
HAPPY READING...
***
Hema semakin penasaran dengan semua hal yang disembunyikan darinya selama ini.
seperti pasangan di depannya itu sengaja tidak memberi tahu Hema tentang semuanya.
"Ada masalah apa sih kalian sama gue?". Hema kesal. apalagi dengan Sasa yang seolah tak mengijinkan Jio untuk berbicara.
beberapa kali memukul bahu suaminya ketika hendak mengatakan rahasia yang belum terbuka sepenuhnya.
"Tidak ada... hanya saja-,".
"Apa? gue tidak perlu tau begitu?".
Malas sekali Hema berdebat seperti ini. kalau saja Jio tak memulainya, Hema tak akan penasaran seperti sekarang. lebih baik Jio tak perlu mengatakan apapun yang membuat jiwa penasaran Hema muncul.
"Tidak ada rahasia-rahasiaan kok Ma..." tambah Jio membela sang istri. tapi rasanya percuma saja, karena Hema telah mencium bau-bau rahasia yang mereka sembunyikan darinya.
"Jawab jujur!" tunjuk Hema pada Jio dan Sasa. "Kenapa Agnes tidak bisa membesarkan putrinya? apa artinya dia tak mampu membuka mata?".
Hanya itu yang membuat Hema penasaran. apa yang telah terjadi pada Agnes selama ini.
*Bagaimana sayang?
Entah, gue juga bingung*...
Antara Jio dan Sasa saling tatap. bingung harus mengatakan apa. jujur atau terus menyembunyikan semuanya.
"Kalian tidak mau cerita?". desak Hema lagi. bahkan selera makannya juga telah hilang.
"Baiklah kalau begitu..". Hema meletakkan sendoknya di piring hingga suara berdenting itu mengagetkan Jio dan Sasa.
Hema akan segera pergi dari sana.
Sayang... bagaimana ini?
Sedangkan Sasa yang panik beberapa kali memukul bahu Jio. agar pria itu bertindak dan Hema tak jadi pergi.
"Oke oke... gue cerita..." ucap Jio mengalah. taka da jalan lain selain memberitahu Hema tentang rahasia yang telah terjadi selama kepergian Hema selama ini.
Hema langsung tersenyum. menang karena mampu membuat Jio dan Sasa mengalah.
__ADS_1
"Duduklah lagi..." pinta Sasa memohon.
membuat Hema otomatis kembali duduk dan bersiap mendengarkan cerita dari Jio.
"Ya begitulah yang terjadi setelah kepergian lo waktu itu... Hean yang kehilangan kepercayaan dari keluarganya karena kebohongan Agnes. padahal bukan Hean yang menghamilinya..." ucap Jio membuka cerita.
Hema ingat bagaimana Hean bersikukuh mengatakan bahwa Agnes bukan hamil dengannya. bagaimana Hema ingat saat Hean dipukuli seorang pria malam itu.
Semuanya masih terekam jelas dalam memorinya.
dan saat itu, Hema juga tak mempercayai Hean seperti yang lain.
"Sejak awal ia sudah memikirkan bagaimana caranya mencari bukti tentang kebohongan Agnes... salah satunya melakukan tes DNA saat hamil, tapi rencana itu diurungkannya karena Hean tak mau menyakiti janin dalam kandungan Agnes...".
"Tes DNA saat usia kandungan masih sangat muda sangat beresiko bukan? Agnes bisa keguguran..." timpal Sasa.
Hema mulai paham. Hean memang pria yang sangat memikirkan segala sesuatu dengan matang. bahkan saat dulu ketika masih kuliah dan terlibat peristiwa menyeramkan dengan Hema, pria itu juga berjanji dengan sungguh-sungguh akan bertanggung jawab. mungkin seperti itulah saat Agnes meminta pertanggungjawaban darinya.
"Lalu tepat di usia kandungan Agnes yang menginjak 8 bulan, Hean tak sengaja mendengar rahasia yang Agnes sembunyikan darinya... mereka bertengkar hebat hingga membuat Agnes pendarahan dan dilarikan di rumah sakit..." lanjut Jio.
"Lalu?". Hema semakin penasaran dengan jalan cerita Jio.
apa yang terjadi setelah itu?
"Entah obat apa yang diminum Agnes hari itu hingga membuat dokter harus bertindak cepat dengan melahirkan Bella secara paksa...".
Apa dia berencana bunuh diri karena ketahuan?
Hema menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Sama gue juga berpikiran seperti lo... menduga Agnes ingin bunuh diri karena ketahuan... tapi sepertinya lebih dari itu, lebih tepatnya Agnes tak mau mempertemukan bayinya dengan pria yang menghamilinya dulu... karena jika ia dan putrinya kembali, nyawa mereka dalam bahaya...".
