
HAPPY READING...
***
"Dimana?".
Jio telah tiba di Club malam lebih dulu. sendirian karena tak ada rencana untuk ke tempat ini bersama seseorang. tapi ketika mengingat apa yang dikatakan Hema tadi siang, Jio memutuskan untuk menelfon sahabatnya. mungkin saja di tempat ini bisa membuat mereka saling terbuka perihak masalah hidup yang menyertai kedewasaan mereka.
"Datanglah ke tempat biasa..." ucapnya seraya turun dari motor sport yang sudah menemani Jio sejak kuliah.
tapi tiba-tiba,
Bugg...
Jio terjatuh karena ujung celananya masih tersangkut di motor.
"Aiisshh...". umpatnya kesal. lebih dari itu, Jio malu oleh tatapan orang-orang yang seperti tengah mengejek dirinya.
"Kenapa lo?". Di seberang sana, Hean penasaran apa yang tengah terjadi. terdengar suara seperti jatuh sebelum Jio mengumpat kesal.
"Ah.. lupakan.. cepetan kesini," perintah Jio segera mematikan sambungan telepon dan mengamati kakinya.
Sial! malu sekali...
Dengan wajah yang merah padam karena malu, Jio bergegas masuk ke dalam Club malam. menghindari tatapan orang-orang yang tersenyum ke arahnya.
Cukup lama tibalah Hean ke tempat yang Jio maksudkan. turun dari mobil hitam dan berjalan dengan angkuhnya. Hean sama sekali tak menggubris sekitar. tujuannya hanya ingin menemui Jio saja. tak peduli dengan wanita-wanita yang asik berjoged di depan sana. memamert lekuk tubuhnya untuk menggaet siapa yang memiliki kantong cukup tebal.
Hean naik ke lantai dua tempat tersebut. Menuju ke sebuah ruangan dimana ada penjaga di sana.
"Silahkan...". setelah di bukakan pintu, Hean masuk berkumpul bersama Jio.
"Kenapa?".
Sebuah pertanyaan terlontar ketika pandangannya tertuju pada Jio yang tengah mengamati sesuatu di kakinya.
"Lihatlah..." adu Jio. memperlihatkan ujung celananya yang robek dan menyisakan sedikit goresan luka di kaki pria itu.
"Gara-gara motor si*lan itu kaki gue jadi begini..." lanjutnya.
Hean mendudukkan tubuhnya dengan senyum penuh ejek. sama seperti tatapan orang-orang ke Jio beberapa waktu yang lalu. Ya seperti ini.
"Lo tidak punya mata?".
Apa dia bilang?
Jio menatap Hean kesal. "T*i lo!".
bukannya prihatin dengan kondisinya, Hean justru tidak ada bedanya dengan orang-orang itu. menertawakan kesialan Jio.
"Hahaha...".
"Aghh.. gue mau ganti dengan mobil saja..." ucap jio terdengar yakin. Motor bukan lagi stylenya. toh ia tak akan kehujanan seperti yang sudah-sudah.
"Itu lebih cocok... nanti gue bantu carikan..." timpal Hean. mendukung keputusan Jio untuk mengganti motor dengan sebuah mobil.
"Kenapa sih lo gonta-ganti nomor terus?" cerca Jio.
diantara Dimas Jio dan Hean, hanya pria itu yang seringkali ganti nomor.
membuat Jio kesal sekaligus bingung jika ingin menghubungi Hean karena banyaknya nomor yang Jio simpan.
__ADS_1
"Kayak punya banyak pacar saja...".
"Ck...".
"Eh, mana si monyet?". Jio baru sadar tak ada keberadaan Dimas disana.
Meraih ponselnya dan segera menghubungi satu personil yang masih kurang.
"Hei, lo dimana?". Langsung bertanya keberadaan Dimas dibandingkan harus berbasa-basi lebih dulu.
"Ya! kenapa teriak-teriak! gue tidak tuli...".
Tentu saja Dimas marah karena Jio langsung ngegas.
"Haha... lo dimana?". masih sama dengan tadi, menanyakan keberadaan Dimas malam ini.
"Di luar...".
"Ngapain?" tanya Jio lagi.
membuat Hean memicingkan mata karena aneh saja mendengar pertanyaan Jio yang tidak ada gunanya.
"Kepo!".
"Hahaha...". Bukan hanya Hean yang geli, Dimas juga merasakan hal yang sama dengan pertanyaan Jio barusan.
"Cepatlah datang ke tempat biasa..." pinta Jio.
Setidaknya akan lebih seru jika mereka mengobrol bertiga seperti dulu.
karena kesibukan masing-masing ynag membuat pertemuan mereka tidak sesering dulu.
"Tapi-,".
Tanpa ia sadari, permintaannya itu jelas membuat Dimas kerepotan. karena saat ini pria itu tengah berada di luar bersama seseorang.
"Baiklah-baiklah...".
Jio meletakkan ponselnya. sejenak kembali kesal mengingat ujung celananya yang robek.
