
HAPPY READING...
***
Minggu pagi, Hean sudah berdiri di depan Unit Apartemen Hema. menunggu gadis itu bangun dan membukakan pintu untuk nya.
Apa jangan-jangan dia masih tidur?
Padahal rencana olahraga bersama itu telah dibahas mereka semalam.. rencananya Hean dan Hema akan pergi berolahraga di jalan pinggiran Ibukota. sedikit berlari untuk membuat tubuh mereka sehat. apalagi Hema mengeluh sedang flu dan hidungnya mampet. jelaslah... gadis itu paling malam untuk berolahraga. itulah sebabnya sering sakit. beda dengan Hean, 3-4 kali ia gunakan untuk berolahraga serta membentuk otot tubuhnya.
Hean mengambil ponselnya untuk menghubungi Hema. berharap mampu membangunkan gadis di dalam sana. tapi ternyata Tuhan seperti berpihak padanya. pintu Apartemen itu terbuka dan menampakkan Sasa.
"Jadi lo yang menekan bell sejak tadi?". ngomel sensory karena Sasa terganggu dan akhirnya bangun dari tidurnya.
padahal Sasa berniat bangun siangan karena hari ini adalah hari minggu.
"Hema masih tidur?". Hean memastikan sambil kepalanya menyelinap mengintip ke dalam sana.
"Kenapa?".
"Katanya mau olahraga bareng, lo tau kan dia itu sering flu...". Hema memang seringkali terserang flu. hingga membuat Hean keheranan tentang daya tahan tubuh gadis itu yang terlalu lemah.
"Oke, gue bangunkan...".
"Eh, tidak perlu... gue saja yang membangunkannya..." cegah Hean dan langsung menerobos masuk ke dalam sana. tak peduli dengan tatapan aneh Sasa.
tapi bukan hanya sekali dua kali saja Hean seperti ini, masuk ke dalam kamar Hema tanpa permisi.
Hean langsung melangkah mendekati pintu kamar Hema. menarik gagang pintu dan sedikit mendorongnya. yakin karena Hema memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya.
Pertama kali yang Hean lihat adalah sosok gadis yang tertidur tenang dalam balutan selimut. sama sekali tak ada pergerakan disana. hingga seutas senyum mengembang di wajah Hean. seperti mendapatkan rezeki nomplok, pria itu penuh semangat menuju ke ranjang. merebahkan tubuh nya dan memeluk Hema dari belakang.
Agghh... rasanya enak untuk kembali tidur... batinnya.
Bahkan Hean sedikit cekikikan saja tak membuat Hema terbangun. heran karena senyenyak itu tidurnya.
Hean memeluk tubuh Hema lebih erat. merasakan rambut panjang yang menempel di hidungnya. hingga kali ini Hema terlihat bergerak. gadis itu mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang seperti menimpa tubuhnya hingga kesulitan untuk bernafas.
Masih dengan mata yang menyipit dan berat, Hema berusaha mencari tau apa yang tengah terjadi. hingga setelah mampu melepaskan diri dari selimut yang cukup tebal, tangannya teraih pada benda yang tak asing. seperti sebuah tangan yang tengah memeluk tubuhnya.
Apa ini?
Oh tangan... Eh, apa?
Hema membulatkan matanya. rasa kantuk yang tadinya masih mendominasi, seketika hilang sepenuhnya. gadis itu langsung memutar tubuhnya berganti posisi.
"HEAN!".
Terkejut karena ada orang lain yang tengah berbaring di sampingnya. dan sejak kapan pria itu ada disana hingga Hema tak menyadari hal itu.
"Selamat pagi sayang...". ucap Hean diiringi dengan senyum manis yang jelas dibuat-buat.
Hema yakin kalau pria itu tengah mereka ulang salah satu scene dari film yang mereka tonton beberapa hari yang lalu.
karena memang ada scene dimana pasangan suami istri bangun di pagi hari.
Ck... gue geli mendengar nya...
__ADS_1
Hema langsung beranjak bangun. merinding dengan ucapan Hean yang terdengar aneh.
"Bagaimana tidurmu? nyenyak kan?". masih saja Hean bersandiwara dan menghayati perannya.
bahkan senyum itu bertambah kadar manisnya.
"Sejak kapan lo datang?".
"Sayang... apa kau tidak ingat kejadian semalam?". Hean terus saja menggoda.
Beri tepuk tangan karena aktingnya...
"Ck...". Hema kesal karena pria di depannya itu hanya bercanda. padahal ia serius bertanya sejak kapan Hema berada di kamarnya dan bahkan dengan tidak tau malunya berbaring di ranjang yang sama dengan Hema.
"Gue serius Hean...".
"Gue juga serius sayang... apa kau tidak melihat ketulusan ku? padahal aku hanya menatapmu seorang, tak ada wanita lain...".
Entah apa yang Hean bicarakan, bukannya romantis ucapannya justru terdengar menggelikan. bahkan mampu membuta bulu kuduk Hema berdiri karena ngeri.
"Hanya kau seorang," ucap Hean dan mengedipkan mata satunya di akhir kalimat.
