Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
42. CEO Baru.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tahun baru telah berlalu beberapa hari yang lalu. Instansi pemerintah, perusahaan yang bergerak di bidang jasa telah buka seperti hari-hari biasa.


Semua aktifitas telah kembali normal dan berjalan sesuai semestinya.


jalanan kembali sesak penuh oleh kendaraan.


apalagi dengan anak-anak sekolah yang mulai menerima pelajaran seperti biasa.


Bersamaan dengan itu, salah satu Perusahaan raksasa di Ibukota juga telah mempersiapkan segala sesuatu. apalagi kedatangan dari CEO bari sudah jauh-jauh hari di persiapkan.


Hari ini, CEO yang katanya begitu disiplin akan datang ke Perusahaan untuk pertama kalinya.


bahkan para karyawan sudah bersiap sejak tadi. dalam hati juga penasaran seperti apa pria yang akan bertanggung jawab memimpin mereka semua.


"Terimakasih pak...". Hema tak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada petugas kebersihan yang memang baru selesai membersihkan meja para staf karyawan.


lalu duduk di kursinya dan bersiap bekerja.


Beda dengan rekan satu timnya yang terlihat sibuk berdandan mempersiapkan diri agar dilirik di atasan baru nantinya, Hema justru sama sekali tak berniat melakukannya.


gadis yang tidak terlalu tinggi itu hanya memakai riasan wajah tipis. rambut pendek nya juga terlihat jatuh di bahu di tambah dengan sedikit pewarna bibir agar tidak terlihat pucat. itu saja.


Hema sama sekali tidak berniat untuk mencari perhatian siapapun. termasuk dengan atasan barunya yang entah seperti apa nanti.


tapi walaupun terlihat biasa saja, ada satu pria yang selalu memperhatikan Hema.


Pria yang bekerja satu tim dengan Sasa itu sering kali mencuri-curi pandang terhadapnya. tapi semua itu hanyalah angan saja. karena hampir 4 tahun lamanya, Hema tak menghiraukan pria itu.


"Ini buatmu...". Seperti pagi ini. tanpa diminta pria itu datang ke lantai dimana Hema bekerja sambil menyodorkan segelas cokelat panas yang baru saja dibeli.


"Gue tidak minta kan?". tentu saja Hema tak mau langsung menerima pemberian pria itu.


apalagi mereka tidak terlalu akrab walaupun Sasa bersikukuh menjodohkan mereka, bahkan memberi nomor ponsel Hema kepadanya. berharap Hema bisa membuka hati untuk pria lain.


Sandy, itulah nama pria itu.


"Eh... itu, Sasa yang memintanya... katanya lo suka cokelat..." ralat sandy. menggunakan nama Sasa padahal gadis itu tak tau apa-apa.


Mendengar nama Sasa, tentu saja Hema berubah pikiran. melihat cokelat panas di pemberian Sandy dan menerimanya walaupun dalam hati masih tak semudah itu.


"Terimakasih," jawab Hema singkat. seharusnya Sandy cukup tau diri untuk segera pergi dari sana, tapi yang ia lakukan adalah tetap diam berdiri di depan Hema seperti menunggu sesuatu untuk dikatakan.


"Mau apa lagi?". Jelas Hema tak nyaman dengan keberadaan Sandy.


ck, ngapain lagi sih?


"Em, itu... bagaimana kalau akhir pekan kita nonton film bareng?". Sandy mencoba untuk memberanikan diri mengajak Hema pergi di akhir pekan. tidak ada salahnya hujan mencoba lebih dekat dengan Hema? mungkin saja dari nonton bareng, hubungan keduanya semakin baik.


"Sepertinya gue sibuk...".


Hema tak mau memberi harapan pada Sandy. kalau ia tak suka tak perlu juga berbelas kasih. yang ada nanti Sandy akan semakin berharap Hema menerima cintanya.


"Oh begitu ya...".

__ADS_1


dari nada bicaranya jelas memperlihatkan berapa kecewanya Sandy. bahkan harapannya langsung pupus saat itu juga.


tangannya sedikit terkepal di samping badan dengan tatapan menunduk ke arah lantai berwarna putih tersebut.


Setelah kepergian Sandy, Hema menjatuhkan bahunya di kursi. Agghhh... mengeluarkan rasa tak nyaman dan tentu saja dilihat oleh rekan sampingnya.


"Seharusnya lo tidak menolak secara langsung Ma..." sarannya. karena jawaban Hema tadi benar-benar membuat Sandy sakit hati mendengarnya.


"Gue hanya tidak mau memberinya harapan palsu...".


Akan lebih sakit hati nantinya jika Sandy terlalu berharap pada sebuah kenyataan yang begitu pahit.


pria itu akan semakin sakit kalau Hema hanya memberinya harapan palsu saja.


