
HAPPY READING...
***
Waktu berjalan begitu cepat. hingga tak terasa hari telah berganti kesekian kalinya. bersamaan dengan itu, banyak hari yang telah Hema dan Hean lalui bersama. hubungan kedua anak manusia itu juga semakin baik. keduanya semakin dekat walaupun tak ada kejelasan di dalamnya.
Seperti itulah hubungan Hema dan Hean. tak ada awal memulainya tapi masih berjalan semestinya.
Dengan kedekatan seperti itu, entah dipungkiri atau tidak mereka sama-sama nyaman dan tentu saja memiliki perasaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Tapi semuanya hanya bisa mereka pendam sendiri, apalagi Hean maupun Hema juga tak ada yang berani memulainya.
Matahari pagi baru saja muncul bersamaan dengan itu burung-burung berterbangan bersiap mencari makan. Tapi beda dengan gadis yang masih meringkuk di atas ranjang kamarnya. gadis itu masih memejamkan mata dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
Entah kenapa pagi ini terasa aneh baginya. Ia benar-benar enggan untuk bangun karena merasakan sesuatu tak enak menyerang tubuhnya.
"Ma... Ma... lo sudah bangun?". sebuah teriakan diiringi dengan ketukan pintu berkali-kali menjadi satu-satunya sumber suara cukup keras di tempat kost tersebut. siapa lagi kalau bukan Sasa, sahabat Hema.
Gadis berambut pendek sebahu itu telah siap berangkat kuliah. seperti biasa, ia akan memanggil Hema di kamar karena terbiasa berangkat bersama.
"Hema... lo berangkat kuliah tidak?". teriaknya lagi. bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Hema yang merasa tak enak badan terpaksa membuka mata dan bangkit. menyeret selimutnya dan membuka pintu menemui Sasa.
"Gue tidak berangkat kuliah hari ini..." jawabnya setelah pintu terbuka.
"Lo sakit?" tanya Sasa khawatir. mengulurkan tangan untuk menyentuh kening sahabatnya.
"Lo sedikit demam Ma... mau gue antar ke dokter?".
Sasa semakin khawatir. apalagi mereka sama-sama hidup sendirian di kota ini.
"Tidak perlu, setelah cukup istirahat juga nanti sembuh..." tolak Hema. ia hanya kelelahan karena semalaman begadang menyelesaikan tugas.
"Serius?".
Hema mengangguk. ia juga tak mau membebani Sasa karena mereka sama-sama sibuk.
"Iya, pergilah... gue tidak apa-apa sendirian...".
Sasa masih terdiam belum beranjak pergi sedikitpun. memastikan bahwa Hema akan baik-baik saja nantinya.
"Lo masih punya obat penurun demam?" tanya Sasa lagi.
"Masih ada beberapa butir..." jawab Hema.
"Lo yakin gue tinggal sendirian?".
Hema kembali menganggukkan kepalanya yakin.
"Baiklah... kalau ada apa-apa kabari gue... oke?".
"Oke...".
Pada akhirnya Sasa benar-benar meninggalkan Hema sendirian di kost. berharap gadis itu lekas sembuh.
----
__ADS_1
Di Kampus, Hean sudah berdiri di samping kelas Hema. menunggu gadis itu datang dan membicarakan sesuatu yang tidak penting. karena Hean kerap kali melakukan hal itu.
datang ke kelasnya tanpa Hema minta sama sekali.
Tapi sepertinya sia-sia karena Hean hanya melihat kedatangan Sasa tanpa ada Hema.
membuatnya terkejut dengan tatapan penuh tanda tanya.
Dimana Hema?
"Lo pasti menunggu Hema bukan?" tanya Sasa tanpa basa-basi.
"Dia dimana?".
"Hema sakit, badannya demam..." adu Sasa.
Hema sakit?
Tanpa mendengar penjelasan dari Sasa lebih lanjut, Hean langsung berlari meninggalkan Sasa.
pria itu begitu mengkhawatirkan keadaan Hema.
"Hei, mau kemana?" teriak Jio ketika Hean hendak masuk ke dalam mobil dan pergi.
sejenak Hean terdiam menunggu sahabatnya yang berlari ke arahnya.
"Kata Sasa, Hema sakit..." adu Hean pada akhirnya.
"Jadi lo mau pergi menemuinya?".
Hean mengangguk. memang apa lagi yang akan ia lakukan selain menemui Hema sekarang? mungkin saja gadis itu sedang tidak berdaya atau mungkin hamil?
Entah kenapa tiba-tiba kekhawatiran itu muncul dalam kepala Hean.
karena sudah 20 hari sejak kejadian malam itu. Ya mungkin saja gadis itu merasa tak enak badan sebagai tanda-tanda awal kehamilan.
