
HAPPY READING...
***
Hean masih mencengkeram kerah kemeja yang Bima kenakan. tatapannya tersirat sebuah kekecewaan dan kemarahan dari seorang Ayah yang melihat putrinya menderita.
"Apa kalian semua buta?". umpat Hean tak terima. Rumah keluarga Agnes begitu besar dan ada beberapa pelayan juga. tak mungkin semua orang tidak melihat Bella sebelum jatuh.
dan apa yang dilakukan orang tua Agnes hingga meninggalkan Bella sendirian?
Hean hanya tak terima. putri kesayangannya justru tidak diperlakukan baik oleh keluarga Agnes. padahal di keluarganya, Bella adalah kesayangan bagi semua orang. bahkan Ibu saja tak pernah membiarkan cucunya sendirian sedetik pun.
"Bagaimana Bella bisa terjatuh dan anak tangga? dimana kalian semua?".
bentak Hean. membuat semua orang terdiam. hanya Mama yang masih terisak sejak tadi. memperlihatkan kesedihannya atas apa yang menimpa Bella.
"Kalian sendiri yang meminta Bella untuk tinggal bersama kalian. lalu? apakah ini yang kalian maksud? membahayakan nyawa putriku...".
Sungguh Hean tak habis pikir dengan kelakuan orang-orang di depannya. apalagi dengan pria paruh baya yang masih tak bereaksi sama sekali. seperti tak menyesal telah mencelakai Bella.
"Apa yang kalian lakukan hingga Bella sampai jatuh? membiarkannya saja? atau menyuruh bayi yang baru bisa merangkak itu untuk menuruni tangga sendirian?" selidik Hean.
gila jika mereka melakukan hal itu pada Bella.
Bella, bayi berusia 8 bulan itu baru bisa merangkak. seharusnya ada orang dewasa yang menemani Bella setiap saat.
"Maafin Tante Yan..." sesal Mama.
sungguh ia tak bermaksud untuk mencelakai Bella. bahkan insiden jatuhnya Bella tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Maaf? apa Bella akan baik-baik saja setelah saya memaafkan Anda nyonya?". Hean murka. tidak semua permasalahan bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf.
"Tidak kan?".
Kondisi Bella tidak akan langsung berubah. entah apa yang terjadi di dalam dana, Hean tak bisa melihat putrinya. tapi mungkin Bella tidak baik-baik saja melihat ada bekas noda darah di kemeja Bima dan gaun yang Mama kenakan.
mungkin Bella memang terluka cukup serius.
Masih dengan kemarahan yang ada di ambang batas, Dokter keluar dari ruangan.
"Keluarga Bellavia Dirga?".
Semua orang menatap ke arah dokter. seperti mengatakan bahwa mereka semua adalah keluarga dari pasien.
"Saya Ayahnya Dok..." sela Hean. dari semua orang yang ada disana, mungkin hanya dia yang berhak atas segalanya. karena secara hukum, Hean adalah Ayah dari Bellavia.
"Bisa bicara sebentar?". Dokter ingin mengatakan sesuatu pada Ayah dari pasien.
Hean menganggukkan kepala dan mengikuti kemana Dokter pergi.
Cukup jauh dari orang-orang, Dokter pun mengatakan sesuatu hal menyangkut pasiennya.
"Ada sedikit pergeseran pada tulang leher Bellavia dan membutuhkan operasi secepatnya...".
Hean pias. dunianya serasa hancur berkeping-keping mendengar penuturan Dokter itu.
hal yang serius terjadi pada putrinya dan ia tak bisa melakukan apapun.
"Pasien juga kehilangan banyak darah karena luka di kepalanya hingga membutuhkan pendonor secepatnya... Bisakah Anda mendonorkan darah untuk putri anda Tuan?".
__ADS_1
Hean semakin pias. ia memang Ayah secara hukum negara ini, tapi Hean bukan Ayah kandung Bella. ia tak keberatan untuk mendonorkan darahnya kepada Bella, tapi masalahnya golongan darah mereka sama? hanya itu yang Hean cemaskan.
"Apa golongan darah Bella Dok?" tanya Hean penuh hati-hati.
"A- ...".
Hean kecewa. wajahnya benar-benar terlihat buruk. bukan ini yang ia mau tapi Tuhan seperti menguji hidupnya untuk kesekian kali.
"Golongan darah saya tidak cocok Dok..." adu Hean.
padahal ia sangat berharap bisa mendonorkan darahnya untuk sang putri.
Nyatanya Hean tidak bisa melakukan apapun.
Dokter pun paham mendengar cerita dari Hean. tak masalah jika tak ada hubungan darah sekalipun, Hean tetap menjadi Ayah dari Bella.
"Berusaha keras Tuan, putri anda sangat berharap pada Anda...".
Ucapan Dokter menjadi ucapan terakhir yang Hean dengar malam itu.
Setelahnya, dengan penuh kemarahan Hean berjalan ke arah Papanya Agnes. tangannya terkepal kuat bersiap untuk menghajar pria tua di depan sana yang telah mencelakai Bella.
