Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
88. Kelahiran Prematur.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Suasana ruangan bersalin terlihat berbeda dari yang lain. di atas ranjang pasien, Agnes tergeletak tak sadarkan diri. para perawat juga terlihat panik menangani keadaan yang terjadi. memasang selang infus dan beberapa alat lain sebagai penunjang.


karena kondisi Agnes yang tak memungkinkan untuk melahirkan bayinya secara normal, jalan satu-satunya adalah dengan melakukan operasi darurat.


"Siapkan ruangan untuk operasi sekarang juga..." perintah dokter.


Segera tenaga medis lainnya langsung berhambur menuju ke ruangan lain.


Sedangkan di depan sana Hean terlihat duduk dengan kepanikannya. jemari tangannya sesekali meremas dan terasa begitu dingin. ini adalah pertama kali baginya melihat pemandangan paling menakutkan.


seperti melihat hodup dan mati seseorang.


Bahkan ketika salah satu perawat mendatanginya, meminta sebuah tanda tangan untuk melakukan tindakan selanjutnya Hean melakukannya dengan bergetar. tanda tangan itu seperti bukan miliknya saling buruknya.


Dengan kepanikan itu, Hean mencoba untuk terus berpikir positif. mencari solusi tentang apa yang akan ia lakukan setelah ini.


Sejenak Hean bangkit, ketika dia orang perawat mendorong brankar Agnes keluar dari ruangan itu menuju ke ruang operasi.


Hean tau kalau Agnes benar-benar terlihat buruk saat ini.


Berjuang lah Nes... hanya itu doa yang Hean panjatkan. karena keselamatan Agnes juga hal penting untuk saat ini.


Lampu di atas ruang operasi seketika menyala. menandakan tindakan operasi baru saja di mulai. yang bisa Hean lakukan hanyalah harap-harap cemas berharap operasi persalinan Agnes berjalan lancar dan keadaan wanita itu baik-baik saja.


"Apa yang terjadi Yan?". derap langkah kaki beberapa orang mulai mendekati Hean. sedangkan Mama adalah orang pertama yang bertanya kepadanya. begitulah sifat seorang ibu jika mendengar keadaan putrinya.


Namanya Agnes juga khawatir mendengar keadaan Agnes yang tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan.


"Agnes pendarahan Tante..." jawab Hean.


Sudah beberapa bulan sejak resmi menikahi Agnes, Hean tak merubah panggilannya pada wanita itu. tetap memanggilnya Tante seperti panggilannya dulu.


"Kenapa bisa? seharusnya belum waktunya bukan?". Bima, kakak laki-laki Agnes ikut bicara. karena yang Bima tau, usia kandungan adiknya masih sekitar 8 bulan.


Pasti telah terjadi sesuatu pada adiknya hingga membuat Agnes seperti sekarang.


Mata Bima menyipit. dugaannya adalah Hean telah melakukan sesuatu pada Agnes.


"Jangan menatapku seperti itu! gue tidak melakukan apapun..." sela Hean paham dengan tatapan Bima kepadanya.


karena memang kenyataannya seperti itu. Hean tidak melakukan apapun.


"Dia menelan beberapa butir pil serentak... gue tidak tau pil apa yang dia minum..." lanjut Hean.


soal pria yang menghamili Agnes, Hean tidak langsung mengatakannya. nanti saja, saat situasi sudah terlihat membaik.


"Kenapa? Hiks...". Mama menangis. tak tau kalau Agnes sampai melakukan hal itu. menelan banyak pil sangat membahayakan dirinya sendiri.


Tak ada perbincangan lagi. bahkan sampai orang tua Hean juga tiba di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya Yan?". Ayah bicara. ia baru bisa datang ke rumah sakit ini karena ada pekerjaan yang begitu penting.


sedangkan Ibu, terlihat sekali guratan penyesalan di wajah beliau.


"Ibu yang salah...".


Karena biasanya, Ibu selalu menemani Agnes ketika cek kandungan setiap bulannya. hanya kali ini saja Ibu tidak bisa menemani karena sedang tidak enak badan.


"Bukan Ibu yang salah... Agnes juga sudah kembali dari dokter tadi..." jelas Hean. tak mua orang tua Agnes akan salah paham dan menyalahkan Ibunya nanti.


"Lagian Agnes menelan beberapa pil sebelum akhirnya Hean membawanya kesini..." lanjutnya.


Semua orang ternganga dengan ucapan Hean. bingung sekaligus tak percaya kenapa Agnes sampai melakukan hal itu.


Dari semua orang, Bima menjadi satu-satunya yang memperlihatkan kemarahannya. mendekati Hean dan mencengkeram paksa kerah kemeja sama seperti yang pernah Bima lakukan pada Hean dulu.


"Apa yang lo lakuin pada adik gue?".


Jelas hanya Hean yang menjadi alasan kenapa Agnes melakukan hal sebodoh itu. mungkin memang ada pertengkaran tadi hingga Agnes nekad untuk menelan pil.


