu telah berdiri beberapa rumah dan tentu saja ditinggali.
"Pasti lo kalah terus kalau lari..." ejek Hean. bahkan dari caranya bicara tak terlihat menyesal sedikit pun.
__ADS_1
"Kenapa?".
"Karena kaki lo pendek...".
Ingin rasanya Hema memukul pria di sebelahnya karena telah seenaknya bicara. toh kakinya tidak pendek seperti yang dibicarakan Hean. hanya saja memang lebih pendek dari pria itu. jelas lah, Hean adalah seorang pria. bagaimana bisa Hema menyamai tinggi badannya.
"Hema...". tatapan mata Hean tak lepas mengamati langit di depan sana. indah dengan garis kemerahan dan burung-burung yang mulai kembali ke sarang mereka masing-masing.
"Hm,".
"Apa Rendy pernah kesini?". Jelas tak ada urusannya dengan pria bernama Rendy. tapi Hean merasa kalau hal itu perlu ia tanyakan. apakah Rendy pernah datang ke sini bersama Hema atau tidak.
"Kenapa?". Hema heran dengan pertanyaan Hean tadi. "Belum pernah..." jawab Hema pada akhirnya.
Jawaban dari Hema mampu membuat wajah Hean berubah. pria itu tersenyum seperti merasakan sebuah kebahagiaan yang tiada tara.
Benarkah? hanya gue yang ia bawa kesini?
Kepedeannya seperti membuncah dengan pemikirannya sendiri. padahal Hema tak membenarkan apa yang Hean pikiran.
Pasti ada hal gila yang dia pikirkan... batin Hema. tapi Hema tak ambil pusing akan hal itu. membiarkan Hean berpikiran sesuka hatinya.
Masih berjalan di jalanan desa, Hean kembali bersuara.
"Ma...".
"Hm,".
Hean menghela nafasnya. yang dilakukannya beberapa hari terakhir adalah menghitung hari. "Tak terasa sudah 36 hari kita seperti ini... banyak bicara dan menghabiskan waktu bersama...".
"Hm...".
Tak tau kemana arah pembicaraan Hean. Hema hanya ingin menjadi pendengar saja. mungkin saja pria itu akan mengucapkan salma perpisahan untuk janji yang telah ia buat. janji selama 40 hari menemani Hema.
"Tinggal 4 hari lagi...". Hean tersenyum sarkas.
Waktu berlalu begitu cepat. 40 hari yang menurutnya sangat lama, ternyata sesingkat ini.
hanya tersisa 4 hari lagi untuk bersama Hema. memastikan gadis itu baik-baik saja setelah apa yang ia lakukan.
"Lo sudah mendapatkan tamu bulanan?". pertanyaan random kembali terlontar dari mulut Hean.
kalau iya, ia sangat yakin Hema tidak sedang mengandung bayinya.
"Belum..." jawab Hema. seharusnya memang di tanggal-tanggal dekat ini Hema mendapatkan tamu bulanannya.
ia tak berpikir aneh-aneh. mungkin saja memang siklusnya sedikit terganggu apalagi beberapa Hari terakhir Hema begitu stress dengan kuliahnya.
"Ayo kita periksa saja..." ajak Hean. akan lebih baik jika mereka memeriksakannya lebih awal.
"Kenapa buru-buru?". protes Hema. entah kenapa ia merasa enggan untuk pergi ke dokter. karena Hema yakin tidak akan terjadi apapun pada tubuhnya. kalaupun mengandung, akan ada perubahan yang ia rasakan bukan? Hema tak merasakan apapun.
"Ya... Ya..." Hean bingung menjawab apa. bukannya buru-buru tapi memang tinggal 4 hari lagi sesuai janji yang ia buat bukan?
__ADS_1
setelahnya Hean juga tak tau apa yang akan Hema lakukan.
Bersikap seperti dulu, saling tidak mengenal mungkin itulah yang terjadi.
"Gue sangat menikmati hari-hari bersama Lo..." ucap Hema. bahkan wajahnya memerah hanya dengan mengatakan hal itu. bagaimana selama 36 hari ini, Hema mulai terbiasa dengan adanya Hean. yang selalu banyak omong dan mengganggunya.
entah kenapa Ha justru terbiasa dengan tingkah Hean yang kadang suka tiba-tiba datang.
"Hema..." panggil Hean. bahkan sampai membuat langkah kaki Hema terhenti demi menatap pria itu.
"Apa?".
"Kalau gue bilang gue nyaman sama Lo, apa lo percaya?". sebuah pertanyaan yang membingungkan. Hema paham apa yang dikatakan Hean, tapi bingung untuk menjawab apa.
"Gue bahkan berharap hari tidak cepat berlalu..." ucap Hean jujur.
Hema benar-benar mengubah hidup Hean. dari yang kesepian, sendiri, tiba-tiba gadis itu datang dan memberi cahaya dalam hidupnya. bahkan Hean tak menyadari sudah berapa banyak waktu yang ia habiskan dengan tertawa bersama dengan Hema.
Hean tak ingin keseruan itu cepat berlalu.
Jujur, Hean ingin mengingkari janjinya. bukan 40 hari saja, Hean ingin terus dekat dengan Hema sampai kapanpun. bahkan di waktu yang sangat lama.
"Lo tidak bisa mengubah hari Hean..." jawab Hema.
"Ya, gue tau...". Waktu akan terus berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. tidak ada yang bisa merubah itu.
Hean terlihat pias.
Hema benar...
"Tapi gue akan sedikit kesal,". keluhan Hema tapi ada senyum di bibirnya yang tak sesuai dengan apa yang terucap dari bibirnya tadi.
"Kenapa?". Hean penasaran. apakah ia telah mengecewakan gadis itu? apa yang membuat Hema kesal?
Hean mencoba untuk introspeksi diri.
"5 tahun... agghh, bagaimana bisa gue bertetangga dengan lo selama 5 tahun? sepertinya akan menyebalkan..." goda Hema.
mungkin Hean lupa, dirinya lah yang mengikat Hema dengan membayarkan uang sewa Apartemen selama 5 tahun lamanya.
Tanpa disadari, Hean lah yang membuat gadis itu tak akan jauh dari dirinya.
Hingga detik selanjutnya, Hean seperti mendapatkan pencerahan. benar, janji yang ia buat hanya sebatas 40 hari. tapi ada takdir 5 tahun lagi yang bisa membuat kedekatan mereka terus berlanjut.
"Apa lo sebenci itu denganku?". Hean menggelitiki perut Hema. membuat gadis itu tertawa geli dan berusaha berontak.
"Hahaha... lepas Hean..." pintanya penuh iba.
"Tidak akan... gue tidak akan melepaskan lo!" ancam Hean.
"Hahaha...".
***
__ADS_1