Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
49. Masalah Rambut.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hampir setiap hari ada-ada saja yang membuat Hema naik darah. bekerja di bawah kepemimpinan CEO baru yang tak lain adalah Hean benar-benar menguji kesabarannya. selain karena pekerjaan, Hema sellau mendapat gangguan dari pria yang entah apa tujuannya kali ini mendekati Hema. padahal Hean jelas sudah memiliki kekasih. itulah yang Hema dengar dari rekan kerjanya yang lain. hanya saja, CEO nya itu sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya yang tak lain adalah Agnes.


Ya... Agnes memang bekerja di luar negeri, sedangkan Hean berada di sini.


Kembali lagi ke masalah Hema. gadis itu seperti telah ditandai atau mungkin telah masuk dalam list perusahaan. bukan karena melanggar aturan, tapi karena kerap kali berurusan dengan CEO di tempat bekerja.


"Jangan Saya Pak...". lagi dan lagi.


Hema menolak mengantarkan berkas ke ruangan CEO. sudah 2 hari ini Hema menolak agar bukan dirinya yang membawa berkas ke ruangan Hean.


setidaknya ini cara untuknya tidak bertemu dengan sang Atasan. karena di dalam sana, tidak ada hal khusus yang mereka bicarakan.


"Kenapa?".


Hema bingung harus menjawab apa. tidak bisa kan dia bilang kalau Hean dan dirinya begitu dekat di masa lalu. akan ada salah paham nanti.


"Saya takut...".


itulah alasan yang Hema katakan. alasan yang sedikit tak masuk akal tapi mungkin saja bisa membuat Hema terhindar dari masalah.


"Baiklah, tapi jangan salahkan saya jika kamu dipecat setelah ini...".


Glekk.. Hema menelan salivanya sendiri. ancaman dari senior justru lebih menakutkan baginya dibanding membawa berkas menuju ke ruangan Hean.


Di cepat?


"Saya saja tak tau seperti apa kemarahan beliau jika permintaannya ditolak...". Senior itu semakin memprovokasi. agar Hema berubah pikiran dan menuruti keinginan Atasannya.


"Tapi Pak...". Hema mencoba untuk mengiba. tidak mungkin langsung dipecat hanya gara-gara sedikit membangkang.


"Lagian kenapa bapak selalu menyuruh saya sih..". kesal sendiri. hanya Hema yang beberapa kali diperintahkan untuk menuju ke ruangan CEO, sedangkan yang lain tak pernah sekalipun.


"Ya karena Pak Hean yang meminta..." itulah yang senior inginkan. Hanya boleh Hema yang datang kesana.


Kadang aku juga bingung Hema? apa beliau menyukaimu?


tapi pikiran itu hanya ada di dalam hati senior. ia tak mau mencampuri urusan orang lain apalagi sampai Atasannya.


"Jadi mau atau tidak?". Senior itu menimang pilihan untuk Hema. membuat yang berdiri di depannya tentu saja sedikit bimbang.


Agghh... persetan dengannya...


Pada akhirnya Hema mengambil alih berkas dari tangan senior. membawanya menuju ke ruangan CEO dengan langkah kaki sedikit kesal.


"Permisi...". Hema mengetuk pintu hingga ada jawaban dari dalam sana membuatnya masuk ke dalam.


"Ini berkas untuk hari ini Pak,".


berjalan ke arah meja CEO dan meletakkannya disana. bertumpukan dengan berkas lain.


"Kenapa tidak menjawab telepon ku tadi malam?".


pertanyaan yang bukan membahas masalah pekerjaan. hanya karena ini dia memintaku datang menemuinya?

__ADS_1


konyol, itu yang Hema pikirkan.


"Maaf,".


jangan khawatir Hema... meminta maaflah lebih dulu...


"Apa lo sengaja menghindar?". Hean bertanya lagi. duduk sambil melipat tangannya kesal karena dirinya terasa diabaikan oleh gadis itu.


bahkan sifat Hema benar-benar keras kepala jauh dengan yang dulu.


Ck, gue benci rambut pendeknya...


Sejak awal Hean kesal dengan penampilan Hema yang berubah. entah alasan apa yang membuat gadis itu memangkas rambutnya hingga sebatas bahu. karena, Hean suka rambut panjangnya.


"Maaf, tidak Pak..." jawab Hema. menundukkan pandangannya tak sudi bertatap muka dengan Atasan menjengkelkan itu.


"Ck... jelek!". gumam Hean tapi masih mampu di dengar Hema.


rambutnya benar-benar jelek...


"Ha? Anda bilang apa?". Hema tak yakin dengan ucapan Hema hingga membuatnya bertanya untuk memastikannya.


"Rambut lo jelek!".


Apaan dia itu.. tadi membahas telepon, sekarang rambut...


Bahkan Hema sampai menyentuh rambutnya memastikan apakah rambutnya berantakan atau tidak, tapi tak ada apapun di rambutnya.


"Kenapa lo memotongnya seperti itu?" tanya Hean.Kembali melanjutkan ucapannya saat Hema sudah bersiap menjawab. "Gue benci rambut pendek...".


Jelas tak ada aturan masalah rambut di tata tertib perusahaan. pendek panjang bukan masalah yang penting rapi, itu yang tertulis di aturan sebelum Hema menandatanganinya.


