
HAPPY READING...
***
3 hari sudah rumah yang biasanya terdengar ramai dan hidup, Tiba-tiba seperti tak berpenghuni.
tak ada suara tangis ataupun tawa dari Bella setiap kali Hean melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Seperti saat ini ketika Hean telah pulang dari bekerja. melangkah masuk ke dalam rumah berharap mendengar celoteh Bella menyambut kedatangannya. karena hampir setiap hari, Bella masih terjaga ketika Hean pulang bekerja. tersenyum yang mampu menghilangkan rasa penat pria itu.
Tapi, kini tak ada lagi sambutan dari Bella. putrinya itu telah tinggal bersama keluarga Agnes. membuat Hean kembali merasakan kesepian dalam hidup.
Apa dosaku terlalu besar? hingga kesepian yang selalu gie rasakan...
batinnya bicara. duduk menyandarkan tubuh masih dengan pakaian kerja yang melekat di tubuhnya.
Memang, hidup Hean tidak semulus jalan tol. berliku dan banyak rintangan. bahkan entah berapa kali Hean merasakan sebuah cobaan yang kerap mendera hidupnya. bukan hanya tentang cinta, segalanya.
Hean kira dengan memiliki Bella hidupnya hanya ada kebahagiaan saja. nyatanya, ketika bayi itu pergi semuanya berantakan. Hean sudah terlalu dalam menyayangi putrinya itu. Bella, sudah menjadi alasan untuk Hean tetap bahagia.
Merogoh saku jasnya, Hean membuka ponselnya. mengamati satu persatu gambar Bella di benda pipih tersebut. mulai dan Bella yang masih sangat kecil ketika keluar dari Rumah Sakit. Bella yang tengah dimandikan oleh Ibu, bahkan ketika tidurpun Hean tak lupa mengambil gambarnya.
Hingga tangannya teraih untuk menyentuh sebuah video di dalam sana.
Video pun berputar.
"Papa...". Suara ibu membuat Bella tersenyum dan ikut bersuara.
Mulut bayi kecil itu terlihat mengerucut menggemaskan. membuat Hean ikut tersenyum lagi.
"App... paa... appa... appa... ".
Sebuah kata kelurahan dari mulut Bella untuk pertama kalinya.
"Yan, kau dengar itu?". Ibu tentu saja sangat bahagia. itulah momen yang beliau tunggu-tunggu. ketika Bella untuk pertama kalinya berbicara. memanggil Papanya dengan penuh sayang.
Hean meletakkan ponselnya lagi. matanya memerah menahan tangis.
sedih mengingat Bella tak lagi ada di sini bersamanya.
"Agghhh...".
Hean marah. mengacak rambutnya kasar dan memejamkan mata.
ia kira kehilangan Bella bukanlah hal yang berat ketika Hean melepaskan Bella kepada orang tua Agnes saat itu. tapi sekarang ketika baru 3 hari tidak melihat putrinya, Hean merasakan kerinduan yang amat dalam.
Di kota lain.
Hema baru selesai mandi. dengan rambut yang sedikit masih basah, wanita itu berjalan menuju ke meja rias. menyiapkan hair dryer untuk membantu mengeringkan rambutnya.
Pekerjaan tidak ada habisnya. membuat Hema selalu tenggelam dalam pekerjaan tanpa menyadari banyak yang berubah di luar sana. termasuk ketika ia pertama kali mengetahui bahwa Hean dan Agnes telah bercerai. bahkan kondisi Agnes yang sekarang, membuat Hema sedikit prihatin sekaligus sedih.
__ADS_1
membayangkan bagaimana jika ia berada di posisi Agnes, pasti akan membuat semua orang sedih.
tapi bedanya Agnes memiliki keluarga yang lengkap, sedangkan Hema hanya hidup seorang diri.
Sebenarnya gue ingin melihatnya lagi... batin Hema bicara. hingga ia mengingat satu hal. membuat Hema bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah ranjang meraih ponselnya.
Hema membuka jadwal pekerjaan bulan ini. di kota mana saja yang akan ia kunjungi dalam sebulan ke depan.
Tidak ada Ibukota...
Sedikit kecewa karena tak ada Ibukota dalam jadwalnya bulan ini.
Padahal dulu ia sangat membenci Ibukota. tapi sekarang, Ibukota justru menjadi kota yang ingin Hema kunjungi lagi. tapi hanya sekedar singgah tanpa mau tinggal disana lagi.
***
Malam semakin larut. Disaat semua penghuni bumi telah tidur nyenyak, justru berbeda dengan Hean.
pria itu masih terdiam, duduk di teras sambil menikmati sebatang rokok yang hendak terbakar habis.
Asap dari benda bernikotin itu mengepul ke udara ketika Hean menghisapnya.
