
HAPPY READING...
***
Masih dengan jantung yang berdetak tak karuan, Hean berlari menuju ke lorong dimana unitnya berada.
dari jarak yang cukup jauh saja pria itu sudah melihat memang ada seseorang berjas hitam yang berdiri membelakangi nya.
Dari postur tubuhnya, Hean sadar siapa pria itu hanya saja tak yakin jika tidak didekati. hingga derap langkah kakinya yang semakin mendekat membuat pria itu memutar tubuhnya.
Benar... batin Hean melihat siapa pria itu.
Menatap penuh ejek kepada Hean sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
"Ternyata ini persembunyian lo!".
pantas saja saat pria itu menuju ke kediaman orang tua Hean, tak ada sosoknya.
dan sekarang ia baru tau kalau di Apartemen mewah ini Hean tinggal.
"Mas Bima,". ucap Hean.
Tapi, Buugghh...
pria itu mengayunkan pukulannya mengenai wajah Hean. dan langsung mencengkeram hebat kerah pria itu tanpa ragu sedikitpun. matanya memerah jelas menandakan ada sebuah kemarahan yang tertahan disana.
"Apa lo hanya bisa sembunyi seperti tikus menyedihkan seperti ini?" lanjutnya bertanya.
sedangkan Hean, hanya dengan satu pukulan saja sudah membuat sudut bibirnya robek dan berdarah. sungguh tak tau kalau pukulan tadi akan ia dapatkan.
"Jawab gue br*ngsek!".
Buggghh...
lagi, Hean kembali menerima sebuah pukulan tambahan. semakin memperparah wajahnya.
darah segar mengucur dari sudut bibirnya dan menetes hingga menodai kemeja yang Hean kenakan sore ini.
"Gue diam karena menghormati lo Mas Bima... tapi apa masalah lo sampai datang dan memukul gue ?". Hean bangkit. mencoba untuk mengurai benang permasalahan yang tak tau dadi mana ujungnya. karena pria itu tiba-tiba datang dan langsung memukulnya tanpa menjelaskan lebih dulu.
"Masalah apa lo bilang? Apa lo hanya pura-pura?" Bima kembali mencengkeram kerah Hean. tangan pria yang jauh lebih tua dari Hean itu seperti mencekik hendak membunuh musuhnya. matanya jelas memperlihatkan sebuah kekecewaan yang Hean tak tau.
Dan Buggghh...
Kembali lagi pria itu melayangkan pukulannya.
dan sampai pukulan ketiga itu, Hean tak membalas atau menghindarinya walaupun seharusnya ia bisa melakukannya.
membuat tubuhnya benar-benar tersungkur di lantai.
Sakit..
Masih berusaha bangkit, pria bernama Bima itu kembali mendekati Hean. menendang tubuh Hean tanpa ragu sedikitpun. "Pria br*ngsek seperti lo pantas mendapatkannya!" ucapnya sambil menginjak tubuh Hean.
Bersamaan dengan itu, Hema yang tadinya penasaran dengan seseorang yang seperti tengah memata-matai Unit sebelahnya mencoba memberanikan diri mengintip keadaan sekitar. tubuhnya benar-benar syok melihat bagaimana Hean tersungkur dan diinjak seseorang.
__ADS_1
"Heann..." teriaknya panik dan membuka pintu lebar-lebar.
Aaggghhh...
Hean juga berontak. segera bangkit saat ada kesempatan dan mendekati Bima.
"Gue sudah cukup sabar ya...". mencengkeram kerah Bima sama seperti yang pria itu lakukan kepadanya tadi.
"Hean...". Hema berusaha melerai, tapi tak berani mendekat.
"Cukup Yan...". untuk pertama kali dalam hidupnya, Hema melihat bagaimana seseorang sedang bertengkar seperti ini. menakutkan. bahkan darah yang mengucur di sudut bibir dan pelipis Hean membuat tubuhnya lunglai.
"Br*ngsek!". Hean mencoba membalas apa yang Bima lakukan terhadapnya.
satu pukulan saja, karena bagaimanapun pria itu jauh lebih tua darinya dan tentu tetap dia hormati.
"Hean...".
"Jangan mendekat Ma..." perintah Hean kepada Hema. berharap gadis itu tak maju melebihi batas tempatnya berdiri saat ini.
bahkan kalau bisa, Hean tak mau Hema melihat percekcokan seperti ini.
Hean... tatap Hema dengan pias.
"Lo benar-benar tidak tau atau pura-pura tidak tau, Ha?". masih seperti tadi. hanya itu yang Bima katakan. mengutuk sikap pria di depannya yang terlihat pecundang.
"Apa maksud lo! gue tidak tau apa yang lo bicarakan?" teriak Hean. kesal karena Bima menyudutkan nya sejak awal tanpa tau apa masalahnya.
"Lo sejak tadi hanya bertele-tele br*ngsek!".
"Agnes hamil br*ngsek! dia hamil dan lo meninggalkannya...". kembali lagi sebuah pukulan Hean dapatkan.
membuat pria itu terhuyung saking kuatnya pukulan dari Bima.
