
HAPPY READING...
***
Sepanjang hari Hema hanya memikirkan kejadian yang tak pernah ia kira sebelumnya. bahkan sampai menjelang siang, tangan gadis itu gemetar hebat. keringat dingin juga membasahi pelipis dan sebagian kemeja yang ia kenakan.
Apalagi jantungnya, detak jantungnya masih berdebar kencang hampir copot dari tempatnya.
Ingin rasanya ia berteriak, meluapkan segala kekesalan kekecewaan harapan bahkan takdir yang seperti tak mengijinkan Hema merasakan ketenangan dan kebahagiaan.
"Gue sangat merindukan lo Hema".
Sebuah perkataan yang mampu membuat suasana hatinya semakin buruk. saat dimana ia sudah berusaha untuk melupakan semuanya, kembali menata hidupnya yang hancur tiba-tiba dia datang kembali mengobrak-abrik hatinya untuk kesekian kali.
"Lo sakit Ma?" tanya rekan kerja di sebelah Hema. sejak tadi ia menyadari bahwa gelagat Hema sedikit aneh setelah keluar dari ruangan CEO.
"Tidak mbak...".
"Tapi lo berkeringat cukup banyak...". semakin khawatir apalagi dengan wajah Hema yang sedikit memucat.
"Apa perlu obat?".
"Tidak mbak... Terima kasih..." tolak Hema dan kembali bekerja seperti semula.
Hingga jam istirahat benar-benar telah tiba. disaat yang lain memutuskan untuk mencari makan siang di luar, yang Hema lakukan adalah beristirahat. memejamkan mata sambil menahan rasa yang tidak enak dalam tubuhnya.
Aduhh... gumamnya. walaupun begitu tak ada siapapun yang tau kalau Hema tengah mengaduh menahan sakit.
erharap rasa sakitnya hilang setelah digunakan untuk beristirahat sejenak.
Dalam suasana jam istirahat, di ruangan CEO Hean tengah menyantap makan siangnya. duduk di sofa yang berada di sudut ruangan sambil sesekali mengecek ponsel. membalas pesan yang sejak pagi belum tersentuh sama sekali.
Saat tengah menikmati makanan di meja, salah satu kondimen mengingatkan Hean pada suatu hal.
senyumnya seketika terukir jelas.
"Apa semua karyawan juga makan siang di Cafetaria?". pertanyaan itu tertuju kepada asisten pribadi yang sejak tadi duduk sambil mengecek pekerjaan Hean.
"Iya... ada juga yang mencari makan diluar..." lanjutnya. karena kadang menu cafetaria juga membosankan bagi sebagian karyawan. seperti makan siang kali ini, nasi dengan lauk ayam bakar juga kondimen lainnya seperti sambal, lalapan juga bihun goreng.
Bihun goreng yang sedikit sama dengan mie panjang umur yang selalu Ibu buatkan ketika Hean ulang tahun.
Apa dia makan di Cafetaria kali ini?
Hean penasaran.
mie buatan ibunya hampir mirip dengan makan siangnya kali ini.
dan Hean jelas mengingat bagaimana Hema begitu menyukai makanan itu.
Hean segera mempercepat makan siangnya. mengejar waktu untuk sekedar melihat Hema nantinya.
"Bereskan semua nya..." ucap Hean dengan mulut masih penuh oleh makanan terakhirnya. bangkit dari tempat duduk dan berlari ke arah pintu. Hean ingin memastikan apakah Hema juga makan di Cafetaria siang ini atau tidak.
Tapi, langkah pria itu seketika terhenti. melihat pemandangan yang sedikit menyesakkan.
"Hema...". Sandy dengan panik berusaha untuk membangunkan Hema yang pingsan di meja kerja.
__ADS_1
beberapa kali menepuk pipi gadis itu agar Hema mampu membuka mata.
"Bangunlah...". tapi gadis itu tetap memejamkan mata dengan keringat yang membanjiri keningnya.
Sandy hendak mengangkat tubuh gadis itu, tapi seseorang lebih dulu datang.
"Ada apa?". ternyata Asisten pribadi Hean yang datang. wajahnya terlihat panik begitu juga pria di belakangnya itu.
"Saya tidak tau pak... Tiba-tiba dia sudah seperti ini..." adu Sandy.
"Hema... bangun...".
"Bawa ke mobil saya sekarang...".
Sebagai seorang Atasan yang baik, Hean tak mau ambil resiko. meminta sangat Asisten dan Sandy membopong Hema keluar dadi Perusahaan.
"Baik Pak...".
Mobil telah siap di depan Perusahaan. Sandy beserta Asisten benar-benar membopong Hema dan segera melarikannya ke rumah sakit. "Kembalilah bekerja..." perintah Hema tak bisa di ganggu gugat.
"Baik pak," jawab Sandy lemah. tadinya ia ingin ikut mengantarkan Hema ke rumah sakit. tapi mendapat perintah untuk tetap bekerja membuatnya pasrah.
hingga Sandy hanya mampu melihat mobil hitam yang membawa Hema semakin meninggalkan Perusahaan.
***
Langit Ibu kita telah beralih senja. di atas ranjang rumah sakit, Hema terbaring lemah dengan infus di tangan kirinya.
wajahnya tak lagi pucat tapi masih terpejam seperti terakhir kali datang.
bahkan demi menunggu Hema, pria itu meninggalkan pekerjaannya.
karena menemani Hema seperti sebuah tanggung jawab baginya.
