
HAPPY READING...
***
Sampai pagi tiba, tak dapat satupun informasi yang Hean dan keluarga dapatkan.
"Apa kau bercanda?". Hean mencengkeram kerahasiaan kemeja yang dikenakan Asisten di depannya itu. matanya jelas tersirat kemarahan yang berkobar besar.
"Bagaimana bisa tidak ada satupun karyawan yang memiliki golongan darah seperti putriku?". Gigi Hean bergerutu. tak percaya dengan ucapan Asisten pribadinya di perusahan tempat mereka bekerja.
Padahal Hean berharap lebih sejak semalam. berharap ada satu orang yang bermurah hati menyelamatkan nyawa putrinya.
Sejak semalam, dengan dibantu Dimas juga Hean berkeliling ke PMI yang ada di Ibukota. tapi hasilnya nihil, tak ada satupun stok darah yang sama dengan Bella.
hingga yang dilakukan Hean adalah meminta Asistennya untuk mendata seluruh karyawan perusahaan yang memiliki golongan darah seperti Bella.
"Maaf Pak, saya sudah memeriksanya satu persatu..." jawab sangat Asisten. memeriksa data karyawan dan menanyakannya secara langsung.
sungguh Asisten itu telah melakukannya dengan teliti. tapi memang tidak ada satupun karyawan yang memiliki golongan darah seperti Bella.
Hean melepaskan cengkeraman tangannya. membuat tubuh pria di depannya itu sedikit terhuyung beberapa langkah.
Sial! sial! umpat Hean dalam hati. rasanya keputusasaan itu telah melingkupi hatinya. Hean tak bisa berpikir apa yang akan ia lakukan saat ini. semuanya sudah buntu.
Di taman Rumah sakit, pria menangis. masih dengan Asisten dan Dimas di sampingnya.
"Lihatlah... gue tidak berguna sama sekali...". keluhnya dengan air mata yang tak bisa terbendung.
untuk pertama kalinya Hean memperlihatkan tangisnya di depan orang lain. mungkin karena sudah lelahnya berusaha tapi tak menemukan hasil untuk menyelamatkan Bella.
"Golongan darah Bella memang sedikit langka di negara ini..." ucap Dimas. itu pula yang dokter katakan tadi malam.
"Tapi bukan berarti tidak ada bukan?" lanjutnya. karena Dimas yakin, selangka apapun, pasti ada stu orang yang sama dengan golongan darah Bella.
Keyakinan itu yang selalu bersama Dimas. dan sampai saat ini pria itu masih terus mencoba mencari pendonor untuk Bella.
bahkan Dimas juga membuat pengumuman di akun sosial medianya. berharap ada seseorang yang membaca dan tergerak hatinya untuk membantu Bella.
"Yakinlah bahwa ada orang baik yang membantu Bella..." ucap Dimas menyemangati sahabatnya.
Di tempat lain.
Jio juga berusaha untuk membantu Hean. mencari informasi di perusahaan tempatnya bekerja mungkin saja ada salah satu rekan kerjanya yang cocok untuk pendonor Bella.
"Yakin tidak ada satupun?" tanya Jio berulang kali. mungkin saja data di perusahaan salah atau bagaimana.
karena aneh jika tak ada satupun golongan darah yang sama dengan putrinya Hean itu.
"Tidak ada..." ucap rekan kerja Jio.
wanita di depan sana telah mengecek data komputer berulang kali. tapi memang tak ada satupun yang sama.
"Aggghh...".
__ADS_1
Jio frustasi.
ia ingin membantu Hean, tapi nyatanya tak semudah itu.
***
Sore hari.
Hema tengah mengemudikan mobilnya membelah jalanan antar provinsi. sudah 2 jam lamanya wanita itu berada di jalanan beradu dengan kendaraan lainnya.
"Jadi kabar itu benar? kalau Bella membutuhkan pendonor darah secepatnya?".
tanya Hema dengan seseorang lewat sambungan telepon.
"Tidak ada? yang benar saja...". sempat terkejut karena tak ada satupun orang dengan golongan darah sama seperti Bella.
Hema sempat melihat postingan terakhir Dimas semalam. dan terkejut ketika mengetahui bahwa yang membutuhkan pendonor darah adalah putri dari sahabatnya. untuk itu, Hema yang tengah bekerja tak jauh dari Ibukota memutuskan untuk sekedar singgah ke Ibukota untuk melihat langsung. setidaknya ada yang harus ia lakukan disana.
"Apa lo bekerja hari ini?".
Hema bertanya kepada Sasa lewat telepon.
"Sebentar lagi gue pulang..." jawab Sasa. ia akan pulang sedikit lebih awal karena ingin tau bagaimana keadaan Bella.
"Tunggu gue... gue ikut..." pinta Hema. ia ingin ikut melihat bagaimana keadaan Bella.
"Hm...".
Setelah sambungan telepon itu berakhir, Hema mempercepat laju kendaraannya.
"Cepat sekali..." ucap Sasa tak menyangka kalau Hema akan melakukan hal seperti ini karena Hean.
"Gue hanya ingin sedikit membantu Hean..." jawab Hema.
