Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
99. Dipermainkan Takdir.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Janji suci telah terucap dari kedua pengantin di atas Altar pernikahan. haru, bahagia, itulah yang terasa sampai selesai acara pemberkatan tersebut.


Orang tua Sasa sesekali menghapus jejak kesedihannya dan tersenyum lega. putri yang amat mereka sayangi telah resmi menyandang status istri dari pria pilihannya sendiri.


Walaupun pernikahan terkesan mendadak, tapi tak ada yang kurang sedikit pun. mereka semua berbahagia karena kerabat, twmna dekat, sahabat semuanya juga hadir menjadi saksi kebahagiaan Jio dan Sasa.


"Terimakasih karena telah menyempatkan hadir di acara pagi ini... para tamu undangan dan kerabat dan juga sahabat saya..." ucap Jio berlaih menatap Dimas dan Hean yang duduk di deret kedua bangku yang telah disiapkan.


Tersenyum penuh haru karena di kesibukannya, Dimas dan Hean benar-benar datang.


Mendengar kata sahabat, membuat Hema terkejut. tatapannya langsung teralihkan ada bangku di depan sana. jelas tangan Dimas melambai memberitahu semua orang bahwa dirinya lha ynag tengah Jio bicarakan.


Hean...


Dari jarak yang lumayan jauh, nyatanya Hema masih melihat pria itu. pria yang ia coba untuk lupakan justru terlihat begitu nyata saat ini. hanya pri itu yang Hema lihat dari puluhan orang lainnya.


Entah kenapa hati Hema berdesir aneh. Hean, pria yang dengan begitu mudahnya masuk dalam hatinya. mempora-porandakan perasaannya dan menyumbang luka paling banyak. Tak tau lagi bagaimana mendefinisikannya.


nyatanya Hema kembali melihat pria itu di acara ini.


"Ada apa?". Zain, sellau peka seperti biasanya pun bertanya kepada Hema.


kenapa wajha wanita di sampingnya itu tiba-tiba berubah sendu. padahal tadi Hema sangat menikmati acara pemberkatan itu.


"Tidak apa-apa...".


Boleh saja Hema membagi kegundahan hatinya dengan Zain, tapi wanita itu memilih untuk memendamnya sendirian karena hanya dirinya lah yang tau apa yang tengah terjadi.


Hema tak mau melibatkan Zain dalam masalah pribadinya.


"Serius?".


"Hm...".


Beda dengan Hema yang tak henti-hentinya menatap Hen dari belakang, pria yang Hema tatap itu justru terdiam. tak bersuara sama sakali. bahkan tak mau menengok ke arah dimana Hema duduk. padahal Hean bisa melakukannya.


Hampir 1 tahun Hema tak pernah melihat pria itu. bahkan kabarnya saja tak sampai ia dengar. Hema seperti menutup semua akses jalan mengenai Hean.


"Apa itu anaknya? dimana Istrinya?".


Hema terus penasaran karena di samping Hean hanya ada orang tuanya saja. tak ada Agnes sama sekali.


"Gendong...". Teriakan Mika mampu membuyarkan lamunan Hema. hingga perhatiannya kembali teralihkan pada gadis kecil yang duduk di sampingnya itu.


"Sini..." pinta Hema dengan lembut. membawa Mika dalam gendongannya dan tetap duduk menikmati acara.

__ADS_1


Dengan Mika, entah kenapa Hema begitu nyaman. sifat keibuannya seperti muncul dengan sendirinya. bahkan itulah yang membuat Mika juga akrab dengan Hema.


"Main..." ucap gadis itu dengan suara khas anak kecil. menunjuk ke arah samping dimana ada kolam kecil disana.


"Mika... nanti ya..." ucap sang Papa. acara belum sepenuhnya selesai membuat Zain merasa tidak enak dengan semua tamu yang ada.


"Main..." rengek Mika lagi. membuat beberapa tamu undangan menatap ke arah tempat duduk Zain dan Hema.


"Sstt... oke kita main..." jawab Hema mengalah. mungkin Mika juga merasa bosan duduk tanpa melakukan apapun. karena anak kecil tetaplah suka bermain, berlari kesana kemari tanpa lelah.


Pada akhirnya Hema bangkit dari tempat duduknya dengan menggendong Mika pergi. membawanya ke arah kolam kecil di samping rumah Sasa.


"Mika, jangan memasukkan tangan di dalam kolam ya... nanti kotor, dan Papa akan marah..." jelas Hema. meminta Mika hanya melihat ikan di dalam kolam saja tanpa berkeinginan unytuk menyentuhnya.


patuh sekali Mika kepada ucapan Hema.


Nyatanya Hean yang dikira acuh tak memperdulikan semuanya justru sesekali mencuri pandang terhadap wanita di pinggir kolam disana.


matanya sesekali melihat apa yang dilakukan Hema walaupun hanya diam.


"Bukankah dia gadis yang waktu itu?". Ayah berbisik.


"Ha?". membuat Hean otomatis bingung. apa yang dikatakan ayahnya itu.


