
HAPPY READING...
***
Waktu terus bergulir sangat cepat. sudah 6 bulan sejak acara pernikahan Sasa dan Jio waktu itu. Hema masih sibuk dengan pekerjaannya, bolak balik ke negara-negara untuk sekedar mengurus pekerjaan yang berada di bawah kendalinya.
Inilah salah satu alasan yang membuat Hema lupa akan hal-hal lain selain pekerjaan. salah satunya adalah percintaan.
semakin bertambah umurnya, Hema justru tak berkeinginan untuk mencari tambatan hati. seperti tak ingin berkomitmen pada sebuah pernikahan.
"Kenapa? gue suka dengan pilihan gue..".
Itulah yang seringkali terucap dari bibir wanita itu ketika ditanya. Hema sangat senang menjalani hidupnya yang sekarang. tapi sebuah kejadian tak terduga kembali merusak hidup tenangnya.
"Hema...".
Saat Hema tengah keluar dari salah satu toko tak jauh dari tempatnya menginap, seseorang memanggil namanya. membuat Hema berhenti melangkah dan terdiam melihat ke arah sumber suara.
"Hema kan?". ulangnya lagi.
Walaupun penampilannya berbeda tapi Hema memiliki mata yang cukup jeli dan mampu mengenali siapa pria di belakangnya itu.
Tatapan mata Hema berubah dingin, seperti enggan untuk menatap lama pria itu. kebencian masih ada di mata Hema kembali berkobar mengingat apa yang telah pria itu lakukan pada Hema di masa lalu.
"Bagaimana kabarmu Ma?".
Hema masih belum menjawab sepatah katapun. untuk apa ia melakukan hal itu? tidak ada gunanya.
hanya menatap pria itu saja sudah membuatnya kesal.
"Gue tidak menyangka kalau bakal bertemu lo disini...".
hahaha... sok akrab sekali... batin Hema. tersenyum mengejek tentang apa yang dilakukan pria tidak tau diri itu.
tapi Hema terkejut, kenapa dia bisa berada di kota ini? apa dia memang pindah?
Kota pinggiran Ibukota yang menjadi tempat Hema bekerja bulan ini. di kota ini ia akan menyelesaikan beberapa pekerjaan, mungkin sekitar 1 minggu kalau selesai sesuai perkiraan.
Hema jelas mengingat tentang kisah masa lalunya. dimana pria itu juga yang menjadi awal kehancuran. pria yang sangat menyakiti Hema dan menciptakan sebuah kebencian sampai sekarang.
Rendy. Ya... itulah nama pria di depan Hema itu.
__ADS_1
Jelas ingatan Hema tertuju pada kejadian saat masih kuliah di Ibukota. hanya karena hutang sebesar 5 juta saja, pria itu tega membuat Hema menghabiskan malam dengan seorang pria.
Sialnya, Rendy merasa tak berdosa sama sekali. masih memperlihatkan wajahnya di depan Hema setelah apa yang telah dilakukannya.
Dulu, mungkin Rendy pernah menjadi impian indah bagi Hema. menjadi sumber kekuatan Hema dari kesepian yang menderanya sejak kecil. menjadi lentera yang selalu menemani Hema selama menimba ilmu di perguruan tinggi yang ada di Ibukota.
Tapi itu dulu. sebelum Hema tau bagaimana watak Rendy sebenarnya. kepercayaan yang ia bangun runtuh tak tersisa.
menyisakan sebuah luka yang bahkan sampai sekarang masih terasa.
"Sorry, gue sibuk..." ucap Hema dan kembali melanjutkan langkahnya. pergi meninggalkan Rendy tanpa berbasa-basi menyapa ataupun sekedar menanyakan keadaan pria itu.
Di tempat lain.
Hean baru saja menjabat tangan beberapa orang seperti sebuah kesepakatan kerja. hingga Klien nya pergi, Hean baru bisa bernafas lega.
memijit tengkuk lehernya yang terasa kaku.
mungkin inilah efek karena tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari terakhir.
"Ap-pa...". hingga celoteh anak perempuan kecil membuatnya mendongak mencari sumber suara.
Bellavia Dirga, putri semata wayang Hean itu sudah semakin tumbuh sehat. tidak ada yang menyangka kalau bayi itu tadinya lahir sebelum waktunya. dengan perkembangan yang sangat cepat, Bella nama panggilan putri Hean itu tak kalah dengan bayi seusianya. bahkan di usianya yang menginjak 8 bulan itu Bella sudah mampu berbicara, walaupun hanya sepatah kata yang hanya orang-orang terdekatnya yang bisa menerjemahkan nya.
