
HAPPY READING...
***
Sudah seminggu sejak kejadian naas itu. Agnes, wanita itu masih hidup tapi seperti mati. jantungnya masih berdetak tapi entah kemana jiwanya melayang pergi meninggalkan tubuhnya yang hanya bisa terbaring di rumah sakit.
Wanita itu seharusnya bangun dan menjaga putrinya. tapi nyatanya, untuk membuka mata saja Agnes tidak bisa.
Sedangkan bayi perempuan yang dilahirkannya masih berada di ruang NICU. menjalani perawatan khusus karena lahir sebelum waktu yang ditentukan.
Sama seperti Agnes, bayi perempuan itu juga berjuang untuk tetap bertahan. untung saja bayi perempuan itu lahir dari keluarga yang kaya, jadi tak ada masalah apapun mengenai biaya yang dikeluarkan untuk merawatnya.
Ibu dan Mama sesekali datang ke rumah sakit untuk melihat akan ada keajaiban yang Tuhan berikan pada Agnes. berharap wanita itu segera bangun dan melihat dunia lagi.
tapi keyakinan mereka belum menuai hasil sampai sekarang.
"Hean akan pergi beberapa hari Bu..." pamit Hean pada Ibunya.
Ada urusan yang harus ia selesaikan untuk saat ini. Hean sudah tau semuanya. dan semakin cepat ia menyelesaikan masalahnya, semakin cepat pula Hean menemukan kebahagiaannya lagi.
"Apa tidak bisa di undur Yan? Agnes belum juga ada kemajuan...". Sejenak Ibu menolak. baru seminggu sejak Agnes melahirkan tapi Hean seperti tidak sabar untuk kembali beraktifitas.
"Ada masalah penting yang harus Hean selesaikan Bu..." jawab Hean lagi.
Ini demi membuktikan kalau ucapan Hean bukan lah kebohongan... agar Ayah kembali mempercayai ucapan Hean...
Karena Hean jelas mengingat sikap Ayah waktu itu. yang tak mempercayai ucapannya kalau bukan Hean yang menghamili Agnes.
tapi untuk saat ini, Hean tidak bisa mengatakan yang sejujurnya sebelum mempunyai bukti.
"Berapa hari?".
Ibu hanya tidak mau Hean pergi terlalu lama. bagaimanapun di saat seperti ini, Hean tidak bisa terlalu jauh dari keluarganya.
"Mungkin seminggu...". Hean juga tidak bisa terlalu yakin dengan perkiraannya. tapi seminggu mungkin cukup baginya untuk menemukan orang yang ia cari.
"Jangan terlalu lama Yan...". pesan Ibu lagi tapi kali ini tak bisa mencegah kepergian putranya.
"Hm...".
Hean, sejenak menatap dari balik kaca ruangan NICU dimana putri kecil dari Agnes berada. Aku akan menemui Ayah kandungnya ... mau tak mau dia harus bertanggungjawab...
Hanya itu yang bisa Hean lakukan. karena bagaimanapun bayi yang baru dilahirkan Agnes memiliki ayah.
Setelah itu, Hean benar-benar bersiap untuk berangkat ke London.
***
"Kasihan mbak Agnes...".
Intan duduk di salah satu kursi yang ada di cafe. bersama Dimas, mereka sejenak mengobrol dan membicarakan masalah yang terjadi di rumah tangga kakaknya.
__ADS_1
"Iya gue juga tidak menyangka kalau Agnes koma dan melahirkan putrinya sebelum waktunya..." tambah Dimas.
Ia mendengar kabar itu dari Intan beberapa waktu yang lalu.
Apa gue boleh memberi tau kak Dimas ya? sejenak Intan bimbang. ada sesuatu yang ingin ia bagi dengan kekasihnya itu. apalagi Intan tak bisa memendamnya sendirian.
"Ada apa In?". Dimas curiga melihat ekspresi Intan yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa lo ingin sesuatu?".
"Kak...".
Bagaimana kalau kak Hean marah nanti? gue kan sudah berjanji untuk diam dan tidak memberitahu siapapun...?
"Hei!". Dimas melambaikan tangannya di depan wajah Intan. karena gadis manis itu malah melamun bukannya menjawab pertanyaan darinya.
"Ahhh... tidak...". Intan tidak jadi mengatakan apapun.
Pasti ada sesuatu yang Intan sembunyikan...
Dimas tentu tau dan hafal bagaimana sifat Intan. gadis itu selalu terlihat risau ketika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. seperti saat ini.
"Lo pernah dengar tentang kehamilan Agnes?". pancing Dimas. mungkin saja masalah ini yang ingin Intan katakan tapi masih terlihat ragu.