"Maksudnya?". Sasa kebingungan dengan ucapan Hema barusan.
"Sepertinya memang golongan darah gue sama seperti Bella..." ucap Hema ragu. terakhir kali ia mengetahui golongan darahnya adalah ketika Hema baru masuk dalam perusahaan dimana dia bekerja hingga saat ini.
"Benarkah?".
Sasa sampai melonjak saking tak percayanya.
ucapan Hema barusan seperti angin segar bagi mereka.
"Jangan beritahu siapapun dulu... gue hanya tak mau mereka kecewa karena terlalu berharap..." jawab Hema. walaupun ia telah mengecek golongan darahnya dulu, tapi hatinya masih diselimuti keraguan. biarlah nanti dokter yang memutuskan apakah ia bisa menjadi pendonor darah untuk Bella atau tidak. sebelum itu terjadi, Hema meminta agra Sasa tak memberitahu siapapun dulu.
"Oke oke...".
Mobil putih itu melaju ke arah Rumah sakit dimana Bella dirawat.
"Suster, saya mau menjadi pendonor darah untuk Bellavia Dirga...".
Ucapan Hema barusan sejenak membuat perawat di depannya terdiam. mencerna ucapan Hema sebelum pada akhirnya bersuara.
__ADS_1
"Saya tidak terlalu yakin, tapi silahkan di cek lagi apakah golongan darah saya sama dengan Bella..." lanjut Hema.
"Silahkan Nona..." perawat itupun tersenyum. mempersilahkan Hema untuk mengikutinya ke ruangan.
Masih ditemani Sasa, Hema melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum pengambilan darah untuk Bella.
"Bagaimana?". Tanya Sasa harap-harap cemas.
"Cocok..." jawab Hema dan menunggu perawat mempersiapkan alat untuk pengambilan darah.
----
Beberapa jam kemudian, Hean terkejut ketika dimintai tanda tangan untuk melakukan tindakan operasi untuk putrinya.
Siapa yang berbaik hati mendonorkan darahnya untuk putriku? batinnya bertanya walaupun di sisi lain Hean begitu bahagia. sekarang harapannya hanya satu, operasi Bella berjalan dengan lancar dan selamat. tak ada lagi yang Hean minta dari Tuhan selain keselamatan putrinya. karena, Bella adalah segalanya bagi Hean.
Di depan ruangan operasi, Hean menunggu bersama dua sahabatnya dan juga orangtuanya. sedangkan Orang yua Agnes, entah dimana mereka berada.
lagian Hean juga tak peduli dengan mereka. bahkan ingin mereka pergi dan menghilang dari pandangannya untuk selama-lamanya.
Operasi berjalan dengan lancar. Hean memeluk Jio dan menumpahkan airmata kebahagiaannya di sana.
"Syukurlah Bella baik-baik saja..." ucap Jio. pria itu juga sempat khawatir melihat keadaan putri dari sahabatnya.
bahkan Jio juga berusaha untuk melakukan yang terbaik seperti yang Dimas lakukan juga.
"Selamat ya Yan..." ucap Dimas menepuk bahu Hean. terimakasih karena sudah kuat dan berpikir positif tentang masalah yang menimpanya. karena telah menjadi sosok Ayah dan pria yang hebat bagi Bella.
"Ngomong-ngomong, siapa yang menjadi pendoror untuk Bella?" Jio penasaran. membuat Hean dan Dimas juga saling pandang. karena sejak tadi yang mereka pikirkan hanyalah Bella saja. tak tau siapa sosok malaikat yang menyelamatkan nyawa Bella barusan.
"Ada, dia sedang istirahat..." ucap Sasa tiba-tiba datang dan berjalan mendekat kearah 3 pria di depan sana.
"Sayang...?". Jio terkejut dengan kedatangan istrinya. ia kira Sasa akan menunggunya di rumah, tapi ternyata wanita itu juga berada di rumah sakit.
Sasa tersenyum manis dan berdiri di hadapan Hean Jio dan Dimas. raut wajahnya bangga dan senang itu terpancar jelas.
"Sayang, lo tau pendonor untuk Bella barusan?". Lagi-lagi Jio yang bersuara. penasaran dengan siapa sosok itu.
"Hm..." jawab Sasa.
"Dimana dia? gue akan berterimakasih karena telah menyelamatkan nyawa putriku..." ucap Hean penuh semangat.
"Ada, dia sedang istirahat disana..." tunjuk Sasa pada ruangan pengambilan darah barusan.
Tanpa berpikir panjang Hean langsung bangkit dadi duduknya.
berjalan menuju ke ruangan yang Sasa maksudkan tadi tanpa meminta pertimbangan dari sahabatnya.
Sedangkan Sasa tersenyum bangga, untuk pertama kalinya ia merasa telah melakukan hal yang baik bagi orang lain.
Semoga ini jalan untuk mereka... batinnya bicara.
"Siapa sayang?". Masih dengan Jio dengan jiwa kekepoannya.
__ADS_1
"Nanti juga tau sendiri..." jawab Sasa masih membuat teka-teki.
***