
HAPPY READING...
***
Dia sederhana...
Tapi mampu membuat luka yang sangat sempurna...
Hema menatap kepergian Rendy dengan tatapan tak percaya. tak ada yang Rendy katakan lagi seperti pertama kali bertemu. langkah gontai mampu Hema lihat hingga sosoknya menghilang di balik kendaraan yang lalu lalang di jalan depan hotel.
Semudah itu dia memutuskan pergi?
Memang Hema juga berharap Rendy tak menunjukkan wajahnya di depannya sampai kapanpun. tapi aneh saja bukan? hanya sepatah kata yang terlontar dari mulut Hean mampu membuat pria itu sadar dan langsung menyerah tanpa perlawanan.
Aggkkk...
Hema bingung. sedangkan saat menatap pria di sampingnya, hanya ekspresi cengar-cengir yang terlihat. seperti tak percaya, apa dia pria yang sama dengan pria yang mengancam Rendy barusan? begitu hati Hema bicara.
Tapi kenyataannya memang seperti itu. Ya... dialah orangnya. Hean Dirga.
Sekarang tinggal kecanggungan yang mengambil alih suasana.
mau mengatakan apa? berterimakasih? sepertinya terlalu cepat atas apa yang Hean lakukan untuk Hema. tapi karena Hean juga, Rendy tak akan kembali mengganggunya.
karena kebohongan Hean, Rendy akan percaya bahwa Hean dan Hema memang sudah menikah dan berkeluarga.
"Ckkk..." Hema tak bisa mengatakan apapun.
"Seharusnya ucapkan saja terimakasih...".
hingga ucapan Hean membuat Hema mendongakkan pandangannya. membuat tatapan mata mereka bertemu di garis lurus untuk beberapa saat.
"Apa maksud lo tadi?" protes Hema. bukannya minta maaf, ia justru menanyakan alasan yang membuat Hean mengatakan kebohongan di depan Rendy.
menikah? ck... Hema masih tak percaya akan hal itu.
"Apa?" balas Hean dengan entengnya.
bahkan wajah datarnya kali ini benar menjengkelkan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Tadi... kenapa lo bilang seperti itu?" tegas Hema. kenapa harus berbohong tentang pernikahan. padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah seperti itu. Antara Hema dan Hean bahkan tak lagi bertemu sejak saat itu.
"Tadi...? Bilang apa?" tanya Hean lagi.
Hema memejamkan mata, frustasi karena Hean tak paham apa yang telah dilakukannya.
Bagaimana gue menjelaskannya? batinnya.
Menarik nafas panjang, Hema memejamkan mata sambil mengepal tangan bersiap untuk mengatakan kebenarannya.
"Kenapa lo bilang kita sudah menikah?".
Pertanyaan yang harus ada jawabannya.
"Ohh...".
Sial! kenapa dia tenang sekali... cerca Hema dalam hati.
bukan itu yang ia harapkan dari penjelasan Hean.
"Yaann..." rengek Hema spontan. membuat Hean yang mendengar hal itu tiba-tiba tersenyum.
Dih... ngeri sekali senyumnya... batin Hema lagi. seharusnya orang lain akan senang jika lawan bicaranya tersenyum. tapi Hema berbeda. senyum Hean kali ini terlihat horor. bahkan mampu membuatnya merinding.
Beda lagi dengan Hean. rengekan Hema seperti nostalgia baginya. entah kapan terakhir kali wanita di depannya itu merengek manja seperti itu. Jujur, Hean merindukan sisi manja dari Hema seperti dulu kalau.
__ADS_1
hingga membuat Hean ingin kembali mengulang bagaimana cara ia menggoda Hema saat ini.
"Apa gue salah?" pancing Hean. ia rasa tindakannya cukup baik untuk membuat Rendy sadar dan akan menggangu wanita di depannya itu.
apalagi Rendy tidak terlalu cocok untuk Hema karena sikap pecundangnya.
setidaknya bukan Rendy. itu saja.
"Ucapan mu hanya akan membuatnya salah paham..." jawab Hema. seharusnya kalau Hean ingin melindunginya tak perlu mengatakan kebohongan yang mana akan mempersulit Hema di kemudian hari.
"Kalau tidak mau dia salah paham, ayo wujudkan menjadi kenyataan..." ucap Hean dengan senyum cerah. membuat Hema langsung terdiam tak mampu berkata-kata. matanya membulat dengan desiran aneh di dalam hatinya.
Hema tau kalau saat ini Hean hanya menggodanya saja.
Hema... sadar, dia pria yang menyakiti lo dulu... batin Hema.
Jika tak ingin terjatuh pada lubang yang sama, tetaplah ingat bagaimana seseorang memperlakukan mu. bagaimana cara seseorang menghancurkan mentalmu. dengan begitu, kau tak akan pernah merasa takut untuk hancur kembali.
"Ap-pa...".
Suara Bella membuat suasana kembali berubah. anak kecil dalam gendongan Hema itu sesekali meronta ingin melepaskan diri dan kembali pada gendongan sang Papa.
"Ap-pa...". celoteh Bella lagi. dan Hean langsung mengambil alih putrinya dari gendongan Hema.
"Terimakasih karena telah menggendong putriku..." ucap Hean kepada Hema.
