
HAPPY READING...
***
Sederhana saja... jika air matamu menetes ketika mengingatnya berarti dia masih segalanya...
-----
Hema duduk terdiam. memandang riak air kolam yang Mika ciptakan sedari tadi.
menyelami ucapan Zain yang memang ada benarnya. betapa ia hidup tapi merasa mati. dikeramaian, jutru terasa sunyi.
itulah yang Hema rasakan selama ini.
Dulu ia sempat bermimpi. terbang tinggi dengan seseorang yang ada ketika sayapnya dipatahkan oleh pria masa lalunya. Hema sempat percaya, tapi lagi dan lagi ia harus kecewa.
Hingga perlahan Hema sadar, tak ada pria yang benar-benar bisa ia percayai. cerita indah hanya ada dalam film dan novel, bukan pada kenyataan.
hingga Hema tak ingin melalui protes itu, jatuh bangkit kembali menyembuhkan luka membuka hati dan pada akhirnya kecewa lagi.
Tidak!
Hema tak mau melalui proses itu lagi.
"Tidak... gue bahagia..." lagi dan lagi. hanya kebohongan yang mampu Hema ucapkan dengan mulutnya.
berharap Zain akan mempercayai hal itu dan yakin bahwa Hema baik-baik saja.
Senyum palsu itu kembali terlihat. membuat Zain hanya ternganga tak bisa berkata-kata.
Kenapa lo selalu berbohong Hema?
Mungkin sebelum Zain mendengar dan tau kenyataan tentang Hema, ia akan terus berjuang untuk mendapatkan hati wanita itu.
tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya Zain bukanlah pria yang Hema inginkan.
ada nama lain yang masih menjadi pemilik hati dari Hema. yang pasti bukan Zain.
"Dimana kalungmu Ma?". Zain yang sejak tadi tak lepas mengamati Hema tiba-tiba tersadar akan sesuatu yang menarik perhatiannya.
kalung yang Hema pakai.
"Kalung?". Hema meraba lehernya dan memang hari ini ia sengaja tidak memakai nya. "Gue sengaja melepasnya..." jelasnya.
"Kenapa?" tanya Zain. padahal pria itu tau alasan yang membuat Hema tidak lagi memakai kalung itu di depannya seperti saat pertama kali bertemu.
"Apa karena gue sudah tau kalau kita tidak seiman?".
Hema terdiam.
Ucapan Zain barusan tidak sepenuhnya salah. karena Hema langsung menunjukkan kepercayaan yang ia anut lewat liontin di kalungnya ketika pertama kali Zain ingin bertemu lagi demgan Hema saat itu.
Zain tersenyum. walaupun Hema tak mengiyakan pertanyaannya, tapi jelas terlihat dari tatapan Hema yang sangat aneh. wanita itu seperti ketahuan telah menyembunyikan sesuatu dari Zain.
"Zain...".
__ADS_1
"Gue tau Hema..." ucap Zain jujur. ia sudah tau kalau sejak pertemuan mereka kala itu, hanya Zain lah yang terlihat antusias sedangkan Hema tidak sama sekali.
tapi Zain terlalu percaya diri untuk bisa membuat Hema jatuh cinta kepadanya. mengabaikan fakta bahwa keduanya berbeda keyakinan.
"Zain..." ucap Hema. sungguh ia merasa tidak enak karena Zain menyadari hal itu. walaupun sebenarnya Hema melakukan agar Zain tau bahwa keyakinan mereka saja berbeda.
banyak sekali perbedaan antara Zain dan Hema.
"Gue memang nyaman dengan lo Ma... tapi untuk merebut lo dari Tuhan lo, gue tidak bisa..." ucap Zain terang-terangan.
Sebesar apapun perasaan Zain pada Hema, pria itu tidak akan berani merebut Hema dari Tuhannya.
"Lucu kan?". Zain tersenyum seperti menertawai takdirnya sendiri. Hema seperti payung yang hanya menemani Zain kala hujan. dan pergi ketika matahari kembali bersinar.
Ya seperti itulah Hema.
"Lo tau Ma, apa penyesalan terbesar gue?" tanya Zain pada Hema.
"Apa?".
"Kehilangan cinta gue..." jawab Zain jujur. kehilangan sangat istri adalah penyesalan terbesar bagi Zain.
"Andai gue tau hidup istriku hanya sebentar, andai gue tau bahwa kehamilannya menjadi sebab ia pergi, gue tidak akan tinggal diam...".
Zain...
Hema menatap sedih sosok pria di sampingnya..
"Gue akan mewujudkan segala keinginannya, setiap detik gue akan mengatakan bahwa gue sangat mencintainya..." lanjut Zain. mungkin istrinya akan meninggal dengan senyum indah di wajahnya. mungkin istrinya akan tau betapa besarnya cinta Zain untuk nya.