Hingga perlahan mata gadis itu mulai mengerjab membiasakan oleh cahaya lampu kamar rawatnya.
"Hema..." panggil Hean lega. pada akhirnya gadis itu telah bangun dari pingsannya.
Tangan Hean hendak menggenggam tangan Hema, tapi segera di tepis tanpa ragu. Hema tak sudi melihat pria itu ada di sini. dan dirinya juga bertanya-tanya kenapa bisa berada di ruangan serba putih ini.
Gue dimana?
Karena terakhir kali mengingat, Hema tertidur di meja kerjanya.
"Lo di rumah sakit Hema..." ucap Hean menjelaskan. memberi jawaban atas pertanyaan yang mungkin membuat Hema kebingungan tentang keberadaannya saat ini.
Hema melengos masam. reka adegan kenapa ia bisa seperti ini mulai teringat jelas. semuanya jelas karena pria di depannya itu.
pria yang tiba-tiba datang dan mengusik kehidupan rumit yang Hema alami selama ini.
"Gue mau pulang,".
Sedikit keras kepala memang, sama seperti sikap gadis yang dulu.
berusaha bangkit dan terlihat baik-baik saja.
"Istirahat lah Hema..." tolak Hean. kembali mendorong Hema agar tidur lagi.
__ADS_1
Dan tangan gadis itu kembali menepis tangan Hean. menolak perintah yang pria itu berikan kepadanya. "Siapa lo sampai bisa memerintahku seperti ini?".
Hean bukan siapa-siapa baginya. jadi tak ada alasan bagi Hema untuk patuh dan menuruti keinginan pria itu. termasuk beristirahat lagi di ruangan yang tidak ia sukai. apalagi dmegan selang infus yang terkadang, mempersulit pergerakannya.
Tanpa takut dan ragu, Hema mencabut infus yang ada di punggung tangannya. sedikit meringis karena rasa nyeri akibat jarum itu dan berniat pergi.
"Hema!".
Bahkan Hema tak memperdulikan panggilan Hean barusan. dirinya langsung berjalan keluar sambil menekan punggung tangannya agar darah tak keluar dari sisa tusukan jarum infus.
Hema terlalu sakit hati melihat Hean. apalagi sempat tertipu tadi pagi. orang yang telah mempora-porandakan hatinya tiba-tiba kembali dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Hema benci dipermainkan olehnya. apalagi ucapan pria itu tadi pagi. yang mengatakan rindu dengan begitu mudahnya.
Langkah kaki Hema benar-benar membawanya keluar dari Rumah sakit. meninggalkan Hean yang terlihat berlari mengejarnya. "Hema, tunggu...".
"Hema..." panggil Hean lagi. kali ini telah mampu menghentikan langkah Hema agar tidak pergi dari sana.
"Apa lagi?".
"Ada dengan mu?".
"Lo yang ada apa?" bentak Hema.
Kenapa lo datang disaat gue belum siap Hean? kenapa lo kembali disaat luka yang pernah lo berikan saja belum sembuh?
Bahkan yang membuat Hema kesal adalah, Bagaimana pria itu terlihat biasa saja. tak ada sedikit pun penyesalan yang terlihat dari manik matanya itu. atau memang sejak awal hanya Hema yang menggunakan perasaannya?
apa yang dia saja yang terlalu berharap dengan setiap perlakuan manis pria itu? hingga hanya Hema saja yang menderita sedangkan Hean tidak sama sekali.
"Gue hanya ingin pulang... hidup gue adalah milik gue... lo tidak berhak untuk itu..." ucap Hema dan benar-benar pergi. menghentikan taxi di depan sana dan meninggalkan Hean ynag masih berdiri dengan wajha kebingungan.
"Hiks...".
Hema membanting tubuhnya di kasur. meluapkan rasa kesedihan yang entah kenapa jauh lebih menyakitkan dari yang ia rasakan selama 4 tahun belakangan.
"Hema...".
Bersamaan dengan itu, pintu Apartemen terbuka dengan derap langkah kaki tergesa-gesa masuk ke dalam kamar Hema.
ia tau siapa pemilik langkah kaki itu, siapa lagi kalau bukan Sasa.
gadis itu telah kembali pulang. dengan penuh rasa menyesal Sasa menghampiri Hema yang tengah menangis sesenggukan. entah kenapa Sasa tak tau kejadian apa yang telah menimpa sahabat yang saat jam istirahat tadi siang. karena Sasa baru tau hal itu beberapa menit sebelum pulang dari rekan kerjanya yang bilang kalau Hema pingsan.
"Ada apa?". lagi dan lagi, hanya Sasa yang benar-benar ada untuk Hema. mengelus pucuk kepala Hema menunggu gadis itu bercerita tentang apa yang telah terjadi.
"Di kembali Sa... Hean kembali..." adu Hema.
Deg...
Walaupun bukan berita baru bagi Sasa, tapi tetap menbuat jantungnya serasa berhenti berdetak. terkejut karena pada akhirnya Hema tau tentang semuanya.
"Bagaimana dengan hidup gue? huhuhu...".
Malam itu, hanya terdengar kesedihan dari Hema. menutup hari-hari begitu melelahkan dan menguras tenaga.
***
__ADS_1