Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
8. Kepanikan Sasa.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Mata kuliah yang diajarkan hari ini benar-benar tak mampu Sasa pahami sama sekali. pikirannya terbagi-bagi apalagi dengan rasa khawatirnya terhadap sahabat yang amat ia sayangi. siapa lagi kalau bukan Hema, entah dimana gadis itu sejak semalam hingga ponselnya saja tidak dapat dihubungi hingga kini.


Hema, lo dimana sih?


Masih sibuk dengan ponselnya, Sasa berjalan menuju ke parkiran motor. untuk kesekian kalinya, gadis itu mencoba untuk menelepon Hema. cukup lama hingga kesabarannya membuahkan hasil. ponsel Hema dapat dihubungi.


"Ya! kemana saja Lo? asal lo tau ya, gue khawatir karena lo menghilang sejak semalam... dimana lo sekarang?". terlihat Sasa memberondong sahabatnya dengan banyak pertanyaan. tak memperdulikan apa yang Hema pikirkan tentang dirinya.


"Gue takut lo di culik orang..." ucap Sasa lagi. masih tetap pada posisi semula, duduk di atas motor maticnya sambil menempelkan ponsel di pipi sebelah kirinya. bahkan Sasa tak memperdulikan tatapan mahasiswa lainnya yang seperti menatap nya dengan aneh.


"Lo jangan kemana-mana, gue pulang sekarang... oke?". setelah mengatakan itu, Sasa mematikan sambungan teleponnya dan langsung melajukan motornya.


Tujuannya adalah tempat kostnya. karena sesuai apa yang dikatakan Hema lewat telepon, gadis itu telah kembali pulang.


 


Di sisi lain, Hema memang baru saja turun dari mobil yang telah mengantarkannya.


setelah mengisi perutnya, Hean akhirnya mengantarkannya pulang di tempat tinggalnya selama kuliah di Ibukota.


"Jadi lo tinggal disini?". sejenak Hean mengamati tempat kost Hema. terlihat sama seperti tempat lainnya. hanya saja, penghuni tempat ini adalah wanita saja.


"Iya... baiklah gue masuk dulu ya..." pamit Hema. tak berniat sedikitpun untuk berbasa-basi mempersilakan Hean ngobrol lebih lama lagi.


"Lo tidak berkeinginan untuk memberiku sesuatu? minum misalnya...".


Apaan dia itu... emang gue abang ojek yang langsung pergi setelah mengantar pelanggannya?


"Oh minum... lo mau minum?" ucap Hema terbata-bata. karena sebenarnya ia cukup sungkan berbicara dengan pria itu. apalagi mereka memanglah tak seakrab yang terlihat.


"Ah, tidak usah... gue pulang saja..." tolak Hean.


Ck... maunya apa coba... dasar plin-plan...


gerutu Hema dalam hati melihat tingkah Hean.


"Baiklah... telepon gue kalau ada apa-apa..." ucap Hean pada akhirnya. berjalan meninggalkan gerbang tinggi tempat itu sambil melambaikan tangannya.


Tangan Hema spontan juga membalas lambaian tangan Hean, dan kembali diam ketika sadar.


Setelah sepeninggal Hean tadi, Hema masuk ke dalam kamar kostnya. mengganti pakaian yang ia kenakan dan mandi untuk kesekian kalinya.


Saat mandi, Hema kembali mengamati bekas memerah yang tersebar di beberapa bagian tubuhnya. semua itu adalah kelakuan Hean. untung saja di area tertutup jadi tak ada yang tau kecuali Hema sendiri.

__ADS_1


tapi ada satu bekas yang bakal terlihat orang lain. bekas kebiruan di lengannya.


Hema juga tak sadar apa yang telah ia lakukan hingga tercipta sebuah bekas memar tersebut. mungkin juga karena ia berontak malam itu, hingga tak sengaja tangannya terbentur sesuatu.


Setelah aktifitas mandinya usai, Hema bersiap untuk kembali tidur. mengumpulkan kembali tenaga yang sempat terkuras semalaman. tubuhnya benar-benar terasa lelah dan sakit. setidaknya tidur mampu mengembalikan tenaganya.


tapi baru bersiap memejamkan mata, Pintu kamar kostnya diketuk orang dari luar.


"Pasti Sasa..." gumam Hema pelan. karena setelah mendapat telepon dari sahabatnya tadi, Sasa memang akan menemuinya.


Bangkit dari tempat tidurnya, Hema berjalan gontai membuka pintu dan benar saja, Sasa telah berdiri di depan sana dengan tatapan menakutkan.


"Sa-".


"Darimana lo semalam!". Sasa tak membiarkan Hema bicara sedikitpun.


setidaknya ia hanya ingin mendapatkan jawaban atas kekhawatiran yang dialaminya semalam.