"Jangan asal bicara ya..." bentak Hean. bagaimanapun ia tak mau disalahkan atas kecelakaan yang menimpa Agnes.


"Gue tidak melakukan apapun...". menyentak kasar tangan Bima tanpa ragu sedikitpun.


Ini juga alasan yang membuat Hean kesal terhadap keluarga itu. terlalu mempercayai anggota keluarganya dan menyalahkan orang lain. Hean ingat bagaimana Bima memukulinya dulu. padahal bukan Hean yang salah. semua karena kebohongan Agnes juga.


"Cukup... hentikan... jangan berdebat di sini...". Ayah melerai sebelum putranya dan Bima baku hantam dan membuat kegaduhan di Rumah sakit.


Hingga yang dilakukan Hean adalah berdiri. beralih duduk di samping Ibunya daripada duduk di dekat Bima dan melihat wajah menjengkelkan itu.


Cukup lama mereka menunggu. lampu di atas pintu ruangan masih menyala. semua sadar bahwa tindakan masih dilakukan tenaga kesehatan untuk membantu Agnes di dalam sana.


hingga Hean menjadi orang pertama yang sadar bahwa lampu itu telah padam. berdiri di ikuti oleh yang lain.


Sudah selesai?


begitu pertanyaan yang memenuhi kepala semua anggota keluarga.


berharap Operasi berjalan lancar dan Ibu dan bayinya dalam keadaan selamat.


Tapi mungkin yang mereka harapkan tak berjalan lancar, 2 perawat mendorong tempat bayi keluar dari sana.


hanya bayi saja, membuat Orang tua Agnes dan yang lain mulai khawatir.


Dimana Agnes?


Setelah itu, seorang dokter pun keluar.


"Suami Nyonya Agnes?".


"Saya dok..." jawab Hean. entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak cepat.


"Bisa bicara sebentar?".

__ADS_1


Hean mengangguk setuju.


"Saya Mamanya Agnes dok..." ucap Mama. berharap bisa mendengar apa kata Dokter bersama Hean juga. bagaimanapun Agnes adalah putrinya. apa yang terjadi pada putrinya juga menjadi tanggung jawab Mama.


Dokter itupun pergi diikuti oleh Hean dan Mama.


sedangkan yang Bima lakukan adalah mengintip dari balik kaca di pintu ruang operasi. tak jelas, tapi terlihat sepasang kaki membujur dan terlihat pucat.


Agnes... entah kenapa Bima sangat takut kehilangan. bayangan sesuatu yang buruk terjadi pada adik perempuannya benar-benar menakutkan.


"Terjadi masalah saat Nyonya Agnes menjalani persalinan..." ucap Dokter itu membuka pembicaraan.


"Saya tidak tau apa yang beliau minum sebelum ini, tapi mungkin sudah di atas ambang batas dari resep dokter... bisa dikatakan overdosis...".


"Iya... Saya baru mengetahuinya tadi Dok... ini yang saya temukan di kamarnya..." jawab Hean sambil menyerahkan pil yang ia pungut sesaat masuk ke kamar Agnes tadi.


untung saja Hean membawanya untuk bukti.


Terlihat dokter itu memperhatikan pil yang dibawa Hean. Mengangguk paham dan terlihat dengan menarik benang merah atas keadaan yang menimpa pasiennya.


 


Hean berjalan sambil memapah mertuanya. kembali menemui anggota keluarga yang lain.


"Apa yang terjadi?" Papanya Agnes bersuara. melihat keadaan istrinya, beliau tau keadaan memang sedang tidak baik-baik saja.


"Agnes Pa..." adu Mama. pada akhirnya menangis adalah hal yang ia lakukan saat ini. bahkan tidak tubuhnya masih bergetar sakit terpukulnya.


"Kenapa Agnes? kenapa dia?". Papa semakin panik.


"Agnes koma...".


Duarrr....


Seperti semuah petir menyambar hati mereka semua. semuanya terkejut dan tak menyangka apa yang telah terjadi saat ini.


"Dia tidak sadarkan diri Pa... bagaimana ini? bagaimana putri kita? hiks...". Mama meraung menumpahkan kesedihannya di dada Papa.


masih tak percaya kalau Agnes, putri kesayangannya mendapat nasib buruk seperti itu.


"Apa benar Yan?". Ibu mendekati Hean. meminta jawaban dari putranya apakah yang dikatakan besannya itu adalah benar?


"Iya...".


Ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan. terkejut. Bagaimana bisa?


"Agnes overdosis obat Bu... itu yang dokter katakan tadi... tensinya juga tiba-tiba tinggi hingga membuat persalinan menjadi sulit". .


"Bagaimana bayinya?". Bima ikut bersuara.


selain Agnes, ada juga nyawa lain yang perlu ia tanyakan.


"Bayinya prematur, organ tubuhnya juga belum bisa bekerja dengan baik jadi harus menjalani perawatan intensif...".

__ADS_1


***


__ADS_2