"Tapi, tidak semudah itu Zain..." bantah Hema dengan mata yang menggenang menahan tangis.
"Menangislah Hema..." ucap Zain. karena ia tau bagaimana rasanya terluka karena cinta.
walaupun ia dan Hema berbeda masalah.
"Sederhana saja Ma... lo menangis ketika mengingatnya, tandanya dia masih segala-galanya...".
Hema mungkin bisa saja membantah ucapan Zain barusan dengan segala keyakinan. tapi tak ada yang tau apa yang hati kita inginkan.
Hema menyeka airmata yang bahkan belum sempat jatuh sama sekali. menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan dari Zain.
"Ayo kita temui Sasa dan Jio..." ucapnya mengalihkan topik pembicaraan. karena membahas masa lalu hanya kan membuat Hema mengingat semuanya. dan pada akhirnya ia akan kalah dmegan air matanya.
karena Hema sudah bertekad untuk tidak menangis km hanya karena masa lalunya.
"Hema..." panggil Zain. membuat Hema yang tadinya hampir melangkah kembali terdiam.
"Gue hanya tidak mau lo menyesal di kemudian hari...".
gue tau, Hean juga tengah kesepian sepet lo Ma...
Dari cara Hean bercerita kepadanya, Zain tau kalau Hean tengah berada dalam masalah yang seperti tidak ada jalan keluarnya selain menyerah.
"Tidak akan Zain..." jawab Hema yakin.
__ADS_1
Mau bilang apa lagi Zain kalau Hema tetap bersikukuh seperti itu. pada akhirnya Zain sambil menggendong Mika ikut berjalan mengikuti kemana kali Hema melangkah. menemui pengantin hari ini dan memberikan ucapan selamat.
Kedatangan Hema langsung disambut senyum indah dari Sasa.
"Selamat ya Sa..." ucap Hema dengan tulus. tapi segera Sasa membawa tubuh Hema dalam pelukannya. sangat erat seperti sahabat yang kembali di pertemukan setelah terpisah cukup lama.
"Terima kasih Ma.. terimakasih sudah datang...".
Betapa Sasa ingat bagaimana ia memohon agar sahabatnya itu datang ke pernikahannya.
dan Hema apda akhirnya datang, membuat Sasa terharu sekali gua bahagia.
"Selamat atas pernikahan kalian..." ucap Zain pada Jio dan Sasa.
karena kedatangannya kali ini adalah karena desakan Hema yang meminta Zain untuk menemaninya pergi. entah apa tujuan Hema. mungkin untuk membuat seseorang cemburu yang mengira kalau Zain adalah kekasih Hema.
"Terimakasih...".
"Terimakasih sudah datang...". ucap Joo dan Sasa bersamaan.
Mereka pun terlibat pembicaraan cukup lama. darinyang Hema beberapa kali memuji kecantikan Sasa yang memakai gaun pernikahan pada hari ini. juga Jio yang mengucapkan terimakasih karena hadiah pemberian Zain beberapa waktu lalu.
"Saya suka dengan parfum pilihan anda..." ucap Jio lagi.
"Benarkah? saya juga memakai parfum dengan merk yang sama..." jawab Zain.
sangat senang karena kado pemberiannya disukai Jio.
"Apakah Mika tidak rewel tadi?" Sasa ikut bertanya tentang gadis kecil yang beralih gendongan kepada Hema.
lucu karena postur tubuh mungil Hema yang mampu menggendong Mika.
terlihat seperti anak kecil yang menggendong anak kecil juga...
"Sedikit... tapi langsung kembali senang karena bermain dengan Hema..." jawab Zain seperti memuji bakat Hema yang mampu membuat anak kecil betah di lingkungan baru.
"Saya juga punya hadiah kecil untuk kalian...". Zain terlihat merogoh saku jasnya. mengeluarkan amplop yang membuat Jio dan Sasa kebingungan saat menerimanya.
"Apa ini?". Jio yang bertanya sambil menatap amplop itu.
"Buka saja sekarang..."perintah Zain.
Sasa langsung berantusias menunggu Jio membuka amplop itu. merobek ujung nya dan mengeluarkan isi di dalam sana.
"Ini?". Jio terkejut karena tak menyangka isi dalam amplop itu adalah tiket bulan madu untuk 2 orang.
"Semoga suka ya... saya tunggu di Singapura..." ucap Zain terlihat puas karena Jio dan Sasa sangat senang dengan hadiah pemberiannya.
"Aghh... ini sangat berlebihan..." Jio sungkan walaupun sangat senang karena memiliki tiket bulan madu dengan Sasa. mereka bisa pergi ke luar negeri secara gratis.
"Terimakasih ya Zain..." ucap Sasa.
"Semoga bahagia..." jawab Zain.
***
__ADS_1