Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
115. Hutang Budi.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hean telah berada di ambang pintu sebuah ruangan. menyiapkan hatinya untuk melihat dan berterimakasih kepada sosok malaikat yang telah menyelamatkan nyawa putrinya.


karena dengan kemurahan hatinya Bella bisa dioperasi dan selamat.


untuk itu, Hean datang menemuinya dan melihat seperti apa malaikat berwujud manusia itu.


"Saya ingin bertemu dengan pendonor untuk putriku barusan..." ucap Hean pada Perawat di ruangan itu.


"Oh, silakan Tuan..." jawab Perawat mempersilahkan Hean masuk ke dalam sana.


Pandangannya langsung menjelajahi seluruh ruangan. mencari keberadaan seseorang yang Hean cari. hingga sebuah tirai di depan dana menutupi ranjang pasien. membuat Hean berjalan mendekat karena yakin disanalah seseorang itu beristirahat.


Langkah kaki Hean terdengar teratur, semakin lama semakin mendekat. hingga bukan hanya tirai pembatas yang ia lihat, melainkan kaki seseorang yang terlihat tengah selonjoran di atas ranjang pasien.


Tangan sedikit gemetar, Hean menyibak tirai itu.


Kreekk...


suara tirai tersibak membuat detak jantung Hean berdegup kencang. bahkan pandangannya tak sempat untuk berkedip sama sekali demi melihat di depan sana.


Tapi, seketika matanya membulat sempurna.


pemandangan di depannya yang mampu jantung Hean serasa berhenti berdetak.


melihat siapa yang tengah terbaring sambil memejamkan mata tersebut.


"Hema..." ucapnya dengan bibir bergetar saking tak percayanya dengan fakta yang terjadi saat ini.


Ternyata wanita di depannya itu, wanita yang sering Hean sakiti, wanita yang telah dibuatnya menangis berulang kali adalah wanita yang justru telah menyelamatkan nyawa putrinya. nyatanya hanya Hema yang sudi untuk memberikan darahnya untuk Bella.


"Hema...".


Hean mendekati wanita itu. menggenggam tangan Hema dengan perasaan campur aduk. antara senang, sedih dan merasa bersalah.


Mendengar seseorang memanggil namanya, Hema perlahan membuka mata. tadinya ia ingin memejamkan mata beristirahat untuk beberapa saat. apalagi seharian ia memang begitu lelah bekerja ditambah dengan mengendarai mobilnya ke Ibukota tanpa dibantu siapapun.


Tapi melihat Hean ada di sampingnya, rada kantuk yang bergelayut di matanya sirna begitu saja.


"Terimakasih Hema...". masih dengan menggenggam tangan Hema, Hean mengucapkan banyak terimakasih. jika bukan karena Hema, sampai saat ini Bella tidak akan menjalani operasi.


entah apa yang akan terjadi pada putrinya itu, jika tidak ada Hema.


"Memang apa yang gue lakuin?". Yang Hema lakukan bukanlah hal besar. jadi tak perlu bagi Hean sampai seperti ini.


Selagi Hema mampu, ia tak segan untuk membantu orang lain.

__ADS_1


"Kalau bukan karena lo, gue tidak tau apa yang akan terjadi pada Bella... gue tidak bisa berita apapun, hiks...".


Untuk pertama kalinya Hema terkejut melihat Hean tidak berdaya seperti ini. bahkan tanpa malu sedikitpun, pria itu menangis di hadapan Hema. menunjukkan betapa bingung sekaligus khawatirnya akan masalah yang menimpa Hean saat ini.


Sisi lemah Hean yang ditunjukkannya pada Hema, membuat wanita itu sadar. bahwa Bella benar-benar bagian terpenting dalam hidup Hean. Hema sadar betapa tulusnya Hean menyayangi putrinya itu seperti darah dagingnya sendiri.


Hingga tanpa sadar, tangan Hema perlahan terangkat. menyentuh pucuk kepala Hean dan mengelusnya lembut.


hanya begitu saja membuat hatinya gemetar.


Entah kenapa Hema merasa nyaman seperti ini. rasanya sama seperti masa lalu. ketika keduanya masih akrab dan pernah merajut mimpi bersama.


"Bella baik-baik saja bukan?" tanya Hema. ia hanya ingin memastikan apakah usahanya tidak sia-sia dengan sedikit menyumbangkan darahnya untuk menyelamatkan Bella.


"Hm," jawab Hean. masih dengan menenggelamkan wajahnya di lengan Hema. seperti menunjukkan sisi manjanya pria itu.


"Terimakasih Hema... terimakasih..." ulang Hean lagi.


kata itu mungkin tidak bisa membayar apa yang telah Hema lakukan untuk Bella.


"Apa lo akan mengucapkan kata itu terus menerus?" goda Hema.


melihat Bella baik-baik saja sudah membuat Hema lega. setidaknya ada bagian dari dirinya yang sangat berguna untuk orang lain.