Benar... dia anaknya Agnes... batin Hema. apalagi mata anak kecil itu yang sangat mirip dengan Agnes.
"Dimana istri lo?". Hema penasaran. bukan hanya kali ini saja ia bertemu dengan Hean tapi tak pernah ada Agnes di sampingnya.
entah apa yang terjadi pada pernikahan mereka.
bahkan dari wajah Hean saja, Hema sempat melihat bagaimana ekspresi sedih pria itu yang selalu di tunjukkan.
"Istri? istri siapa?" tanya Hean berpura-pura bodoh.
"Ya lo... masa gue...".
"Oh...".
Oh terus... batin Hema lagi.
"Bukankah lo, istri gue?" ucap Hean dengan senyum yang sama seperti tadi.
Walaupun Hema tau kalau Hean hanya menggodanya saja, tapi mampu membuat wajah Hema bersemu merah. malu lebih tepatnya.
Sial!
Seharusnya Hema bisa marah, seharusnya ia tak menggunakan perasaannya, tapi ketika bersama Hean seperti ini entah kenapa rasanya aneh. Hema justru melupakan segala sesuatu yang pernah Hean lakukan padanya.
Jam terus bergulir. Pada akhirnya Hema dan Hean juga dengan Bella duduk di taman yang ada di halaman hotel.
"Lo bekerja disini?". sebuah pertanyaan dari Hean membuka percakapan dengan Hema.
"Tidak... gue kesini untuk menyelesaikan sesuatu..." jawab Hema. karena pekerjaannya memang ke kota-kota di seluruh negara aini bahkan ke negara lain di bawah naungan Perusahaan tempatnya bekerja.
"Dan lo?" Hema balik bertanya tentang keberadaan Hena di kota ini.
"Sama... ada sesuatu yang gue selesaikan di kota ini..." jawab Hean. sedikit canggung karena inilah pertama kalinya bagi mereka bertemu dan saling bertanya.
"Oh...".
Angin sore berhembus perlahan. sedikit menggoyangkan ujung rambut Hema tapi tak sampai berantakan.
"Lo tak pernah ke Ibukota lagi?" tanya Hean penasaran.
Bagaimanapun Ia ingat dengan perkataan Jio waktu itu. kalau Ibukota menjadi tempat yang masuk dalam list kebencian Hema.
__ADS_1
bahkan gadis itu tak lagi mau menginjakkan kakinya di sana. walaupun masalah pekerjaan sekalipun.
"Tidak..." jawab Hema yakin. bahkan Ibukota bukan lagi impiannya.
"Kenapa?".
Hema bingung dengan pertanyaan Hean barusan. alasan apa yang membuatnya benci Ibukota. walaupun Hema tau jawabannya.
"Ada kota lain yang lebih nyaman daripada Ibukota..". Pada akhirnya itulah jawaban yang Hema katakan. bahwa kota dimana ia tinggal dan bekerja sangatlah nyaman.
"Lo tidak lagi pergi ke pantai?".
Hena ingat, Pantai. tempat paling Hema sukai waktu itu. bahkan mereka pernah beberapa kali datang ke pantai menenangkan pikiran.
Hema tersenyum canggung.
"Pantai...". Memikirkan apa yang harus ia katakan mengenai pantai.
"Gue tak lagi menyukainya..." jawab Hema.
karena banyak kenangan antara pantai dan masa lalunya.
untuk menghapus masa lalunya, Hema juga perlu melupakan tempatnya bukan?
"Lo belum menjawab pertanyaan gue tadi..." sela Hema. berinisiatif untuk membuka topik pembicaraan.
"Tentang?". Hena mengerutkan keningnya bingung.
"Dimana istri lo? Agnes..." ucap Hema. penasaran dimana wanita yang telah memenangkan hati Hean itu. cinta pertama bagi Hean.
"Ada... tapi tak ikut...." jawab Hean singkat.
"Oh begitu ya..." jawab Hema.
Jadi mereka baik-baik saja... batin Hema.
"Dan kekasih lo?". Hean balik bertanya.
"Kekasih?".
Yang mana? Hema kebingungan ditanya seperti itu.
"Duda dengan satu anak..." lanjut Hean.
Oh... Zain maksudnya... Hema mengerti.
"Bukan! dia bukan kekasih ku..." ucap Hema spontan. seperti meyakinkan kalau ia tidak menjalin hubungan dengan Zain.
Hean tersenyum mendengar ucapan Hema barusan. padahal ia hanya bertanya, tapi Hema seperti merasa bersalah seperti itu.
"Benarkah? kalian terlihat cocok..." ucap Hean jujur. bahkan kedekatan Hema dengan putri Zain terlihat sangat dalam. seperti ibu dan anak.
Cocok ya...
Wajah Hema berubah murung. entah apa yang wanita itu pikirkan saat ini.
seperti kecewa tapi tak tau apa yang membuatnya kecewa.
"Zain juga pria yang baik... walaupun gue mengenalnya baru-baru ini...".
Hema mendongak pandangannya.
Hean mengenal Zain juga? benarkah?
terkejut karena Zain tak pernah mengatakan apapun mengenai Hean.
"Kenapa? lo tak percaya?" tanya Hean karena ekspresi Hema yang seperti tak mempercayai ucapan yang barusan.
__ADS_1
***