Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
68. Seperti Ruang Sidang.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"Lepasin!". Hean masih berontak. menyentak kadar tangan Bima yang berulang kali memaksanya untuk segera pergi. sedangkan Hean hanya ingin mendengar sepatah kata dari gadisnya. lihatlah bagaimana kekecewaan Hema terhadapnya saat ini. tangisnya tak kunjung berhenti membuat Hean juga merasakan kesedihan yang sama.


Pikirannya kalut, di sisi lain ia ingin menjelaskan bahwa bukan dia yang menghamili Agnes, tapi di sisi lain ia juga butuh dukungan dari Hema.


"Lo percaya gue kan Ma?" tangannya penuh iba. berharap Hema mengatakan iya atau sekedar menganggukkan kepala. itu saja...


Bukan hanya Hema, Sasa membuang muka tiap kali tak sengaja bertatapan dengan Hean.


entah kenapa sulut baginya memaafkan pria itu. pria yang selalu menabur luka untuk sahabatnya.


Andai Sasa punya wewenang, ingin sekali dirinya melampiaskan amarahnya terhadap pria itu. menyumbang beberapa pukulan untuk membalas rasa sakit hati.


"Hema... gue mohon percaya sama gue... kali ini saja..." pinta Hean lagi.


"Pergilah Yan...".


Sebuah kata keluar dari mulut Hema. mengusir pria itu pergi dari hadapannya.


entah kenapa kabar mengejutkan tentang kehamilan Agnes sangat menyakitinya.


walaupun belum resmi menjalin hubungan dengan Hean, hatinya seperti patah untuk kedua kalinya.


Hiks... Hema hanya bisa menangis dalam hati. entah kenapa selalu takdir buruk yang berpihak padanya. tak ada sedikitpun kebahagiaan yang sempat Hema rasakan.


"Pergilah Yan...". berulang kali hanya itu yang Hema ucapkan.


walaupun ia tak tau apa yang akan terjadi nantinya. mungkin Hema juga tak akan bisa kembali seperti semula. senyum yang sempat kembali itu akan benar-benar pergi untuk selamanya.


"Ayo!". Bima juga tak henti-hentinya memaksa Hean segera meninggalkan tempat itu.


membawanya ke rumah untuk bertemu kedua orang tua dan juga adik kesayangannya.


Baginya, Agnes adalah segalanya. berani ada yang menyakiti, harus pula berurusan dengannya. dan sekarang, tujuan Bima hanya satu. membawa Hean agar bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan terhadap Agnes.


"Tunggu sebentar sialan!". umpat Hean kesal. menggenggam tangan Hema dan mengulang lagi pertanyaan yang sama.


"Lo percaya ucapan gue kan Ma? lo percaya kalau bukan gue yang melakukannya kan?".


Gue mohon Hema... percayai ucapan gue kali ini...


"Entahlah Yan... gue tidak tau harus mempercayai yang mana...". Melepaskan genggaman tangan Hean dan bersiap untuk kembali ke dalam Unitnya.


"Pergilah Yan... selesaikan masalah yang lo ciptakan sendiri...".


Setelah mengatakan itu, Hema benar-benar masuk ke dalam Apartemennya. menutup pintu itu rapat-rapat dan menangis disana.


"Hema... buka pintunya... Hema!".


Terus saja menggedor tapi tak mendapat jawaban apapun.


"Hema...".


Dan yang Hean ingat dari ucapan Hema terkahir kali adalah, memintanya pergi.


Sepanjang perjalanan, Hean tak bersuara sama sekali. bahkan untuk menyeka darah di wajahnya saja ia tak mampu. pikirannya hanya melayang mengingat bagaimana Hema tadi. menangis begitu memilukan.


bahkan tak menyadari dengan tatapan Bima yang sesekali mengamatinya dari spion di depan sana.


30 menit berlalu. Mobil berwarna putih itu mulai memasuki gerbang sebuah rumah mewah di Ibukota.


Bima memarkirkan mobilnya rapi bersama dengan deretan mobil lainnya.

__ADS_1


"Bawa dia turun..." ucap Bima pada salah satu anak buah yang telah berdiri sigap menanti kedatangannya sejak tadi. membuka pintu menuruti keinginan pria itu.


"Gue bisa sendiri..." bentak Hean ketika pria berbaju hitam itu hendak menyentuh lengannya.


Hean bukan tahanan perlu diawasi. ia bisa jalan sendiri masuk kedalam rumah itu.


Entah apa yang dipikirkan Hean saat memasuki halaman luas di depan sana hingga tak menyadari bahwa bukan dirinya saja yang menjadi tamu di rumah mewah itu.


Ayah? Ibu... Tatapan Hean langsung tertuju pada pasangan di depan sana. mata keduanya yang membuat karena terkejut membuat Hean benar-benar merasa bersalah. jelas terlihat kekhawatiran di manik mata orang tuanya.


"Hean...". Ibu menjadi satu-satunya orang yang membuka mulut melihat kedatangan putranya.


"Hean...".


Hati ibu mana yang hancur melihat wajah putranya yang babak belur seperti ini. wajah tampan itu berubah memar dengan bekas darah yang mengering.


"Hiks...".


Jangan khawatir Ibu... Hean baik-baik saja... begitu arti tatapan Hean pada Ibunya.


"Bima, ini hasil perbuatan mu?".


