
HAPPY READING...
***
Malam itu, malam dimana Agnes sedang kesal sekaligus sedih ia memutuskan untuk pergi mencari angin malam sendirian.
Kembalinya Hean ke negaranya benar-benar membuat Agnes merasa kesepian.
tak ada yang memperhatikannya. tak ada sentuhan hangat yang selalu ia dapatkan dari sang pujaan hati. bahkan lebih dari itu, Agnes merasa bahwa kembalinya Hean ke negaranya merenggut segala kebahagiaan yang ia dapatkan 4 tahun di London.
Kepulangan Hean sedikit demi sedikit membuat pria itu seperti tengah mengabaikan Agnes. nyatanya Hean seperti tak berniat untuk menghubunginya lebih dulu.
kerja kerja kerja, itulah satu-satunya alasan yang selalu terlontar dari mulutnya.
tadinya Agnes berusaha untuk mengerti, paham dengan keadaan yang ada. tapi lambat laut, semakin hari semakin renggang hubungan mereka. yang ada hanya pertengkaran-pertengkaran yang seharusnya tidak terjadi.
Agnes masih mengingat hari itu. hari dimana ia datang ke Club malam sendirian. duduk dan mengamati baru tender yang tengah bekerja menyiapkan minuman untuk pelanggan tempat itu.
Tujuan awal Agnes hanyalah untuk minum dan menghapus kesendiriannya dengan sebotol minuman beralkohol. tapi yang ia dapat justru lebih dari itu.
"Hai,".
Seorang pria tiba-tiba duduk di sampingnya. Antara Agnes dan pria itu sama sekali tidak saling mengenal.
Jadi Agnes tak menggubris keberadaan pria itu sama sekali dan hanya sibuk menenggak minuman di depannya.
"Sendiri?".
Agnes masih terlihat cuek. seharusnya pria itu tau kalau memang hanya Agnes saja yang duduk disana tanpa bertanya sekalipun. tapi seperti kebanyakan pria, memang itulah cara yang selalu digunakan untuk mendekati lawan jenis. bersikap manis untuk menarik hati di pertemuan pertama.
"Jangan terlalu di pendam sendiri... karena manusia adalah makhluk sosial...".
Ucapan pria itu terlalu tepat sasaran. membuat Agnes sedikit tersentak padahal ia tak memberitahu siapapun tentang kegundahan hatinya. nyatanya ada orang yang mampu melihat kesedihan yang ia rasakan saat ini.
Seperti dibukakan pintu pemilik rumah, entah kenapa malam itu Ganes benar-benar mencurahkan isi hatinya kepada pria yang baru ia kenal. di Club malam itu juga, awal hubungan mereka menjadi teman curhat berakhir sebagai teman ranjang. menggantikan Hean yang berada jauh dari Agnes.
Agnes tak pernah menyangka hubungannya dengan pria itu justru semakin dalam. seharusnya Agnes tidak menggunakan hatinya untuk pria itu. karenanya pada kenyataannya, pria itu bukan pria baik.
Semuanya terbongkar ketika Agnes tak sengaja mendengar pembicaraan pria itu dengan seseorang di depan Apartemen.
"Jangan khawatir, tunggu beberapa saat lagi pasti kita akan mendengar kabar kehamilannya...".
Saat itu, Agnes belum sepenuhnya yakin dengan arah membicaraan mereka. hatinya selalu meyakinkan bahwa mereka bukan membicarakan Agnes. mungkin saja orang lain.
__ADS_1
Tapi, bencana benar-benar datang menimpa Agnes. gadis itu menangis ketakutan.
"Jangan khawatir, lo hanya perlu melahirkan anak-anak saja...".
"Maksudnya gue lo suruh melahirkan anak terus menerus begitu?" Agnes terkejut dengan jalan pikiran pria itu.
"Iya, tentu saja... sekarang banyak fenomena pasangan suami istri yang enggan melalui proses mengandung anak tapi ingin memiliki bayi... ini menjadi kesempatan emas bagi kita bukan? kita hanya perlu membuatnya dan menjualnya pada mereka...".
"Sinting! lo benar-benar sinting! bagaimana bisa lo berpikiran seperti itu? kenapa gue harus menjualnya? dan kenapa juga lo berpikiran kalau gue bisa hamil sedangkan kita selalu memakai pengaman ketika berhubungan...".
"Hei pel*cur! gue tidak bodoh ya... apa lo percaya kalau gue benar-benar menggunakan pengaman?" pria itu tersenyum licik.
"Gue lebih pintar daripada lo... lo bahkan tidak tau kan kalau gue sengaja melukai barang itu sebelum menggunakannya?".
