Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
29. Ulang Tahun Hema.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Bohong jika aku tak ingin melihat seperti apa mereka? bagaimana keadaannya? apakah mereka sehat? apakah ada satu hari dari hidup mereka untuk sedikit memikirkan ku? Aku ingin melihatnya...


Nenek bilang, mereka pergi untuk mencari pekerjaan. mengumpulkan harta berharga agar bisa hidup lebih layak.


Lantas apa aku tidak seberharga itu?


Aku putri mereka, apa aku tidak berharga sampai mereka meninggal ku bersama Nenek?


Sebuah curahan hati yang Hema tulis dalam buku diary. andai seseorang tau, tujuan Hean selalu menyelinap masuk dalam kamar gadis itu. menunggunya sampai selesai mandi hanyalah satu. membaca curahan hati Hema.


Tak ada yang tau memang. Hean melakukannya dengan sangat rapi. bahkan Hema sendiri tak pernah menyadari bahwa ada seseorang yang membaca keluhannya kesahnya selain dirinya sendiri. tak menyadari bahwa ada seseorang yang begitu sedih melihat kisahnya.


Hean tak bisa mengabulkan impian Hema untuk bertemu orang tua gadis itu. Hean tak tau bagaimana cara mencarinya. hingga yang dilakukannya adalah membawa Hema mengunjungi rumah orang tuanya. berharap Ibu dan Ayah bisa sedikit mengajarkan bagaimana sosok orang tua dimata Hema.


"Apa Orang tuamu sangat baik? bagaimana dengan Ibumu? apakah dia ramah seperti Ibunya Sasa?".


Hean sempat terkejut dengan pertanyaan Hema waktu itu. pertanyaan yang tentu saja aneh untuk ditanyakan.


"Gue hanya penasaran bagaimana sosok Ibu... apakah sama dengan yang gue lihat di film?".


Hati siapa yang tak hancur mendengar semua itu. bahkan batu saja bisa hancur karena tetesan air. sedangkan manusia? makhluk yang diciptakan Tuhan dengan hati paling peka. sama halnya dengan Hean, hatinya teriris ketika Hema bertanya seperti itu.


"Makanlah nak... makan yang banyak...". Ibu kembali menyodorkan lauk ke piring Hema. entah sudah keberapa kalinya. berharap gadis di depannya itu makan dengan lahap dan kenyang.


"Sudah Tante...". Tentu saja Hema canggung dengan perlakukan Ibunya Hean kepadanya.


apalagi ini adalah pertemuan pertama mereka.


"Makanlah ini juga...". Ibu kembali menyodorkan mie goreng dengan banyak toping. anehnya mie buatannya itu adalah menu tambahan rekomendasi dari Hean.


"*Bu, buatkan Mie panjang umur seperti yang sering Ibu buatkan ketika Hean ulang tahun...".


"Kenapa?". Ibu sempat bingung karena tidak ada anggota keluarga yang tengah merayakan ulang tahun.


"Hean hanya ingin memakannya*...".


Apa sih yang tidak Ibu buatkan untuk anak-anak mereka. Ibu Hean pun sama. apapun yang diminta putra maupun putrinya selalu mereka kabulkan. apalagi hanya sepiring mie ulang tahun yang tidak butuh waktu lama untuk membuatnya.


Kali ini Hean tak lepas memandangi Hema yang tengah memakan mie panjang umur buatan ibunya. belum mencicipi saja Hean yakin kalau mie itu benar-benar enak. terlihat jelas dari ekspresi yang Hema tunjukkan.


Di sela-sela makannya, Hema terdiam lagi. tangannya sedikit bergetar melihat isi piringnya.


entah kenapa kesedihan itu tiba di waktu yang sangat tidak tepat.


Lihatlah, gue terlihat menyedihkan bukan?


Tatapan nya beralih pada Hean. tapi justru pria itu menggelengkan kepala. seolah berkata, Jangan menangis Hema... lo pernah berjanji bukan?


Hingga yang dilakukan Hema berusaha agar tangisnya tidak pecah di ruang makan ini. mengucek mata menghapus air mata yang bahkan belum sempat jatuh sama sekali.


Selesai makan, Ibu membereskan piring dan diikuti oleh Hema. gadis itu sejenak terdiam mengamati punggung Ibu sari belakang.


Terimakasih tante...

__ADS_1


Dari perlakuan Ibunya Hean, Hema sedikit tau bagaimana sosok Ibu yang nyata. perhatian dan begitu lembut. bahkan kepada Hema yang nyatanya orang asing bagi Ibu.


"Biar Hema bantu Tante...". Hema berusaha untuk tau diri dimana ia berada. membantu mencuci piring walaupun tidak diminta.


"Tidak usah Hema... biar Tante saja..." tolaknya. tapi Hema tetap bersikeras. biarkan makanan yang ia makan tadi dibayar dengan membatu Ibu di dapur.


"Tidak apa-apa Tante... biar Hema saja yang mencuci piring...".


Spons piring akhirnya berpindah tangan. membuat Ibu mundur dan membiarkan Hema melakukannya.


"Kamu satu Fakultas dengan Hean?". tanya Ibu beralih pada pekerjaan lain. membersihkan kompor agar terlihat bersih.


"Tidak, tapi satu angkatan...".


Oh...


"Wisuda sebentar lagi bukan?".


"Iya...".


Hema tidak sabar menunggu hari itu tiba. memakai toga dan berbahagia bersama yang lainnya.


"Kami akan datang nanti... juga dengan Intan" ucap Ibu. mereka akan menghadiri acara wisuda Hean.


"Eh, kamu sudah tau Intan? adiknya Hean...".


