Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
75. Malam Yang Buruk.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Malam mulai tiba. Hean memilih menggunakan kamar mandi lebih dulu. berada di dalam sana cukup lama, entah apa yang tengah ia lakukan. membuat Agnes pun keheranan karena hampir 30 menit ia menunggu, tapi Hean tak juga keluar.


Mungkin dia berendam... batin Agnes.


"Baiklah, gue keluar dulu...".


meletakkan pakaian tidur yang sudah ia siapkan untuk Hean dan meninggalkan kamar untuk beberapa saat.


Beberapa saat berlalu. Hean baru keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. air sisa mandi sesekali menetes di pundaknya. terlihat menyegarkan apalagi bau sabun yang menguar memenuhi seluruh penjuru kamar.


Sambil mengeringkan rambut, ekor mata Hean tertuju pada pakaian yang berada di atas ranjang. tersenyum sinis seolah tak peduli dengan tindakan Agnes kepadanya.


Berusaha abai, Hean lebih memilih mencari pakaiannya sendiri daripada memakai pakaian yang disiapkan Agnes. pilihannya jatuh pada pakaian tidur berwarna abu dari dalam ruang ganti pakaian.


Suasana kamar terlihat berbeda. karena ini adalah pertama kalinya Hean akan tidur di tempat ini. kamar Agnes. mungkin ini akan menjadi kamar mereka setelah pernikahan ini.


dan di kamar ini juga Hean harus membiasakan diri untuk berbagi ranjang dengan Agnes. tapi apakah ia bisa?


jelas tidak. Hean sudah memikirkannya lama sambil berendam tadi. ia tak akan terpengaruh dengan hubungan pernikahan ini. walaupun faktanya ia telah menikah, tapi tak ada sedikit pun rasa untuk menerima Agnes sebagai istrinya.


"Sudah selesai?". Agnes telah kembali. mengenakan pakaian tidur berwarna merah dan tersenyum senang ketika kembali ke kamar menemui Hean.


Tapi beberapa detik kemudian, tatapannya begitu pias. seperti ada kekecewaan saat Agnes melihat pakaian yang telah ia siapkan tak di sentuh Hean sama sekali.


"Kenapa? gue sudah menyiapkannya tadi..." ucapnya kecewa.


"Warna merah terlalu kuno..." balas Hean tanpa memandang Agnes sama sekali.


Sungguh Agnes merasa kecewa dengan ucapan Hean. pria itu benar-benar seperti mengabaikannya.


tapi Agnes tidak akan putus asa. ia akan terus mencoba merebut kembali hati pria itu. sama seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.


berharap Hean akan kembali manis seperti perlakuannya dulu.


"Sudah mau tidur?". Agnes berjalan ke arah ranjang. bersiap untuk tidur bersama dengan Hean.


tapi saat dirinya sudah memposisikan tubuh berada di samping kiri, Hean ikut berjalan menyusulnya.


Agnes sudah sangat bahagia melihat Hean mendekat ke arahnya. tapi senyum itu kembali sirna saat yang Hean lakukan hanyalah mengambil bantal dan membawanya pergi.


"Yan-," panggil Agnes.


"Kenapa?" jawab Hean masih dengan posisi membelakangi Agnes.

__ADS_1


"Lo mau kemana?".


"Tidur di sofa..." jawab Hean dengan ketus.


Sofa?


Agnes tak habis pikir dengan ucapan Hean barusan. ranjang ini cukup besar untuk mereka tidur berdua. tapi Hean justru memilih sofa. padahal ini adalah malam pertama mereka setelah resmi menikah.


Agnes kira akan ada bayangan-bayangan keromantisan yang akan mereka ciptakan sebagai pasangan baru.


"Lo menghindar?". Agnes benar-benar sedih.


Ucapan Agnes membuat Hean tersenyum sarkas. memutar tubuhnya demi menunjukkan ekspresi penuh ejek kepada Agnes. "Ck, apa lo akan berharap lebih?" ejeknya.


Hean geli sendiri dengan pemikiran Agnes.


seharusnya wanita itu tau apa kesalahan yang dilakukannya. seharusnya Agnes cukup tau diri kenapa Hean bersikap acuh padanya.


Agnes semakin kesal, "Kenapa? apa gue tidak boleh berharap? kita sudah resmi menikah Hean..." bentak Agnes. berusaha menyadarkan Hean tentang fakta yang ada.


"Kenapa tidak boleh tidur bersama? sedangkan kita dulu sering melakukannya..." tambahnya.


"Tidur bersama pernah kita lakukan karena dasar cinta Nes... tapi sekarang beda..." jelas Hean.


"Apa bedanya?".


