Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
36. Kenapa?


__ADS_3

HAPPY READING..


***


Langit tiba-tiba berubah mendung. gelap dan sesekali angin berhembus sangat kencang. Hema bangkit dari duduknya. berlari ke arah balkon karena tadi pintu itu masih terbuka. bisa basah nanti kalau tidak segera di tutup karena mungkin hujan akan turun sebentar lagi.


"Gawat mau hujan...".


Masih seperti beberapa jam yang lalau, Hean terlihat terlelap dalam kamar Hema. pria itu terlihat sangat kacau dengan bau minuman keras yang tercium dari mulutnya.


"Kenapa dia?". Hema kembali lagi ke kamar. duduk di tepi ranjang sambil mengamati wajah Hean dari dekat.


Untuk pertama kalinya Hema dapat melihat wajah pria itu.


guratan penuh kekhawatiran itu muncul, membuat Hema dasar bahwa ada yang terjadi pada Hean. tapi entah apa? Hema tak punya hak untuk bertanya.


Terakhir yang mampu Hema dengar dadi mulut Hean sebelum tidur seperti ini, ada sebuah nama yang pria itu sebut.


Agnes?


Siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan Hean.


Bukan kali pertama Hema mendengar Hean bergumam sebuah nama. Agnes, mungkin beberapa kali nama itu keluar dari mulutnya.


Hema kembali berpikir. menerja-nerka siapa Agnes itu hingga ingatannya kembali pada perkataan Hean tempo hari.


dimana hanya ada satu orang yang Hean ceritakan. sosok gadis yang menjadi cinta pertama baginya.


Apakah dia Agnes?


mungkin saja iya, karena tidak mungkin Hean sampai mengingat nama itu kalau kenangannya tak benar-benar dalam. hanya seseorang yang terlalu dalam masuk ke hati kita yang membuat kita selalu mengingatnya.


Sama seperti Rendy. apapun dan bagaimanapun kelakuan pria itu terhadapnya, Hema tidak akan mudah melupakannya. pria itu juga menjadi kenangan paling dalam baginya.


"Lo kenapa Yan?". Hema berguna sendiri. mengangkat tangan dan menghalau anak rambut yang sedikit menutupi wajah Hean.


tangannya bermain-main disana. menyusuri kening dan melewati garis pipi hingga jatuh pada rahang kokoh pria itu.


Gleekk...


Menyentuh rahang itu, justru membuat jantung Hema berdetak tak karuan.


mengingat bagaimana pria itu ketika menggodanya. rahang Hean ketika mereka berciuman. sungguh Hema merasa gila mengingatnya. walaupun pikirannya sedikit kotor tapi itulah yang terjadi.


Jangan mesum Hema! dia sedang tidur...


Hingga Hema menghentikan kegiatannya saat ada pergerakan dari tubuh Hean. pria itu terlihat risau bahkan terlihat tanda-tanda ingin muntah.


"Yan, lo ingin muntah?". tanya Hema terus mengamati.


Tubuh Hean terasa bergemuruh. perutnya serasa mengaduk-aduk ingin memuntahkan isinya.


"Gue ambilkan ember...". segera setelah mengatakan itu, Hema langsung berlari menuju ke kamar mandi. mengambil ember kecil agar Hean tidak beranjak bangun. tapi saat hendak keluar, Hean justru berlari ke arahnya.


Hooeekk...


Hean berjongkok di samping closed. memuntahkan isi perutnya yang memang hanya minuman keras saja. apalagi, karena hanya itu yang masuk dalam perutnya sejak pagi.

__ADS_1


Hema merasa kasihan melihat Hean. kakinya mendekati Hean dan tangannya terulur untuk memijit tengkuk Hean membantu untuk mengeluarkan sisa minuman yang membuat pusing kepala.


"Hueekk... keluar lah Hema...". Hean cukup tau diri untuk tidak melibatkan Hema dalam hal menjijikkan ini.


Hean tau kalau Hema pasti jijik atau tidak nyaman. tapi yang di usir justru tak bergerak sama sekali. tak berniat untuk pergi meninggalkannya.


"Pasti sakit bukan?".


Hema terus memijit Hean berharap pria itu baik-baik saja setelah muntah.


"Nanti ku buatkan susu hangat...".


Kata orang saat minum minuman keras hingga pusing, susu panas mampu menetralkan. itulah yang Hema tau walaupun ia tak yakin susu mampu membuat Hean lebih baik.


Hingga Hean bangkit. membersihkan wajahnya di wastafel, Hema tak beranjak sedikitpun. bahkan membantu pria itu keluar dari kamar mandi dengan tulus.


"Duduklah Yan...". membantu Hean duduk dan segera ke dapur untuk membuat susu hangat.


Bersamaan dengan Hean yang memijit kepalanya, Hema tiba dengan membawa segelas susu hangat. "Minumlah...". ikut duduk di samping Hean.


Susu hangat benar-benar mampu membuat Hean sedikit lebih baik dari tadi. teguk demi teguk hingga tersisa setengah dan Hean memberikan gelas itu kepada Hema.


baru berniat untuk kembali merebahkan tubuhnya, perhatian Hean teralihkan oleh luka kecil di sudut bibir Hema.


"Kenapa?". tunjuk Hean tanpa rasa bersalah.


