
HAPPY READING...
***
Malam semakin larut. Hean memejamkan mata di bangku tengah mobil bersama Jio. sedangkan Dimas yang mengemudikan mobil membelah jalanan Ibukota yang mulai lenggang oleh kendaraan.
Setelah cukup lama berkumpul di Club malam, pada akhirnya Jio dan Dimas memilih untuk mengantarkan Hean terlebih dahulu.
bagaimana tidak? Hean tengah mabuk dan akan membahayakan nyawa semua orang jika berkendara sendirian.
Putus cinta adalah alasan Hean terlihat menyedihkan seperti ini. kekasih yang ia anggap sangat baik, tulus justru pemberi luka paling dalam.
Masih tak menyangka kalau Agnes menjalin hubungan dengan pria lain di belakang Hean. dan mungkin saja lebih dari ciuman yang mereka lakukan.
karena Hean masih melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, bagaimana keduanya masuk ke dalam Apartemen milik Agnes.
hanya mengobrol du dalam? jelas tak mungkin.
Apalagi Agnes jelas masih berstatus sebagai kekasihnya Hean. membawa masuk pria lain adalah kesalahan paling fatal.
"Gue mual..." gumam Hean.
"Nyet! berhenti, Hean mau muntah..." Jio panik. meminta Dimas untuk segera menepikan mobil itu agar Hean tidak muntah di dalam mobil.
"Hooeekk...".
Hean memejamkan mata sambil mengeluarkan isi perutnya. cukup lama, hingga pria itu kembali masuk ke dalam mobil dan melaju seperti semula.
Tiba di Apartemen, Hean berjalan sambil dipapah oleh kedua sahabatnya di sisi kanan dan kiri tubuhnya. berjalan cukup sempoyongan namun akhirnya sampai di depan pintu unitnya berada.
"Ah... Ah...". Nafas Dimas tersendat-sendat. tangannya perlahan menekan beberapa digit angka untuk masuk ke dalam sana.
Bruukk...
Tubuh Hean tergeletak di ranjang. sedangkan kedua sahabatnya berdiri dengan tatapan yang tak lepas mengamati Hean sambil mengatur nafas.
"Mati saja si br*ngsek itu..." umpat Jio kesal mendengar cerita Hean yang tengah diselingkuhi Agnes.
gadis tak tau di untung yang selalu membuat sahabatnya menderita. tapi Hean juga salah, karena pria itu terlalu bodoh dan mudah di perbudak oleh cintanya sendiri.
"Gue pusing melihat cerita hidupnya..." tambah Dimas. cerita hidup Hean yang begitu menyedihkan dan tidak ada habis-habisnya.
"Pulanglah... biar gue yang menemani Hean..." Jio bersuara.
karena ia juga lelah untuk kembali pulang.
"Serius tak apa?".
"Hm,".
Dinas sempat terdiam melihat ke arah Hean. dan pada akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. tak perlu khawatir karena ada Jio yang menginap disini.
"Baiklah gue pulang..." ucapnya dan berlalu pergi.
Tinggal Hean dan Jio yang berada di dalam Apartemen ini.
Melihat Hean yang tertidur pulas, Jio memutuskan untuk membersihkan diri.
Sesekali mencium bau tubuhnya yang tertempel aroma minuman keras.
__ADS_1
"Mandi saja lah..." putusnya.
Jio berjalan menuju ke arah kamar mandi yang ada di luar kamar Hean. takut jika ia mandi di dalam sana, tidur Hean akan terganggu.
menanggalkan pakaiannya dan berdiri di bawah guyuran air shower.
Jio benar-benar membasahi seluruh tubuhnya. meloloskan rasa penat dan lelah akibat seharian bekerja.
Cukup lama, hingga kegiatan mandi itupun selesai. dengan handuk kecil yang melingkar di tubuh bagian bawahnya, Jio berjalan kembali masuk ke kamar Hean. mencari pakaian yang bisa ia gunakan malam ini.
Untung saja size pakaian keduanya sama, jadi Jio tak perlu bingung menentukan pakaian yang ingin ia kenakan.
Celana pendek dengan atasan kaos polos berwarna putih.
Jio berdiri di depan cermin. mengacak rambutnya hingga sisa air dari rambutnya berkibar kemana-mana.
inilah kebiasaan Jio, tak mau mengeringkan rambutnya dengan benar.
Apa dia sudah tidur?
Entah kenapa Jio memikirkan Sasa tiba-tiba.
Apalagi hari ini adalah hari jadian mereka, entah keberapa tahun Jio tak mau susah-susah mengingatnya. tang penting dia dan Sasa akan terus langgeng seperti sekarang.
Dengan langkah yakin, Jio mengeluarkan ponsel demi untuk menghubungi kekasihnya itu.
cukup lama hingga panggilan teleponnya akhirnya tersambung juga. "Sudah tidur?". tanya Jio dengan nada lembut. langkah kaki pria itu benar-benar keluar dari Apartemen Hean menuju ke unit dimana Sasa berada.
"Buka pintunya..." pintanya.
Walaupun Sasa sempat terkejut dengan permintaan Jio, tapi yang dilakukan gadis itu tetap bangkit dari tidurnya dan berlari ke arah pintu. dan benar saja, Jio sudah berdiri di depan pintunya sambil menempelkan ponsel di telinga. seutas senyum melengkung sempurna ketika Sasa membuka pintunya.