Pria berkacamata dengan postur tubuh tinggi mulai bersuara. jelas terlihat kalau pria itu adalah si pemilik rumah yang tak lain adalah Ayahnya Bima dan Agnes.


terlihat sangat arogan dan ambisius.


"Ya Pa...".


Bima hanya ingin sedikit memberi pelajaran padanya...


"Jadi bisa kita mulai sekarang?".


Ruang tamu itu berubah menjadi sebuah ruang persidangan.


Ada orang tua Agnes, Bima, beberapa anak buah mereka, Ayah dan Ibu Hean, dan Hwan sendiri.


"Iya...".


"Agnes hamil karena ulahmu..." ucap Papanya Agnes.


"Tapi Om-,".


"DIAM!" bentak pria itu. membuat Hean tak melanjutkan ucapannya.


"Apa kamu tidak pernah diajari sopan santun ketika orang tua sedang bicara?".


Bukan hanya dirinya saja yang diragukan, orang tua Hean pun ikut terlibat. Hean jelas kecewa, ketika didikan orangtuanya di pertanyakan. ingin rasanya Hean mengumpat. tapi ketika tatapannya tak sengaja melihat arah Ibu, wanita itu seperti memohon untuk Hean tetap diam. mendengarkan ucapan tanpa harus mendebatnya.


"Kamu tau kalau Agnes hamil?".


"Tidak,".


"Karena itu kamu memutuskan hubungan yang telah kalian jalin selama ini?".


Hean mengepal tangannya. ingin sekali menjawab dengan sudut pandangnya sendiri, tapi belum ada kesempatan.


"Kamu tau, gara-gara ucapan mu... Agnes ingin mengakhiri hidupnya...".


"Maaf menyela Tuan... kami sebagai orangtuanya Hean akan bertanggung jawab... saya akan meminta Hean untuk menikahi putri anda..." sela Ayahnya Hean.


sebagai orang tua, beliau pun kecewa terhadap Hean.


Putra yang dibesarkan dengan kasih sayang itu justru telah mengecewakan anak perempuan orang lain.


"Ayah...".

__ADS_1


"Sekarang giliran mu bicara Hean..." perintahnya.


"Aku... aku tidak akan bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak pernah ku buat...". Dengan lantangnya Hean bersuara. menyulut emosi siapa orang yang ada di ruang tamu itu. bahkan Papa dari Agnes sudah berjalan mendekat. ingin memukul wajah Hean yang tidak tau diri.


"Apa?".


"Tunggu Pa," cegah Bima.


"Semua itu bukan perbuatan Hean Om... Agnes bukan hamil anak ku...".


"Lalu anak siapa? apa kamu menuduh Agnes berhubungan dengan orang lain selain dirimu Yan?". nafas pria itu naik turun seirama dengan kemarahannya.


Ucapan Hean terdengar seperti omong kosong saja.


"Sungguh om, bukan aku yang melakukannya...". Hean masih bersikukuh. " Agnes bukan hamil denganku, tapi dengan orang lain...".


Hingga entah dari mana datangnya, tiba-tiba Agnes telah berdiri di hadapan Hean. mengangkat tangan dan menampar wajah pria itu tanpa ragu sedikitpun.


"Lo benar-benar tega Yan..." ucap Gadis itu dengan berderai air mata.


Agnes menangis mendengar ucapan Hean.


"Lo bohong kan Nes, lo pasti bohong... bukan gue kan?".


Hean terus saja percaya pada keyakinannya sendiri. bahwa bukan dia yang menghamili Agnes melainkan pria lain.


"Apa lo sepengecut itu Yan? kenapa tak mau mengakuinya? ini anakmu Hean..." teriak Agnes.


"Bohong... lo bohong...".


"Hean..." Ibu prihatin melihat semuanya. sedih sekaligus bingung harus berbuat apa.


"Tapi Bu-, bukan Hean yang melakukannya... bukan Hean...".


Percayalah pada Hean Bu... begitu sorot mata Hean bicara.


"Dia..." tunjuk Hean pada Agnes. menatapnya dengan begitu kebencian karena saat ini Hean merasa telah dijebak.


"Dia berselingkuh dan main gila dengan pria lain di London... aku melihatnya sendiri. Agnes dan pria itu berciuman dan masuk ke dalam Apartemen..." adunya.


Itulah yang Hean lihat beberapa hari yang lalu. saat ia mencoba menemui Agnes dan mengikis kerinduannya.


tapi apa yang Hean dapat saat itu?


kekecewaan saja.


"Apa lo punya bukti?" tanya Bima.


Degg... Hean terdiam.


Bukti?


Sial! Hean kesal. seharusnya ia membawa bukti perselingkuhan Agnes waktu itu.


"Tidak punya kan? jangan omong kosong Hean... jangan menyudutkan Agnes demi kebohongan lo saja..." tambah Bima.


"Ayah... Ibu... sungguh bukan Hean yang melakukannya...". Kali ini Hean meyakinkan kedua orang tuanya. berharap mereka percaya.


"Sudahlah nak... akui saja perbuatan mu... dan bertanggung jawablah...".


Ucapan sang Ayah benar-benar mematahkan harapan Hean.


tak ada yang bisa mempercayai ucapannya lagi. bahkan orang tuanya saja tak percaya.


Pria itu berdiri dengan lemas. menjatuhkan pandangannya menatap lantai ruang tamu itu. tak lagi ada pembelaan karena Hean tak punya bukti apapun.

__ADS_1


***


__ADS_2