
HAPPY READING...
***
Setelah kemarin Hema tidak berangkat ke Kampus, lebih tepatnya mengistirahatkan diri dan juga menata kembali mentalnya yang sempat hancur. hari ini dengan segala keberanian, Hema memberanikan diri untuk kembali kuliah.
Entah apa yang gadis itu takutkan. tapi sejak kemarin, banyak hal yang Hema pikirkan. bertemu dengan orang-orang setelah kejadian malam itu.
Hema hanya takut, semua orang tau bahwa dirinya di jual kekasihnya sendiri. tidur dengan pria asing yang tidak ia kenal sama sekali.
Hema takut akan cibiran dari orang-orang nantinya. walaupun ia juga tak tau apakah Rendy akan menyebarkan aib itu atau justru Hean sendiri.
Tiba di Universitas, Hema hanya menundukkan pandangannya dan terus berjalan. matanya sesekali terpejam ketika berpapasan dengan mahasiswa lainnya. hingga Hema benar-benar ditatap aneh oleh mereka. bukan karena apa, tapi karena tingkah Hema sendiri yang terlihat aneh.
Cara berjalan Hema yang seperti itu tentu saja menjadi pusat perhatian 3 pria yang baru saja turun dari mobil mahal di depan sana.
"Bukankah dia gadis yang waktu itu?" tanya Jio. dialah yang memiliki mata setajam burung Elang. mampu melihat walaupun dengan jarak yang cukup jauh.
"Kenapa dia?" Dimas juga ikut nimbrung. .
"Sepertinya dia salah makan...". dugaan aneh terlontar begitu saja dari mulut Hean, membuat kedua sahabatnya mengalihkan pandangannya dan menatapnya aneh.
Emang dia dukun sampai tau kalian gadis itu salah makan?
begitu hati Jio dan Dimas bicara.
"Ayo..." ajak Hean kepada sahabatnya. walaupun Jio dan Dimas tak paham apa yang ingin Hean lakukan, tapi mereka tetap mengikuti langkah Hean yang ternyata menghampiri Hema.
"Tegakkan kepala lo!" perintah Hean sambil menyenggol lengan Hema secara sengaja.
membuat gadis itu otomatis terkejut dan menengok ke arah sumber suara.
"Lo-".
"Hai..." sapa Dimas dan Jio bersamaan. perlakuan mereka benar-benar membuat Hema terkejut sekaligus bingung.
ia bahkan hanya tersenyum membalas sapaan dari dua pria di samping Hean.
"Lo kehilangan uang sampai harus berjalan tertunduk?" tanya Hean penasaran.
"Ti-tidak..." jawab Hema dengan nada terbata-bata.
"Lalu?".
Hema bingung harus menjawab apa. ia hanya tidak percaya diri.
"Berjalan lah dengan tegak..." perintah Hean. tangan pria itu tiba-tiba menyentuh pucuk kepala Hema sama seperti yang sering Rendy lakukan ketika gemas dengan tingkah kekasihnya.
"Ayo...".
Jio Dimas dan Hean berjalan lebih dulu diikuti Hema di belakangnya.
__ADS_1
sepanjang jalan menuju kelasnya, Hema benar-benar mengamati ketiganya. apalagi dengan tingkah mereka yang seringkali terlontar lelucon dan membuat tawa diantara mereka. bahkan Hema sesekali ikut tersenyum.
"Hema..." teriak seseorang mengejutkan. bahkan Hean yang mendengar ikut celingukan mencari sumber suara berasal.
Rendy?
Entah kenapa Hema gemetar melihat siapa yang memanggilnya barusan. gadis itu terlihat cemas bersamaan dengan Rendy yang semakin mendekatinya.
"Gue mencari lo sejak kemarin...". Rendy berusaha menyentuh tangan Hema, tapi gadis di depannya reflek mundur beberapa langkah. seperti menghindari Rendy secara sengaja.
Mau apa lagi si br*ngs*k ini...
Hean juga sedikit kesal melihat Rendy yang bahkan merasa tak bersalah sedikitpun terhadap Hema. pria itu dengan tidak tau malunya berlagak seperti tak pernah terjadi apapun.
"Lo kemana saja kemarin?". Rendy bersuara lagi. sedangkan Hema masih tak bersuara, gadis itu seperti enggan menanggapi celoteh Rendy.
"Hema...".
"Lo tidak tau diri ya... tidak ditanggapi masih saja bersuara..." sindir Hean.
"Hema...".
