Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
98. Pernikahan Jio-Sasa


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Kediamannya keluarga Sasa. halaman rumah telah disulap cantik dengan rangkaian bunga berwarna putih. tenda telah dilapisi kain tergantung dengan akar-akar tanaman yang sangat teduh di pandang mata.


Di ujung sana, Altar pernikahan telah berdiri kokoh. disana nanti akan menjadi tempat Jio dan Sasa mengucapkan janji pernikahan. mengucap ikrar pernikahan untuk hidup bersama seumur hidup dan saling mencintai sampai maut memisahkan.


Tamu undangan telah banyak yang hadir. Jio bersama orang tua dan calon mertuanya berdiri menyambut kedatangan tamu undangan mereka. tersenyum bahagia kepada smsua orang.


Dimas datang bersama Intan. mengenakan pakaian dengan warna yang senada dan terlihat begitu serasi.


"Wih, keren juga lo hari ini..." gurau Dimas pada sahabatnya.


Dengan Tuxedo berwarna putih, Jio memang terlihat keren. tinggi dengan postur tubuh yang gagah berisi membuat Jio terlihat begitu bersinar. kharisma pria itu terlihat semakin terpancar daripada saat kuliah dulu.


"Iya dong..." jawab Jio dengan pedenya.


Mendapat pujian dari Dimas semakin menambah kepedean Jio. mungkin kepala pria itu akan bertambah besar ukurannya.


"Dimana Hean?". Jio merasa kurang lengkap karena masih ada satu sahabat yang belum datang sampai saat ini.


Hean.


"Dia bakal datang kan?" tegas Jio.


Itulah yang Jio harapkan di hari bahagianya. kedua sahabatnya menyempatkan datang.


"Iya... kakak bakal datang menyusul..." jawab Intan.


Walaupun kota dimana Sasa tinggal tidak begitu jauh dari Ibukota, tapi keluarga Hean memilih untuk memesan hotel untuk beristirahat sejenak.


Intan pun begitu. walaupun dari hotel yang sama, tapi Intan dan Dimas memilih berangkat duluan karena permintaan Hean. entah apa alasannya.


"In... lo sudah minta ijin sama orang tua lo belum?". Goda Jio pada gadis di samping Dimas.


Dulu ketika awal mengenal Hean, Intan selalu menjadi pusat bullying yang Jio lakukan. Ya... hanya Jio yang berani menggoda gadis manis itu hingga cemberut kesal.


tapi sekarang, waktu telah mengubah Intan menjadi seorang gadis manis yang sedikit terlihat dewasa.


Semakin bertambah cantik dan anggun.


"Hahaha..." Jio tersenyum melihat ekspresi Intan yang cemberut sebal.


Walaupun sudah berpenampilan maksimal, nyatanya Jio masih saja memandang Intan seperti anak kecil yang masih sering mengadu pada orang tuanya ketika di ganggu.


Dari sahabat-sahabat kakaknya, memang Jio yang sedikit menyebalkan bagi Intan.


mungkin itulah salah satu alasan kenapa Intan lebih akrab dengan Dimas dadi pada Jio.


karena pembawaan Dimas yang tenang dan sangat bertanggung jawab.


"Dimana pengantinnya? Orang ini terlalu silau..." cerca Intan. sengaja membuat Jio kena mental karena ucapannya.

__ADS_1


sedangkan Dimas tertawa paling keras, tak menyangka kalau Intan akan berani membuat Jio ternganga seperti sekarang.


"Hahaha...". Bahkan Dimas sampai menepuk bahu Jio berulang kali. puas karena Jio langsung mendapatkan karma karena ucapannya sendiri.


Dasar bocah!


Setelahnya Dimas dan Intan mencari bangku untuk melihat seluruh acara pemberkatan nanti.


Jio kembali tersenyum melihat kedatangan seorang wanita cantik bersama seorang pria yang tengah menggendong anak perempuan berusia 2 tahun dan berjalan mendekat.


"Haloo..." sapa Jio.


Tamu undangan spesial bagi Sasa. mungkin kedatangannya sangat Sasa harapkan di acara spesial ini.


selain karena kesibukan masing-masing, Sasa bahkan sampai memohon agar wanita itu datang ke acara pernikahannya. siapa lagi kalau bukan Hema, sahabat terdekat Sasa.


Pada akhirnya wanita berparas cantik dengan rambut yang ditata rapi menggunakan bunga itu menyempatkan datang untuk menjadi saksi pemberkatan Sasa dan Jio.


"Dimana Sasa?" tanya Hema setelah menjabat tangan Jio.


"Ada di dalam..".


"Selamat ya...". Zain, pria itu datang bersama Hema juga menjabat tangan Jio.


"Terima kasih sudah datang..." jawab Jio.


Oh jadi dia yang selalu Sasa bicarakan... batinnya bicara. karena Jio belum pernah bertemu dengan Zain secara langsung. ia hanya mendengar dari Sasa saja selama ini.


"Ayo Mika kita cari bangku paling depan..." ajak Hema. menoel pipi anak kecil dalam gendongan Zain.


