
HAPPY READING...
***
Perjalanan jauh telah Hean tempuh hanya untuk menemukan kebenaran untuk membuktikan kepada semua orang bahwa dirinya tak bersalah.
sepanjang perjalanan, hanya doa yang Hean panjatkan agar usahanya membuahkan hasil.
Seminggu, itulah waktu yang Hean butuhkan. berharap tidak sampai seminggu ia menemukan pria yang Hean cari.
Semoga...
Hean masih tiduran di ranjang kamar salah satu hotel tempatnya menginap di London. menghilangkan rasa lelah dan berpikir langkah apa yang Hean tempuh untuk memulainya.
Tangan Hean meraih sesuatu di dalam saku jasnya. mengamati sebuah foto yang tak sengaja ia temukan di kamar Agnes beberapa hari lalu.
Foto seorang pria yang tengah merangkul wanita yang Hean yakini adalah Agnes. walaupun ada bekas terbakar, gambar pria itu masih terlihat jelas.
Mark...
Itu nama yang tertulis di belakang foto itu.
Bagaimanapun caranya, Hean akan berusaha menemukan pria bernama Mark itu.
Dimana gue bisa menemukannya?
Masih berusaha berpikir, Tiba-tiba Hean teringat sesuatu. cerita dimana Agnes mengenal pria itu pertama kali.
Club malam... benar, gue harus kesana...
Mungkin di tempat itu, Hean akan menemukan pria itu.
Di hari kedua kedatangannya, Hean telah bersiap. berpakaian rapi dan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Pria itu bersiap untuk mendatangi Club malam yang berada tak jauh dari Apartemen tempat tinggal Agnes dulu. mungkin didanalah Mark biasa menikmati malam.
Bagaimanapun gue harus bisa menemukannya... batin Hean.
Sepanjang perjalanan, pria itu termenung. selain menyelesaikan permasalahan yang terjadi Hean juga merindukan seseorang. gadis manis berambut pendek yang selalu tersenyum kearahnya.
Hema...
Entah kenapa, disaat seperti ini Hean justru memikirkan gadis itu.
Bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja?
__ADS_1
Sudah beberapa bulan Hean tak lagi bisa menemui gadis itu. entah kemana perginya, sedangkan Sasa jelas tak sudi untuk memberitahukan keberadaan Hema pada Hean.
Hean tersenyum getir, membayangkan betapa jahat perlakuannya pada Hema waktu itu.
Tapi tanpa diketahui semua orang, Hean sangat khawatir. walaupun dirinya tak bisa mencegah kepergian Hema karena Agnes yang membuat Hean seperti ini.
Dalam keadaan melamun, Tiba-tiba ponsel pria itu berdering. sebuah telepon masuk dan tertulis nama Jio disana.
"Halo..." ucap Hean membuka pembicaraan.
Terlihat Hean tersenyum, seperti paham apa yang Jio khawatirkan saat pergi sendirian seperti ini.
"Sorry... gue tidak menghubungi lo..." ucap Hean penuh sesal. bukan hanya Jio, Dimas pun tak Hean beritahu tentang kepergiannya saat ini. jadi ini adalah keinginan Hean sendiri.
"Gue hanya ingin mencarinya... bagaimanapun Agnes sudah menderita gara-gara pria itu..." lanjut Hean.
Apapun yang ia dapatkan nanti, setidaknya Hean telah berusaha. walaupun usahanya berbuah kegagalan nanti.
"Ck... tidak usah... gue bisa sendiri.. lagian lo juga sibuk dengan Sasa kan?". tolak Hean ketika Jio ingin pergi menemani Hean juga.
Bagaimanapun Hean sadar bahwa sahabatnya itu sangat sibuk.
apalagi dari postingan di akun sosial media Jio, pria itu seperti berniat untuk membuktikan cintanya apada sang kekasih.
Ya... Jio baru saja mengunggah foto cincin beberapa hari yang lalu.
"Hahaha... ngebet banget..." ejek Hean pada sahabatnya.
"Yo, udah dulu ya... gue sudah tiba di tempatnya..." pamit Hean. dan beberapa detik kemudian telepon itu pun terputus. Hean segera melangkah meninggalkan taxi dan masuk ke dalam tempat yang selalu ramai oleh muda-mudi yang menikmati dunia malam.