Pernikahan ini hanya media untuk menjebak Hean agar terikat dengan Agnes.


"Gue mengandung anak lo Yan... ada anak lo disini..." teriak Agnes. bahkan air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. kesal karena ucapan Hean yang benar-benar keterlaluan.


"Yakin anak gue?" tanya Hean. Entah apa yang membuat Hean yakin kalau Agnes bukan mengandung anaknya. tapi anak orang lain tapi Hean dipaksa untuk bertanggungjawab.


"Bukannya lo sering main gila di belakang gue?".


Andai saja waktu itu Hean mengambil bukti perselingkuhan Agnes. mungkin kejadiannya tak seperti ini. mungkin Hean tak akan pernah menikah dengan Agnes.


"HEAN!".


Agnes bertambah murka dengan ucapan Hean.


"Jangan berteriak Nes... Ibu hamil tidak boleh melakukan nya..." ucap Hean. tapi terdengar seperti tengah mencerca kelakuan Agnes barusan.


"Kenapa lo jahat sekali Yan? hiks...".


"Jahat?" Hean heran. "Bukankah pertanyaan itu lebih pantas gue yang mengatakannya daripada lo? kenapa lo sejahat itu Agnes... meminta pertanggungjawaban gue padahal bukan gue yang melakukannya...".


"Kenapa lo tidak mempercayainya Yan? dia anak lo!" teriak Agnes lagi. masih dengan air mata yang kian deras membanjiri wajahnya.

__ADS_1


"Seharusnya lo sudah tau jawabannya..." cerca Hean.


4 tahun tinggal bersama di London, seharusnya Agnes sudah hafal betul apa yang Hean lakukan demi untuk mempertahankan hubungan mereka agar tidak kebobolan sebelum mereka benar-benar menikah. tak pernah sekali pun Hean lupa atau sengaja tidak memakai pengaman ketika bersama Agnes. dan selama 4 tahun itu semua nya berjalan dengan lancar.


Ck... sial!


Tapi bagaimana bisa?


Saat Hean kembali ke Indonesia, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa Agnes hamil karenanya.


"Dan seharusnya lo sudah mengeceknya bukan?".


Walaupun memakai pengaman ketika berhubungan, Agnes selalu mengeceknya dengan sebuah tespack yang memang selalu tersedia. hampir tiap pekan Agnes menggunakan nya untuk berjaga-jaga.


Apalagi sudah 4 minggu Hean pulang ke negaranya. secara logika, Agnes sudah mengeceknya selama 4 kali bukan?


"Gue... gue tak pernah lagi melakukannya setelah lo kembali..." ucap Agnes menjelaskan.


Hean tersenyum geli mendengar penuturan Agnes. bodoh jika ia mempercayai apa yang Agnes ucapkan.


"Terserah..." ucap Hean dan melanjutkan langkahnya.


Menuju ke sofa yang ada di dekat pintu kamar. menepuk bantal sebelum akhirnya merebahkan diri disana.


Sedangkan Agnes. masih menangis menatap Hean dari ranjang. kesal sekaligus tak tau harus berbuat apa.


Malam itu, malam yang seharusnya menjadi malam istimewa bagi pengantin baru justru lewat begitu saja.


tak terdengar apapun selain tangis Agnes yang pada akhirnya berhenti dengan sendirinya karena ketiduran.


Sepertinya dia sudah tidur... batin Hean. cukup lama ia menunggu Agnes tidur hingga yang dilakukannya adalah bangkit menuju ke balkon dan menelepon seseorang.


"Sial! kenapa nomornya tidak aktif?" gumam Hean pelan. hampir seminggu ia benar-benar belum siap menghubungi Hema. dan malam ini hean mencoba memberanikan diri, tapi nyatanya nomor Hema todak aktif.


Kalau masih tinggal disini, gue benar-benar tidak bisa melakukan apapun... batin Hean. mungkin tempat ini memang terlihat seperti sebuah rumah tapi baginya, tempat ini adalah sebuah penjara yang akan mengurung Hean bak penjara.


"Halo," ucap Hean mencoba menghubungi seseorang yang bisa ia percayai.


"Carikan rumah secepatnya...".


Hean telah memutuskan. suka tak suka, mau tak mau ia akan tinggal terpisah dari orang tua Agnes. ia juga harus menjaga kewarasannya demi bisa menyelesaikan masalah ini. tinggal di rumah berbeda adalah salah satunya.


Dan yang harus Hean lakukan adalah memberitahu orang tua Agnes esok hari tentang rencananya tinggal terpisah.


Gue akan mengatakannya besok... batin Hean yakin.


***

__ADS_1


__ADS_2