"Sorry Ren, gue sibuk...". pada akhirnya Hema membuka mulutnya. tanpa menatap Rendy sedikitpun, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Hahaha... mampus Lo!" cerca Dimas.
Untuk pertama kalinya Hema benar-benar mengabaikan Rendy. hatinya terlalu sakit mengingat apa yang telah di lakukan pria itu terhadapnya.
"Gue mau bicara sesuatu...".
"Apa sih mau lo!". Hean yang tadinya berusaha untuk diam, pada akhirnya kesabarannya benar-benar habis. mencengkeram leher Rendy seperti hendak menghancurkannya.
"Lo seharusnya tau diri untuk tidak menunjukkan wajah lo di depannya...".
Heran sendiri, entah kenapa ada pria yang seperti Rendy. tidak malu sedikitpun.
"Lo yang apaan," bentak Rendy. menyentak kasar tangan Hean dari tubuhnya.
Rendy kesal karena pria itu ikut campur urusannya.
"Lo tidak ada hubungannya dengan Hema.. jangan ikut campur!" ucap Rendy mulia tersulut kemarahannya karena tingkah Hean.
"Apa? gue tidak ada hubungannya dengan Hema? lo yakin bicara seperti itu?" pancing Hean.
Tanpa berpikir panjang, tanpa meminta persetujuan dari siapapun Hean kembali melontarkan ucapan yang mampu mengejutkan siapapun yang ada disana.
"Gue kekasihnya!".
Bahkan Hema sekalipun sampai menghentikan langkahnya hanya untuk mencerna apa yang Hean katakan barusan.
Apa?
__ADS_1
Beda lagi untuk Jio dan Dimas, kedua itu justru menatap sahabatnya dengan tatapan penuh ejek.
Ck... mode buayanya muncul lagi...
begitu hati mereka bicara hingga tercipta sebuah senyum jenaka mengukir bibir keduanya.
"Iya, Hema milik gue..." ucap Hean dan langsung merangkul bahu Hema tanpa malu sedikitpun. biar Rendy yang melihatnya mulai sadar bahwa Hema bukan lagi miliknya.
Apa?
Hema melongo tanpa mampu berkata-kata. ucapan Hean benar-benar spontan tanpa berpikir lebih dulu. entah apa tujuan pria itu melakukannya, Hema tak paham.
"Apa itu benar Ma?" tanya Rendy memastikan. entah kenapa mendengar penuturan Hean barusan, hatinya seperti teriris. sakit...
"Lo tidak percaya? gue bukan pria pengecut seperti lo ya... mana ada gue bohong?". Hean kembali meyakinkan ucapannya bukanlah bualan saja.
"Jadi pergilah... jangan ganggu Hema ku...".
Cie, Hema ku... sejak kapan gue bisa berkata manis seperti itu.... Hean geli sendiri dengan ucapannya.
Rendy benar-benar tak mampu berkata-kata lagi. ia hanya bisa menatap Hema dengan tatapan nanar. walaupun ia sudah menduga bahwa hubungannya dengan Hema akan berakhir, tapi tetap saja Rendy begitu sedih. ia tak menyangka kalau Hema akan semudah itu membencinya. tak berkeinginan untuk memberikan kesempatan kedua baginya.
"Huustt... pergi...". Hema masih bersikeras mengusir pria itu dari hadapannya.
Hingga pada akhirnya Rendy benar-benar pergi.
dan yang dilakukan Hema setelah kepergian Rendy adalah, menyentak kasar tangan Hean dari bahunya.
"Lo apaan sih..." ucapnya sewot.
"Kenapa?". Tanya Hean berpura-pura tidak paham. "Kita memang pacar bukan?" godanya sambil menaik-turunkan alisnya secara jenaka.
"Kenapa lo tidak membalas pesan gue tadi pagi?".
Berakhir sudah. kali ini Hema lah yang perlu diinterogasi karena kelakuannya.
padahal Hema memang tidak berniat membalas pesan Hean tadi pagi. gadis itu sengaja mengabaikannya.
"Masa sih? gue tidak tau...". setidaknya Hema mencoba berbohong.
"Bohong!" Hean menyentil dahi Hema. membuat gadis itu meringis kesakitan.
Aaww...
"Sakit tau...".
"Makanya jangan abaikan pesanku, mengerti?".
Hema terpaksa menganggukkan kepalanya. tidak lagi-lagi...
melihat kelakuan Hean, Hema berjanji tak akan mengabaikan pesan pria itu lagi.
__ADS_1
***