
HAPPY READING...
***
Hean berjalan gontai. malam telah tiba tapi rencananya tak berhasil sedikit pun. seperti Tuhan saja yang memudahkannya dalam mencari pria bernama Mark itu.
hingga putus asa, itulah yang Hean rasakan saat ini.
Sial! umpatnya dalam hati.
Sejak siang, Hean hanya beberapa kali bertanya pada orang-orang yang ia temui. menunjukkan foto Mark dan berharap ada satu orang saja yang mengenal atau sekedar melihat pria itu. hanya itu saja.
tapi semuanya nihil. tak ada satupun yang mengenal Mark.
membuat Hean semakin penasaran bagaimana sosok Mark sebenarnya.
Dalam langkahnya, Hean terdiam. menyandarkan tubuhnya tepat di salah satu tembok sebuha bangunan yang ia lalui menuju ke Hotel.
memejamkan mata dan kembali berpikir lagi.
Berpikir Hean... berpikir...
Hingga tiba-tiba terlintas dalam kepalanya.
Saat dimana Hean memergoki Agnes berciuman dengan seseorang di Apartemen waktu itu.
Hean memang tidak melihat jelas bagaimana wajah pria itu, tapi ingatannya tertuju pada salah satu lengannya.
Tato...
Hean membuka matanya. kembali mengamati foto yang ia bawa sejak beberapa hari yang lalu. matanya seketika membulat sempurna. Benar...
Tato di lengan pria itu sama dengan pria dalam foto.
"Jadi memang dia?" gumamnya pelan.
Hean tak tau wajah asli pria bernama Mark, tapi mungkin bisa dikenali dari tato di lengan pria itu nanti.
Tiba-tiba sebuah rasa percaya diri muncul kembali. membuat Hean ynag tadi sempat berputus asa tiba-tiba yakin akan dirinya sendiri.
Ya... gue akan menemukannya...
Tanpa basa-basi, Hean kembali melangkah. sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
Entah kenapa ada sebuah keyakinan dalam dirinya bahwa Hean akan menemukan pria bernama Mark itu nanti.
dan sebelum itu terjadi, Hean harus mempersiapkan diri. mandi, makan dan menyiapkan diri untuk pergi ke Club malam lagi.
Keyakinan Hean benar-benar penuh. mungkin kemarin ia gagal menemukan pria itu, tapi tidak untuk saat ini.
Langit malam London benar-benar terlihat indah ketika taxi yang Hean tumpangi membelah jalanan malam hari.
suasana malam seperti mendukung perjuangan Hean untuk menemukan fakta untuk membersihkan namanya dari cibiran orang tua dan keluarga lain.
__ADS_1
Dengan menemukan Mark, membawa pria itu kehadapan keluarga Agnes sudah cukup bagi Hean. setidaknya itu akan membuat semua orang berubah pikiran tentang dirinya. pandangan Ayah juga akan berubah, kembali mempercayai putranya seperti dulu.
Tiba lagi Hean pada tempat yang kemarin ia datangi. masih sama, bau minuman keras seketika menguar melewati rongga penciumannya. suara musik yang kerasa menghentak juga hla lumrah di tempat tersebut.
Tetap sama seperti kemarin, Hean langsung duduk. memesan minuman dan langsung bertanya tentang Mark kepada Bar tender di depannya.
"Tunggu saja...".
Itulah jawaban yang Hean dapat. walaupun tak meyakinkan apakah Mark datang atau tidak, yang pasti Hean akan menunggu pria itu untuk beberapa saat.
Jam terus berputar. menit demi menit telah terlewati. Hean juga tidak menurunkan kewaspadaannya terhapad sekitar. mengamati setiap orang yang masuk ke dalam tempat itu satu-persatu.
Hingga saat Hean telah habis dengan minumannya, Baru tender itupun berteriak.
memanggil sebuah nama hingga membuat Hean ikut penasaran dan mengalihkan perhatiannya mencari sesuatu.
Dia?
"Ada yang ingin bertemu denganmu...".
Pria bernama Mark, pria bertubuh tinggi tapi tidak setinggi Hean. tak begitu spesial hanya sebuah tato di lengan pria itu yang terlihat mencolok dari pada yang lain. membuat Hean langsung bisa mengenalinya hanya dengan sekali pandang.
"Siapa?".
Baru tender itupun menunjuk Hean. hingga kedua pria itu saling pandang tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
Mark, terlihat bingung sekaligus penasaran apa yang membuat pria berdarah asia datang dan menemuinya seperti sekarang.
"Ada sesuatu yang gue butuhkan..." ucap Hean.
Sejenak Mark berpikir. menerawang apa yang ada di dalam kepala pria Asia itu. memgamati penampilan Hean yang terlihat rapi dan berwibawa. seperti pria dengan banyak uang dalam kantongnya. dia butuh barang?
Seutas senyum terukir di bibir pria itu. seolah paham apa yang membuat Hean membutuhkannya.