"Papa..." Ibu mengajari Bella untuk mengucap kata Papa ketika mendekati Hean.
"Ap-pa...". celoteh Bella itu tentu saja membuat Hean tersenyum bahagia. rasa lelahnya karena pekerjaan seperti hilang sudah hanya karena melihat putrinya itu.
Tangan kecil Bella perlahan terangkat. meminta Hean mengambil alih tubuhnya dari gendongan sang nenek. Seperti mengatakan betapa Bella rindu dengan gendo nyaman sang Papa.
"Sini... oohh... putri Papa...".
Hean dengan penuh hati-hati mengambil Bella. mendudukkannya di pahanya dan sesekali berbicara berharap Bella merespon komunikasi itu. sedangkan Ibu juga ikut duduk menemani mereka.
"Bella... anak Papa kemana saja tadi?". tanya Hean dengan suara khasnya dan otomatis di respon putrinya dengan tersenyum lebar sambil menggerakkan kaki dan tangannya bersamaan.
lucu sekali...
"Kamu tidak tidur...?" tanya Hean lagi.
Bellavia Dirga, seperti hadiah terindah yang Tuhan berikan pada Hean. gara-gara Bella, sudut pandang Hean tentang dunia juga berubah. menatap Bella untuk pertama kalinya setelah keluar dari rumah sakit kala itu, mampu menggetarkan jiwanya. Hean seperti merasakan sesuatu yang amat aneh. rasanya seperti ia kembali jatuh cinta pada suatu objek. sama seperti ketika ia melihat Agnes dan Hema dulu.
__ADS_1
Apakah ini ketiga kalinya Hean jatuh cinta?
Dengan pengalaman yang minim akan bayi dan segala sesuatu yang menyangkut anak kecil, Hean memberanikan diri merawat Bella dibantu dengan Ibu juga tentunya.
walaupun sempat kerepotan di awal, tapi nyatanya waktu perlahan membuat Hean paham dan mengerti apa yang harus ia lakukan.
dan sekarang lihatlah, bagaimana Bella tumbuh tak kurang suatu apapun.
"Bella sudah tidur tadi... dan Ibu ajak kesini untuk melihatmu apakah sudah selesai atau belum..." jawab Ibu. sedikit memijit tangannya di harapan Hean berharap putranya itu peka tentang apa yang sedang terjadi.
"Hean..." panggil Ibu. karena Hean seperti tidak tau kode yang Ibu berikan.
"Ya?".
"Sepertinya Ibu akan sering pegal bersamaan dengan Bella yang tumbuh besar... lihatlah, baru menggendong sebentar saja tangan Ibu sudah mati rasa..." keluh Ibu.
"Hm..." jawab singkat Hean. pria itu tetap sibuk berkomunikasi dengan Bella dan melucu.
"Bagaimana kalau Ibu tidak kuat lagi menggendong putrimu Yan?" rengek Ibu.
"Saat Ibu tidak bisa menggendong Bella, saat itu pula Bella sudah bisa berjalan Bu... tenang saja..." jawab Hean bijak. walaupun sebenarnya ia tau kemana arah pembicaraan Ibu barusan.
"Tapi Yan-,".
"Ibu...". Hean memotong ucapan Ibunya. tatapannya beralih pada sang Ibu yang tengah cemberut. "Hean sudah bilang kan? Hean tidak mau memikirkan pernikahan, berkomitmen untuk hidup bersama seseorang..." ucap Hean tegas. mungkin sudah beberapa kali ia mengatakan hal itu di depan Ibu. bahkan sampai lupa untuk menghitung jumlahnya.
"Impian Hean cuma satu... membesarkan Bella sampai dewasa dan membahagiakan putri Hean agar tidak merasa kurang sedikit pun Bu... hanya itu..." lanjut Hean.
"Jadi tolong Bu... jangan membahas pernikahan lagi, dan Ibu juga berhenti untuk menjodohkan Hean pada putri teman-teman Ibu... Hean tidak mau Bu..." pinta Hean penuh mohon.
Karena beberapa kali Ibu memang berusaha untuk mengenalkannya ada anak temannya.
Hean hanya tidak mau Ibu sampai melakukan hal itu.
"Tapi, bagaimana kamu nanti Yan? Ibu tidak selalu bisa menemani kamu dan Bella... Ibu sudah tua..." keluh Ibu.
"Ibu akan terus menemani kami... menemani Bella sampai Bella dewasa..." ucap Hean.
"Karena hanya Ibu dan Ayah yang mengerti Bella... karena kalian lah yang menyayangi Bella dengan tulus..." ucap Hean.
***
__ADS_1