Hamil?
Hanya itu yang terucap dari batin Hema dan Hean. keduanya saling tatap dengan pikiran masing-masing.
"Hamil?".
"Dan lo memutuskannya... lo benar-benar jahat Yan!". Bima menendang tubuh Hean sekuat tenaga. membuat pria itu terlentang sambil menyentuh perutnya kesakitan.
"HENTIKAN!". teriak Hema dengan tangis memilukan.
"Tolong hentikan..." ucapnya penuh mohon.
karena Hema takut akan ada yang mati di tempat ini kalau perkelahian tak segera di hentikan. bahkan lantai yang tadinya berwarna putih, telah ternodai dengan darah dimana-mana.
kemeja yang Hean kenakan telah berubah warna menjadi merah. wajahnya tak lagi dikenali.
Tolong hentikan...
"Asal lo tau, Agnes hampir saja bunuh diri karena lo Hean... hanya karena lo!".
Agnes hamil?
__ADS_1
Dia hamil?
Kapan?
"Apa yang lo pikirkan sampai memutus hubungan dengannya Hean? sedangkan saat ini Agens hamil anak lo!".
Entah kenapa Hean seperti sulit untuk berpikir. kabar kehamilan Agnes benar-benar membuatnya bingung.
"Agnes hamil?".
Padahal sudah 3 pekan Hean pindah ke Negara ini.
"Lo yakin kalau adik lo hamil anak gue?". Kecurigaan Hean diperkuat oleh fakta bahwa Agnes selingkuh di belakangnya. mungkin saja gadis itu sedang hamil anak orang lain.
"Apa? apa lo bilang?". Bima tak percaya Hean mengatakan hal buruk seperti itu. tak mengakui perbuatannya dan seolah-olah bilang Agnes gadis murahan yang bisa tidur dengan siapa saja.
Sedangkan Hema, gadis itu hanya berdiri di dekat pintu Unit Apartemennya. pandangannya begitu menyedihkan mendengar bahwa Hean telah menghamili Agnes. padahal yang Hema tau, keduanya sudah resmi putus.
Apa dia membohongi ku?
"Gue tidak mau tau... tanggung jawab sekarang juga atau gue benar-benar akan membunuh lo!" ancam Bima.
Hean yang merasa di rugikan. menyentak kasar tangan Bima yang tengah mencengkeram kerah kemejanya.
"Gue? kenapa gue harus tanggung jawab? sedangkan Agnes tidak hamil anak gue...". Hean masih bersikeras dengan keyakinannya.
"Tutup mulut Lo Yan! jangan pernah merendahkan adik gue dengan mengatakan bahwa dia bisa tidur dengan siapa saja...". Bima tak habis pikir sebegitu pengecutnya Hean. melemparkan kesalahan kepada orang lain.
"Karena bukan gue yang menghamilinya...bukan gue,". Hean jelas ingat 4 tahun tinggal bersama Agnes, tak pernah sekalipun pria itu berhubungan tanpa menggunakan pengaman. karena Hean tau, sekali ia teledor hidupnya akan berantakan. karena jelas saat itu keduanya tak ingin memiliki anak sebelum masa depan mereka cerah.
"Heaann..." ucap Hema penuh iba. takut jika ucapan pria itu kembali membuat Bima melayangkan pukulannya.
"Bukan gue Ma! bukan gue yang melakukannya..." bantah Hean. kini ia juga kecewa terhadap Hema. lihatlah bagaimana tatapan gadis itu kepadanya. tatapan tak percaya yang pertama kali Hean lihat.
bagaimana Hema menatapnya seolah Hean adalah pembohong yang tak pernah berkata jujur dalam hidupnya.
"Ayo, jelaskan saja di rumah..." paksa Bima. meminta Hean mengikutinya pulang ke kediaman orang tuanya dan mengatakan apapun yang di inginkan nya.
"Lepasin gue..." berontak Hean. masih dengan tatapan ke arah Hema saja yang menangis di depan sana.
"Hema... lo percaya gue kan?" ucapnya panik. berharap ada satu orang saja yang mempercayai ucapannya kali ini.
Mungkin saja Hean telah banyak berbohong selama ini, tapi kali ini ia mengatakan hal sejujurnya.
Menggenggam erat tangan Hema berharap gadis itu selalu berada di pihaknya.
"Ada apa ini?". Sasa pun ikut penasaran dengan kegaduhan di depan Unitnya. keluar utuk mencari tau dan melihat semuanya.
"Ma?". Berdiri di samping Hema dan mencari tau apa yang telah terjadi. kenapa wajah pria di depan sana babak belur seperti itu?
Tapi tak ada yang menjelaskan kepada Sasa.
"Lo percaya gue kan Ma?". Hean masih berharap. walaupun ia tau saat ini Hema sangat kecewa terhadapnya, tapi Hean tetap berusaha. mungkin ia akan benar-benar hancur saat tak ada siapapun berada di pihaknya. dan Hema, mungkin bersama dengan gadis itu hanyalah khayalan saja.
***
__ADS_1