"Karena di aturan tidak ada larangan karyawan wanita berambut pendek..." jawab Hema. itulah faktanya. seharusnya lo juga membaca sebelum menjadi Ceo di sini...


"Tapi gue benci melihatnya..." sanggah Hean lagi.


Apa masalahnya? ini rambutku, buang saja mata lo biar tidak bisa melihat... umpat Hema kesal.


"Apa? lo sedang mengumpati ku?" tantang Hean. sadar bahwa gadis di depannya itu tengah mengumpati dirinya dalam hati.


"Ma-mana mungkin Saya berani melakukan nya Pak...".


"Kenapa lo selalu berbicara formal kepada gue?". Pertanyaan Hema yang hanya berbelit-belit tanpa ada arah percakapan yang sedikit berfaedah.


"Karena Anda Atasan Saya Pak..." jawab Hema.


"Ck, bicaralah kasar seperti waktu di rumah sakit!".


Hema tak berani menjawab. benar, waktu itu ia lupa kalau Hean adalah atasannya hingga Hema berkata sedikit kasar. tapi sekarang, di perusahaan mana mungkin ia berani melakukannya.


"Lo terlihat cantik jika berambut panjang Hema..." ulang Hean. secantik waktu dulu, gadis yang tersenyum manis dengan rambut panjangnya.


"Gue lebih suka waktu itu...".


"Itulah alasan gue memotongnya,". Hema menatap ke arah Hean, "Karena seseorang mendekatiku hanya karena rambut panjang gue yang terlihat mirip dengan wanita lain...".


Deg... Hean mati kutu. terdiam tak bisa berkata-kata dengan ucapan yang terlontar dari mulut Hema.

__ADS_1


"Jadi gue memotongnya karena tidak ingin disamakan dengan wanita lain..." lanjut Hema.


Gue hanya tidak mau terlihat seperti Agnes, wanita yang lo cintai...


"Rambut panjang mengingatkan pada kenangan buruk di masa lalu, kekecewaan, harapan palsu dan semuanya hilang bersamaan dengan rambut pendek yang sekarang...".


"Apa lo menyindir ku Hema?" tanya Hean.


karena ucapan Hema terdengar seperti tengah membicarakan Hean dan kenangan mereka.


"Apa Anda tersinggung Pak Hean? maaf, tapi saya tidak membicarakan Anda dalam cerita buruk saya..." jawab Hema sarkas.


benar-benar membuat Hean terdiam.


Apa maksudnya?


Firasat Hean mengatakan kalau Hema telah melalui begitu banyak kekecewaan di masa lalu. entah apa yang terjadi pada gadis itu hingga membuatnya berubah.


Cerita buruk, apa gue juga bagian dari cerita buruknya?


"Apa ada hal lain Pak, kalau tidak saya permisi..." pamit Hema. sudah memutar tubuh dan hendak keluar, tapi segera menghentikan langkahnya ketika Hean melempar sesuatu hingga terjatuh tepat di depan kaki Hema.


"Berhenti atau ini akan jadi akhir karirmu Hema...".


Apa gue keterlaluan?


Hema sedikit gemetar. memikir kembali perkataan yang terlontar dari mulutnya tadi.


Hingga Hean benar-benar berdiri di depannya menatap lekat manik mata gadis di depannya dan menyadari ada sebuah kekecewaan disana.


"Apa ini termasuk balas dendam mu terhadapku?".


Mungkin saja iya, karena Hean tau bagaimana cara ia meninggalkan Hema waktu itu. bahkan untuk pamitan pergi saja, Hean tak mampu mengatakannya langsung.


"Apa gue benar-benar menyakiti lo Hema?".


Hema tak menjawab, bahkan wajahnya saja melengos ke arah lain asal tidak menatap Hean.


"Maaf,".


mungkin inilah yang ingin Hema dengar darinya. sebuah kata maaf untuk kesalahan-kesalahan yang pernah Hean lakukan pada gadis itu.


Jangan memperlihatkan kelemahan lo Hema... batin Hema. berbicara pada dirinya sendiri. karena saat hatinya lemah, justru ia yang akan kerepotan nanti.


hati dan perasaannya akan kembali mengkhianati sama seperti dulu. saat Hema tiba-tiba mencintai Hean lebih dulu.


Menatap Hema sangat lama seperti ini membuat Hean tidak bisa untuk tidak menyentuh Hema. tangan pria itu tiba-tiba menggenggam jemari tangan Hema. ingin rasanya memeluk gadis di depannya itu dan bilang berapa Hean merindukan Hema. rindu akan tubuh gadis itu.


"Maaf Pak,". Hema dmegan tegas mendorong tubuh Hean yang hendak memeluknya.


"Kekasih Anda akan salah paham nanti...".


Hema membayangkan dengan masa silam. Hean juga di posisi seperti sekarang, jauh dari Agnes hingga membuat pria itu mencari pelarian. tapi Hema sekarang sudah cukup tau apa yang ada di dalam kepala Hean.


"Sebaiknya anda kembali mengingat bagaimana cara Anda meluluhkan hati Agnes, bukannya mencari pelarian lagi...". sebuah ucapan yang mampu menembus sampai ke ulu hati Hean. dan setelahnya Hema pergi dari ruangan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2