"Gue berhutang budi sama lo..." ucap Hean.


"Apaan sih...".


wajah sedikit pucat masih terlihat setelah mendonorkan darahnya, membuat Hean terus menatap wajah Hema tak berkedip sama sekali.


"Kenapa?" protes Hema. menepuk wajahnya bingung dengan tatapan Hean barusan. Apa ada yang salah? atau riasanku berantakan? batinnya bicara.


"Apakah sakit Ma?". pertanyaan Hean membuat Hema bingung. sakit? sakit kenapa?


Tangan pria itu terangkat untuk menyentuh wajah Hema. membelainya dengan ibu jari seperti menandai seluruh permukaan wajah Hema.


"Lo terlihat pucat..." ucap Hean.


Hema salah tingkah. apalagi ini pertama kalinya mereka bertatapan dengan jarak sedekat ini. walaupun dulu pernah, tapi tetap saja ada kecanggungan yang Hema rasakan.


bahkan lebih dari itu, jantungnya seperti berpacu cepat.


"Gue tak apa-apa...".Hema memutus kontak mata dengan Hean. mengalihkan pandangannya ke arah lain yang penting tidak menatap Hean. karena berdekatan seperti ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


"Maaf..." ucap Hean tiba-tiba.


"Untuk?". Hema bingung. kenapa tiba-tiba Hean mengucapkan kata maaf. memang apa yang pria itu lakukan?


"Untuk semuanya..." aku Hean.

__ADS_1


banyak sekali hla yang Hean lakukan pada Hema di masa lalu.


Justru gue yang meminta maaf pada lo Yan... batin Hema. betapa ia sangat membenci Hean setelah kejadian malam itu. menyumpahi Hean dalam setiap langkah Hema. bersumpah agar Hean tak pernah mendapatkan kebahagiaan dan selalu menderita dalam hidup ini.


dan hal itu memang terjadi. membuat Hema merasa bersalah telah melakukan hal itu.


"Gue sudah tau semuanya Yan..." ucap Hema jujur.


Ya... ia memang sudah tau semuanya. tentang kebohongan Agnes, tentang pernikahan Hean dan juga semuanya.


Jio dan Sasa yang memberitahu Hema. jika bukan karena mereka berdua, mungkin sampai sekarang Hema akan terus membenci Hean.


"Ha?".


Dengan senyum yang mengukir bibirnya, Hema berucap "Iya... gue sudah mendengar semuanya dari Jio dan Sasa... tentang lo dan Agnes...".


Hema tau hal itu? Hean tak percaya.


"Justru gue yang harus meminta maaf sama lo..." ucap Hema. menatap manik mata Hean dengan sangat dalam.


"Karena gue pernah begitu membenci lo..." akunya.


Mendengar ucapan Hema barusan, entah kenapa Hean begitu lega. perasaan yang menyesak di dalam dada terasa hilang. apalagi dengan tatapan tulus dari Hema kepadanya, membuta Hean ingin sekali memeluk wanita itu.


"Karena... karena gue sempat menyumpahi lo agar tidak mendapatkan kebahagiaan sama sekali... hiks...". Hema menangis karena menyesal telah begitu buruk terhadap Hean. bahkan dengan Bella seperti ini juga mungkin karena bagian dari doa Hema di waktu lalu.


karena Bella adalah kebahagiaan Hean. dengan Bella yang sakit seperti ini sudah menghancurkan kebahagiaan pria itu.


"Maafin gue Yan..." pinta Hema.


Sedangkan Hean, pria yang memiliki hati seluas samudera itu tak mempermasalahkan semuanya. justru dengan mudah, pria itu memeluk Hema. membiarkan sang wanita menangis dalam pelukannya.


"Jangan menangis Ma...".


Entah sudah berapa lamanya mereka tidak sedekat ini. membuat debaran di atau mereka kembali seperti semula saat pertama kali Hema dan Hema saling mengenal satu sama lain.


 


Jio dan Sasa, tersenyum ketika melihat dua orang berjalan bersama menuju ke arah mereka.


Dalam pikiran masing-masing, mereka seperti merestui jika Hean dan Hema kembali menjalin hubungan seperti ini.


Dari tatapan Hema, jelas terlihat kalau wanita itu begitu bahagia. seperti kebahagiaan yang sempat hilang, kembali didapatkannya dalam wujud Hean.


"Jadi, sudah baikan?". Goda Jio pada sahabatnya.


"Ck..." Hean berdecak kesal. sedangkan Hema langsung menjaga jarak dan memilih duduk di samping Sasa tanpa mengatakan apapun. lebih tepatnya menyembunyikan rona malu yang menghiasi wajahnya.


***

__ADS_1


Cie... sapa yang suka Hean dan Hema baikan???


__ADS_2