Agnes berubah pias mendengar penuturan pria itu.
"Hahaha... benar, gue sedikit menusukkan jarum ke pengaman agar benih gue tetap bisa lolos begitu saja...".
Agnes benar-benar tak menyangka pria di depannya itu tega melakukan hla sejahat itu padanya.
"Gila! lo benar-benar gila...".
Pria itu mendekati Agnes. mencengkeram kasar pada dagu gadis di depannya.
Cihh...
Agnes menangis. tak menyangka kalau kejadian mengerikan itu benar-benar menimpa hidupnya.
"Jangan macam-macam atau sampai melukai calon bayiku... gue benar-benar akan marah! PAHAM!" gertaknya.
Sejak malam itu, Agnes benar-benar tertekan. ia beberapa kali mencoba kabur, tapi selalu saja tertangkap. hingga suatu hari Agnes bisa kabur juga. menggunakan uangnya, gadis menyedihkan itu memesan tiket pesawat untuk kembali ke negara asalnya.
Dengan segala cara, Agnes mengarah cerita untuk meyakinkan orang tua dan juga keluarganya. mengarang bahwa Ia tengah hamil anak Hean dan diputuskan begitu saja hingga membuat Agnes begitu depresi. padahal bukan karena itu, bukan karena Hean. tapi karena pria br*ngsek yang Agnes temui di Club malam beberapa waktu yang lalu.
Agnes memohon, meminta pertanggungjawaban Hean agar terhindar dari pria itu. Agnes hanya takut, pria itu menemukannya disini.
"Akkhh...". Agnes merasakan kram di sekitar perutnya. membuatnya mengaduh.
Mengingat semua itu membuat Agnes sedikit khawatir. seharusnya di usia kandungan seperti ini, Agnes mencoba menenangkan diri mempersiapkan persalinan yang tinggal 2 bulan lagi.
tapi nyatanya, ia dihantui banyak ketakutan. Agnes takut Hean akan langsung menedangnya dari sini setelah bayi dalam kandungannya itu lahir ke dunia.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi nanti? batin Agnes.
Walaupun ia tak mau jujur dengan apa yang telah terjadi padanya beberapa bulan yang lalu, tapi Agnes tak menyalahkan bayinya. karena bayi itu tak memiliki salah.
"Apa yang akan gue lakukan?" gumamnya pelan sambil mengelus perutnya yang semakin hari semakin besar dan berat.
"Ibu Agnes...".
Nama Agnes di panggil. ini adalah pemeriksaan rutin yang selalu Agnes jalani untuk melihat perkembangan bayi dalam kandungannya.
"Iya...".
Kali ini Agnes datang sendirian. karena hampir tiap bulan, Ibunya Hean yang menemaninya datang ke rumah sakit. tapi pagi ini, Ibunya Hean sedikit tidak enak badan dan Agnes tak mau menyusahkannya. Ia bisa datang sendiri.
"Bagaimana bayi saya Dok?" tanya Agnes sesaat setelah dokter memeriksa lewat USG.
"Apa Anda sedang ada masalah Bu? Bayi anda baik-baik saja tapi dari hasil pemeriksaan, Anda terlihat stress... mungkin akan ada sedikit masalah saat persalinan nanti..." dokter itu bicara jujur.
"Cobalah untuk selalu tenang dan bahagia... jangan terlalu mengkhawatirkan apapun..." lanjutnya.
"Apa saya akan mati dok?".
Tiba-tiba terlontar pertanyaan dari Agnes. kekhawatiran itu hanya tertuju pada kematian saja.
entah kenapa rasanya kematian seperti berdiri di depan Agnes, menunggu gadis itu. bahkanhampir setiap malam, Agnes benar-benar tidak bisa tidur nyenyak.
ia kerap kali terbangun sendirian.
Dokter itu tersenyum. padahal beliau memberikan nasehat agar pasiennya selalu berpikir positif di kehamilan tua ini.
"Apa ada masalah yang mengganggu Ibu? ceritakan saja... atau mungkin ajak suami Ibu untuk membicarakan masalah bersama...".
Bijak memang, seseorang memang membutuhkan orang lain untuk mendengar keluh kesahnya. seperti masalah Agnes saat ini, Ibu hamil tentu butuh teman curhat. membicarakan hal-hal positif dengan suami amatlah disarankan.
"Suami Ibu ada rumah kan? tidak bekerja di luar kota?".
"Iya...".
"Sesekali ajak suami Ibu datang kesini... kita akan lihat perkembangan bayi Ibu sama-sama...". ucapan dari dokter seperti angin segar untuk Agnes.
Membuat Agnes hanya mengangguk dan tersenyum.
***
__ADS_1