"Heheh... boleh gue masuk?". Jio mengalihkan pembicaraan.
"Eh," cegah Sasa percuma, karena pria itu sudah menyelonong masuk lebih dulu tanpa memperdulikan Sasa.
"Jio, ini sudah malam..." bentak Sasa masih dengan suara pelan, takut Hema akan terganggu dan bangun.
"Lalu?". Jio tak peduli.
"Mau apa lo?" tanya Sasa bingung. bagaimana tidak? malam-malam kekasihnya itu datang tanpa meminta persetujuannya dulu.
"Mau mengeringkan rambut...". setelah mengatakan itu, Jio langsung menuju ke kamar Sasa. masih dengan seenaknya sendiri.
"Jio..." panggil Sasa.
Benar saja, pria itu langsung duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambut basahnya. sebenarnya hanya alasan saja, karena tujuan Jio kesini adalah ingin melihat kekasihnya saja.
"Sayang..." panggil Jio dengan manjanya.
melihat pantulan diri Sasa yang tengah berdiri melipat tangan di ambang pintu kamar.
"Bisa tolong keringkan sebentar?".
Ck... merepotkan saja..
Sasa sungguh mengantuk, bahkan matanya saja ingin segera terpejam lagi.
namun, tak ada salahnya menuruti keinginan Jio. membuat langkahnya mendekati Jio dan mengambil alih hairdryer dan melakukan tugasnya dengan telaten.
__ADS_1
"Lo tidur di tempat Hean?" tanya Sasa. ia jelas menduga kalau Jio memang sengaja tidur di unit sebelah.
"Hm,...". menikmati sentuhan Sasa sambil memejamkan mata. anggap saja ia tengah berada di salon.
"Kenapa?".
Apanya yang kenapa?
"Tidak perlu alasan untuk gue menginap di tempat Hean bukan? kami sahabatan sejak lama...".
"Iya gue tau...tapi Yo..." ucap Sasa. mendekatkan wajahnya dan mengendus-endus. Sasa seperti mencium aroma yang berbeda dari kekasihnya.
"Apa?". Jio panik. ikut mengendus tubuhnya sendiri.
"Lo minum kan?".
Duaarrrr...
Petir seperti meledak tepat di atas kepala Jio.
"Akk... itu...". Bahkan untuk berbohong saja, lidahnya terasa kelu.
"Jangan bohong Jio! gue tidak bisa dibohongi...". Kesal, itulah yang Sasa rasakan saat ini. entah sudah berapa kali ia meminta agar Jio menjauhi minuman keras. karena minuman keras tak ada manfaat sama sekali.
"Sayang... dengarkan gue..." merampas hairdryer dari tangan Sasa. pokoknya menjauhkan barang-barang berbau tajam dari Sasa. kalau tidak mungkin kepalanya akan jadi sasaran nanti. karena marah, bisa saja Sasa menggetok kepala Jio dengan apapun termasuk hairdryer tadi.
"Jio..." Sasa berontak karena Jio memaksanya duduk di pangkuan pria itu. tapi apalah daya, tenaganya jelas kalah dibandingkan Jio. hingga Sasa memang duduk di pangkuan Jio, tapi melengos tak sudi menatap pria itu.
"Tolong percaya ucapan gue kali ini..." bujuk Jio.
Ck...
"Gue hanya minum beberapa gelas saja..." ucap Jio terdengar jujur. karena yang sebenarnya terjadi memang seperti itu, kalau dia ikut mabuk mungkin ketiganya akan tidur tanpa bisa pulang seperti sekarang.
"Gue menemani Hean tadi... dia yang mabuk...dan itulah alasan gue menginap disini...sungguh Sa, gue tidak bohong..." ucap Jio terdengar seperti sebuah penjelasan. .
Sepertinya alasan itu cukup masuk akal juga... batin Sasa. walaupun masih menunjukkan wajah kesalnya.
Bagaimanapun Sasa hanya tak mau Jio terlalu akrab dengan minuman keras. ia tak mau Jio mati muda hanya karena minuman sialan itu.
Ya kali, gue tidak mau jadi janda muda... batin Sasa.
"Jangan marah..." bujuk Jio lagi. memperlihatkan binar matanya penuh harap yang mampu membuat Sasa luluh.
sial! gue benci tatapannya...
"Em, ... baiklah, gue maafin kali ini..." ucap Sasa masih dengan egonya yang sedikit tinggi.
"Awas saja kalau lo bohong..." ancamnya terdengar serius.
"Aaa... makasih sayang...". merengkuh tubuh Sasa dan menghujani pipi gadis itu dengan banyak ciuman.
"Jio...". teriak Sasa. di detik selanjutnya menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan, sadar bahwa suaranya mampu membangunkan Hema di kamar sebelah.
"Pelankan suaramu..." bisik Jio.
Dan malam itu, malam milik Sasa dan Jio. tak tau sampai jam berapa pria itu baru kembali ke unit Hean. yang jelas sudah masuk dini hari dan setelahnya baru bisa tidur nyenyak sampai pagi hari.
***
__ADS_1