"Kita bicara di tempat yang lebih nyaman..." ajak Mark.
pria itu sudah terlalu percaya diri, mungkin pria asing yang menemuinya akan membuat pundi-pundi kekayaannya bertambah.
Mark berjalan bersama Hean dan diikuti oleh beberapa anak buahnya. menuju ke ruangan lebih dalam dari tempat itu.
ruangan yang lebih privasi dari tadi dan lebih nyaman karena di dalam sana tersedia sofa yang bagus untuk bersantai sambil mengobrol.
"Jadi ingin yang seperti apa?" tanya Mark to the point. rak mau berbasa-basi karena semua orang yang menemuinya tentu saja membutuhkan barang dari koleksi Mark selama ini.
Hean sempat bingung, bersiap membuka mulut untuk bertanya tapi Mark kembali menyela pembicaraan.
"Pria Asia seperti mu pasti ingin yang sedikit tinggi dan berambut pirang..." tebak Mark. seolah paham apa yang Hean butuhkan.
"Ada... yang seperti itu ada, atau mau dengan kriteria lain?".
Oh... gue paham maksudnya... Hean langsung terhenyak paham kemanaarah pembicaraan pria itu. padahal bukan itu yang Hean maksudkan tadi. tapi mendengar Mark berbicara panjang lebar, Hean justru penasaran bagaimana kepribadian pria di depannya itu. Apakah ada sangkut pautnya dengan tindakan Agnes hingga tidak mau kembali sampai meminum obat dan membuatnya koma.
"Yang lain?" tanya Hean berpura-pura penasaran.
__ADS_1
Tanpa terduga, Mark langsung merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. memperlihatkan banyak foto wanita dengan berbagai pose vulgar kepada Hean.
Ck... dia benar-benar br*ngsek! umpat Hean dalam hati.
"Atau yang ini?" tunjuk Mark lagi. dari sekian foto yang ia miliki, hanya ini foto yang terlihat begitu menantang.
"Dia artisnya... berwajah cantik dan sangat pintar di ranjang... tapi harganya juga sedikit tinggi..." lanjutnya seperti seorang marketing yang begitu profesional menjelaskan barang jualannya.
"Tidak..." tolak Hean lagi.
Terlihat jelas Mark sedikit bingung, apalagi sudah banyak wanita yang ia tawarkan pada Hean tapi tak satupun yang dipilih. seperti Hean hanya bermain-main saja.
"Jadi mau yang bagaimana?" tanya Mark dengan nada sedikit ketus. "Atau butuh wanita yang bisa memberikan anak?".
pekerjaan Mark selain menjadi mucikari, pria itu juga terlibat jual beli bayi-bayi yang dibutuhkan oleh pasangan yang kesulitan melahirkan anak. atau pasangan yang ingin memiliki anak tanpa proses panjang.
Sial! apa maksudnya? Hean semakin terkejut dengan penuturan Mark. tak menyangka kalau pria itu sampai berpikiran seperti itu.
Menjual bayi? memikirkan hal itu saja Hean tak pernah.
"Bisa... ada yang seperti itu juga..." ucap Mark tanpa ragu sedikitpun.
"Apa yang anda butuhkan sepertinya bisa untuk saya lakukan... wanita untuk one night stand ataupun bayi tanpa melalui proses panjang atau mungkin menyewa Surrogate mother..." lanjut nya.
"Apa?".
Gila... begitu umpat Hean dalam hati.
Untuk pertama kalinya Hean menemukan pria seperti Mark. yang menghalalkan segala cara hanya demi segepok uang.
Hingga tiba-tiba Hean teringat perkataan Agnes siang itu.
mungkin inilah alasan yang membuat Agnes tidak ingin kembali ataupun sekedar melihat Mark. karena pria itu bukanlah pria baik-baik.
"Jadi mau yang bagaimana?" tanya Mark.
"Tidak semuanya... bukan itu yang gue butuhkan..." tolak Hean jelas.
tanpa disadari, penolakan itu justru membuat Mark semakin marah. ia merasa dipermainkan oleh Hean.
"APA?". Mark bangkit dari duduknya. juga dengan anak buah anak buahnya yang ikutan memasang wajah geram terhadap Hean. seperti bersiap untuk menunggu komando dan memukul Hean tanpa ragu.
Cukup... gue sudah tau semuanya... batin Hean.
"Lo tau dia?". Hean mengeluarkan ponsel nya. membuka galeri dan memperlihatkan satu foto yang masih tersimpan dalam ponselnya.
siapa lagi kalau bukan foto Agnes. hanya Agnes yang menjadi alasan Hean datang ke London dan mencari keberadaan Mark.
Mark menajamkan matanya, melihat foto itu dan tiba-tiba matanya membulat seperti sadar dan ingat tentang wajah dalam foto itu.
"Dia...?".
***
__ADS_1