"Gue tidak menyukai nya..." lanjut Hema.


tertarik pada pria bukan lagi salah satu hal yang ingin Hema rasakan dalam hidup. hatinya telah cukup mati rasa.


"Kenapa?".


"Entahlah..." Hema juga bingung menafsirkan apa yang ia mau.


"Gue tidak mau menerima pria lain selain berteman... saat ada yang bilang suka, gue justru merasa risih dan pada akhirnya memilih menghindarinya..." adu Hema.


itulah yang ia rasakan saat ini.


"Gue juga bingung... ada apa dengan hati gue...?".


"Mungkin masih ada satu nama yang bersemayam di hati lo... karena sejatinya tidak akan ada nama yang bisa masuk saat di hati lo masih ada penghuninya...".


Benar... karena dia masih belum pergi dari hati gue...


tanpa sadar Hema membenarkan hal itu. karena walaupun waktu telah berlalu begitu cepat, nama pria itu justru semakin dalam berada di hatinya. Hean.


"Cobalah untuk membuang dan melupakan yang pernah terjadi... mulailah hidup baru, karena masa lalu hanya akan terus berada di belakang lo...".


"Apa gue bisa?".


Dia terlalu dalam masuk dalam hatiku...


"Coba saja... lo mana tau kalau tidak mencobanya dulu... mulailah mencoba dengan membuka hati lo kepada pria lain, Sandy misalnya...".


karena saat ini hanya pria itu yang terlihat jelas menaruh perasaan pada Hema.


Hal pertama yang Hema lakukan adalah mengamati cup cokelat panas pemberian Sandy. perlahan menyeruputnya dan merasakan minuman itu.


tapi bukannya membuat Hema relaks, ia justru kembali teringat dengan momen Cokelat panas.


"*Kenapa lo suka cokelat panas?".


"Ya... karena gue suka...".


"Alasannya?".


"Karena dia tidak terlalu pahit seperti kopi tapi tidak semanis teh...kayak lo, lembut...".


bahkan Hean mengatakannya sambil mencium singkat bibir Hema.

__ADS_1


"Heaannn*!".


"Agghh...".


Benar, Hean terlalu dalam masuk ke dalam hati Hema. bahkan banyak kenangan kecil yang selalu berkaitan dengan pria itu.


Lihatlah, bagaimana gue bisa melupakannya?


bukan karena cokelat panas, tapi karena kenangannya yang berkaitan dengan cokelat...


Lamunan Hema kembali buyar ketika rekan kerja menyenggolnya.


Apa? begitu sorot matanya bicara.


tapi Hema langsung ikut bangkit melihat rombongan yang baru saja tiba.


CEO baru tiba?


Hema tak berani mengangkat pandangannya ketika beberapa orang hendak melewati meja kerjanya.


berdiri tertunduk sambil menatap ujung sepatunya sama persis yang dilakukan rekan kerja satu timnya. tidak ada yang berani menatap Atasan barunya itu.


Hingga derap langkah kaki seperti terhenti, tapi Hema dan lainnya justru semakin dalam menunduk. seharusnya mereka bisa melihat apa yang terjadi, tapi punya nyawa berapa sampai melakukan hal itu? cari aman saja daripada kena masalah. karena kabar yang beredar, CEO baru itu sangat galak dan terlalu disiplin.


Langkah kaki mulai terdengar menjauh dan pintu ruangan CEO pun terbuka, terdengar mereka masuk ke dalam membuat Hema dan lainnya bisa bernafas lega.


Agghh... syukurlah...


Apa? memang tadi apa yang terjadi?


yang lainnya sibuk menerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Lo melihatnya?".


"Tidak...". Hema juga menggelengkan kepalanya. mana tau dia seperti apa pria yang melewati meja kerjanya barusan.


Toh tidak ada gunanya juga Hema bisa atau tidak melihat seperti apa sosok Atasan barunya itu. karena pekerjaannya tidak terlalu terhubung dengan beliau, karena ada rekan kerjanya yang memang langsung berhadapan dengan Atasan itu.


Di dalam ruangan CEO.


Pria yang baru menjabat sebagai CEO Perusahaan ini langsung duduk di kursi sambil alisnya terangkat seperti memikirkan sesuatu hal.


Apa gue salah lihat?


detik selanjutnya ada sebuah rasa penasaran yang menggelitik hatinya. wajah dan postur tubuh gadis yang baru saja ia lihat seperti mengingatkannya pada seseorang.


Tapi wajahnya benar-benar mirip...


"Apa ada sesuatu yang mengganggu Pak?".


Asisten yang berdiri di samping CEO ikut penasaran melihat gelagat aneh di hari pertama Tuannya bekerja.


"Tidak,...".


"Baiklah... ini berkas-berkas pekerjaan awal Anda...".


***

__ADS_1


__ADS_2