Hema tak menjawab pertanyaan Sasa, karena bagaimanapun ia malu mengakuinya. bahkan Hema ingin melupakan kejadian semalam. berharap tak ada siapapun yang mengetahui kalau Hema dijual. menyedihkan untuk mengakui hal itu.


"Kalian bertengkar kan?" ucap Sasa lagi. kali ini mampu membuat Hema menaikkan pandangannya. menatap mata sahabatnya dengan tatapan tak percaya.


Apa Sasa mengetahui semuanya?


"Sudah kuduga...". Begitulah Sasa menyimpulkan kejadian semalam. ia berkeyakinan bahwa Hema sedikit menenangkan diri karena sedang bertengkar dengan Rendy. apalagi wajah Hema saat ini benar-benar terlihat sembab. terlihat sekali kalau habis menangis.


Ditanya seperti itu, entah kenapa Hema sangat sedih. kepalanya menggeleng tapi sudut matanya kembali menggenang.


Lebih dari itu... Rendy lebih kejam dari yang lo bayangkan... dia sangat kejam, Sa... gue bahkan tidak akan pernah memaafkannya...


"Apa dia seburuk itu?". Sasa menjadi ikut sedih melihat sahabatnya yang menangis. di peluknya tubuh Hema dengan erat, meyakinkan kalau Hema tidak sendirian. di punya Sasa yang akan selalu membelanya. dia punya sahabat melebihi saudara.


"Jangan sedih... ada gue disini..." ucap Sasa.


ia tak lagi mau menanyakan alasan kepada Hema dan Rendy bertengkar. karena semua itu adalah privasi, beda lagi kalau Hema yang menceritakannya sendiri.


---


Sore hari, Jio Dimas dan Hean tengah nongkrong asik di sebuah cafe. menikmati berbagai minuman dari bahan dasar Kopi sesuai dengan kesukaannya.


Bukan hanya para wanita saja yang suka bergosip ria, ketiga pria konyol itu juga melakukannya.


Kenapa konyol..?


apalagi yang bisa menjelaskan tentang kepribadian mereka selain kata konyol. karena banyak sekali hal-hal aneh yang melekat pada diri mereka.


Jangankan cerita yang lucu, hanya menatap satu sama lain saja mampu membuat mereka tertawa. aneh bukan? itulah yang terjadi pada mereka. seperti saat ini, sambil menikmati waktunya ketiganya tak lepas memandangi hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

__ADS_1


bahkan hanya wanita yang lewat saja tak lepas dari tatapan mereka.


Apalagi dengan Jio yang memang memiliki sifat playboy, mata pria itu seperti hendak lepas saking melototnya melihat wanita di depan sana.


"Mata lo bisa lepas nyet..." gurau Dimas dengan senyum penuh ejek.


"T*i Lo!" umpat Jio, kembali menikmati minumannya walaupun sesekali masih menatap ke arah wanita yang tengah berdiri memesan minumannya.


Hean dan Dimas sama-sama tertawa. bahkan keduanya sambil memukul-mukul pahanya sendiri. puas karena telah menggoda sahabatnya.


"Cepatlah cari pacar...". Hean ikut bersuara.


"Ck... gue punya ya... bukan kayak lo yang gagal move on sampai sekarang...hahaha..." balas Jio kepada Hean.


karena ia tau bagaimana masa lalu Hean, ditinggal kekasihnya ke Luar negeri dan berakhir gagal move on sampai sekarang.


"T*i!".


"Lo juga cepetan cari pacar, keburu tua..." celoteh Jio kepada Dimas. karena dari ketiga pria itu, hanya Dimas lah yang terlihat belum kembali mempunyai kekasih sejak 2 tahun terakhir.


anggap saja ketiga pria itu adalah pria menyedihkan korban cinta.


"Ck... gue hanya tidak mau membuang-buang waktu untuk bergonta-ganti pasangan kayak kalian... gue hanya menunggu usianya siap untuk enjadi kekasih gue..." ucap Dimas dengan melirik Hean.


Hean menggebrak meja, ia paham apa yang Dimas katakan barusan.


"Apa yang lo pikirkan? jangan harap ya...".


"Memang gue mengatakan apa? dih...". Dimas berpura-pura.


"Gue tidak akan membiarkan adik gue menjalin hubungan dengan buaya kayak Lo!" cerca Hean tanpa basa-basi.


"Hahaha.... ampun kakak ipar..." jawab Dimas sambil mengatupkan kedua tangan.


Jio dan Dimas sama-sama tertawa dan semakin membuat suasana Cafe menjadi sangat ramai.


***


Sedih-sedihnya sampai disini dulu ya...


kita lucu-lucuan sama tingkah Hema dan Hean besok...


janji 40 hari mereka mulai berlaku besok ya... hehehe


Tinggalkan jejak Like dan Komentar banyak-banyak gais... yang baru baca, Favorit kan dulu biar tidak ketinggalan update terbarunya...


See you...

__ADS_1


__ADS_2