Hema menggeleng. "Belum... tapi Hean pernah bercerita tentang Intan..." jawab Hema. Ya... Hean pernah bilang kalau pria itu mempunyai adik perempuan bernama Intan. tapi Hema tidak pernah melihatnya sama sekali.


"Iya Hean memiliki adik perempuan, namanya Intan... sekarang sudah kelas 10..." jelas Ibu.


Keluarga mereka benar-benar terlihat sempurna dengan satu anak laki-laki yang tentu mampu menjadi pelindung dan garda terdepan keluarga, juga satu anak perempuan yang pasti menjadi kesayangan orang tua dan adiknya.


***


Malam telah tiba.


Intan tengah berbincang dengan Hema dan juga Ibu. ketiga wanita beda usia itu benar-benar terlihat asyik di ruang Televisi. sedangkan Hean duduk berdua di depan rumah bersama sang Ayah. menikmati secangkir kopi dan membahas hal lain.


"Hean minta Ayah, Ibu dan Intan bisa datang saat Hean wisuda..." pinta Hean. kali ini bukan hanya untuk nya. tapi untuk Hema juga.


alasan Hean membawa Hema datang ke rumahnya adalah mendekatkan Hema dengan keluarganya. kelak saat hari wisuda tiba, Ha akan sedikit bahagia karena ada seseorang yang mengucapkan selamat kepada nya. toh... Hean tidak yakin bisa membawa sang nenek datang jauh-jauh ke Ibukota.


"Apa sepenting itu gadis itu untukmu Hean...?". Ayah hanya bergurau. bahkan kalau diingat-ingat, inilah pertama kalinya Hean meminta untuk seseorang.


"Ck...". Hean hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Ayahnya.


"Kau sudah dewasa Yan..." puji Ayah. sudah banyak sekali yang berubah dari putranya itu. Hean yang berubah menjadi seseorang yang tenang ketika dalam masalah. tak seperti dulu.


Waktu semakin merangkak naik. hingga mengharuskan Hema dan Hean kembali pulang.


"Hean pulang dulu Yah, Bu..." pamitnya. menjabat tangan keduanya bergantian.


"Hema juga pulang Tante... Om... Intan...".


Rasanya tidak rela untuk meninggalkan rumah ini. tempat yang nyaman bagi Hema walaupun ini adalah pertama kali baginya.


"Sering lah mampir Mbak Hema..." ucap Intan. bahkan gadis itu benar-benar mudah akrab dengan Hema. tidak merasa canggung sedikit pun. mungkin beberapa kali bertemu saja, mereka akan menjadi partner dalam segala hal.

__ADS_1


Hema mengangguk.


"Hati-hati di jalan...". Ibu dan Ayah meminta agar Hean tidak kebut-kebutan di jalan.


Hema telah masuk ke dalam mobil. melambaikan tangannya kepada penghuni rumah sebelum akhirnya mobil berwarna hitam itu keluarga dari gerbang dan pergi.


Sepanjang perjalanan, Hema tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. senang mengingat kenangan seharian ini.


"Kenapa? lo kesambet setan dari rumah?" ejek Hean. karena hanya orang kesurupan yang tersenyum aneh tanpa ada yang lucu sama sekali.


"Ck..".


Terus aja ejek gue...


"Bagaimana masakan Ibu? enak?". tanya Hean. baginya, masakan Ibu adalah nomor satu. tidak ada yang bisa mengalahkan rasanya.


"Enak...".


"Ibu selalu membuatkan mie panjang umur saat gue ulang tahun... sesuai namanya, Ibu berharap gue panjang umur dan bisa melakukan hal-hal dalam hidup gue...". Pamernya. Mie yang dimakan Hema tadi.


Ha?


Hema sedikit terkejut karena makanan yang ia makan tadi adalah makanan spesial yang dibuat Ibu untuk Hean.


Tiba-tiba mobil itu bergerak pelan dan berhenti di tepi jalan. Hema bingung kenapa Hean menghentikan mesin mobilnya. apalagi pria itu melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuh nya dan mengubah posisi menghadap Hema.


Tangan pria itu meraih sesuatu dari bangku belakang. Paper Bag cukup besar dan menyerahkannya kepada Hema.


"Selamat ulang tahun Hema...". ucap Hean begitu tulus. bahkan dengan senyum manis yang selalu pria itu tunjukkan kepada Hema.


Ulang tahun?


Gue?


Bagaimana dia bisa tau?


Lagi dan Lagi Hean mampu membuat Hema begitu terkejut dengan perlakuan nya.


tak menyangka kalau Hean tau kapan tanggal ulang tahun Hema. padahal Hema tak pernah mengatakannya.


Matanya memanas seiring dengan air mata yang telah menggenang di pelupuk mata. terharu sekaligus bahagia.


ternyata yang Hean lakukan seharian ini adalah cara membuat Hema bahagia di ulang tahunnya.


bahkan sampai menyuruh Ibu untuk membuat mie panjang umur karena Hean yakin gadis itu tak pernah melakukannya.


"Hiks...".


Hema menangis bahagia. "Terimakasih Hean...". bahkan tak ragu untuk memeluk pria itu dan menumpahkan rasa harinya disana.


Di hari ulang tahunnya kali ini, Hema bersyukur. mengenal Hean dalam hidupnya.


"Terimakasih Hean...". hanya ucapan terimakasih yang terlontar dari mulut Hema.


"Berjanjilah untuk selalu bahagia Hema... berjanjilah...".


***

__ADS_1


Duh, ikut terharu dengan tindakan Hean...


Siapa yang tidak baper coba dengan perlakuan Hean... jangankan Hema, aku saja juga pengen punya laki kayak dia... heheeh...


__ADS_2