Zain dan Hema berjalan meninggalkan Jio. mereka sungguh terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia dengan satu anak perempuan. bahkan Jio tak lepas mengamatinya sampai Hema benar-benar menghilangkan dari pandangan.


Sesaat sebum MC mulai memimpin acara, tiba-tiba dari kejauhan mobil hitam melaju ke arah acara.


Jio tak lepas memperhatikan mobil itu bahkan sampai berhenti dan terparkir bersama kendaraan lain. dari mobil hitam itu keluar seorang pria bersama orang tuanya.


Ternyata Hean datang bukan sendirian, tapi bersama orang tuanya.


Ya, orang tua Jio dan Hean memang berhubungan sangat baik. jadi orang tua Hean tak menyia-nyiakan acara bahagia seperti ini.


Tapi ada satu hal yang membuat Jio menaikkan alisnya keheranan. Ibu dari Hean terlihat menggendong bayi. Jangan-jangan?


"Apa gue terlambat?" tanya Hean memastikan. kedatangannya mungkin saja bisa dibilang terlambat ketika Hean melirik jam di pergelangan tangannya.


"Tidak..." jawab Jio dan menjabat tangan Hean dengan tulus.


Dengan Jio yang terlihat akrab bercengkrama dengan Hean, Ayah dan Ibu juga tengah berbincang dengan orang tua Jio. mereka terlihat akrab dan sesekali membicarakan bayi dalam gendongan Ibu.


"Dia?" tanya Jio sedikut berhati-hati.


"Hm... Bella..." jawab Hean sambil menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan Jio tadi.


Oh...

__ADS_1


"Jadi bersama lo?" tanya Jio lagi.


"Seperti yang terlihat... inilah keputusan pengadilan dulu..." jawab Hean.


hak asuh Bella jatuh ke tangan Hean. apalagi kondisi Agnes yang memang tidak memungkinkan untuk merawat dan membesarkan bayinya.


"Dia?".


"Tidak ada kemajuan sedikitpun..." jelas Hean.


Kondisi Agnes masih sama seperti dulu. hidup tidak hidup, dianggap meninggal nyatanya wanita itu masih bernyawa.


Tidur, itulah istilah yang pantas untuk mengungkapkan bagaimana kondisi Agnes saat ini.


"Kasihan..." ucap Jio.


bahkan bukan hanya Jio yang prihatin atas kondisi Agnes. semua orang pun akan mengatakan hal itu setiap kali mengingat nama Agnes.


MC kembali memimpin acara. membuat Jio dan orang tuanya bersiap.


"Ayo...".


"Hm,".


Hean bersama kedua orang tuanya telah mencari tempat duduk yang sangat pas untuk menjadi saksi pernikahan Jio -Sasa.


Ibu duduk di samping Intan dan Dimas. juga dengan Ayah dan Hean juga.


"Apa Bella rewel Bu?". Intan menoel pipi bayi dalam gendongan ibunya. membuat bayi itu sesekali menggerakkan kepalanya sambil bibir yang seperti mengecap sesuatu.


"Tidak... cucu Ibu sangat baik..." jawab Ibu.


masih sangat kecil tapi bayi itu tak merepotkan semua orang. bahkan di ajak bepergian seperti sekarang Bella tak menangis sedikitpun.


Beda dengan Ibu dan Intan yang sibuk membahas putrinya Hean, Ayah terlihat berbicara dengan Hean. membahas tentang Jio yang terlihat sangat menawan pagi ini.


keduanya tersenyum hingga musik perlahan mengalun indah mengiringi MC memimpin acara.


Semua tamu undangan memperhatikan dari ujung karpet disana. Sasa, pengantin wanita terlihat berjalan perlahan ditemani oleh pria paruh baya yang tak lain adalah Ayahnya sendiri.


melewati tamu undangan dengan sesekali tersenyum malu. bagaimana tidak? semua orang seperti memandang Sasa tak berkedip sama sekali.


Juga dengan pria dengan Tuxedo di depan Altar. menunggu Sasa dengan senyum indah yang mengukir bibir.


Aggghh... Aku gugup... batin Sasa masih menjaga langkah kakinya agar tidak tersandung yang akan memalukan dirinya sendiri nanti.


"Ayah serahkan putri kesayangan Ayah kepadamu Jio... sayangi Sasa seperti kamu menyayangi ibumu... perlakukan Sasa dengan baik seperti cara Ayah memperlakukan Sasa...".


"Baik Ayah... Jio janji akan menyayangi Sasa..." ucap Jio terdengar meyakinkan. setelah itu Sasa berganti menggenggam tangan Jio, bersamaan naik ke Altar pernikahan.


Mengucapkan janji, saling menyelipkan cincin pernikahan di jemari keduanya di depan tamu undangan.


Hari itu, hari sangat membahagiakan bagi Sasa dan Jio. hari itu pula mereka telah resmi menjadi suami istri yang sah di mata hukum dan Agama.

__ADS_1


***


__ADS_2