Sudah tengah malam tapi matanya enggan untuk terpejam. Entah kenapa malam ini, Hean sangat merindukan putrinya. ingin sekali ke rumah orang tua Agnes, tapi sudah terlalu malam. Hean tak mau mengganggu pemilik rumah.
Tapi baru saja menyingkirkan masalah Bella ponsel di sampingnya berdering. membuat Hean sedikit melirik untuk melihat siapa yang malam-malam menghubunginya seperti ini.
Bima?
Jantung Hean berdetak tak karuan ketika meraih ponsel dengan tangannya. dengan sedikit gemetar dan cemas, Hean mengangkat panggilan dari mantan iparnya itu.
"Halo".
"Hean!".
Jelas ada yang tidak beres dari cara Bima bersuara. seperti telah terjadi sesuatu.
"Ada apa ini?".
Detak jantung Hean semakin berpacu hebat.
sungguh ia mempunyai firasat yang sangat buruk.
"Cepatlah datang ke RS... sekarang!".
Hean mendengar perintah Bima. hanya saja ia bingung. apa yang terjadi?
kenapa Bima memintanya segera datang ke Rumah Sakit.
"Ada apa ini? kenapa ke Rumah sakit sekarang? siapa yang sakit?" Hean semakin panik.
Apa terjadi sesuatu pada Agnes? apa hanya wanita itu dalam bahaya?
__ADS_1
Karena memang sampai saat ini Agnes masih belum juga membuka matanya. padahal sudah hampir 9 bulan lamanya sejak kejadian saat itu. bahkan putri yang Agnes lahirkan saja sudah tumbuh sehat dan menggemaskan.
"Bella... putrimu...".
Hean lunglai. kakinya seperti tak mampu bertumpu dengan baik. ketika mendengar bukan Agnes yang sedang dalam bahaya. melainkan putri kesayangan Hean. Apa yenga terjadi? kenapa dengan Bella?
Hean tak mampu berpikir dengan baik. membayangkan sesuatu hal yang buruk terjadi pada Bella, sudah membuat dirinya takut dan panik.
"Bella, kenapa dengan putriku?" bentak Hean.
bahkan saking paniknya tangan Hean terkepal kuat. ingin sekali memukul apa saja yang ada di depannya saat ini.
"Awas saja kalau terjadi sesuatu pada putriku!" ancam Hean.
"Gue tidak bisa jelasin sekarang... datang lah ke Rumah sakit sekarang...". pinta Bima menjadi ucapan terkahir sebelum akhirnya sambungan telepon itu terputus.
Dengan paniknya, Hean berlari ke dalam rumah. menuju ke kamar, menyambar jaket dan kunci mobil. tak ada yang membuat Hean sepanik ini sebelumnya. karena Bella adalah segala-galanya baginya.
Malam itu, Hean mengendarai mobil hitamnya dengan kecepatan penuh. membelah jalanan Ibukota tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri. tak peduli yang penting ia bisa sampai di Rumah Sakit dengan segera. melihat keadaan putrinya dan berharap baik-baik saja.
Suasana Rumah Sakit terlihat cukup sepi. Hean membanting pintu mobil dan langsung berlari mencari keberadaan Keluarga Agnes.
nafasnya berkejaran ketika tiba di depan IGD.
Ada Orang tua Agnes dan Bima disana. wajahnya terlihat tegang membuat Hean semakin panik dan mencari tau apa yang telah terjadi pada putrinya.
"Dimana Putriku?".
Pertanyaan yang Hean lontarkan ketika baru tiba.
Tak ada yang menjawab. yang terdengar hanya suara isak tangis dari Mamanya Agnes. yang terdengar seolah beliau saja yang merasa bersedih atas keadaan ini.
sedangkan pria paruh baya di sampingnya, hanya menundukkan wajahnya sangat dalam. menyesal, mungkin itulah yang beliau rasakan.
Tatapan penuh kebencian dari Hean langsung tertuju pada Bima. hanya pria itu yang mungkin mau menjawab pertanyaan darinya.
karena Bima juga yang meminta Hean untuk datang segera ke sini.
"Bella terjatuh..." lapor Bima.
Wajah Hean semakin tak terkontrol.
mendekati Bima dan mencengangkan kerah kemeja Bima tanpa takut sedikitpun. Rasanya Hean ingin sekali merobek mulut pria di depannya yang mengatakan keadaan Bella.
"Apa lo bilang?".
Hean kecewa. bukan ini yang ia inginkan. bagaimana putrinya bisa jatuh dan dilarikan ke rumah sakit. apa yang dilakukan orang-orang ketika Bella bersama mereka.
"Bella jatuh dari tangga..." ulang Bima.
"Br*ngsek!". teriak Hean murka.
__ADS_1
***