"Kenapa?".
"Karena sejak awal pria yang menghamili Agnes memang sengaja melakukannya hanya untuk menjual bayinya setelah lahir ke dunia..." lanjut Sasa dan Jio mengangguk membenarkan ucapan Sasa.
Ya... Mark memang berencana menjual Bella setelah lahir. itulah yang membuat Agnes terpaksa memilih jalan untuk bunuh diri bersama dengan bayi dalam kandungannya.
Hema syok mendengar hal itu.
"Karena obat yang Agnes minum itu, membuat hal buruk terjadi... saat seharusnya ia bisa melihat putrinya lahir, Agnes justru koma... sampai sekarang...".
Hema terkejut dan menutup mulutnya tak percaya.
__ADS_1
Agnes koma? sampai sekarang?
"Dan karena Hean, pria itu berbesar hati untuk mengakui Bella sebagai putri kandungnya... mengakui Agnes sebagai istrinya tapi diceraikan saat itu... jadi di hukum negara ini, Bella terdaftar sebagai anak Agnes dengan Hean...".
Sebesar itu pengorbanan lo Hean? batin Hean. menyesal karena pernah tak mempercayai Hean saat itu. bahkan bersumpah untuk membenci pria itu sampai saat ini. mengutuk Hean menerima pembalasan yang jauh lebih besar dadi yang Hema rasakan.
Hingga tak terasa air matanya menetes begitu saja. Hema menyesal. karena rak tau bagaimana kebenaran yang terjadi.
"Sorry Ma... gue tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal sebesar ini, hanya saja Sasa tak mau lo kecewa lagi..." sesal Jio.
bahkan karena mengatakan hal yang sebenarnya juga membuat Hema menangis seperti saat ini. lihatlah bagaimana isak tangis wanita itu bertambah kerasa dan terdengar memilukan.
"Gue hanya tidak mau lo menangis lagi Ma...". Sasa beranjak dari duduknya dan mendekati Hema. memeluk sahabatnya itu dengan penuh kasih.
"Dengan kalian menyembunyikan semua ini apa akan membuat gue tenang Sa, Yo?" tanya Hema dengan berderai air mata.
"Tidak... gue justru semakin sedih... gue bahkan lebih bersalah kepadanya...".
Hema menyesal karena tidak mempercayai Hean. meninggalkan pria itu yang justru butuh dirinya untuk menguatkan atas masalah yang menimpanya. Hema dengan meninggikan egonya, justru ikut menghakimi Hean. membuat pria itu semakin bersalah.
"Gue bahkan mengutuknya setiap saat... membencinya dengan seluruh hidup gue...menyumpahinya agar tidak bahagia seumur hidupnya... hiks...".
Hema menangis sejadi-jadinya. sedosa itu ia kepada Hean.
"Sorry Ma..." Sasa ikut menangis. ia kira keputusannya adalah telat, nyatanya masih membuat Hema semakin terluka lagi.
Hema, dengan sisa air mata di ujung matanya berjalan menyusuri koridor Rumah sakit. langkahnya terasa semakin berat ketika mendekati sebuah ruangan yang dijaga ketat oleh beberapa tenaga medis.
"Maaf, Pasien tidak bisa ditemui pengunjung untuk saat ini...".
itulah pesan perawat yang menemui Hema. membuat Hema tak bisa melakukan apapun selain melihat Agnes yang terbujur tak berdaya dengan beberapa selang medis menempel di tubuhnya.
"Hiks...". Hema menangis sambil tak lepas mengamati Agnes dari balik jendela kaca. menyentuh kaca seperti tengah menyentuh wanita tak berdaya di dalam sana. walaupun tak terlalu dekat, tapi mampu membuat Hema kasihan terhadap nasib yang menimpa wanita malang tersebut. hidup tak hidup, mati pun tidak. terbujur tak berdaya hanya bergantung pada peralatan medis yang menempel pada tubuhnya.
"Maafin gue Agnes...".
Berharap Agnes mampu mendengar ucapan Hema barusan. entah maaf untuk apa, Hema juga tidak tau.
Hean, pria yang sama-sama mereka cintai. Hean, yang membuat obsesi Agnes untuk tetap memiliki pria itu. cinta pertama bagi Agnes yang membuatnya lupa diri dan menghalalkan segala cara agar bisa bersama Hean.
mungkin disini Hema juga salah. menyukai seseorang yang tidak tau seperti apa hubungannya dengan masa lalunya.
__ADS_1
Dan sekarang. semuanya tak ada yang bahagia. termasuk Hema.
***