Kedatangan Hean langsung disambut oleh denduman musik yang keras memekakkan telinga.
pria itu berjalan sambil menajamkan mata, memperhatikan sekitar mungkin saja ada pria yang sama dengan foto yang Hean bawa.
Langkah kaki pria itu membawanya duduk di depan meja bar. memesan satu minuman sambil terus mengedarkan pandangannya.
Waktu terus berjalan. malam semakin naik keperaduannya. Hean melirik jam yang melingkat di pergelangan tangannya. Sudah 3 jam gue menunggu...
tapi yang Hean cari tak terlihat batang hidungnya sama sekali.
Hingga Hean memutuskan untuk mengeluarkan foto dari sakunya. memperlihtakna pada Bar tender yang tengah bekerja, mungkin saja pria itu mengenal sosok di dalam foto tersebut.
"Bukankah dia Mark?".
Wajah Hean langsung sumringah. Pencariannya semakin membuahkan hasil. setidaknya ada yang mengenal pria bernama Mark itu di tempat ini.
"Dimana dia?". Hean penasaran. dimana pria bernama Mark itu berada saat ini. Hean akan menemuinya langsung.
__ADS_1
"Sepertinya dia tidak datang malam ini...". Bar tender itu menjelaskan. sejak tadi sosok Mar memang tak terlihat sama sekali. padahal bisanya pria itu menjadi orang yang paling terlihat saat tempat ini telah buka.
"Punya nomornya?". Hean semakin tak sabar.
"Tidak...". jawaban dari Bar Tender itu langsung mematahkan harapan Hean saat ini.
Sial! umpat Hean dalam hati.
"Datanglah lagi besok..." ucap Bar tender memberi saran.
mungkin saja besok Mark akan berada di sini seperti hari-hari yang lain.
"Hm..".
Hean kembali menenggak minumannya. tak berputus asa karena masih ada banyak waktu yang ia gunakan untuk menemui Mark.
Lagi malam menemani langkah Hean berjalan kembali menuju hotel dimana ia menginap. sambil menenteng jas hitam yang tadi dikenakan, Hean berjalan sambil menatap jalan di bawah sana.
Tap Tap Tap... langkah kakinya terdengar teratur. untung saja Hean tidak terlalu mabuk, jadi ia bisa kembali pulang tanpa menggunakan kendaraan umum. berjalan seperti ini benar-benar menenangkan hatinya. efek dari minuman keras juga perlahan hilang.
Tak butuh waktu lama, 20 menit berjalan akhirnya Hean tiba di lobby Hotel.
buukkk...
"Sorry...". seseorang tak sengaja menyenggol bahu Hean.
membuat Hean menaikkan pandangannya demi menatap pria yang baru saja meminta maaf atas perbuatan yang memang tak sengaja dilakukan.
Hean tersenyum dan menggelengkan kepala. tak mempermasalahkan hal sekecil itu. apalagi pria di depannya juga terlihat tergesa-gesa sambil menggendong anak kecil yang tertidur di bahunya.
Hanya sebatas itu, hingga pria tadi bergegas pergi menuju ke Resepsionis.
Mungkin mau segera check-in, begitu pikir Hean.
Pasti putrinya... batin Hean masih menatap lama gadis kecil yang berada dalam gendongan pria dewasa.
Hean membayangkan, kenapa ada pria yang justru berlaku jahat pada anak-anak mereka. seperti yang Agnes katakan waktu itu tentang pria bernama Mark.
padahal Hean tidak sampai berpikiran untuk menjual darah dagingnya. selain itu, sosok ayah adalah seseorang paling penting bagi anak-anak mereka.
Sama seperti pria di depan sana, menggendong putrinya dengan penuh kasih sayang.
Pada akhirnya Hean benar-benar masuk ke dalam Lift yang akan membawanya ke lantai dimana kamarnya berada.
sedangkan pria yang tadi menabraknya masih berdiri menunggu sesuatu.
"Akhirnya tiba juga di London... ayo kita bersenang-senang disini sayang...".
__ADS_1
senyum pria itu terlihat lega dan begitu bahagia. mungkin ini adalah perjalanan pertamanya bersama sang buah hati di London.
***