"HEAN!". teriak Bima.
berlari menghalau agar Papanya tak mendapatkan pukulan dari Hean.
telat sedikit saja, Hean benar-benar memukul wajah pria itu tanpa ragu.
"Br*ngsek!" umpat Hean meluapkan kekesalan hatinya.
"Lihatlah kelakuan kalian semua! putriku dalam bahaya dan membutuhkan donor darah secepatnya...".
tapi nasi telah menjadi bubur, semuanya sudah terlambat.
"Gue menyesal menyerahkan Bella pada kalian... kalian benar-benar br*ngsek!". umpat Hean lagi.
"Cukup Yan...". Tiba-tiba suara seseorang berniat melerai kegaduhan di Rumah sakit itu.
Ayah...
datang bersama Ibu dan juga Intan setelah mendapat kabar dari Bima.
mereka bergegas menuju Rumah sakit dengan perasaan yang hancur sama seperti yang lain.
terutama Ibu, yang tak menyangka kalau cucu kesayangannya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Cukup Yan... cukup...". Ayah menarik tangan putranya. meyakinkan Hean bahwa Bella akan baik-baik saja nanti.
"Bella yah... putri Hean dalam bahaya... hiks...". Air mata yang coba Hean tahan sejak tadi akhirnya lolos begitu saja di bahu Ayah.
tempat paling nyaman bagi Hean untuk mengadu.
"Tenangkan dirimu dulu...".
Ayah masih menjadi sosok yang tenang sama seperti dulu. walaupun begitu jelas terlihat raut cemas dalam wajahnya. karena yang terjadi pada Bella tak bisa dikatakan baik-baik saja.
"Bella membutuhkan darah dan Hean tidak bisa melakukan apapun...".
Ayah tau betapa sedihnya Hean saat ini. menyalahkan dirinya sendiri dan tak bisa melakukan apapun untuk menolong Bella.
__ADS_1
"Bagaimana Hean bisa mendapatkan golongan darah A- atau O- untuk Bella yah...?".
Karena semua anggota keluarga Hean memiliki golongan darah yang sama, yaitu B+.
sedangkan Bella membutuhkan golongan darah A- atau O-
"Tenang dulu... tenang, kita akan memikirkan hal ini bersama-sama...".
Sedangkan Intan, gadis itu terlihat sibuk mengirim pesan kepada seseorang. mengabari tentang keadaan saat ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi Nyonya?" selidik Ayah pada wanita yang tengah duduk di depan sana. mencari tau asal usul kejadian yang membuat Bella sampai terjatuh dan di rawat di Rumah sakit.
"Maafkan saya..." ucap Mama membuka suara.
mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di rumahnya.
ketika Mama baru saja mengambil selimut untuk Bella, sedangkan bayi berusia 8 bulan itu telah merangkak keluar kamar tanpa sepengetahuannya.
"Saya tidak menyadari kalau Bella merangkak keluar kamar sendirian..." aku Mama.
"Dan tak ada orang lain saat itu?". Ayah sedikit marah mendengar alasan wanita itu. sangat teledor jika membiarkan Bella merangkak sendirian. padahal di rumahnya, Ibu tak pernah meninggalkan Bella dalam hal apapun. bahkan untuk mengambil minum di dapur saja, istrinya rela sambil menggendong Bella daripada meninggalkannya.
Orang tua Agnes tak ada yang bersuara. mereka semua terdiam.
"Seharusnya Anda tidak menyalahgunakan kepercayaan Hean seperti ini... jika anda tidak mampu, anda tidak perlu meminta Bella untuk tinggal bersama kalian..." ucap Ayah telak.
untuk pertama kalinya Ayah bersikap tegas pada mantan besannya itu.
mungkin karena sikap orang tua Agnes yang keterlaluan juga.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Bella, data tidak akan memaafkan kalian..." ancam Hean.
setelah ini, tak akan ada lagi yang bisa membawa Bella jauh dari nya.
Bella akan tetap berada di rumah Hean sampai kapanpun.
---
Dini hari ketika Jio terbangun, pria itu membulatkan mata terkejut setelah membaca pesan yang Intan kirim kepadanya.
"Ada apa sayang?". Tanya Sada penasaran sambil sesekali mengucek matanya.
"Bella masuk rumah sakit...".
"Ha? kenapa?". Sasa terkejut bukan main. dalam dirinya ia bertanya-tanya apa yang membuat Bella dilarikan di rumah sakit.
"Terjatuh dari tangga...".
What?
"Sayang, golongan darah mu apa?" Jio bertanya pada Sasa. mungkin golongan darah istrinya itu sama dengan Bella.
"AB... kenapa?".
"Tidak cocok... Bella butuh darah A- atau O-..." jelas Jio.
Malam itu, semua orang terlihat panik.
Hean yang meminta dang Asisten untuk mencari tahu apakah ada golongan darah yang ia butuhkan dari karyawan di perusaan dan juga PMI yang menyediakan darah dengan tipe yang ia butuhkan.
__ADS_1
***