Agghh...
Belum selesai menyesali kelakuannya, Jio menatap heran ke arah Hean.
alisnya terangkat naik melihat botol minuman yang sudah setengahnya kosong tanpa sisa.
"Lo haus?" cercanya.
Padahal baru di tinggal menelepon Dimas sebentar, Hean akan menghabiskan minuman di atas meja.
Hean tak menghiraukan celoteh sahabatnya. yang ia lakukan kembali menuang isi botol ke dalam gelas kecil miliknya. menenggaknya tanpa sisa hingga rasa pekat itu membuat Hean menyerngit.
"Ada apa?".
Karena Jio hafal. Hean tidak akan minum sebanyak ini jika tidak sedang dalam masalah.
"Tak ada..." bohong Hean. yang ia lakukan saat ini hanyalah tak membagi masalahnya dengan Jio. karena, memalukan jika Hean jujur tentang apa yang telah terjadi.
"Lagi...".
Hean kembali menyodorkan gelas ke arah Jio. meminta pria itu kembali mengisi gelasnya dengan minuman memabukkan.
__ADS_1
"Lo sudah terlalu banyak minum Yan," tolak Jio.
"Cepetan..." desak Hean hingga Jio pasrah. kembali menuruti keinginan Hean dengan mengisi gelas pria itu.
Hean seperti orang gila. lupa entah sudah berapa banyak minuman yang telah berpindah tempat ke perutnya. dan sekarang, matanya kian berat tapi pandangannya sedikit kabur. tapi Hean masih mendengar jelas suara-suara di dalam ruangan itu.
termasuk suara Jio sendiri.
"Hei, kemana saja...".
Bersamaan dengan itu, Dimas baru saja tiba. langsung mendudukkan tubuhnya di samping Hean.
"Gue sudah bilang kan tadi, gue ada di luar..." ucap Dimas tapi dengan tatapan ke arah Hean penuh keheranan.
"Kenapa si monyet?". karena Hean terlihatnya menyedihkan bahkan untuk membuka matanya saja pria itu seperti kesulitan.
"Entahlah..." Jio yang menjawab. sejak tadi Hean tak mengatakan apapun. pria itu hanya diam dan terus menenggak minuman keras tanpa ragu.
"Diamlah, lo semua berisik!" umpat Hean.
mencoba mengangkat pandangannya dan duduk dengan tegak.
mendengar celoteh sahabatnya justru semakin membuat kepalanya berdenyut nyeri.
Lo benar-benar br*ngsek Agnes...
Jelas, hanya gadis itu yang membuat Hean seperti ini. kecewa, sakit hati karena telah di bohongi. entah sejak kapan Agnes berani menjalin hubungan dengan pria lain di belakangnya, tidak mungkin kalau dalam waktu dekat saja.
apalagi sejak Hean kembali ke negaranya.
"Br*ngsek!". umpatnya lagi.
Ada apa sih? Jio dan Dimas saling pandang.
"Ada apa Yan? lo punya masalah?". ganti Dimas yang bertanya.
mungkin saja Hean sudah mau bicara tentang masalah apa yang menimpanya saat ini.
Reka adegan saat Hean tiba di Apartemen Agnes kembali berputar di kepala. saat seorang pria dengan santainya mencium Agnes jelas Hean tak bisa lupa akan hal itu.
"Br*ngsek! dia selingkuh..." umpat Hean kesal. gelas kecil berisi minuman keras yang berada di tangannya langsung di lempar begitu saja. membentur dinding dan pecah berserakan di lantai.
Jio dan Dimas saling pandang, Selingkuh? siapa?
Karena keduanya bingung siapa yang Hean maksud itu. karena akhir-akhir ini sahabatnya yang satu itu tidak hanya dekat dengan satu wanita saja.
"Dia selingkuh di belakang gue..." ulang Hean. matanya kian memerah menahan kemarahan yang benar-benar telah memuncak.
Anj*ng! dia benar-benar br*ngsek! wanita rendahan..
"Ag-nes?". Jio memberanikan diri bertanya. karena tidak mungkin kalau Hema, karena Hean dan Hema tidak memiliki hubungan sedalam itu. toh Jio ingat dengan ucapan Hema tadi siang. Mood Hean sudah buruk sejak tiba di Perusahaan.
Dan lebih membuat Jio yakin kalau Hean tengah bertengkar dengan Agnes adalah bagaimana Hean kembali mengganti nomornya seperti yang sudah-sudah.
Ya... hanya Agnes alasan masuk akal membuat Hean mengganti nomor ponselnya berulang kali.
"Lo tau darimana kalau Agnes selingkuh?" tanya Jio.
Hean menghela nafasnya. mengacak rambutnya kasar, "Gue melihat dengan kepala mata gue sendiri... dia selingkuh di belakang gue...".
***
__ADS_1
Nah Nah Nah...
Semoga suka dengan 2 Part pagi ini...