Benarkah dugaan gue... batin Dimas membenarkan ketika ekspresi Intan langsung berubah panik ketika membuka pembicaraan tentang Agnes.
"Kak Dimas juga tau? dari Kak Hean juga?" tanya Intan penuh semangat.
Masalah yang mana ya kira-kira? Dimas terus menerka-nerka. karena masalah begitu banyak menimpa rumah tangga Hean dan Agnes. jadi Dimas tidak tau apa yang Intan ketahui saat ini. mungkin masalah baru yang belum Dimas ketahui.
"Kak Hean berencana pergi hari ini..." lanjut Intan.
Eh, Hean pergi? kemana?
Benar saja. Dimas belum tau tentang hal itu. Kenapa Hean pergi dan alasannya.
"Oh..." jawab Dimas ber-oh ria. padahal pria itu tak tau kemana arah pembicaraan Intan.
"Kak, apa Kak Hean akan berhasil menemukannya?" tanya Intan penasaran. bagaimanapun Intan juga berharap kakaknya bisa bertemu dengan pria yang menghamili Agnes. jadi hidup Hean akan kembali seperti dulu. itulah keinginan Intan.
"Ha?".
Dimas tiba-tiba bingung. berhasil menemukan siapa?
"Apa kakak bisa menemui ayah dari anak Mbak Agnes di London?".
Dimas membulatkan mata. terkejut bukan main mendengar ucapan Intan barusan.
Jadi? Jadi benar Anak Agnes bukanlah anaknya? siapa pria yang menghamili Agnes itu? begitu hati Dimas bertanya-tanya.
Ya, walaupun Dimas pernah mendengar ucapan Hean tentang Agnes yang membohonginya tapi Dimas tidak tau melanjutkan hal itu. bahkan ketika Hean telah mengetahui semuanya.
__ADS_1
"Jadi Hean juga mengatakannya pada Lo?". Dimas ingin tau lebih.
Intan mengangguk. itulah yang Hean katakan tadi malam. pria itu berencana pergi ke London untuk menemui pria yang telah menghamili Agnes.
"Walaupun Intan kasihan pada mbak Agnes, tapi kakak juga berhak bahagia bukan?".
Bagi Intan, kakaknya adalah segalanya. Intan ingin Hean bahagia dalam segala hal.
"Dia pergi sendiri?". Dimas penasaran, andai Hean juga mengatakannya lebih awal Dimas tak akan keberatan untuk menemani pria itu pergi. karena di London, mungkin Hean tak akan merasa sendiri.
"Hm,".
----
Setelah mengantarkan Intan kembali ke rumah, Dimas pun juga kembali pulang. yang dilakukan pria itu adalah menelepon Jio memberi tahu tentang kepergian Hean.
"Dimana lo?".
Sambil duduk dan menselonjorkan kakinya di ranjang.
"Lo tau kalau Hean pergi ke London?".
"Benarkah?".
Sudah Dimas duga kalau Jio juga tidak mengetahui kepergian Hean.
Hean memang tak mengatakan apapun ataupun sejak kejadian Agnes melahirkan berberapa hari yang lalu.
"Gue juga baru tau dari Intan tadi... Hean sudah tau kalau bayi yang dilahirkan Agnes bukan anaknya... dan Hean ke London untuk mencari pria itu..." lanjut Dimas bercerita.
"Apa kita perlu membantunya?". Mungkin saja ada yang Dimas dan Jio lakukan untuk membantu sahabat mereka saat dalam masalah.
"Memang apa yang bisa kita lakukan?".
Jio dan Dimas juga kebingungan apa yang perlu mereka lakukan untuk membantu Hean.
Pada akhirnya keduanya memutuskan untuk tidak melakukan apapun. menunggu Hean datang dan kabar apa yang ia bawa nanti.
Selain itu, Jio juga tengah mempersiapkan diri untuk menemui keluarga Sasa beberapa hari lagi.
Ya... Jio berencana mempertemukan kedua orang tuanya dengan orang tua Sasa. membuktikan bahwa Jio bukan pria yang hanya bermain-main pada gadis itu.
"Selamat nyet... semoga lancar..." ucap Dimas dengan tulus.
tak menyangka kalau satu demi satu sahabat Dimas telah menemukan kebahagiannya. Jio yang pada akhirnya benar-benar membuktikan kesungguhannya untuk meminang Sasa dan menjadikannya wanita satu-satunya.
"Oke... udah dulu ya...".
"Hm...".
Sambungan telepon itupun terputus. Dimas bergegas mandi dan membersihkan diri sebelum malam tiba.
__ADS_1
***