"Kenapa kamu bersikap seolah tak mengenalnya?" tanya Ayah lagi. sedangkan Hean masih terdiam, mencerca siapa yang Ayah maksud itu.


tapi ketika Hean menatap ayahnya yang tengah melihat ke arah kolam, perlahan Hean sadar siapa yang dibicarakan Ayah barusan. Hema. Ya... wanita itu.


"Bukan," jawab Hean spontan.


Eh...


"Lalu?".


"Gadis kecil itu anak dari kekasihnya..." jelas Hean. Mika, Hean juga pernah menolong gadis kecil bernama Mika itu saat di London. anak Zain yang tersesat di hotel dan menangis kala itu.


"Ohh... apa kamu sedih?" tebak Ayah lagi.


membuat Hean tak bisa berkata-kata. Sedih? apa dia sedih? kenapa dia sedih?


Bohong jika Hean mengatakan kalau dia tidak sedih melihat Hema. bahkan takdir saja tak pernah berpihak pada mereka. Hean dan Hema memang dekat tapi tak pernah sedikitpun punya kesempatan untuk bersama.


"Apa Ayah ingin Hean merebutnya?". jelas bodoh jika Hean sampai melakukan hal itu.


Zain orang baik itulah yang Hean tau. mana bisa ia mencuri sesuatu yang berharga dari orang sebaik Zain itu.


"Ayah tau... gadis kecil itu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu... dia lahir kedunia sebagai gantinya Ibunya harus meninggalkan dunia juga..." lanjutnya.


Itulah yang Hean dengar dari cerita Zain waktu itu.

__ADS_1


"Ayah... Hean hanya ingin membesarkan Bella sampai besar... membuat Bella bahagia dalam kehidupannya ini..." ucap Hean pada Ayah.


Hean tidak ingin menikah lagi Ayah... tidak sama sekali...


Mungkin inilah keputusan yang Hean pikirkan matang-matang. tak ingin menikah karena tak ada tujuan untuk Hean melakukan hal itu.


Sekarang yang Hean pikirkan hanyalah Bella, putri kecilnya yang masih sangat kecil.


"Itu adalah impian yang mulia Yan... tapi memutuskan untuk tidak menikah adalah salah, karena saat kamu telah berubah tua teman bicara adalah hal yang paling dibutuhkan... apalagi suatu saat Bella akan dewasa, dia tidak bisa terus bersama Papa nya... Bella juga akan menikah dan meninggalkan mu...". Mungkin ucapan Ayah memang benar. karena seorang anak akan tetap menjadi anak. tak bisa menjadi teman bicara seperti seorang istri.


Bahkan Ayah juga merasakan hal itu sekarang. saat dimana Hean dan Intan semakin besar, Ayah tak punya siapapun selalin Ibu yang bisa dijadikan teman bicara.


"Ck..." Hean tersenyum dengan ucapan Ayah. tak menanggapinya sama sekali.


 


Zain, pria itu baru saja keluar dari toilet. hingga langkah kakinya terhenti ketika tak sengaja melihat Hean tengah berdiri sambil menggendong bayi kecil.


"Hean?". ucap Zain penuh hati-hati. mungkin saja yang ia lihat saat ini hanya orang yang terlihat mirip saja.


"Hai... tidak menyangka bisa bertemu dengan anda lagi..." ucap Hean sopan.


"Jadi?".


"Saya bersahabat dengan mempelai Pria..." jelas Hean. Ya, semua orang tau kalau Hean adalah sahabat dari Jio.


"Dan Anda?". Hean masih pura-pura tidak tau. padahal ia jelas mengetahui kalau Hema lah yang mungkin mengajak Zain ke acara ini.


"Oh... saya hanya menemani teman saja...heheh..." jawab Zain.


Teman? Entah kenapa Hean merasa lucu dengan jawaban Zain barusan. mengatakan bahwa mereka hanya berteman padahal Hean tau ada hubungan yang lebih dari itu.


"Oh...".


"Siapa gadis kecil ini?". Zain memperhatikan bayi dalam gendongan Hean. tau bayi itu berjenis kelamin perempuan karen aada bandana merah muda di kepalanya. sama seperti yang sering ia lakukan pada Mika saat kecil.


"Bella, dia putriku..." jawab Hean dengan bangganya. memperkenalkan Bella pada orang lain selain keluarganya sendiri.


"Ah, benarkah? Saya ikut senang..." ucap Zain tak menyangka sekaligus senang karena pria di depannya juga telah berkeluarga dan memiliki seorang putri yang cantik.


"Sepertinya baru beberapa bulan..." ucap Zain. memperhatikan bayi dalam gendongan Hean yang masih sangat kecil dengan pipi merah merona.


"Iya... 2 bulan..." jawab Hean menjelaskan umur putri kecilnya.


"Cantik...".


"Putri anda juga cantik..." puji Hean pada anaknya Zain.


Pada akhirnya kedua pria itu juga melanjutkan pembicaraan mereka. membahas hal lain untuk lebih mengakrabkan diri.

__ADS_1


***


__ADS_2