"Hahaha, tidak lucu!". Hema tertawa sarkas.
Dekat dengan Hean justru membuat dirinya gila. untuk itu Hema bangkit dari ranjang, berjalan meninggalkan Hean yang masih nyaman dengan posisinya. "Mau kemana sayang?".
mulut pria itu tak henti-hentinya menggoda. bahkan terlihat piawai dan mungkin saja itu adalah kelebihan Hean. bermulut mania kepada siapa saja.
Ck... dasar playboy...
Olahraga akhirnya terlaksana. entah sudah berapa kali Hean dan Hema berlari kecil di pinggir jalanan yang begitu sepi oleh kendaraan lalu lalang.
keringat sedikit membasahi tubuh serta baju yang mereka kenakan. untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama akhirnya Hema merasa sangat sehat. sudah sangat lama gadis itu tak berolahraga seperti ini.
"Seringlah berolahraga, lo tidak akan sakit-sakitan..." Hean masih berbicara. berlari di samping Hema.
Sakit-sakitan? ck... gue hanya Flu...
Hema sedikit tak terima dengan ucapan Hean yang mengatasinya penyakitan. karena aia hanya terserang flu yang sering saja.
"Gue... gue lelah...". pada akhirnya Hema berhenti. menyentuh kedua lututnya sambil terengah-engah. nafasnya benar-benar berkejaran.
"Ck, gitu aja lelah..." ejek Hean. padahal yang dilakukannya kali ini belum seberapa. karena olahraga yang biasa ia lakukan jauh lebih melelahkan.
membuat Hema mengerucutkan bibirnya sebal.
Nafas yang benar-benar hampir putus membuat Hema duduk selonjoran di pinggir jalan. tak memperdulikan dengan situasi sekitar.
bahkan Hean yang berdiri di sampingnya saja diabaikannya. seolah pria itu tidak ada disana.
Membiarkan Hema, Hean berlari. Hema kira pria itu melanjutkan larinya. ternyata salah. pria itu berlari menuju ke mobilnya.
Hema terus mengamati apa yang dilakukan pria itu. yang ternyata mengambilkan minum untuk Hema.
Manis sekali...
__ADS_1
"Nih,".
"Terimakasih...".
Keduanya duduk dengan pandangan ke arah jauh di depannya. hamparan sawah yang sangat jarang ditemui di Ibukota. bahkan udara kali ini sangat-sangat berbeda dari yang biasa mereka temui di pagi hari.
"Indah bukan?".
Hean masih menatap jauh ke depan saja. jelas kalau pria itu tengah memuji suasana hamparan padi yang sebagian telah menguning.
"Hm, di tempat asal ku pemandangan seperti ini sangat lumrah...".
Hema justru rindu dengan tempat asalnya. sudah sangat lama ia tak pulang dan rindu akan semua yang pernah ia rasakan di desa.
"Banyak suara kodok di tengah malam, suara binatang malam bahkan jangkrik adalah hal yang wajar... agghhh... gue rindu...".
Impian Hema, ia hanya ingin segera lulus dan mendapat pekerjaan yang bagus setelah itu hidup dengan nenek dan menemani masa tua beliau. impian sederhana dari seorang Hema.
"Hean, apa lo tidak rindu keluarga lo?". pertanyaan Hema mampu mengalihkan perhatian Hean. pria itu menengok ke arah Hema dengan tatapan aneh.
"Bukankah orang tua lo masih utuh? kenapa lo tidak pernah menemui mereka?".
Selama ini Hema kira Hean adalah anak perantauan sama sepertinya, tapi semakin kenal dan dekat Hema tau ternyata Hean memang lahir di Ibukota.
entah masalah apa yang membuat Hean bersikap demikian. pria itu hanya terlihat sendirian ataupun bersama dua sahabatnya saja.
"Kenapa? gue suka dengan hidup yang seperti ini...". Hean tersenyum dengan jawabannya.
hidupnya tidaklah menyedihkan seperti yang terlihat. Hean senang dengan apa yang menjadi keputusannya.
"Apa mereka tidak merasa rindu?".
Tiba-tiba wajah Hema pias.
Rindu? apa semua orang tua akan merindukan anaknya?
Jika memang seperti itu, mungkin hanya orang tua Hema saja yang tidak rindu dengan putrinya. buktinya, sampai sekarang Hema tak pernah tau bagaimana keadaan orangtuanya. tak ada kabar pun tentang mereka.
"Gue seringkali menelpon Ibu, Intan ataupun Ayah... bahkan hampir tiap hari..." Hean menjelaskan.
hubungan dengan orang tua Hean sangat baik. hanya saja Hean tak mau terlihat manja di depan beliau. karena Hean telah dewasa untuk itulah ia tinggal sendiri.
Oh begitu...
Karena Hema tak tau, ia membayangkan kalau hubungan keluarga dan Hean sedang tidak baik.
ternyata hanya pikiran buruk Hema saja.
"Lo mau menemui keluargaku?".
"Ha?".
Hema terkejut dengan ucapan Hean barusan.
***
Cie, Hema mau di bawa menemui orang tuanya Hean...
__ADS_1