"Pergilah..." ucap Jio.
"Kalau ada apa-apa kabari gue ya..." pinta Hean.
"Yoi...".
Hean pun menghidupkan kendaraannya dan berlalu pergi.
----
Tiba di tempat kost, Hean langsung berlari menuju ke kamar Hema. menyentuh gagang pintu kamar gadis itu dan sedikit terkejut karena tidak di kunci sama sekali.
Tidak dikunci?
Dengan pelan, Hean membukanya dan menyelinap masuk. hal pertama yang mampu ia lihat adalah sosok yang tengah meringkuk dengan balutan selimut tebal membungkus tubuhnya.
gadis itu tidur dengan membelakangi pintu jadi tak menyadari kedatangan Hean.
Masih dengan tatapan iba, Hean mendekat. duduk di tepi ranjang. tangan pria itu terulur untuk menyentuh kening Hema. memastikan seberapa demam tubuh gadis itu.
Perlakuan Hean yang tiba-tiba membuat Hema terkejut. apalagi tadi dia benar-benar tertidur. "Jangan takut... ini gue..." ucap Hean menenangkan.
__ADS_1
Hema yang tadinya takut mulai tenang ternyata yang datang adalah Hean. walaupun dalam hatinya di penuhi dengan banyak pertanyaan. bagaimana pria itu bisa datang kesini?
tapi Hema tak mau terlalu memikirkan itu, toh tubuhnya juga sedang tak bisa di ajak kompromi.
"Lo demam Ma, sudah minum obat?" tanya Hean.
pria itu memperhatikan kamar Hema, mencari kotak obat yang mana mungkin saja ada obat penurun panas.
"Atau mau gue antar ke dokter?".
Hean khawatir, setidaknya dokter mampu mengetahui apa keluhan Hema sekarang.
"Tidak perlu Hean... tadi juga sudah minum obat..." tolak Hema.
"Lo sudah makan?" tanya Hean lagi. ia tau bagaimana sulitnya hidup sendirian. Hean yang tinggal terpisah dari orangtuanya saja kadang kesulitan apalagi dengan Hema yang memang anak perantauan. pasti sangat sulit baginya ketika sakit begini.
"Gue belum lapar...".
Hean semakin khawatir kalau gadis di sampingnya itu benar-benar menunjukkan gejala walaupun kehamilan. walaupun Hean sudah meyakinkan diri untuk bertanggung jawab, tapi nyatanya pria itu belum sepenuhnya siap.
apa yang akan dilakukannya jika Hema benar-benar hamil nanti.
"Ma," panggil Hean.
"Hm...".
"Lo udah mengeceknya?". Sedikit ragu untuk mengatakannya tapi setidaknya lebih bagus jika mereka tau dari awal bukan?
"Apa yang perlu di cek sih Yan? gue hanya kecapean saja..." protes Hema. ia tau arah pertanyaan Hean tadi.
"Ini hari Ke-20 sejak malam itu..." ucap Hean mengingatkan kesalahan yang pernah ia lakukan terhadap tubuh Hema.
"Terus?".
"Ya kali aja lo beneran hamil... apa lo tidak merasakan sesuatu? seperti perubahan sesuatu begitu?" selidik Hean bak ibu-ibu yang sangat protektif kepada anak perempuan mereka.
"Lo bawel banget sih Yan!". Hema kesal pria itu berbicara tanpa henti. membuat kepalanya yang tadinya berat semakin berdenyut nyeri.
Ck... apa dia bilang? bawel?
"Gue kna hanya tanya..." protes Hean tak terima dikatakan bawel.
"Jangan aneh-aneh deh...". Hema masih berpikiran positif. yakin bahwa dirinya tidak sedang hamil saat ini.
semalam Hema memang tidak bisa tidur dan kelelahan juga.
"Gue hanya mau tidur..." tambahnya.
"Tapi lo belum makan, gue pesenin makanan dulu ya... setidaknya perut lo biar ada isinya..." bujuk Hean. dan tanpa meminta pertimbangan dari Hema, pria itu segera memesan makanan lewat ponselnya.
Setelah menunggu cukup lama, Hean ijin keluar kamar untuk mengambil pesanan makanannya. dan ketika kembali, pria itu telah menenteng plastik entah berisi apa saja. yang jelas bau makanan itu seketika menguar memenuhi kamar Hema. bahkan mampu membuat gadis itu sedikit penasaran karena baunya lumayan enak.
"Makanlah dulu..." pinta Hean. menyiapkan makanan itu di di nakas samping ranjang Hema.
"Sini gue bantu...". Dengan telaten, Hean membantu Hema untuk duduk dan makan.
"Mau gue suapin?" tanya Hean dengan senyum yang selalu mengukir bibirnya.
__ADS_1
***