"Oh, tidak apa-apa..." elak Hema. padahal luka itu ia terima dari perlakuan Hean tadi.


dialah yang membuat Hema terluka seperti itu. tapi Hema idak marah, justru memaklumi perlakuan Hean karena pria itu dalam pengaruh alkohol.


"Jawab gue, kenapa itu?". paksanya.


walaupun Hema bilang tidak apa-apa, tak membuat Hean percaya. pasti telah terjadi sesuatu pada gadisnya.


Atau jangan-jangan gue tadi melukainya?


Hean tersentak kaget dengan pemikirannya sendiri. tidak mungkin Hema terluka padahal semalam mereka masih bertemu. sedangkan Hean tau luka itu masih baru. mungkin terjadi beberapa jam yang lalu.


"Tidak apa-apa Yan... gue hanya sedikit tidak hati-hati saja...". Hema masih mengelak mengakui asal luka itu. toh tidak penting juga, setelah diobati nanti juga kering.


Hean tak melepaskan Hema begitu saja. justru semakin menarik Hema hingga jatuh dan duduk tepat di pangkuannya.


"Yan...".


"Apa gue yang menyakiti lo?". dari caranya bertanya, jelas terlihat kalau Hean begitu menyesali perbuatannya. walaupun ia tak sadar telah melukai Hema tapi tetap saja, melihat gadis itu terluka justru menambah rasa sakit hatinya.


Hean mengutuk kebodohannya. mendatangi Hema dalam keadaan mabuk dan melukai gadis itu.


"Sorry Ma..." sesalnya.


Tangan Hean terulur untuk menyentuh luka Hema, membuat gadis itu sedikit meringis.


"Sakit?".


Walaupun sedikit sakit, tapi yang dilakukan Hema hanyalah menggeleng. tak apa... begitu hatinya bicara.


Seharusnya Hema boleh marah atas perlakuan Hean terhadapnya, tapi justru ia memaklumi. memaafkan apa yang dilakukan Hean.

__ADS_1


Karena... entahlah, Hema bingung mau mencari alasan apa.


atau mungkin karena ia memendam rasa untuk pria itu hingga memaklumi semua kelakuan Hean, termasuk ketika Hean tak sengaja menyakitinya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Hema.


Hean pernah berkata, pria itu meminta Hema untuk selalu bahagia. jangan pernah bersedih dan bercerita ketika ada masalah. tapi saat ada masalah menimpa Hean, pria itu justru memendamnya sendiri.


padahal Hema juga ingin sesekali Hean bercerita tentang masalahnya. membagi masalah itu dengannya.


"Tidak..." jawab Hean singkat.


Iya... siapa gue sampai Hean harus membagi masalahnya denganku... Hema tersenyum getir.


Hingga sore hari, Hean tak beranjak pergi daru Apartemen Hema. bahkan sampai Sasa pulang pun, Hean tetap duduk di sana. sendirian di balkon Apartemen Hema tanpa melakukan apapun.


"Ada apa dia?". Sasa bertanya sambil sesekali melirik Hean.


Bersama dengan Hema, keduanya tengah menyiapkan makan malam.


"Entah, gue juga tidak tau...".


"Lo tidak tanya?". Sasa sewot sendiri. karena sudah seharian Hean disini tapi Hema sama sekali tak mengetahui penyebab pria itu terlihat murung.


"Ngapain? bukan urusan gue bukan? kecuali kalau dia berniat menceritakan masalahnya, gue baru bisa membantu..." jelas Hema.


walaupun begitu, Hema juga khawatir tentang masalah apa yang sampai membuat Hean terlihat sedih seperti itu.


***


Agnes benar-benar menemui Intan. keduanya duduk di salah satu tempat makan yang ada di Mall. masih dengan seragam sekolah, Intan terlihat mengobrol asyik dengan Agnes walaupun usia mereka terbilang cukup jauh.


"Hahaha... jadi lo hanya penasaran tentang ceritaku waktu itu?".


"Iya, itulah sebabnya Intan sekolah disana... melihat salah satu bukti kisah kalian..." gurau Intan.


Sebelum ini, Agnes memang pernah bercerita kalau salah satu pohon di SMA nya dulu ada ukiran nama yang dibuat Hean. nama mereka berdua.


dan itulah ssbabnya Intan penasaran hingga pada akhirnya memilih sekolah yang sama dengan kakaknya dulu.


"Jadi Hean tidak tinggal bersama dengan lo?".


"Tidak... sejak kuliah, Kakak memilih tinggal sendiri... katanya sih biar mandiri.." jelas Intan.


"Dimana?".


Sejenak Intan ingin memberitahu alamat dimana Hean tinggal, tapi segera ia ingat bahwa tidak semua orang harus tau dimana kakaknya tinggal. termasuk wanita di depannya itu.


"Hehehe... sorry kak, gue tidak bisa memberitahu Kak Agnes...".


Bisa gawat kalau Agnes sampai tau dimana Hean tinggal. dan Intan akan berada dalam masalah besar jika Hean tau kalau Intan yang memberitahu Agnes.


"Tanya Kak Hean langsung... Kakak punya nomornya kan?" tambah Intan mencari aman.


Sedangkan Agnes hanya mengangguk dan tersenyum manis.


***

__ADS_1


__ADS_2